![EPOCH [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/epoch--completed-.webp)
Elea
Aku terkejut saat tiba-tiba Ale muncul entah darimana ketika aku sedang berpamitan dengan Bunda dan keluarga yang lain.
"El pulang sama aku." Katanya.
Aku terdiam mendengar pernyataan Ale yang tiba-tiba.
"Mobil abang minta tolong dikirim besok ya Bun." Tambahnya.
Aku dan Ale berpamitan dan mobil kami lambat laun meninggalkan komplek rumah Ale yang berada di daerah Antapani, Bandung. Ale yang mengemudikan mobilku dan aku duduk tenang di sampingnya.
"Kalo kamu ngantuk, tidur aja. Nanti aku bangunin kalo udah sampe." Ucapnya di tengah-tengah perjalanan tanpa menatapku.
...***...
Selama perjalanan, Ale tidak berbicara satu kata pun. Kami hanya sesekali melempar tatapan tanpa berbicara satu patah kata pun sampai kami tiba di Apartmentku tepat jam 00.00 malam.
Jujur, aku sudah kehabisan kata untuk membuat segalanya membaik. Namun, Ale tetap tidak berubah. Bersikap dingin dan tak peduli dengan semua permohonan maafku.
"Al, aku harus gimana lagi sampe kamu paham. Aku tahu aku salah tapi apa kamu harus bersikap begini terus? Aku udah minta maaf berulang-ulang kali, Al." Ucapku.
Kali ini aku sudah tak bisa menahan emosiku. Aku menumpahkan semua emosiku dan tangisku secara bersamaan ketika kami berada di unitku.
"Aku udah coba ngerti posisi kamu, tapi kenapa kamu ng..." tambahku yang segera Ale potong dengan penyataannya.
"Kamu bilang kamu paham? Le, kamu kemana disaat aku butuh kamu? Hari dimana aku tau kamu apply berkas study kamu, aku tau Ayah kritis. Aku berharap hari itu kamu nemenin aku. Kamu yang tenangin aku. Tapi apa yang aku terima, kamu malah sibuk buat pergi jauh dari aku tanpa bilang apa-apa sebelumnya. Malamnya kamu tahu nggak aku gimana? Aku sedirian, Le. Aku butuh kamu, tapi kamu kemana? Aku sibuk hubungin kamu tapi kamu nggak sama sekali angkat telfon aku.." ucapnya keras.
"Aku nggak sama sekali niat buat ninggalin kamu sendirian, Handphoneku mati, Al.." jawabku yang segera Ale sanggah.
"Hari pemakaman Ayah, dimana kamu? Kamu nggak pernah menunjukkan kalo kamu nggak berniat buat ninggalin aku sendirian, Le. Kamu malah berdiri di belakang, bukan di samping aku dan kuatin aku. Dan satu lagi, kamu bener-bener nggak tau aku nungguin kabar kamu. Itu yang kamu maksud nggak ninggalin aku sendirian?" Tambahnya.
Aku terdiam dan hanya bisa menangis.
"Al, sumpah aku nggak ada niat sedikit pun buat ninggalin ka..." lanjutku.
Ale mengeluarkan sesuatu di sakunya.
"Aku nggak bener-bener tau selama ini kamu gimana ke aku, Le. Tapi sekarang aku tau kalo ternyata kamu nggak sesayang itu sama aku." Tambahnya.
"Al? No." Kataku sambil menggelengkan kepalaku.
"Mulanya aku mau minta kamu buat selalu sama aku, tapi aku tau ternyata kamu nggak bener-bener mau itu."ucapnya sambil menaruh sebuah kotak dalam genggamanku.
Aku hanya bisa memandanginya sambil menangis, berharap segalanya baik-baik saja setelah ini. Ale, benar-benar menumpahkan seluruh kata-katanya dan air matanya sampai sebuah kalimat yang tak ingin aku dengar tiba-tiba terucap olehnya.
"Sorry, Le. I'm done." Ucapnya sambil mengecup keningku dan pergi meninggalkanku.
...***...
