
bel pulang berbunyi, kini saatnya aku untuk menemui Arman untuk menceritakan tentang perjodohan semalam. saat membereskan buku Rin menghampiriku
"Joe, pulang bareng yuk" ucap Rin
"emng satu tujuan?" tanyaku
"Rumah kamu paling besar di daerah sini, mungkin rumah kamu itu yang paling besar di dunia lho, kayak istana, beda lho sama asrama" ucap Rin
"tapi gue ada janji sama pacar gue, lo pulang duluan aja deh" ucapku
"hmm, ya udah deh, pulang duluan ya, sampai ketemu besok" ucap Rin lalu meninggalkanku di ruang kelas. aku segera mencari kunci di bawah meja dan segera berlari menuju parkiran setelah menemukan kuncinya.
sebelum itu, aku memberi pesan pada Arman untuk datang ke gedung tua yang tak jauh dari rumahnya.
"kita ketemuan di gedung deket rumah kamu ya, penting" ucapku
"iya, aku juga pengen bilang sesuatu sama kamu" ucap Arman.
aku mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, tak peduli jika aku terluka karena terjatuh, sekarang bukan waktunya untuk menjadi lemah. karena kecepatan motor yang aku kendarai cukup cepat, akhirnya aku sampai di gedung itu, melihat Arman yang sedang duduk sendiri disana. lalu aku menghampirinya
"kamu ada urusan penting apa?" tanyaku lebih dulu
"gini yank, aku butuh uang buat modal usaha kecil kecilan, aku mau pinjem sama kamu bisa nggak?" tanya Arman
"kayaknya gak bisa deh yank" sahutku sambil menatap langit
"kenapa? kalo gitu nanti aku bilang sama tante Manda deh" ucap Arman
"gak bisa yank" ucapku
"Mami gak bakal bisa bantu kamu lagi, bantu hubungan kita lagi" ucapku
"iya makanya kenapa?" tanya Arman yang sudah habis kesabarannya
"aku dijodohin yank, sama Papi, Mami gak bisa bantah apa yang Papi lakuin, Mami selalu nurut sama Papi, untuk kali ini juga, Mami kasih aku kesempatan buat bicara sama Papi, tapi aku gak bisa, aku takut Papi marah, kamu juga tau kalo Papi marah semuanya bakal hancur, semua orang rumah nangis karena Papi marah" jelasku sampai air mataku berlinang
"ya bagus dong, pasti orangnya kaya, pinter, ganteng, baik, kalangan atas, sedangkan aku jelek, miskin, gak punya apa apa" ucap Arman seakan tak peduli pada hubungan kami
"gitu iya hah? kamu gak peduli sama aku lagi? ada yang lain iya? aku bisa aja kasih mobil yang baru aku beli buat kamu, asal kamu bertahan dan berjuang buat hubungan kita" ucapku sedikit nyolot karena emosi
"tapi kamu pasti suka sama orang itu kan? iya kan? ngaku aja deh" ucap Arman yang membuat darahku menjadi mendidih
"kamu udah gak peduli aku lagi? liat aja, aku bakal mati hari ini" ucap ku lalu menyerahkan kunci motor dan masuk ke dalam gedung, menaiki puluhan anak tangga untuk mencapai atap gedung.
kalo kamu gak ikut naik, liat aja nanti. gumamku
karena berlari menaiki anak tangga itu, aku tiba dengan cepat karena terbiasa dengan anak tangga. aku melihat ke belakang
gak ada? liat yang bakal gue lakuin, lo harus nyesel, karena gue bakal ngaduin ini ke kak Martin supaya lo masuk penjara. gumamku dalam hati.
aku berjalan menuju tepi atap gedung, terlihat disana Arman hanya duduk di kursi tua, bahkan melihat ke atas pun tidak.
TRAk..
"siapa?" tanyaku saat mendengar sebuah ranting kayu yang patah