In Another Life

In Another Life
dijodohin


kami berlarian layaknya anak kecil, hingga Mami memanggil kami untuk makan malam bersama Bunda Sarah dan om Hendra.


"selamat makan semua" ucapku setelah berdoa, lalu memakan makanan yang sudah tersedia


"hmm, selamat makan" sahut Papi


"dek, ambilin sayur yang di depan kamu itu" ucap kak Martin lalu aku terhenti untuk makan


"ambil aja sendiri" ucapku lalu sambung makan lagi


"dek jauh kesana, ambilin napa dek" ucap kak Martin


"ganggu!" ucapku lalu memberikan sayuran itu ke kak martin.


untungnya posriku lebih sedikit daripada kak Martin.


kami makan bersama hingga selesai. setelah itu, Papi mengajak semua orang untuk pindah tempat ke ruang tv.


"Mike, kedatangan kami kemari pasti kamu sudah tau, maka dari itu aku akan bicara langsung ke inti nya saja" ucap om Hendra


"ya tentu saja" sahut Papi


"begini, dulu kau menikah lebih awal dariku, berbeda 1 tahun, maka dari itu kau memiliki anak pertama, Martin, setelah itu kau juga memiliki putri, Joe, saat itu, Sarah sudah melahirkan putra, dulu Sarah pernah berkata jika anak kami harus kita jodohkan dengan anakmu, anak Manda, jadi kau mengerti maksudku kan?" ucap om Hendra


"iya, intinya Sarah ingin menjodohkan putranya ke putriku?" tanya Papi


"iya, aku berharap dapat menjalin hubungan kekeluargaan, apa lagi kita itu dulunya teman" ucap bunda Sarah


"untuk itu Sarah, aku tak dapat memastikan, itu urusan putriku, masa depan putriku, aku tak ingin membuatnya kecewa dengan hal semacam ini, jadi bagai mana menurutmu Ara?" ucap Mami sedangkan aku hanya terdiam mendengar itu semua


"Ara belum bisa jawab Mi, Bun, Pi, Om" ucapku dengan sedih


"hmm, Bunda ngerti kok, kalo kamu perlu waktu tinggal kasih tau Bunda" ucap bunda Sarah lembut


"kalo kasih aku waktu untuk mikir bun, mungkin 1 minggu" ucapku


"1 minggu? kelamaan kali dek" ucap kak Martin


"kak, ini urusan masa depan lho, kalo asal gimana jadinya nanti?" ucapku


"ya udah slow dong slow" ucap kak Martin yang membuat Papi menggelengkan kepalanya


"tentu saja, kami akan menunggu hasilnya, semoga saja tidak mengecewakan" ucap om Hendra


"iya om, Joe bakal berusaha yang terbaik, buat om, buat bunda, buat Mami, Papi buat semuanya" ucapku sambil terus menunduk


"kak Martin gak diajak?" tanya kak Martin


"udahlah kak, kan tadi Ara bilang buat semuanya, Ara ke kamar dulu ya, Ara cape" ucapku lalu pergi setelah ada ijin untuk ke kamar.


kenapa? kenapa? hubungan gue sama Arman gimana? gue sayang sama dia, dan gue juga sayang sama Mami, sama Papi, gue gak mau ngecewain mereka. gue harus gimana? apa yang harus gue lakuin? eleh bgst lah, keadaan gini gue harus pilih hati sendiri, besok pulang sekolah harus bilang sama Arman, biar tau reaksinya kek gimana. decakku kesal


"hikss...hikss... gue gak boleh nangis, harus kuat, gak boleh nangis okay!" ucapku pada diriku sendiri lalu menghapus air mata yang sudah mengalir dan membasahi pipi.


"Ra! buka pintunya" ucap kak Martin


"masuk aja kak, gak dikunci" teriakku sambil membereskan tisu yang berantakan


"dek, orangnya dateng tuh, cakep banget, dia juga tinggi, putih, pinter lagi" ucap kak Martin


"kak, aku lagi pusing" ucapku lalu berbaring di kasur, tak berani menatap mata kak Martin


"tadi aja tereak panggil nya gue gue gue gue, sekarang kok jadi cemen, cengeng?" tanya kak Martin


"sekarang udah tau kan? sifat asli gue?" tanyaku


"iya, gue tau kok, dari dulu" ucap Kak Martin


"kak gue udah punya pacar lu tau itu, Mami juga tau itu" ucapku


"iya, tau gue, jadi lo harus mikir mateng mateng, dia itu orangnya baik lho" ucap kak Martin


"Arman emang baik" ucapku lalu duduk


"bukan si Arman, tapi Yoshi" ucap kak Martin


"namanya Yoshi?" tanyaku


"hmm" sahut kak Martin