Alreyshad
Aku sudah membeli cincin dan berniat untuk meminta El menjadi orang yang selalu ada di setiap waktuku. Kami memang belum genap 1 tahun menjalin hubungan, Namun aku pikir, aku sudah jauh mengenal El dibandingkan yang lain, oleh karena itu aku memberanikan diri untuk mengambil keputusan itu.
Namun, semuanya gagal saat tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa Ayah dilarikan ke Rumah Sakit dan kritis, setelah tak lama sebelumnya aku mendengar percakapan Tere dan Ojan yang membahas soal study El, dan aku langsung mengkonfirmasinya. Aku tak keberatan jika El sekolah lagi, bahkan aku sangat senang. Hanya saja, kenapa El tidak memberitahuku. Itu yang ku sesalkan. Apalagi ditambah dengan perubahan sikap El yang sedikit menjaga jarak denganku. Hal itu memunculkan pemikiran ku kalau El tak ingin berdekatan denganku dan mungkin tidak ingin memiliki hubungan yang lebih serius denganku.
Rasa kesalku memuncak, terlebih saat aku mendengar kabar bahwa Ayah sudah pergi dan El tak di sampingku. Aku berulang kali menelfonnya namun tak juga mendapat balasan. Kejadian demi kejadian membuatku berfikir tentang perasaan El yang sebenarnya. Dan aku berfikir mungkin memang El tidak terlalu nyaman bersamaku. Mungkin alangkah lebih baiknya jika aku tak lagi mengacaukannya dengan kehadiranku di sisinya. Sehingga, El punya ruang sendiri yang akan ia rancang sedemikian rupa agar ia merasa nyaman.
Dan sekarang, aku mengambil keputusan itu. Tak tega melihatnya menangis, namun mungkin ini memang keputusan yang sudah seharusnya.
Aku mengecup keningnya untuk terakhir kalinya, dengan pipiku yang juga basah karena tak sanggup menahan airmata.
Aku pamit darinya. Pamit dari hari-harinya, dan pamit dari hatinya. Ku tau, aku menyakitinya. Namun, jika ku teruskan bukan hanya ia yang sakit, aku pun juga sama.
Aku berjalan lurus tanpa menengok ke belakang saat El memanggil namaku. Ya, Hari ini, aku mencampakan wanita yang selama ini aku jaga hatinya agar tak terluka, namun pada akhirnya aku juga yang menyakitinya.
Dan setelah aku sampai di Apartmentku, aku hanya bisa terduduk diam di kursi bar unitku sampai tiba-tiba Aji datang.
"Al?" Ucapnya.
"Ji, kasih tau Tere Please. suruh dia temenin El di Apartmentnya. Dia sendirian, Ji." Ucapku pelan.
"Al, lo yakin sama keputusan lo?" Tanya Aji.
Aku tersenyum simpul, "gue nggak tau Ji. Tapi yang gue tau, El nggak pernah sayang sama gue." Ucapku.
"Al, dia tuh sayang sama lo. Dia.." ucapnya yang segera ku sanggah.
"Nggak, Ji. Dia nggak pernah sayang sama gue." Jawabku. "Lo pake kamar sebelah aja kalo mau nginep." tambahku sambil berjalan menuju kamarku.
...***...
Hari ini aku bangun terlambat. Karena semalam mataku tak bisa terpejam. Aku terjaga semalaman. Efeknya, kepalaku berat luar biasa. Namun, tak bisa ku paksakan untuk terus berbaring di kasurku karena sudah 3 hari aku meninggalkan pekerjaanku di kantor.
Hari ini, hari pertama untuk tidak mengabsen ucapan selamat pagi pada El. Dan sebagai pagi pertama juga, tidak menyambangi El di lobby Apartmentnya.
Aku mengendarai GLS 63 ku menuju kantor setelah sebelumnya mampir untuk membeli kopi. Sial! wangi parfume El masih tercium dan meninggalkan beberapa ingatan yang seharusnya segera ku lupakan.
"Pagi mas Ale."sapa beberapa orang di department news yang ku balas dengan senyuman sambil melangkahkan kakiku menuju ruangan.
