In Another Life

In Another Life
namanya Arman


"sayank, itu kak Rima kok kayak gak suka sama aku?" tanyaku sambil memeluknya dari belakang


"yaa, mungkin karena dia iri sama kamu" ucapnya sambil terus melajukan kendaraan


"umurnya berapa?" tanyaku lagi


"dia umurnya 19 tahun, kayak aku, kita temenan dari kecil" ucapnya lalu berhenti di depan toko buku


"kita udah sampe" ucapnya


"cepet bat deh, kayaknya waktu gak rela kita terus bersama" ucapku asal


"Joe, jangan bilangan kayak gitu" ucapnya


"kak Arman! aku cuma bercanda kok" ucapku lalu menggandeng Arman dengan senang. namanya Arman, kekasihku.


"selamat datang di toko kami" ucap seorang pegawai disana


"kak Geri! kamu kerja paruh waktu?" tanyaku saat melihat teman Arman bekerja di toko buku


"eh Joe sama Arman, kalian kenapa disini, karena gak punya biaya buat lanjut kuliah jadi harus nabung dari sekarang" ucap kak Geri


"ooo, tuh liat yank, kamu juga kerja buat modal nikah kita nanti" ucapku


"masih sekolah yank, jangan dulu nikah, aku pengen sukses dulu" ucap Arman sambil mengelus kepalaku


"hmmm, ya udah, kak Geri tau dimana buku cerita yang genre nya horror?" tanyaku


"ya, kalo yang horror ada dipojok itu" ucap kak Geri sambil menunjuk ke arah sebuah rak yang sangat hening, yang berada dipojok kiri toko.


"iya kak, makasih, yank, kamu ngomong dulu sama kak Geri, nanti aku yang ambil sendiri bukunya" ucapku lalu meninggalkan dan menuju rak buku


saat memilah buku, aku menemukan sebuah buku dengan judul yang amat jauh dari kata horror. judulnya Demi Tahta. aku penasaran dengan ceritanya. lalu aku membaca sinopsis cerita itu. sangat mengesankan, aku mengambilnya, aku membeli beberapa buku cerita dengan genre yang bermacam, romance, horror, komedi, school, dan yang lain. saat kembali dan akan membayarnya aku mendengar kak Geri dan Arman membicarakan tentang Rima. orang yang penuh sandiwara.


"berapa mbak?" tanyaku


"jadi lima ratus ribu kak" ucap si kasir itu


"nggak" ucapku kesal


"maksudnya mbak?" tanya si kasir


"toko ini! berapa harganya?" tanyaku kesal


"hmmm, saya bukan pemilik toko ini mbak, saya hanya pegawai" ucapnya


"panggil pemiliknya kesini, saya mau bicara" ucapku lalu si pegawai itu pergi ke ruangan yang mana hanya pegawai dapat masuk. tak lama si pegawai itu kembali bersama seorang pria tua, mungkin itu pemilik toko buku.


"selamat sore, saya sudah dengar darinya, tapi toko ini saya tidak jual" ucap si pria to the point.


"maksud saya pak, saya akan membeli toko ini tapi ini akan dikelola oleh bapak, jadi bapak hanya perlu menghubungi orang yang biasa mengantarkan buku edisi baru untuk di jual di toko ini, bapak akan tetap mendapat uang, keuntungan kita bisa berbagi" ucapku dengan sopan


"hmmm, anak muda, pemikiranmu sungguh dewasa, baiklah, ikut aku sebentar" ucapnya dan membawaku masuk ke dalam ruangan pribadi.


"yuk pulang" ucapku senang


"kenapa sih? kok senyum senyum gitu?" tanya Arman


"emang senyum dilarang gitu?" tanyaku


"ya enggak sih, terus kenapa?" tanya Arman


"kepo ih, ya udah cepetan, waktu aku keluar rumah udah abis, ntar di marahin mami" ucapku


"ya udah, kita pulang sekarang" ucap Arman lembut


"ya udah, kak Geri kerja terus, nanti ada kenaikan gaji lho, sama si mbak kasir itu, sama yang satu lagi tu, semangat semua" ucapku


"kita berangkat" ucap Arman


dalam perjalanan Arman hanya diam tak bergeming.


"yank, tadi cerita apaan sih? kok seru banget kayaknya, tentang kak Rima" ucapku


"eh....? apa?" tanya Arman


"ih ngelamun, tadi cerita tentang kak Rima kan? ceritain apa sih?" tanyaku


"eh...mmm.... itu, Geri suka sama Rima" ucap Arman sedikit gugup


"ooo, kalo gitu kenapa gak pasangan aja, kan ntar bisa double date, kayaknya cocok juga tuh" ucapku


"ya gak tau, itu terserah Rima" ucap Arman kesal


"kamu kenapa sih? kok kayak marah gitu?" tanyaku


"nggak kok, aku kepikiran aja sama Geri, kasian banget kalo jadian sama Rima, orang judes kayak Rima susah di dapet tau" ucap Arman sambil tersenyum


"oooo, pulang ke rumah kamu dulu, kan aku gak mungkin bawa kamu ke rumah, soalnya kata mami bakal ada tamu" ucapku


"iya sayank" ucap Arman.