![EPOCH [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/epoch--completed-.webp)
Elea
Mobil Ale sudah melaju keluar dari komplek rumah ibu. Diiringi suara dari penyiar radio Prambors, kami membahas pertemuan dengan keluargaku tadi. Ale bilang kalau hari ini dia sangat senang karena bisa bermain dengan Abi dan beberapa keponakanku yang lain. Ditambah lagi, obrolannya dengan eyang membuat ia rindu dengan Oma Opanya yang sudah lama tidak bertemu.
"Le, besok ikut aku ya ke Bandung." Ajaknya.
Ya, Ale belum mengajakku ke Bandung tetapi sudah meminta izin kepada ibuku.
"Belum nanya aku kenapa udah izin ibu?" Jawabku yang malah bertanya.
"Biar kamu nggak nolak. Kalo besok kamu di Apartment trus ibu telfon pasti nanya kenapa nggak ikut aku ke Bandung" jawabnya sambil tersenyum.
Aku menghela nafas, "ada aja deh idenya" jawabku
"So?" Tanyanya sambil menatapku.
Aku mengangguk, "tapi syaratnya kalo kamu capek nyetir biarin aku yang nyetir ya" tambahku yang mendapat anggukan dari Ale.
Ale mengantarku sampai depan pintu unitku. Dia bilang dia akan selalu melakukannya kalau dia mengantarku pulang.
"Mau masuk dulu nggak?" Tanyaku menawarkam Ale masuk. Siapa tau dia hendak mengistirahatkan badannya yang seharian ini aku yakin pegal karena bermain bersama Abi dan keponakanku yang lain.
"Aku langsung balik aja, El. Kamu langsung istirahat ya." Katanya sambil mengelus puncak kepalaku.
Setelah Ale sudah menaiki lift. Aku memasuki unitku. Dan aku di kagetkan dengan seorang Pria yang tengah duduk di ruang TV-ku.
"El, do you miss me?"
...***...
Alreyshad
Siang ini, aku menikmati coffee breakku bersama Aji di sebuah coffee shop. Ditemani black coffee brewed milik EMJI Coffee Bar, aku dan Aji bertukar cerita. Dari mulai masalah pekerjaan sampai hal-hal "nggak jelas" pun kami bicarakan.
"Jadi lo ke Bandung jadinya sendiri nggak sama El?" Katanya yang ku balas dengan anggukan sambil menyeruput kopiku.
"Ya cowoknya tiba-tiba dateng. Mau gimana kan?" Jawabku santai.
"Kasian banget sih lo Al, kenapa nggak balikan aja sih sama Kiara? Doi juga kalo lo minta balikan pasti mau." Tanya Aji.
Aku menggeleng, "gue sama Kiara udah selesai, Ji. Dan itu nggak mungkin balik lagi setelah apa yang udah kita lewatin. Lagian nggak ada hubungannya dari El tiba-tiba ke Kiara." Ucapku.
Aji memang tahu segalanya tentang kehidupanku setelah memilih untuk menetap di SG. Salah satu temanku di SG. Waktu itu secara kebetulan tinggal di Apartment yang sama dan mulai berteman ketika sama-sama terganggu dengan salah seorang pemilik unit yang berada diantara unitku dan Aji. Kebetulan juga mantan pacarku di SG juga salah satu teman dari Aji. Jadilah segala sesuatunya tentang kami saling berkaitan dan membuat kami menjadi teman.
"Lo sendiri nggak ada yang ditaksir? Anak kantor gitu? Rugi banget seorang Eksekutif Produser nggak bisa gaet cewek." Ledekku.
"Sial lo. Ada, Al tapi bukan anak Indonesia24. Anak program sebelah. cuma gitu, lo tau sendiri kan problemnya" Ucapnya pelan.
"Jauh amat ngambil anak program sebelah. Emang anak Indonesia 24 kenapa, Ji? Kan banyak yang jomblo juga. Tere tuh jomblo, gue denger juga lumayan deket sama lo kan?" Timpalku
"Tere? Hemm sebenernya gue emang lumayan deket sih. Cuma sampe sekarang gue B aja rasanya sama dia. Lagian bukannya si Fauzan lagi deketin Tere. Lah lo juga kan deket sama Tere, kucing." Jawab Aji.
