
"siapa disana?" tanyaku lagi. namun tak ada jawaban maupun suara itu lagi
mungkin kucing. gumamku
"kalo udah punya yang lain kenapa gak ngomong aja sih? gue bisa lepasin lo, buat lo bebas, meski gue harus nangis berhari hari tau gak, kayaknya emang harus pergi" ucapku lalu melihat ke langit.
mendung, itulah yang tergambar di hatiku saat melihat awan hitam menutupi langit, seperti hatiku yang DILAN DA gelisah.
"gue sayang sama lo, makasih buat 3 tahun....."
"ARGHHHHHHH" teriakku saat seseorang mendorongku.
"Kak Arman!" teriakku
Grap
"untung masih bisa nahan sama dinding ini" ucapku saat memegang dinding kecil
KRAK.....
patah pula dinding kecil ini? kayaknya gue bakal mati kali ini, selamat tinggal dunia. gumamku
BRUGG.........
"AWWWWWWW" teriakku
gue masih idup, ahahahahaha, gue masih idup. gumamku, namun, lengan baju robek terkena besi yang menjulang panjang sedangkan kaki tertimpa reruntuhan dinding tadi
"sakit....." ucapku lalu menyingkirkan batu bata itu
"yank, kamu nekat banget sih? aku bawa kamu ke rumah sakit ya, biar di perban, biar gak sakit lagi" ucap Arman yang terdengar khawatir
"apa sih? gak usah, gue mau balik" ucapku lalu menepis tangan Arman yang hendak menyentuh pundakku.
"yank, jangan marah, kamu terluka lho, pasti sakit, kalo nggak aku bawa kamu ke rumah aku dulu ya" ucap Arman
"apa sih? lo gak peduli sama gue, gue mau balik, awas!" ucapku lalu bangkit dan membersihkan celana olahraga ku karena kotor
"yank!" panggil Arman.
pandanganku menjadi buram, mungkin nyawa gue dah abis kali yak? dan semuanya menjadi hitam.
"pelan pelan, nanti lukanya kebuka lagi" ucap seseorang
"eh kak Rima, aku dimana?" tanyaku
"kamu dirumahnya Arman, katanya kamu jatuh dari gedung, Arman khawatir banget sampe nangis tadi minta bantuan" ucap Rima
"ini??? baju siapa?" tanyaku saat melihat baju yang berbeda, karena tadi aku menggunakan seragam
"ini baju Arman yang udah kecil, dia minta bantuan aku buat gantiin kamu baju, jadi udah selesai, tinggal istirahat aja" ucap Rima penuh perhatian
pasti boongan kan? gue tau, di tv banyak yang kayak lu. gumamku
"kak Arman nya mana? bisa panggilin nggak?" ucapku lalu menyandarkan kepala pada ranjang
"tunggu sebentar" ucapnya dengan sinis lalu pergi meninggalkanku. tak lama, Arman masuk dengan mata yang memerah.
"nangis?" tanyaku ketus
"gimana gak nangis, kamu orangnya nekat banget tau nggak?" ucap Arman lalu duduk disampingku
"apa?" tanyaku masih kesal
"aku minta maaf ya, maafin aku" ucapnya penuh penyesalan
"gak, bawain aku baju ganti, bajunya gak enak dipake" ucapku masih ketus
"pake yang ini dulu, meskipun ukurannya kecil banget, tapi kamu pake cocok kok" ucap Arman sambil mengacak acak rambutku
"ish!, ambilin minum" ucapku kesal.
"iya, tunggu sebentar ya" ucap Arman lalu pergi untuk mengambil minum
30 menit kemudian
"kok belum balik lagi ya?" tanyaku pada diriku sendiri. aku penasaran, lalu aku beranjak untuk memastikan. saat di depan pintu dapur aku mendengar suara Arman sedang berbicara dengan seseorang.
"mau gimana lagi? dia lagi sakit, itu gara gara siapa?" ucap Arman seperti berbisik
"ya aku harus gimana dong? kamu lebih perhatian sama si Joe itu, kamu bilang kita bakal nikah setelah kamu lulus, tapi apa buktinya, kamu putusin dia aja belum, mau nikahin aku setelah kamu kaya?" ucap seorang wanita, suaranya tak asing bagiku