My Story Is My Dream

My Story Is My Dream
apa kau menginginkan lebih?


hari ini rey mengantarkan aluna kembali ke kostnya. hari itu aluna kembali ke kostnya sore hari. tidak seperti biasanya aluna kembali pagi hari dan rey langsung mengantarkannya ke kampus untuk kuliah. hal ini dikarenakan senin ini tanggal merah dan rey besok tidak bisa mengantar aluna kembali pagi karena berbenturan dengan jadwal operasi. sehingga aluna mengiyakan saat rey mengatakan akan mengantar aluna kembali kekostnya.


aluna meminta rey mengantarkannya ke mini market yang dekat dengan komplek mereka tinggal untuk membeli barang barang yang sangat diperlukannya. dan untuk mengisi kulkasnya yang kemarin sudah kosong. aluna mendorong keranjang belanjaannya. memilih milih barang yang dia perlukan. setelah keranjangnya penuh aluna membawa barang belanjaannya di kasir. saat kasir menghitung dan menyebutkan nominal yang harus dibayarkan. rey menyodorkan kartu kepada kasir.


"tidak perlu rey biar aku bayar sendiri." aluna tersenyum tulus. tetapi rey menatapnya tajam membuat aluna patuh begitu saja.


beberapa kantong belanjaan dibawa oleh rey. aluna hanya membawa satu kantong dan berjalan dibelakang rey. rey meletakkan semua kantong belanjaan aluna didalam bagasi mobilnya. setelah itu mereka masuk ke mobil dan melajukannya.


" terimakasih rey.". aluna berucap tulus.


"untuk apa?" ucap rey dengan pandangan tetap fokus jalanan didepan.


"karena hari ini kau membelanjakanku sangat banyak." aluna memiringkan badannya agar aluna dapat melihat rey untuk berterima kasih.


"itu sudah kewajibanku. kalau ada yang kau perlukan katakan padaku. jangan terus menjadi anak kecil yang meminta semua yang kau inginkan kepada mami papi. ataupun laki laki yang baru kau kenal seperti alan." ucap rey sarkasme.


aluna hanya menghembuskan nafasnya pelan.


"rey,, claudia orang yang menyenangkan ya." aluna mencoba mengorek informasi tentang claudia kepada rey berharap rasa penasarannya bisa terobati.


rey dengan seketika menghentikan kendaraannya. rey memutar badannya dan berhadapan dengan aluna.


"aku tidak ingin membicarakan perempuan itu." ucap rey dan melajukan mobilnya kembali.


"kenapa? bukankah kalian teman sma? kenapa tidak boleh membicarakannya." aluna mencebikkan bibirnya tanda penolakan ucapan rey.


"jangan sampai rasa keingin tauanmu mengahncurkan mu aluna." ucapan rey penuh penegasan. aluna semakin penasaran dengan sosok claudia karena sikap rey yang malas untuk membahasnya.


rey membelokkan mobilnya di halaman rumah tante hani pemilik kost aluna. rey memarkirkan mobilnya tak jauh dari kamar aluna yang kebetulan memang berada dilantai bawah. rey kembali membawa kantong kantong belanja milik aluna dan membawanya masuk kekamar. tetapi langkah aluna dan rey terhenti saat seseorang memanggil mereka."luna kau sudah pulang?" sherly dengan penuh semangat menghampiri aluna dan rey.


"hallo bang rey, apa malam ini bang rey menginap disini?" basa basi sherly membuat aluna gelagapan.


"rey tidak menginap,, rey banyak urusan sher." aluna cepat menarik sherly kedalam kamarnya.


"rey,,kau boleh pulang. terimakasih." aluna tersenyum tulus dan mengambil kantong belanjaannya dari tangan rey dan bergegas masuk kekamarnya.


"aluna,," rey sedikit keras memanggil nama aluna membuat aluna menciut.


"ambilkan baju tenis dan peralatan tenis ku." rey berlalu meninggalkan aluna dan masuk kemobilnya. aluna merutuki kebodohannya sendiri. aluna membuat rey kembali marah. aluna masuk kekamarnya dan dengan cepat mengambil baju dan peralatan tenis milik rey. sherly memperhatikan aluna.


"kau lebih seperti istri yang takut kepada suaminya lun. dari pada adik yang takut pada abangnya." sherly terkekeh dan aluna membulatkan matanya kepada sherly dan sherly tertawa lebih keras.


aluna berjalan terburu buru menghampiri rey. aluna mengetuk jendela rey. dan menyerahkan yang diminta rey kepadanya. saat aluna ingin kembali kekamarnya tangannya dicekal oleh rey.


"kau sepertinya tidak ingin aku banyak berbicara dengan temanmu." rey menatap tajam aluna.


"eemm,, tidak." aluna menyangkalnya.