"Kalo gue kan emang deket sama semuanya. Lo tau sendiri kan gimana gue. Kalo Ojan... gue baru sadar sih dia emang suka tiba-tiba perhatian ke Tere." Ucapku sambil memakan croissant.
"Nah itu jeleknya lo. Lo harus bedain Al, mana perhatian ke temen, mana perhatian buat ke orang special. Tiba-tiba gebetan lo liat lo sama orang lain, trus mikir yang nggak-nggak gimana? Rugi di lo deh." Ucap Aji yang membuat aku berpikir keras.
"Maksud lo? Ya kan gue anaknya emang gini. Mana bisa gue cuek-cuek sok cool gitu." Tanyaku
"Ya gimana kek, jangan sampe El salah sangka aja sih kalo liat lo sama Tere atau yang lain lagi ngobrol" jawabnya santai.
Shit! Jadi itu masalahnya. Aku baru menyadari ketika aku mengobrol dengan Tere di rooftop waktu itu adalah penyebab El berbicara ketus saat aku pamit pulang.
"Kenapa lo?" Tanya Aji ketika melihat aku berpikir. "Jangan bilang udah kejadian?"tanyanya lagi.
"Ah tapi kan El masih punya pacar, Ji. Mana mungkin dia bete karena cemburu. Lagian gue rasa juga hubungan dia sama Dhana udah jauh membaik. Gue harap sih si Dhana udah tobat ya, nggak nyakitin El lagi." Ucapku. "Yuk ah, udah jam segini" ajakku sambil mengambil kunci mobilku.
...***...
Sesampainya di kantor, aku mengerjakan pekerjaanku di Control Room seperti biasa. Dan setelah selesai, aku berjalan menuju lift dan menoleh saat namaku diteriakan.
"Mas Ale" panggilnya yang membuat aku berhenti. "Mbak El pingsan" lanjut Ghea dengan nafas terengah- engah karena berlari mengejarku.
Aku yang mendengar kabar itu, langsung meremas dan menjatuhkan kopi panas yang ku pegang dan berlari menuju studio tak peduli dengan panasnya kopi yang mengenai tanganku.
Sesampainya di studio, aku melihat El yang masih terkulai lemah dan akan dipapah oleh Fadhil. Dengan cepat aku berjalan menghampirinya.
"Biar gue yang bawa ke rumah sakit, Dhil." Ucapku sambil menggendong El. "Ghea, beresin barangnya El ya. Nanti bawain ke Rumah Sakit. Dhil, bilang mas Aji gue izin sebentar." Ucapku sambil sedikit berlari menuju parkiran dan segera menuju rumah sakit terdekat.
...***...
Aku tak pernah melihat El selemah dan sepucat ini. El yang ku lihat selalu tampak ceria dan semangat. Kali ini lemah tak berdaya. Aku yang duduk disebelahnya menoleh dan menutup telfonku ketika El tersadar.
"Ale" ucapnya pelan.
"Le, masih pusing nggak?" Tanyaku sambil membantu El untuk duduk.
El menggeleng, "kamu yang anter aku?" tanyanya yang mendapat anggukan dariku.
"Kalo masih pusing tiduran aja, Le." Ucapku. "aku bilang apa? Jangan kecapekan dan kurang tidur." Ucapku khawatir.
"I'm okay kok Al. Boleh nggak jangan khawatir?" Tanyanya sambil tersenyum yang ku balas dengan helaan nafas dariku.
Beberapa saat aku hanya menemani El nonton TV dan beberapa kali mengobrol.
"Aku udah kasih tau Tere supaya ngasih tau anak-anak. Aku juga udah ngasih tau keluarga kamu." Kataku pelan.
"Sorry ya kemaren nggak bisa nyupirin kamu ke Bandung. Aku nggak tau tiba-tiba Dhana ke Jakarta dan udah nunggu aku di Apartment." Ucapnya pelan.
"Nggak apa-apa, Le. Nggak usah mikirin apa-apa dulu, kamu lagi sakit." ucapku sambil menyuruh El bersandar.
"Kemarin Dhana tiba-tiba ke Jakarta tanpa ngasih tau aku dulu dan udah nunggu aku di Apartment. Karena saking seringnya jemput aku di Apartment, Aku pikir daripada harus aku jemput bolak-balik ke lobby jadi aku masukin namanya ke daftar pengunjung VIP. Cuma aku nggak nyangka kalo dia tiba-tiba udah di Apartment, katanya sih dulu pernah aku kasih tau passlock unit aku, tapi aku juga lupa kapan." Jelasnya tiba-tiba. "Al, boleh minta tolong ambilin minum nggak?" Tambahnya sambil tersenyum.
