In Another Life

In Another Life
banyak


"butuh bukti hah? butuh? lo gak nyadar diri?" tanyaku marah besar


"iya, lo bilang gue selingkuh! tapi nyatanya lo udah ada yang baru" ucap Arman marah lalu aku mengeluarkan sebuah usb dan memberikannya pada Arman


"saat Lo bilang mau nikahin dia, bikin gue jatoh dari atas sana, bukti lo ngerebut orang kepercayaan abang gue, lo mau apa lagi hah?" tanyaku


"apa ini?" tanya Arman


"itu rekaman semua kejadian waktu gue nginep di rumah lo" ucapku dengan sinis


"lo rekam apaan? di rumah gue gada apa apa juga" ucap Arman penasaran dengan isinya


"ya lo liat aja, semua yang gue lakuin itu sandiwara, gue gak beneran sayang sama lo, gue cuma nguji lo doang, ternyata dugaan gue bener, biasanya cewe yang materialistis ini mah cowo, aneh kan yank" ucapku pada Yoshi yang sedari tadi diam membisu


"iya sayang" sahut Yoshi


aku mengalungkan tangan pada leher Yoshi yang tak terlalu tinggi untukku, cocoklah untuk pasangan


"mau apa?" tanya Yoshi dengan wajah merahnya


"shutttt......" ucapku lalu mencium bibir Yoshi memamerkan kemesraanku dengan Yoshi


gileee, lembut banget dah ni bibir, gak pernah cip*kan apa?. gumamku


"yank! ke apartemen yu" ajakku masih mengalungkan tangan pada leher Yoshi


"mau ngapain yank, kan bentar lagi nikah, jangan sekarang deh, kan nanggung, malam pertama udah maju aja" ucap Yoshi


"gak papa yank, kan sing penting kita bahagia" ucapku dengan nada yang sengaja dibuat agar terdengar oleh Arman


"mau dipegangin gak? biar gak terbang" ucapku sambil tersenyum


"ya udah ke apartemen aja sekarang, dah gak kuat" ucap Yoshi lalu menggondongku menuju mobil, meninggalkan pasangan haram itu.


di apartemen.......


"Yoshi! maafin gue ya, tadi itu cuma salam perpisahan sama Arman" ucapku sedih saat masuk ke dalam apartemen


"gak papa kok yank, sekali lagi juga gak papa, asalkan itu kamu" ucap Yoshi sambil terkekeh hingga membuat sebuah senyuman terukir di bibirku


"makasih udah ngehibur gue! sekarang dah malem mau nginep disini atau mau pulang?" tanyaku


"kalo nginep disini ntar si otong bangun gimana? kan repot! mana kamunya aja belum nerima aku sepenuhnya, dan juga kan meski kamu mau kamu masih sekolah" ucap Yoshi sambil tersenyum sedikit kecewa


"maafin gue ya! gue janji bakal ngelupain dia secepatnya" ucap ku sambil tersenyum miris


"ya udah kalo gitu aku pulang ya, jangan nakal nakal sayang" ucap Yoshi


"iya, selamat malam, sayang" ucapku sedikit memberi hiburan bagi Yoshi, hingga tampak ukiran di ujung bibir Yoshi, lalu pergi meninggalkan aku di apartemenku, sendirian.


"sabar aja Ra, lo pasti kuat! lo harus kuat! mulai sekarang lo harus coba terima Yoshi dengan sepenuh hati lo, jadi lo harus kuat okay! jangan cengeng" ucapku pada diriku sendiri karena saat Yoshi pergi air mataku sudah tak dapat aku bendung lagi.


"ayo dong!! katanya gak boleh cengeng kok masih nangis aja? dasar Ara Lemah, Ara cengeng, anak cengeng gak disayang sama Mami Papi lho" ucapku menghibur diri sendiri meski dengan sedikit sesenggukan karena tangisan.


"semangat! Yoshi juga bisa diajak kompromian jadi gak perlu khawatir kalo ada masalah, tinggal cerita aja pasti dia punya solusi" gumamku lalu tersenyum mengingat kelakuan sendiri karena mencium Yoshi tanpa aba aba dari sang empunya bibir