Secrets

Secrets
2. Berkunjung


Keesokan harinya di ruang keluarga.


Wei Hong Li duduk di sofa yang empuk dengan baju kaos berwarna putih dan celana panjang berwarna abu-abu. Ia memegang sebuah tablet ditangannya dan sedang membaca berita terbaru dengan tenang.


"Tuan Muda, apa anda tidak akan membangunkan Nyonya Muda?" tanya Bibi Xiu lembut. "Nyonya Muda mungkin saja tidak terbiasa dengan lingkungan disini dan akhirnya sakit" lanjutnya dengan khawatir melihat ke arah tangga.


Mendengar perkataan Bibi Xiu, Wei Hong Li mengerutkan keningnya dan melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan sudah mau jam 10 lalu melihat ke arah tangga. 'Haruskah aku?' tanyanya dalam hati.


"Pergilah Tuan Muda" ucap Bibi Xiu mendorong Wei Hong Li yang terlihat masih ragu-ragu.


Wei Hong Li mengangguk kecil lalu meletakkan tabletnya di meja dan mulai berjalan ke arah tangga. Ia berjalan langsung ke lantai 3 dan menuju ke kamar Qi Xuan.


"Tok tok tok" Wei Hong Li mengetuk pintu.


"..." tidak ada jawaban dari dalam kamar.


"Tok tok tok" suara ketukan pintu yang lebih keras terdengar.


"Berisik" teriak Qi Xuan kesal dari dalam kamar.


Mendengar hal itu, Wei Hong Li menjadi kesal dan berbalik pergi ke kamarnya dengan marah.


2 jam kemudian.


Qi Xuan mulai membuka matanya perlahan dan meregangkan tubuhnya. Setelahnya ia turun dari kasur dan berjalan ke arah kamar mandi. Ia membuka keran air lalu mencuci wajahnya dengan lembut lalu pergi membersihkan dirinya sendiri.


Setelah setengah jam, Qi Xuan keluar dari kamar mandi dengan handuk mandi melilit di tubuhnya. Rambutnya yang panjang dan basah masih menetes. Ia duduk di meja rias lalu mulai mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Setelahnya ia berjalan ke arah lemari pakaian dan mulai memakaikan dirinya sendiri pakaian dalam, baju kaos berwarna putih dan celana pendek berwarna biru.


Setelah menggantung kembali handuk mandinya ke dalam kamar mandi, Qi Xuan berjalan keluar dari kamarnya. Secara bersamaan, Wei Hong Li juga baru keluar dari kamarnya juga untuk makan siang.


Melihatnya, Qi Xuan tersenyum dan menyapa dengan ramah "Selamat siang".


"Ternyata kamu tau kalau sekarang sudah siang" ucap Wei Hong Li dengan dingin mengabaikannya.


"Tunggu" ucap Qi Xuan sambil menahan salah satu tangan Wei Hong Li. "Apa aku tidak memberitaumu kalau aku tidak sarapan pagi?" tanyanya penasaran.


"Tidak" jawab Wei Hong Li singkat.


"Maaf. Aku lupa. Karena aku tidak akan pernah sarapan pagi jadi jangan pernah menggangguku saat aku sedang tidur karena emosiku masih tidak stabil dan emosiku akan terganggu jika aku kurang tidur" jelas Qi Xuan dengan lembut dan sabar.


"Oke" jawab Wei Hong Li singkat lalu melepaskan tangannya dan berjalan pergi.


Dibelakang, Qi Xuan mengabaikan sikap dinginnya dan berjalan ke lantai bawah mengikutinya.


Sesampainya di ruang makan, Bibi Xiu yang sedang menata meja makan melihat keduanya masuk dan berkata dengan riang "Duduklah dulu. Bibi akan segera selesai mengeluarkan semuanya".


"Mm..." angguk Wei Hong Li lalu duduk di kursinya.


Qi Xuan yang mengikuti dibelakangnya juga pergi duduk di kursi yang berhadapan dengan Wei Hong Li.


