![EPOCH [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/epoch--completed-.webp)
Alreyshad
Aku terbangun oleh suara notifikasi handphoneku yang berbunyi cukup keras. Setelah ku lihat, ternyata hanya pemberitahuan email dari temanku di SG yang memberi tahu kalau barang-barangku disana sudah selesai di packing, dan tinggal dikirim memakai jasa pengiriman untuk barang-barang yang cukup besar.
Aku melihat jam di handphoneku yang menunjukan pukul 20.00, yang mana sudah 4 jam aku beristirahat dan meninggalkan El sendirian. Aku segera menegakkan tubuhku, tersadar ada handuk kecil terjatuh dari keningku, aku menoleh kearah samping dan ku temukan seorang wanita yang tertidur dengan posisi yang aku yakin sangat tidak nyaman. Duduk sambil memangku pipinya dengan lengannya di kasurku.
El tertidur pulas. Tanpa ingin membangunkannya, aku bergerak perlahan. Namun, El ternyata terlalu peka dengan gerakanku dan ia pun tersadar.
"Al, udah enakan badannya? Masih pusing nggak?" Tanyanya dengan mata yang masih menyipit diikuti badannya yang tiba-tiba langsung duduk tegak.
"Udah nggak apa-apa kok, Le" kataku sambil menyuruhnya duduk di kasur. "Ini kamu yang ambil?" Kataku menunjukan handuk kecil dan wadah air hangat.
El mengangguk. "Maaf ya aku buka-buka laci kamu tadi nyari handuk. Habisnya panas kamu nggak turun-turun, kata ibu harus di kompres" jelasnya.
Aku tersenyum, "kamu nanya ibu?" Lanjutku dan di balas dengan sebuah anggukan dari El.
"Aku panik" lanjutnya sambil menempelkan tangannya di keningku. "Akhirnya turun juga suhunya" ucapnya pelan sambil menghela nafas.
"Makasih ya, Le" kataku sambil tersenyum.
"Sama sama Al. By the way udah malem, aku langsung balik ya. Tadi mau pamit mulanya, liat kamu masih tidur nggak tega banguninnya, eh malah ketiduran. Maaf ya Al lancang masuk kamar kamu"
"It's okay kok, Le. Yaudah mau balik? aku anter ya" jawabku.
"Eeeh nggak usah, aku bawa mobil kok. Lagian kamu juga kan baru enakan. Istirahat aja. Itu sop ayamnya tinggal dimasukin ke microwave aja ya, biar anget lagi. Trus abis makan, diminum lagi obatnya. Jangan lupa!" katanya sambil meninggalkan kamarku dan menuju ke pintu keluar.
"Aku anter sampe parkiran deh ya" timpalku sambil memakai sandal.
"Al, aku bisa kok ke parkiran sendiri. Nggak akan nyasar. Kamu istirahat aja, okay?" Katanya meyakinkanku.
Aku yang tak tahu harus bagaimana hanya diam mendengar perkataannya. "Kabarin aku ya kalo udah sampe Apartment" tambahku yang dibalas dengan senyum oleh El.
...***...
Elea
Tidak sampai 20 menit aku sudah sampai di unitku. Dan sekarang, selesai membersihkan badan aku duduk di ruang TV sambil memainkan handphoneku dan membuka pesan masuk.
From : Alreyshad Darien
udah sampe belum? Kok nggak ada kabar?
Aku membacanya sambil menepuk jidatku, "oh iya, lupa ngabarin Ale" kataku sambil mengetik pesan dan mengirimkannya ke Ale.
Tak lama kemudian handphoneku berbunyi dan menampilkan sebuah nama.
Alreyshad Darien is calling..
"Hallo, maaf Al, aku lupa ngabarin tadi."
"Nggak apa-apa, Le. Kok belum tidur?" Tanyanya.
"Belum bisa tidur Al. Kamu tuh lagi sakit juga bukannya istirahat." Kataku sedikit ketus.