Saat aku sedang beranjak mengambil air minum untuk El. Pintu kamar El dibuka oleh seseorang dan langsung berjalan menuju El serta memeluknya.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Katanya sambil menatap El dan dibalas dengan gelengan kepala dari El.
"El cuma kecapekan dan kurang tidur, mas Dhana." Jawabku sambil memberikan segelas air kepada El yang langsung diambil oleh Dhana.
"Diminum sayang. Kamu jangan capek-capek, kan aku udah bilang. Kalo kerjaan kamu berat udahlah resign aja, El. Daripada kamu sakit kayak gini." Ucap Dhana.
"Aku nggak apa-apa, Dhan. Lagian kerjaan aku nggak berat kok. Ini cuma kurang istirahat aja kok." Jawab El.
Tak lama kemudian Tere, Aji, Gia, Ghea, Rani, Fadhil dan Ojan datang bersamaan.
"El!" Panggil Tere yang langsung berjalan menuju ke arah El. "Kan gue udah bilangin makan yang bener, istirahat cukup. Kenapa sih bandel banget!?" Ucapnya yang mendapat senyuman dari El.
"Elnya lagi sakit kali Ter, jangan diomelin. Kasian" ucap Dhana sambil merangkul El.
Aku yang bediri berseberangan dengan El, hanya bisa melihat dan sesekali menunduk untuk melihat tanganku yang lumayan perih.
"Mas Ale, itu tangannya belum diobatin?" Ucap Ghea, memecah keheningan dan membuat semua orang terfokus melihat tanganku. Termasuk El.
"Melepuh gitu, Al. Abis ngapain lo?" Tanya Aji
"Nggak apa-apa kok, tadi..." ucapku yang belum sempat selesai terpotong oleh penjelasan dari Ghea.
"Tadi kena kopi panas. Pas Ghea ngejar mas Ale buat ngasih tau mbak El pingsan, mas Ale lagi megang kopi panas." Ucap Ghea yang mengundang perhatian seluruh orang di ruangan.
"Udah diobatin?" Tanya El dengan ekspresi khawatir.
Aku menggeleng, "Nggak apa-apa kok. Kalian kenapa sih? Gini doang. Yang sakit kan El. Kenapa jadi bahas gue?" Kataku santai
Disaat yang sama, pintu kamar El terbuka lagi dan menampakan keluarga El.
...***...
Elea
Ketika sedang memperhatikan tangan Al, aku dikejutkan dengan ketukan pintu. Dan sesuai prediksi yaitu, Ibu, Abang, kak Vriska dan tak lupa keponakanku Abi.
"Ini kenapa pada heboh banget sih dateng semua. Aku nggak apa-apa padahal." Kataku sambil memandang keluargaku.
"Gue kira lo masih pingsan. Kalo udah sadar mah balik aja deh yuk" ucap bang Elo yang sekaligus mendapat pukulan dari ibu.
"Lea nggak apa-apa?" Kata ibu dengan muka khawatirnya.
"Cuma kecapekan bu, kata dokter." Jawab Dhana tiba-tiba.
Berbeda dengan semuanya, Abi yang tengah digendong oleh Ayahnya malah meneriaki sebuah nama yang aku yakin membuat semua orang terkejut.
"Om Aye!! Mas Abi mau ke om Aye." Ucap Abi polos yang menimbulkan tatapan semua orang ke Ale.
"Lah, ada lo, Al? Sorry nggak sadar." Katanya sambil menghampiri Ale untuk mengantarkan Abi.
"Hahaha it's okay kok, Bang." Kata Ale sambil mengambil Abi dari gendongan bang Elo.
Semenjak Dhana datang, Ale membuat jarak padaku. Bahkan dia benar-benar memberi tempat untuk orang lain melihatku dan dia berdiri di ujung belakang. Jika dari pintu maupun tempatku, Ale nyaris tak terlihat. Dia terlihat sedang tidak ingin memperlihatkan keberadaannya atau sedang tak ingin terlihat olehku?
"Abi punya mainan paw patlol dong, om Aye" ucap Abi sambil menunjukan mainannya pada Ale.
"Main sama om Ale di sofa situ yuk." Ajak Ale sambil menjauhi tempatku, tanpa sedikitpun melirik ke arah ku.