Bibi Xiu membawa sebuah panci berisi sup ayam dan menaruhnya di tengah lalu melihat Qi Xuan ia berkata dengan ramah "Sudah selesai. Makanlah yang banyak Nona Muda" lalu melihat Wei Hong Li ia menambahkan "Tuan Muda juga makanlah yang banyak".


"Terima kasih atas makanannya Bibi" ucap Qi Xuan dengan ramah sambil tersenyum.


"Oke" angguk Qi Xuan patuh.


Bibi Xiu pun pergi dengan tenang agar tidak menganggu keduanya.


Setelah setengah jam, akhirnya kedua orang itu telah selesai menghabiskan seluruh makanan yang ada di meja makan dengan tenang dan tanpa ada suara sedikitpun.


"Kamu ingin mengunjungi rumah keluargaku terlebih dahulu atau rumah keluargamu?" tanya Wei Hong Li acuh tak acuh.


"Aku ingin mengunjungi Kakek terlebih dahulu" jawab Qi Xuan sambil tersenyum dengan bahagia. 'Aku takut Kakek akan merencanakan sesuatu yang memaksa kami harus menginap disana malam ini jika kami pergi ke rumah Li duluan' pikirnya dalam hati.


"Oke. Bersiaplah. Setelah itu kita akan pergi bersama" jawab Wei Hong Li.


"Oke" angguk Qi Xuan lalu berjalan pergi dengan bersemangat.


Setengah jam kemudian.


Wei Hong Li yang telah mengganti pakaiannya dengan sweatshirt berwarna hitam dan celana jeans berwarna hitam sedang menunggu Qi Xuan dengan sabar di sofa sambil fokus melihat tabletnya.


"Tak tak tak" suara langkah kaki Qi Xuan yang sedang turun dari tangga menggunakan high heels terdengar.


Mendengar suara itu, Wei Hong Li mengalihkan pandangannya ke arah tangga.


Qi Xuan saat ini mengenakan kaus berwarna hitam dengan jaket jeans berwarna biru dan celana jeans panjang berwarna hitam. Di bahu kanannya, ada sebuah tas selempang yang bergantung disana.


"Ayo berangkat" ucap Qi Xuan dengan bersemangat sambil berjalan mendekat ke arah Wei Hong Li.


"Mm..." angguk Wei Hong Li lalu berdiri dan berjalan pergi bersama Qi Xuan.


Meskipun keduanya tidak merencanakan sama sekali akan pakaian yang sedang mereka kenakan, tapi dengan sifat keduanya yang sedikit mirip dan kegemaran keduanya akan warna hitam maka hal ini dapat terjadi.


Keduanya terlihat seperti sepasang kekasih yang masih sedikit canggung dengan satu sama lain namun juga terlihat manis dimata orang lain.


Setelah 1 jam mengemudi. Mobil maybach berwarna hitam yang dikemudikan oleh Wei Hong Li akhirnya mulai memasuki wilayah militer keluarga Qi.


Para tentara yang telah mengenal mobil tersebut tidak menghalangi dan langsung membiarkan mobil tersebut masuk dengan lancar.


Wei Hong Li memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk kediaman keluarga Qi dan membiarkan tentara yang menjaga di pintu masuk memindahkan mobilnya.


Keduanya berjalan masuk sambil bergandengan tangan dan memamerkan kedekatan mereka.


"Akhirnya kalian datang juga" ucap pria tua yang sedang duduk di sofa saat melihat keduanya.


"Kakek, aku datang" ucap Qi Xuan dengan penuh semangat pergi memeluk pria tua itu. "Apa Kakek merindukanku?" tanyanya manja.


"Tentu saja. Aku adalah orang tua yang kesepian" ucap Tetua Qi sambil bersikap menyedihkan.


"Apa Kakek sekarang menyesal telah mengusir cucu berhargamu ini?" tanya Qi Xuan menggodanya.


"Tentu saja tidak" jawab Tetua Qi dengan cepat dan tegas. "Kakek malah berharap kalau cucu Kakek yang berharga ini bisa segera membawakan cicit yang imut dan gendut untuk menemani Kakek" lanjutnya dengan bahagia dan penuh harapan.