"Kan udah tidur 4 jam tadi" jawabnya "Le, kamu yakin nggak mau cerita?" Tanyanya pelan.
Aku diam beberapa saat sampai pada akhirnya..
"Al, emang salah banget ya kalo lagi menjalin hubungan sama orang trus punya temen lawan jenis? Kamu kalo punya pacar bakalan nggak bolehin pacar kamu temenan sama lawan jenis juga nggak?" Tanyaku serius.
"Kenapa, Le? Dhana marah kamu temenan sama aku?" Kata Ale balik bertanya.
"Bukan marah sih, Al. Cuma, ya gitu. Tiap aku punya temen cowok masa semuanya harus dicemburuin, kan aku jadi nggak enak sama sem..."
Belum sempat menjelaskan Ale sudah memotong ucapanku.
"Itu karena dia sayang kamu, Le." Katanya tiba-tiba.
"Ya tapi nggak semua cowok dia curigain juga kan, Al?" Jelasku
"Cara tiap orang untuk jaga pasangannya kan beda-beda. Mungkin itu cara dia jaga kamu, Le. Lagian, dia curiga sama semua cowok yang deket sama kamu itu sah-sah aja sih menurut aku. Apalagi kalian kan LDR. Wajar kalo khawatirnya agak berlebihan."
"Aku ngerti kok, Al. Cuma... ah yaudah nggak usah dibahas lagi ya" kataku singkat.
"Okay, kalo nggak mau bahas lagi, aku nggak akan bahas. Udah jam segini tidur gih. Besok siaran pagi ya Elea!" Katanya dengan nada yang ia buat seperti atasan yang sedang memperingatkan pegawainya.
"Galak banget sih Mas Ale." Jawabku sambil sedikit bercanda.
"By the way, kenapa sih kalo di kantor kamu manggil aku pake mas? Padahal panggil Ale juga nggak apa-apa kan" tanyanya.
"Nggak ah, aku sih masih nggak mau jadi bahan gosip kantor kalo tiba-tiba manggil kamu Al or Ale. Apalagi sampe diteror sama fans kamu di kantor" ledekku sambil merebahkan badanku di kasurku.
"Hahahaha, banyakan fans kamu kali, Le. Cuma pada nggak berani show-off aja, soalnya pacar kamu galak." Timpalnya yang mengundang tawaku.
"Laporin aja Le, lagian aku juga nggak akan menang." Jawabnya.
"Kok gitu? Kan badan kamu lebih besar dari Dhana, masa takut?" Ledekku.
"Bukan takut. Mau menang atau kalah tetep aja kamu pasti pilih Dhana kan? Jahat kamu, Le" jawabnya dengan nada sok sedih.
"Hahahaha, udah ah kalo aku ladenin kamu terus yang ada kamu makin malem tidurnya, nanti kurang istirahat. Night, Al" kataku menyuruhnya tidur.
"Night, Le" jawabnya
"Makasih ya udah dengerin curhatan aku" tambahku.
"Sama-sama. Makasih juga udah mau direpotin tadi. Bye, Le. See you tomorrow ya" katanya
Setelah aku menutup telfon, aku menaruh handphoneku di nakas, aku menarik selimutku dan memejamkan mataku untuk istirahat.
...***...
Entah apa yang membuatku bisa tidur lebih lelap semalam, sampai sampai aku bangun terlambat pagi ini. Ya, for the first time sejak usiaku 16 tahun, hari ini aku bisa tidur normal seperti orang pada umumnya.
Disaat aku sedang terburu-buru untuk memesan taksi lewat aplikasi, pada saat itu juga handphoneku berbunyi.
From : Alreyshad Darien
aku udah pesenin taksi online tadi, udah mau sampe lobby. Avanza hitam B 3571 TMP ya, Le. Take care :)
Aku yang agak bingung, segera mengucap syukur karena aku sudah tidak punya waktu untuk memesan dan menunggu ojek atau taksi. Jadi, ku pastikan kali ini Ale adalah penyelamatku.
