In Another Life

In Another Life
sekelas sama Rin


"mau tidur, kakak juga tidur sana, udah malem juga" ucapku sambil mendorong kak Martin agar keluar dari kamarku


"ya udah, tidur yang nyenyak ya! adek berandal" ucap kak Martin yang membuatku terhenti


"adek berandal?" tanyaku


"iya, kenapa?" tanya kak Martin


"kalo gue adeknya berandal berarti abang nya yang berandal dong" ucapku lalu tertawa terbahak bahak


"iiih, ya udah abang kalah, adek cantik cepetan bobo, inget baca doa dulu, jangan lupa nafas, jangan lupa merem juga" ucap kak Martin


"ya nggak bakal lupa lah, orang tiap haru juga nafas, merem mah gak usah disuruh juga nanti nya merem juga" ucapku lalu tersenyum dan menutup pintu


plong banget dah rasanya. gumamku dalam hati. lalu membantingkan tubuh yang lelah ini ke atas ranjang empuk. aku tertidur dengan lelap


pagi hari aku bersiap seperti biasa, bersiap untuk berangkat ke sekolah.


"Ara sekarang berangkatnya mau pake apa?" tanya Mami Manda halus


"pake motor Mi, sekarang ada pelajaran penjas, pake celana, mau pake motor aja, biar gak ribet parkirnya" ucapku lalu menyimpan tas di samping kursi tempat ku duduk


"sarapan apa?" tanya kak Martin saat berada di tangga menuju ke arah kami yang berada di ruang makan


"Mami lupa belanja, jadi sarapannya nasi goreng dulu, gak papa kan?" ucap Mami


"gak papa Mi, Ara sebentar lagi berangkat, Ara sarapan di sekolah aja, tolong masukkin ke kotak makan Mi" ucapku sambil terus tersenyum


"tumben dibawa makannya?" tanya Papi sambil membenarkan dasi dengan sebelah tangan karena tangan yang satunya lagi memegang tas, bersiap untuk ke kantor.


"Ara berangkat nya pagian Pi, soalnya ada piket kelas" ucapku lalu membuka tas karena sarapan sudah dimasukkan ke kotak makan.


"hati hati di jalan sayang" ucap Mami


"iya Mi, Pi, Ara berangkat dulu ya, kak Martin Ara berangkat" ucapku


"tumben kakak juga disebut biasanya cuma Papi sama Mami aja" ucap kak Martin


"hati hati" teriak kak Martin saat aku mengambil kunci motor di atas lemari kecil


"hmm, Ara berangkat" ucapku lalu segera mengeluarkan motor dari garasi, sengaja aku mengambil motor sport kesayangan, karena motor kemarin belum sempat dibersihkan.


"tumben berangkat pagi, kesambet apa lo?" tanya Nasya, teman baikku


"ya lo kenapa berangkat pagi?" tanyaku ketus


"biasa aja dong, kan gue biasa berangkat pagi" ucap Nasya


"gue ada piket kelas, gue ke kelas dulu ya" ucapku lalu meninggalkan Nasya yang berada di depan kelasnya, kelas kami hanya terhalang satu kelas saja, jadinya kami sangat sering bersama


"Joe, bantuin angkat ini dong" kata Fina teman satu kelasku


"angkat kayak gini gak bisa? ya udah, tapi gue gak bantuin yang lain" ucapku lalu mengangkat kursi kosong yang berada di sampingku. lalu Fina meninggalkanku


BRAKK


"komputer gue" ucap seorang pria tepat didepan meja kosong itu


"eh? Rin?" tanyaku


"komputer gue pasti pecah ketiban kursi" ucap Rin mengacuhkanku


"komputer lo pecah? maaf ya, coba cek dulu, nanti gue ganti kok" ucapku lalu membuka tas Rin dan mendapati komputernya yang hancur tertimpa kursi yang aku angkat tadi


"ya, gak papa kok, disitu juga cuma ada 1 file tentang orang, meskipun sedikit penting tapi bisa nyari lagi" ucap Rin


"kok lo disini?" tanyaku


"gak tau, kata pak guru kelas gue disini" ucap Rin


"ooo, selamat bergabung, gue cabut dulu ya, mau ngambil buku di perpus" ucapku lalu meninggal kan Rin dan komputernya yang hancur