"Bu, tangan Ale melepuh tadi. Belum sempet diobatin kayaknya." Ucapku pada ibu yang berharap ibu akan sedikit memeriksa lukanya.
"Nggak apa-apa tante, nanti Ale pakein salep aja di Apartment" Jawabnya tersenyum dan melanjutkan permainannya dengan Abi.
Beberapa saat kemudian semua orang sudah pamit. Hanya tersisa, Ale, keluargaku dan Dhana yang terus menggandeng tanganku.
Aku belum diperbolehkan pulang karena hasil pemeriksaan baru keluar esok pagi. Apakah hanya kecapekan atau ada gelaja tifus. Jika terdapat gejala tifus, aku harus tetap di rawat. Jika tidak ada, besok setelah hasilnya keluar, aku langsung diperbolehkan pulang.
"Gimana ibu mau pulang, kalo kamu masih disini." Ucap ibu sambil memberikanku potongan buah.
"Ada aku kok, tan/bu" ucap Ale dan Dhana berbarengan.
"Jadi siapa yang nemenin nih?" Ucap kak Vriska sambil tersenyum ke arah bang Elo.
"Hemm, kalo gitu Ale pamit aja, tante." Ucap Ale tiba-tiba mengubah pilihannya.
"Loh, kok?" Ucap ibu terlihat bingung.
"Nggak apa-apa tante, Ale lupa kalo harus nyelesaiin kerjaan karena tadi sempet ditinggal. Lagian kan Elea udah ada Dhana. Nggak perlu lagi ada Ale, Dhana aja cukup." Ucapnya yang entah kenapa membuat ku merasa tidak enak. "Iya kan Le?" Tanyanya yang tak ku jawab sama sekali. "Pamit ya tante, Bang, Kak, Dhan. Abi, om pulang dulu ya!" tambahnya.
"Yaudah, hati-hati ya Ale. Terima kasih banyak udah bawa Lea ke RS tadi." Jawab ibuku sambil pengelus tangan Ale.
"Iya tante sama-sama. Le, aku pamit ya. Cepet pulih." Katanya tersenyum simpul sambil berjalan keluar kamar.
...***...
Alreyshad
Sudah setengah jam, aku hanya duduk di ruanganku dan menscroll bulletin news di komputerku. Shit! Kenapa rasanya seperti ini? Gelisah tak karuan. Memendam sendirian.
"Why you're so stupid, Ale?"pekikku.
Aku mulai menyadari betapa bodohnya aku. Dari SMA aku hanya bisa memposisikan El sebagai sahabatku, tanpa pernah mencoba untuk memperlihatkan diriku. Hanya bisa memendam perasaan rindu sendirian tanpa pernah menghampirinya untuk sekedar memeluknya. Hanya bisa menutup luka ketika melihat jemarinya digenggam oleh orang terdekatnya. Hanya bisa menahan cemburu saat orang lain menciumnya. Dan hanya bisa memendam rasa kecewa saat ia lebih memilih orang lain untuk bersamanya. Karena mau marah pun aku sadar, siapa aku?
Lamunanku terpecah saat tiba-tiba pintu ruanganku di buka oleh Aji.
"Ji, kalo emang mendem rasa itu sesusah ini. Kenapa gue masih enggan buat nyerah ya sampe detik ini?" Ucap ku tiba-tiba.
"Al, semua nggak bakal ada artinya kalo cuma lo pendem. Udah ah, gue balik ya. Bye." Jawabnya sambil menutup pintu ruanganku
...***...
Elea
Sudah 3 hari setelah kepulanganku dari rumah sakit, sikap Ale tetap tidak berubah. Ia menjadi lebih diam ketika kami di satu ruangan yang sama, atau lebih memilih untuk menghidar ketika berpapasan denganku secara tidak sengaja. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar adanya. Aku tidak bisa memastikannya.
Minggu ini kami semua benar-benar disibukan dengan segudang kerjaan. Sebab, Jumat malam beberapa orang akan lebih dulu berangkat ke Bali dan disusul dengan yang lain pada Sabtu pagi.
Setelah siaran, kami memutuskan untuk makan siang bersama. Bukan karena kebetulan tetapi karena ajakan mas Aji, traktiran Rating katanya. Sudah 2 Minggu ini Rating kami selalu di nomer 1 untuk berita Nasional. Jadi wajar saja, kalau mas Aji senang bukan main dan semangat mentraktir kami.