Setelah sampai dibawah, aku langsung bisa meliat mobil Avanza berplat B 3571 TMP sesuai dengan yang Ale kirimkan tadi.
"Atas nama Bapak Alreyshad?" Tanya supir itu.
"Iya pak, pak Rudi kan?" Jawabku dan mendapat anggukan serta senyum dari si driver.
...***...
Selesai siaran, aku ingin menemui Ale untuk memberikannya kopi dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya tadi pagi. Sambil berjalan, aku bertemu dengan mas Aji.
"Eh Elea, mau kemana nih?" Tanyanya karena melihatku membawa dua kopi.
"Mau nganter kopi ke ruangan mas Ale, mas. Tadi pagi nggak sengaja udah bantuin saya soalnya." Jawabku dengan sedikit beralasan agar tidak dicurigai.
"Ale di rooftop tuh tadi, cari angin kayaknya." Jelasnya.
"Oh gitu, yaudah makasih banyak loh mas udah di kasih tau." Jawabku dengan nada sedikit bercanda.
Aku naik ke lantai paling atas. Berjalan menyusuri kaca yang menampilkan pemandangan rooftop kantor kami yang penuh dengan bean bag, dan tempat duduk. Aku jarang kesini, tetapi ini menjadi salah satu tempat favorite selain taman samping untuk para karyawan duduk, makan siang ataupun hanya mengobrol satu sama lain.
Setelah membuka pintu kaca, aku mencari keberadaan Ale di tengah ramainya karyawan lain. Dan akhirnya, aku menemukannya sedang duduk di sebuah bean bag sambil sesekali tertawa sengan seseorang.
Aku berjalan perlahan mendekatinya, karena tidak ingin mengganggu obrolannya dengan lawan bicaranya tersebut.
"Eh El, tumben ke atas?" Tanya Tere yang diikuti oleh tatapan Ale ke arahku.
"Hemmm iya lagi pengen cari angin aja nih Ter." Jawabku. Iya, Tere yang menjadi lawan bicara Ale.
"Kopi? Buat siapa Le?" Tanya Tere.
"Hah, ini tadi beli kopi satu tapi Mbaknya salah, karena kasian jadi aja gue bayar dua-duanya." Jawabku asal.
Tiba-tiba tangan Ale menjulur ke arahku. "Buat aku aja" katanya dengan lembut.
"Kamu kan udah minum kopi" kataku sambil melihat 1 gelas kopi di tangannya.
"Trus kamu yang minum? not good for your stomach, Le." Katanya meyakinkanku.
"Kalo gitu buat yang lain aja. Nggak bagus juga kan buat lambung kamu" jawabku sedikit ketus. "Eh gus, mau kopi nggak? Tadi gue kelebihan belinya." Kataku kepada Gusti salah satu anak creative program sebelah yang tiba-tiba lewat.
"Waaah, tau aja El gue belum ngopi. Makasih ya" katanya sambil tersenyum.
"Sini El, duduk" ajak Tere menawarkanku duduk di sebuah bean bag di sampingnya.
"Hemm gue kayaknya kudu balik ke meja deh, Ter. Soalnya udah dapet chat nih, skrip udah ada di meja. Lo lanjut aja ngobrolnya. Duluan ya. Bye." kataku sambil meninggalkan mereka.
Sambil berjalan menuju lift, lewat kaca aku memperhatikan mereka yang melanjutkan obrolan yang sempat tertunda sebentar karena kehadiranku. Masih sama, diselingi dengan candaan ringan ala Tere yang anehnya bisa membuat Ale tertawa sangat lebar.
"Aaah kalo Tere orangnya aku harusnya senang." Batinku sambil menekan tombol lift menuju ke divisiku.
...***...