"baiklah setelah tenis nanti aku akan tidur disini." rey melepas tangan aluna dan melajukan mobilnya.


huft,, aluna menghela nafasnya dalam.


aluna berjalan gontai masuk kekamarnya. sherly yang masih asyik melihat isi kantong belanjaan aluna tidak menyadari aluna sudah duduk disampingnya.


"rey sudah pergi luna." sherly bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.


"hem." jawab aluna malas.


"sebenarnya semua makanan yang kau makan lari kemana sih aluna?" sherly kembali membongkar seluruh isi kantong belanjaan aluna.


"banyak makan, hobi tidur, malas olahraga. tapi badanmu tetap saja kurus. dunia memang tak adil." sherly mencebikkan bibirnya membuat aluna terkekeh.


setelah membereskan belanjaannya dan menatanya ditempatnya. aluna dan sherly naik ke atas ranjang. mereka berbincang dan makan makanan tak ada hentinya. candaan dan cerita tanpa ujung membuat mereka lupa waktu. saat mereka tertawa keras hendel pintu kamar aluna terbuka. seketika aluna dan sherly diam saat tau rey yang datang.


sherly melihat rey masuk kamar dengan keringat basah dan membuat baju tenisnya melekat apik dibadan mempertontonkan dada bidang rey membuat sherly kesulitan menelan ludahnya. aluna yang menyadari apa yang ada dikiran sherly dengan cepat.


"rey cepatlah mandi. aku siapkan baju gantimu." aluna dengan sigap mendorong rey masuk kekamar mandi. rey bingung dengan sikap aneh aluna. tetapi tetap menuruti kemauan aluna tanpa bersuara.


"sherly,, sudah malam kau tidak ingin istirahat?" aluna membujuk sherly untuk kembali kekamarnya.


"luna,,aku masih ingin melihat bang rey." bisik sherly kepada aluna. aluna benar benar bingung bagaimana caranya membujuk sherly kembali kekamarnya.


tiba tiba ponsel sherly berdering. sherly dengan malas mengangkat panggilan dari ponselnya. setelah berbicara sebentar. aluna melihat raut wajah sherly yang berubah.


"lun,, sepertinya aku benar benar tidak berjodoh dengan bang rey." sherly merengut


"salam ya,, bilang pada bang rey love me please." sherly terkekeh. aluna hanya tersenyum dan mengiyakan. setelah sherly kembali kekamarnya. aluna menyiapkan baju ganti rey dan mengetuk kamar mandi untuk memberikan nya kepada rey.


rey keluar dari kamar mandi dan sudah memakai baju santai yang disiapkan aluna tadi. rey mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. rey mendudukkan dirinya disofa kamar aluna.


rey menyerahkan handuknya kepada aluna.


"bantu aku mengeringkan rambutku." ucap rey tanpa melihat aluna. dan aluna mulai mengeringkan rambut rey. aluna mengeringkan rambut rey dan memberi pijatan pijatan ringan dikepala rey.


"rey,,eeemmmmm" aluna ragu mengatakannya.


"katakanlah" rey masih memejamkan matanya menikmati pijatan dari aluna.


"dokter dini mengajakku ikut seminar dibandung sabtu depan. aku sepertinya tidak bisa pulang ke rumah bibi nela." aluna berkata pelan.


"heem,," rey masih terpejam.


"kau mengijinkanku rey? aaah,, kalau semudah ini meminta ijin aku pasti tidak perlu pusing caranya mengatakannya kepadamu." aluna tak sadar masih mencengkram kepala rey dan menggoyang goyang kannya.


rey menarik tangan aluna sehingga aluna terduduk dipangkuan rey.


"kau sudah mulai berani ya,, bersikap tidak sopan kepada.suamimu." rey membulatkan matanya dan menatap aluna tajam. tetapi dikedua ujung bibirnya tampak tertarik keatas.


"cup" rey mencium bibir aluna singkat. aluna kaget dibuatnya. kemudian rey buru buru menurunkan aluna dari pangkuannya.


"ayo ikut aku ke luar. perutku sungguh lapar." aluna masih terpaku dengan ciuman singkat dari rey. rey kembali mendekati aluna.


"kenapa masih melamun?"


"apa kau menginginkan lebih?" mendengar ucapan rey. aluna gelagapan raut wajahnya berubah seketika merona. berkali kali aluna tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya.


"luna ,, kenapa dirimu sungguh konyol ,, membiarkan rey kembali mencuri ciumanmu dan bodohnya kau seperti kegirangan. "


aluna menepuk nepuk beberapa kali dahinya dan segera menyusul ke mobilnya.


"lama lama bersamanya aku benar benar tidak tahan. dia terlalu manis dan sepertinya aku kecanduan bibir gadis itu."


rey tersenyum dan mengusap usap bibirnya. dan saat aluna masuk rey kembali bersikap tenang dan acuh. seperti tidak terjadi apa apa.