"Jadi yang berangkat Jumat malam siapa aja nih?" Ucap Tere di sela-sela makan siang kami.
"Lo, gue, Ojan, Rani, Ghea, Gia Fano,...." jawab mas Aji sambil membaca nama-nama yang sudah tertera di notes Handphone-nya. "..... Elea, yang terakhir Ale" lanjutnya yang menutup pembacaan nama yang super banyak itu.
Di saat yang sama dengan disebutkannya namaku dan Ale, mata kami secara tidak sengaja bertemu. Namun, dengan cepat Ale memutuskan kontak matanya denganku.
"Gue tuker sama Fadhil." Ucapnya tiba-tiba yang mendapat tatapan penuh tanya dari mas Aji. "Udah bilang juga sama Fadhil. Udah dituker juga kok tiketnya" lanjutnya sambil menyantap makan siangnya.
Kali ini Ale benar-benar tak memperdulikan tatapanku. Ia hanya menunduk dan mengalihkan pandangannya ke arah lain dan membiarkanku yang berada di seberangnya.
"Kenapa tiba-tiba sih Al? Nggak asik lo." Ucap mas Aji sambil menyenggol bahu Ale.
"Tau mas Ale, nggak seru nih" timpal Tere dan yang lainnya.
"Gue harus mastiin berita yang di up buat Sabtu-Minggu dulu. Lagian kan udah ada Aji. Besok siangnya, gue juga udah sampe. Santai aja sih." Kekehnya
"Mbak El beneran ikut kan?" Tanya Ghea tiba-tiba.
"Iya El, lo beneran udah nggak apa-apa kan? Bisa ikut kan?" ucap Tere dengan muka yang khawatir.
Aku mengangguk, "ikut kok. Udah sehat juga, jadi please, jangan lebay ya bu Teari" timpalku dengan senyuman di wajahku.
"Dhana? Udah izin belum sama Dhana?" Tanya Tere.
Ale tiba-tiba tersedak, entah karena pertanyaan Tere atau pure tersedak. Aku yang di seberangnya reflek memberikan air minumku kepada Ale yang mengundang beberapa tatapan ke arah kami.
"Thanks" ucap Ale saat mengambil air minum di tanganku.
"El? Jawab kali. Gue nggak mau ah holiday gue digangguin Dhana. Kalo lo belum dapet izin, entar gue yang di telfon-telfonin lagi. Males banget." Ucap Tere kesal.
"Udah kok" jawabku pelan.
Tujuan utama Dhana ke Jakarta adalah masalah pekerjaan selama hampir 2 Minggu, dan sekalian menemuiku. Aku izin ikut gathering pada Dhana dan ia mengizinkan tanpa bertanya panjang lebar.
Selesai makan siang, kami bergegas menuju kantor. Beberapa orang tiba-tiba harus langsung menuju tempat siarang lapangan jadi mobil yang kami gunakan berkurang.
"El, lo ikut mas Aji atau mas Ale ya. Gue langsung soalnya" ucap Tere yang sambil berlari menuju mobil Ojan.
"El ikut mobil Ale ya, mobil gue penuh soalnya. Tuh!" Ucap mas Aji sambil menunjukan mobilnya yang memang sudah penuh.
"Gue mau ke Apotek dulu tapi Ji" timpal Ale tiba-tiba.
"Yaelah Al, ya El ikut aja ke Apotek dulu. Lo nggak liat itu udah umpel-umpelan di mobil gue." Sahut mas Aji. "Oke, anter El sampe kantor dengan selamat ya, pak Alreyshad!" Ucap mas Aji sambil menepuk bahu Ale.
...***...
Alreyshad
Kali ini keadaan memang tidak berpihak padaku. Aku menitipkan semua orang di mobil Aji karena aku harus mengunjungi Apotek sebelum kembali ke kantor. Tetapi yang terjadi malah aku harus berdua dengan El di mobil. Setelah kejadian di Rumah Sakit tempo hari, aku memang sedikit membatasi jarakku dengan El. Bukan karena aku cemburu, tetapi lebih karena aku harus menghargai keberadaan Dhana dan keputusan El yang masih belum mau untuk mengakhiri hubungannya dengan Dhana.
