
aluna berkali kali menatap wajahnya dicermin,, terlihat tanda kepemilikan rey dileher jenjangnya. aluna mencoba menyamarkannya dengan memoleskan make up. tetapi tanda itu tetap masih bertahan disana.
"bagaimana ini? tidak bisa hilang dengan make up."
aluna menghembuskan nafasnya kasar.
"aku harus menutupinya dengan pakaian."
aluna mulai berfikir. dibongkarnya koper miliknya untuk menemukan pakaian yang sesaat terlintas dibenaknya. aluna berbinar saat baju yang difikirkan terlipat rapi didalam kopernya. sebuah atasan dengan potongan leher yang tinggi. hampir menutup semua lehernya. meskipun tanda kepemilikan rey masih terlihat saat luna memperhatikan dengan jelas.
"kalo orang tidak memperhatikannya pasti mereka tidak akan menyadarinya." batin aluna.
***
aluna masuk di hall hotel tempat diadakannya seminar. hiruk pikuk peserta seminar yang mulai memadati hall itu. aluna memang gadis yang cantik.
setelah coklat susu dan sepatu dengan hak tinggi membuat aluna tampil sempurna. assesories yang tidak berlebihan. rambutnya dibiarkan terurai dan hanya menjepitkan penjepit bunga perak di dekat poninya. aluna yang berjalan dan mencari keberadaan dokter dini menjadi pusat semua orang. banyak sekali yang mengagumi kecantikan dan kesempurnaan penampilannya.
"aluna,," dokter dini memanggil aluna dan melambaikan tangannya. aluna menoleh ke sumber suara dan berjalan cepat kearahnya. entah kenapa aluna seketika terhuyung jatuh saat seseorang tidak sengaja menabrak aluna karena terlalu sibuk menerima panggilan tanpa memperhatikan depannya.
dengan cekatan rey menangkap tubuh istrinya. tatapan rey seketikan dingin terhadap seseorang yang telah menabrak aluna. rey membantu aluna dengan tetap ekspresi dingin dan datar.
"kau ikut seminar juga rey." mata aluna berkilat bahagia. dimata aluna suaminya itu benar2 tampan dengan setelan jas yg melekat sempurna di badannya. kaca mata yang dikenakannya menambah kecerdasan rey. rey mengangguk dan berlalu meninggalkan aluna dan berjalan menuju meja depan.
"kau tidak apa apa aluna?" dokter dini benar benar khawatir terhadapa aluna.
"tidak apa apa dokter luna baik baik saja" luna tersenyum melihat ketulusan dokter dini. luna duduk disebelah dokter dini.
acara seminar sedang berjalan. pembawa acara membacakan susunan acara dan membacakan profil nara sumber dan moderator. saat pembawa acara mulai membaca profil moderator. aluna benar benar terkesiap.
"dr. reymond candra lulusan terbaik difakultas kedokteran negeri ternama. pernah melanjutkan s2 di inggris dan sekarang sedang melanjutkan study profesi dokter bedah." aluna benar benar kagum akan sosok suaminya itu.
"jadi rey juga ikut didalam acara seminar ini." gumam aluna dan masih didengar oleh dr.dini.
dokter dini tersenyum dan berbisik pelan ke telinga aluna.
"dia sangat tampan cerdas dan kaya luna." sambil terkekeh melanjutakan bisikannya.
"dan sepertinya dia tertarik padamu." aluna seketika merona dengan ucapan dr.dini.
aluna menutupi rasa malunya dengan fokus mengikuti materi seminar.
saat acara berlangsung aluna berdiskusi dengan dokter dini tentang bagian yang belum dia pahami. dengan telaten setiap materi diserap olehnya. tak lupa aluna mencatat setiap bagian bagian yang dilontarkan oleh nara sumber. seminar hari ini berakhir jam 5 sore.
"luna,, kamarku di lantai 3. nomer 3055 nanti malam kalo kau ingin jalan jalan. aku bisa mengantarmu. disini panggil saja aku tante." dokter dini membereskan buku dan ipadnya kemudian pamit kepada aluna untuk istirahat.
"itupun kalo dirimu tidak pergi dengan rey aluna." dokter dini kembali terkekeh. aluna tersenyum dan merasa sangat malu. wajahnya memerah karena perkataan dokter dini. aluna membereskan semua barang barangnya dan bangkit dari duduknya. tetapi diurungkan karena suara dari ponselnya. sekilas membaca siapa yang melakukan panggilan untuknya. spontan aluna tersenyum dan menatap rey didepan.