Ku lihat meja El masih kosong, ku kira El akan mengambil liputan siang karena sampai pukul 08.00 pagi ini ia belum juga datang.
"Al, rapat!" Ucap Aji.
Aku dan beberapa rekanku memulai rapat pagi kami. Namun, El tetap belum datang.
"Okay, berarti udah ready ya semua? berarti El nggak ada perubahan ya." Ucap Aji. "El? Loh El mana?" Lanjutnya yang bingung melihat sekeliling.
"Belum dateng, mas." Jawab Tere.
"Dia nggak bilang apa-apa sama kamu?" Tanya Aji.
Tere menggeleng, "aku telfon juga nggak di angkat-angkat." Ucap Tere sambil melirik ke arahku.
"Diganti dulu aja, siap-siap juga kalo El nggak masuk seharian. Back up dulu sampe dapet kabar." Ucapku santai.
"Baik, mas." Jawab Tere.
...***...
Rapat selesai dan kami segera menuju studio untuk persiapan on air . Aku berjalan menuju lift dan terhenti ketika Tere memanggil.
"Mas, boleh ngomong sebentar?" Tanyanya yang aku iyakan.
Kami menuju taman samping tempat aku dan El berbicara tempo hari.
"Kalo lo mau nanya tentang hubungan gue sama El. Gue nggak akan jawab apa-apa." Ucapku sebelum Tere berbicara.
"Mas, kok lo tega banget sih. Cuma perkara El belum bilang mau study lo bisa semarah ini." Ucapnya.
"Gue udah bilang kan gue nggak mau bahas, Ter." Jawabku.
"Mas, El tuh sayang banget sama lo." Tambahnya.
Aku menggeleng, "dia nggak pernah sayang sama gue, Ter." Jawabku.
"Darimana lo bisa bilang El nggak sayang lo?" Tanyanya.
"Dia nggak pernah jawab ketika gue tanya dia sayang atau nggak sama gue. Dia nggak pernah mau bahas tentang hubungan kita ke depannya. Dia mau pergi jauh diem-diem tanpa bilang sama gue, Ter. Dan satu lagi, Dia bahkan nggak ada di saat-saat terberat gue." Jawabku lantang.
"Ter, kenapa semua orang ngeliatnya cuma ke El doang sih? Kenapa kalian nggak liat gue sama sekali?" Tanyaku yang sukses membuat Tere terdiam, "gue juga sakit, Ter. Lebih sakit dari El kalo lo tau." Lanjutku seraya meninggalkan Tere dan berjalan menuju lift.
...***...
Pekerjaanku selesai sejak 3 jam lalu. Namun, aku masih belum berniat untuk beranjak dari ruanganku. Aku hanya memandang ke jendela luar, menatap percikan air hujan yang lumayan deras di jendela ruanganku sambil sesekali menatap lurus ke salah satu meja.
Hari ini, aku tak melihat pemilik meja itu lagi. Terhitung, sudah 3 hari El tidak mengirimkan kabarnya pada siapapun kecuali Aji. El mengatakan kalau ia mengambil cuti panjang. Sempat ku tanyakan lewat Aji, apa El menelfon. Aji bilang hanya lewat pesan. El benar-benar menyembunyikan segalanya. Bahkan Tere pun tak mengetahuinya.
Ku putuskan untuk pulang setelah hujan mulai reda. Namun, di tengah perjalanan terbesit pikiran untuk menanyakan kabar El. aku sudah menghubunginya namun, tak ada jawaban.
Sesampainya di unitku, sesekali ku check notifikasi handphoneku. Masih sama, tak ada nama El di layar. Jelas, aku mengkhawatirkannya namun egoku masih sama.
Aku putuskan untuk menyambangi El di Apartmentnya. Setelah mobilku memasuki lobby, aku terdiam cukup lama dan mengarahkan mataku pada seseorang. Orang itu adalah El. El yang baru turun dari sebuah mobil terlihat tersenyum dan melambaikan tangannya. Karena rasa penasaranku, aku mengikuti mobil itu dan saat melihat pemiliknya aku baru ingat. Dia adalah Wira. Kakak seniornya yang bertemu denganku dan El tempo hari saat di supermarket.