Aku yang diikuti El berjalan menuju mobilku yang terpakir. Diam tanpa suara. Sampai akhirnya, El yang memulai pembicaraan.
"Aku naik taksi aja deh, Al" ucapnya sambil membuka seat beltnya.
"Sama aku aja. Temenin ke Apotek dulu sebentar, nggak apa-apa kan?" Kataku pelan sampai memberlihatkan tanganku yang diperban dan sukses menghentikan langkah El untuk keluar dari mobilku.
Mobilku melaju menuju Apotek terdekat. Selesai membeli obat aku kembali ke mobil yang kursi depannya masih diduduki El.
"Kamu beli apa?" Tanyanya penasaran.
"Salep sama obat minum" jawabku. "Aku obatin ini sebentar nggak apa-apa nggak?" Lanjutku sambil memperlihatkan tanganku dan mendapat anggukan dari El.
Aku melepaskan perban di tanganku dengan sangat hati-hati.
"Sini aku bantu" ucap El yang tiba-tiba langsung mengambil tanganku dan membukakan perbannya. "Lain kali, hati-hati Al. Jangan buru-buru kalo lagi megang sesuatu. Untung bukan air yang baru mendidih atau kaca runcing." Ucapnya sambil menatap serius ke lukaku sambil mengoleskan salep.
"Le?" Panggilku
"Hmm?" Jawabnya tanpa menatapku karena masih sibuk mengoleskan salep dan meniup lukaku.
"Sorry" lanjutku sambil menatapnya.
"Untuk apa? Harusnya aku yang minta maaf. Gara-gara aku pingsan, tangan kamu melepuh gini. Pasti sakit banget." Katanya, kali ini diikuti dengan tatapannya.
Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Jangan ngehindarin aku lagi boleh nggak?" Lanjutnya. "Aku nggak mau kamu ngehindarin aku lagi. Aku minta maaf kalo ada sikap aku yang salah" Tambahnya, kali ini dengan nada lesu.
"Aku bukan ngehindarin kamu karena sikap kamu ada yang salah, Le. Tapi, aku rasa lebih baik buat aku dan hubungan kamu dan Dhana kalo kita nggak sedeket kemaren." Batinku.
"Kita balik ke kantor ya" ucapku tanpa membalas pertanyaan El.
...***...
Elea
Hari ini kantor sangat riweuh, bagaimana tidak? Aku dan beberapa karyawan Department News berangkat ke kantor sambil menggotong koper kami. Sebab, malam ini beberapa orang akan lebih dulu berangkat ke Bali.
"El, lo bawa cuma segitu?" Tanya Tere sambil melihatku yang berjalan menuju meja dengan koper di tanganku.
"Ya ngapain banyak-banyak sih? Minggu sore kan balik" jawabku santai.
"Aaah gue lupa, lo kan nggak perlu bawa catokan. Eh tapi itu udah sama sepatu El?" Tanyanya penasaran
Aku mengangguk, jelas saja Tere kebingungan dengan ukuran koperku. Karena Tere benar benar membawa koper besar. Bahkan kalau orang tidak tau kami hanya menginap 3 hari 2 malam, mungkin akan berpikir kalau Tere akan menetap 1 bulan di Bali.
"Lo aja yang kebanyakan bawanya, Ter. Awas aja ngerepotin, gue disuruh ngangkat-ngangkat" timpal Ojan.
"Yaaah Ojan, kalo nggak lo yang bantuin gue siapa lagi." Jawabnya dengan mimik muka yang ia buat memelas.
...***...
Tiba saatnya jam pulang kantor. Aku dan teman-teman yang memang mendapat penerbangan malam, akhirnya pamit setelah melakukan Rapat Evaluasi.
"Mas Ale kita pamit duluan ya" ucap Ojan yang diikuti anggukan dari yang lain.
"Hati-hati ya, besok gue nyusul pas jam makan siang" ucap Ale.
Kami meninggalkan meja menuju lift diikuti Ale yang berjalan paling belakang tetapi tepat dibelakangku.
"Hati-hati" bisiknya lembut yang membuat aku berbalik menatapnya yang sedang tersenyum ke arah teman-temanku yang lain.
...***...
Hai readers....
Ini pertama kalinya aku say hi sama kalian.
Terima kasih sudah baca, vote dan selalu nungguin update-an Ale-Elea. Untuk chapter 16‐selesai akan update 1 minggu sekali ya di hari Sabtu.
Happy reading guys 🐻