"iya rey?" aluna tersenyum
"jangan kemana mana,, aku mau meeting sebentar,, nanti kita makan malam diluar." rey berkata datar dan langsung mematikan ponselnya. aluna bersengut saat rey memutuskan panggilannya sepihak tanpa mendengar jawabannya.
"dasar pengatur menyebalkan." ucap aluna tersenyum dan kembali kekamarnya.
***
rey dan para narasumber meeting mereview seminar hari ini dan mempersiapkan materi besok. beberapa nara sumber dan juga rey tampak serius sehingga mereka tidak menyadari sudah beberapa jam mereka meeting.
rey bangkit dan meninggalkan ruang meeting. berkali kali rey menatap arlojinya. rey berjalan sedikit berlari menuju lift. saat rey masuk lift bersamaan dengan claudia keluar dari lift.
"rey" sapa claudia.
rey tetap acuh dan masuk lift dan menekan tombol lantai 5 dimana kamar aluna ada dilantai itu.
claudia mencoba mengikuti rey, tetapi tangan claudia ditarik oleh dr.burhan.
"claudia biarkan rey beristirahat. besok rey harus bekerja keras lagi." claudia tampak menahan air matanya. rasa sakit diacuhkan oleh rey. membuat claudia tidak bisa berfikiran jerbih. claudia berlari memeluk dr.burhan.
"om,, rasanya benar benar sakit." claudia menumpahkan semua airmatanya dipelukan dr.burhan.
dan dr.burhan mengusap rambut claudia untuk menenangkannya.
***
aluna melihat pemandangan kota bandung dari jendela kamarnya. sudah 2jam yang lalu aluna bersiap. tetapi belum ada tanda tanda rey mengajaknya keluar. perutnya sudah meronta meminta diisi makanan. bayangan makanan makanan lezat semakin membuat perut aluna meronta.
aluna berlari mengambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas. saat terdengar suara panggilan. aluna mencebikkan bibirnya saat tau rey yang melakukan panggilan.
"iya rey". aluna bekata dengan sedikit kesal.
"kekamarku sekarang." rey mematikan panggilannya dan masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.
"hiisst sangat menyebalkan." aluna bergegas mengambil tas dan menuju kamar rey. aluna masuk kamar rey menggunakan card yang kemarin diberikan rey kepada aluna.
aluna masuk saat rey masih dikamar mandi. mengetahui rey masih dikamar mandi. aluna membuka koper rey dan memilihkan baju ganti untuk rey. beberapa saat rey keluar dari kamar mandi telanjang dada. bawahan celana pendek dan rey tampak mengeringkan handuknya menggunakan handuk.
rey mengenakan pakainan yang dipilihkan aluna. aluna selalu terpesona dengan penampilan rey. aluna memperhatikan rey dari sofa yang dia duduki.
"apa kau tidak pernah melihat lelaki tampan? sehingga tak berkedip memperhatikanku?" ucap rey tanpa memandang aluna.
" sial sial kenapa aku selalu terpesona melihat penampilannya?"
aluna benar benar malu dan merutuki dirinya sendiri
"ting tong" suara bel kamar rey terdengar. rey bergegas menuju pintu untuk membukanya dan mempersilahkan waiters untuk menata makanan yang dia pesan diatas meja.
aluna mengerucutkan bibirnya saat menyadari rencana rey untuk mengajakmya makan diluar pasti tak akan pernah terjadi. rey yang menyadari kekecewaan aluna. menghampiri aluna untuk mengatakan sesuatu.
" ini sudah sangat malam luna. lihatlah arlojimu jam makan malampun sudah terlewat. kita bisa sakit."
rey menarik tangan aluna untuk duduk bersama di meja makan yang sudah dipenuhi berbagai makanan.
aluna yang awalnya malas dan kecewa. melihat makanan makanan lezat terpampang dihadapannya dengan bersemangat duduk dan menikmati makanan makanan yang sudah terhidang. rey benar benar tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi pada aluna. perempuan itu bisa berubah mood dengan seketika hanya dengan melihat makanan kesukaannya.
"rey kau tidak mau makan? ini sangat lezat rey." ucap aluna tetap menikmati makanannya. rey hanya duduk diam memperhatikan aluna dengan kedua tangannya dilipatkan ke dadanya. rey gemash dan mrngerutkan dahinya saat ada sisa makanan menempel dibibir aluna tanpa aluna sadari.
rey mendekati wajah aluna.
dan cuup. rey mengecup aluna singkat
"jangan suka menggodaku." ucap rey kembali duduk tanpa ekspresi.