Pikiranku bercabang, apa secepat itu bagi El. Hubungan seperti apa yang El dan Wira bangun? Kalau hanya teman, mengapa El rela mengambil cutinya jika hanya ingin berjalan-jalan dengan Wira.
"Ah shit!" Kataku sambil memukul stir.
Aku melajukan mobilku untuk kembali ke Apartmentku dan memutuskan untuk beristirahat.
...***...
Elea
Sudah 3 hari aku mengambil cuti. Kenapa? Alasan utamanya memang tidak dibenarkan, untuk menghindari Ale. Mengingat kami baru saja memilih untuk tak lagi bersama, rasanya aneh jika aku bisa bersikap biasa saja jika berhadapan dengannya. Tapi, alasan ke 2 ku adalah, mempersiapkan berkas untuk study S2ku, ya Aku di terima di universitas yang ku inginkan dan akan berangkat mungkin 2 minggu lagi. Kenapa secepat itu? Karena aku pikir aku harus mencari tempat tinggal dan beradaptasi lebih awal dengan lingkungannya.
"Lea yakin sama keputusan ini?" Ucap Ibu khawatir.
Aku mengangguk, "iya bu, lagian kan Lea sekolah bukan buat jalan-jalan nggak jelas." Jawabku sambil mencicil memasukan beberapa keperluan ke dalam koper
"Bukan itu maksud Ibu, keputusan Lea ke Ale. Ibu tau Lea dan Ale tuh gimana." Lanjutnya.
Aku terdiam lalu tersenyum.
"Lea nggak apa-apa Ibu. Lea nggak bisa juga maksa Ale buat tetap sama Lea kalo ujungnya buat Ale nggak nyaman. Untungnya, Ale sependapat sama Lea. Jadi Lea nggak terlalu nyakitin Ale dengan cara lain." Ucapku.
Ibu menggenggam tanganku.
"Yang Lea khawatirin cuma hidup Ale kedepannya, bu. Lea nggak mau jadi penghambat buat Ale berkembang." Tambahku sambil tersenyum.
"Kok ngomongnya gitu?" Tanya Ibu.
Aku menggeleng, "nggak apa-apa, bu."
...***...
Setelah perpisahanku dengan Ale, aku memang sering tiba-tiba menangis. Entah kenapa rasanya sesulit itu. Padahal pada awalnya, aku yang menginginkan kisah kami berakhir seperti ini. Namun, ternyata rasanya tidak semudah itu.
Aku harus bolak-balik menyambangi Rumah Sakit untuk mendapatkan terapiku lagi. Ya, aku seperti orang yang depresi. Obat penenang yang biasanya aku minum, kali ini sudah tak berfungsi lagi. Jam tidurku kembali ke waktu asal sebelum bertemu dengan Ale. Semuanya kacau.
Aku bertekad harus segera bisa menanganinya sebelum aku pindah dan menetap di Aussi. Agar studyku tak terganggu dan aku bisa hidup normal seperti kemarin.
Seperti hari ini, aku mengikuti terapiku seperti biasa, dan ketika hendak pulang, seorang pria memanggilku.
"Elea?" Panggilnya.
"Loh, Wira." Jawabku.
"Ngapain? Jenguk? Siapa yang sakit?" Tanyanya.
Aku menggeleng, "konsultasi aja. Kamu ngapain?" Tanyaku.
"Abis check up tadi. Ini kamu mau pulang? Bareng aku aja yuk, sekalian." Ajaknya sopan.
Aku terdiam. Berpikir apakah harus menerima ajakannya atau tidak. Jujur aku tak pernah menerima ajakan laki-laki lain selain Ale, setelah kejadian Dhana waktu itu.
"Kok bengong. Yuk!" Ajaknya yang pada akhirnya aku iyakan.
Selama di perjalanan, kami mengobrol banyak. Dan Wira bercerita bahwa ia sedang mempersiapkan pernikahannya dengan orang yang selama ini tak ku sangka-sangka. Sherin. Teman SMAku.
"Sayang banget ya lo nggak bisa dateng pas gue nikahan nanti. Tapi nggak apa-apa deh, yang penting lo sukses studynya! Biar cepet balik lagi kesini, trus nikah sama Ale." Ucap Wira.
Menanggapinya aku hanya tersenyum, "sorry ya, nanti gue kirim kado aja deh. Kasih tau aja kalian mau apa." Jawabku sambil turun dari mobilnya.
"Thanks ya Wir, salam Sherin." Kataku sambil tersenyum dan melambaikan tanganku lalu berjalan masuk menuju lift.
...***...
Pagi ini, aku duduk di mejaku setelah sebelumnya sudah menyerahkan surat resignku ke bagian SDM. Ya, aku memutuskan untuk meninggalkan rumah dan keluarga keduaku secepat ini. Namun, keputusanku sudah bulat.
Sambil membaca naskah dan meminum kopi panasku, aku dikejutkan dengan panggilan seseorang.
"El!" Ucap Tere. "Sumpah kenapa nggak ada kabar sih? Main cuti aja, masuk-masuk kenapa ngasih surat resign?!" Lanjutnya.
"Satu-satu bu Teari nanyanya." Jawabku.
"Kenapa resign tiba-tiba? El bukan karena lo nggak mau ketemu sama mas Al..." ucap Tere.
"Bukan, Ter. Gue keterima, berangkat 2 minggu lagi." Jawabku santai.
"Sumpah? OMG!! gue seneng banget sumpah! Selamat ya, El." Ucapnya sambil memelukku. "Walaupun bakalan sepi banget gue ditinggal, tapi gue seneng kok lo keterima." Tambahnya.
Pembicaraan kami terhenti ketika seorang yang ku hindari muncul tiba-tiba di hadapanku dan Tere.
"Aku mau ngomong." Ucapnya datar yang ku balas dengan anggukan.
Kami berjalan menuju taman samping dengan tatapan beberapa orang, yang memang tau kalau kami sempat memiliki hubungan.
"Kamu resign?" Tanyanya sambil menatapku.
Aku mengangguk. Belum sempat berbicara, Ale sudah berbalik dan bersiap untuk meninggalkanku.
"Al, bukan aku nggak mau kasih tau kamu. Tapi, waktunya aja yang selal...." ucapku.
"Nggak usah alesan, El. Kamu anggap aku apa sih selama ini?! Aku kayak orang bodoh yang nggak tau apa-apa tentang kamu! Kamu anggap aku tuh orang yang bisa kamu ****-begoin?! Iya?!" Ucap Ale dengan nada yang bisa ku bilang tinggi. Iya Ale marah besar.
Tanganku memberikan gerakan refleksnya. Aku menampar pipi Ale sesaat setelah ia berbicara. Ucapannya sukses membuatku terbawa pada emosiku.
"Kenapa sih kamu nggak pernah mau dengerin penjelasan aku dulu, Al? Kenapa kamu selalu menyimpulkan semuanya sendiri? Kamu jahat tau nggak?!" Ucapku sambil berlalu menahan tangis.
Entah kenapa ucapan Ale tadi menyakitiku. Aku tak pernah menganggapnya seperti itu, aku hanya tak bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Aku memang menginginkan Ale melepaskan genggamannya padaku, namun aku tak tau rasanya sesakit ini. Melihatnya menganggapku menjadi sosok yang menyakitinya tidak membuatku baik-baik saja.
...***...
Kesalahpahamam yang tak terselesaikan, dan akhirnya menyerah dengan keadaan.
Duuuhh, jujur nulis chapter ini susah banget. berulang kali revisi dan cukup menguras emosiku. Ale yang tetap salah paham dengan sikapnya El, dan El yang enggan terus terang sama Ale.
Persoalan kecil yang menjadi besar karena nggak ada keterusterangan. Communication is a must dalam suatu hubungan. Kira-kira di Final chapter kesalahpahaman mereka terselesaikan nggak ya?
Tunggu Sabtu depan ya! Jawabannya ada di Final Chapter.
Happy Reading & Happy Week-end.
Stay Happy & safe teman-teman♡
(Jgn lupa vote dan comment yg banyak ya!)