![EPOCH [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/epoch--completed-.webp)
Elea
Pagi ini aku bangun lebih siang dari biasanya. Tidurku lebih nyenyak juga dari sebelumnya. Entah karena kondisiku yang jauh lebih tenang atau karena perasaanku yang jauh lebih senang. Iya, aku memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan dengan Ale. Mungkin bagi sebagian orang terlalu cepat untuk melepas 6 tahunku bersama Dhana dan menggantikannya dengan seorang yang bernama Alreyshad. Aku tau itu. Namun, apa yang membuatku memutuskan untuk membuka hatiku untuk Ale? Semua karena orang itu Ale.
Sudah 6 bulan aku memutuskan untuk menjadikannya partnerku dalam segala hal, dan selama itu juga Ale tak pernah sekali pun memaksaku untuk tidak membahas segala yang berkaitan dengan masa laluku. Ia bahkan tak pernah mencoba untuk menggantikan sosok Dhana. Ia menghadirkan warnanya sendiri dan menjadikannya berbeda.
From : Alreyshad
pagi, Le. udah bangun? Aku ninggalin sarapan di security. Dimakan ya. See you later :)
Aku terkejut saat membuka chat di handphoneku dan bergegas mengambilnya di security dan kembali ke unit untuk menelfon Ale.
"Kok nggak bilang kalo kesini?" Kataku
Ale tersenyum di ujung panggilan videoku.
"Tadi abis running, keingetan pas lewat Apartment kamu. Jadi sekalian pulangnya aku beliin. Dimakan ya." Ucapnya sambil meminum sebuah minuman isotonik.
"Makasih ya, iya aku makan kok. Kamu nggak sarapan?" Tanyaku sambil memakan salad yang Ale belikan.
"Aku udah sarapan tadi. Kamu beneran nggak capek? Kalo capek nggak apa-apa kok kalo nonton dan nemenin akunya dibatalin aja." Ucapnya.
Aku menggeleng, "nggak kok, aku udah puas banget malah tidurnya. Makanya baru bangun dan masih muka bantal gini." Kataku sambil memperlihatkan muka bantalku.
Ale tertawa, "yaudah kalo gitu 2 jam lagi aku on the way ya. Aku mau mandi dulu nih nggak enak udah lengket banget badannya" katanya sambil memperlihatkan bajunya yang basah karena keringat.
Aku mengangguk dan menutup panggilan videoku. Segera ku habiskan sarapanku dan pergi mandi.
...***...
Baru saja selesai bersiap, bel pintu unitku berbunyi. Sesuai dugaanku, Ale sudah berdiri disana. Hari ini aku berjanji untuk grocery shopping bersama. Sebelumnya, kami mungkin akan pergi menonton film dan sisanya hanya akan berjalan-jalan mengitari mall.
"Hei, udah siap?" Tanyanya sambil mencium keningku dan masuk ke dalam Apartmentku.
"Tinggal pake parfume sama sepatu kok." Jawabku sambil tersenyum.
Setelah selesai, kami menuju mall. Kali ini pilihan kami adalah Grand Indonesia, karena kami juga akan mengunjungi Ranch Market untuk grocery shopping.
"Kenapa sih liatin aku terus?" Tanyaku sesaat setelah Ale memarkirkan mobilnya.
"Nggak apa-apa. Yuk!" Jawabnya sambil mengajakku turun.
Kami mengantri untuk membeli cemilan ketika selesai membeli 2 tiket untuk film Fast & Furious: Hobbs & Shaw. Tidak romantis. Pasti itu yang terpikirkan. Kami menyukai film ini jauh sebelum kami memulai hubungan, untuk semua serinya kami sudah menonton dan ini yang terbaru. Akan sangat rugi kalau kami tidak memilih untuk menonton ini.
...***...
Selama pertunjukan film, Ale tidak melepaskan genggaman tangannya. Ia tetap menggenggam tanganku dan sesekali menciumnya. Selesai menonton pun Ale tetap tak melepaskannya.
"Udah laper belum?" Tanyanya ketika kami berjalan keluar area bioskop.
Aku menggeleng.
"Kalo gitu anterin aku nyari sesuatu boleh?" Tambahnya.
"Boleh dong, mau cari apa?" Tanyaku.
"Ada lah pokoknya. Yuk." Ajaknya.
Ternyata Ale mengajakku ke sebuah toko kacamata. Ale memang memiliki rabun jauh, walaupun ia lebih sering menggunakan lensa kontak sekali pakai dibandingkan kacamata. Namun, aku rasa kali ini ia akan mengganti kacamatanya, sebab beberapa kali ia sempat mengeluh masalah kacamatanya yang ia pikir sudah mulai tidak nyaman.
"Bagus nggak?" Tanyanya sambil memakai salah satu contoh sunglases.
"Bagus kok, cocok sama kamu. Aku kira kamu mau ganti kacamata kamu." Jawabku.
"Sunglasesku patah pas di Bali kemarin, Le. Ada yang lain, cuma aku ngerasa harus beli yang mirip." Jawabnya. "Yang ini aja mbak. Sekalian yang ini juga, mau tuker lensa bisa kan mbak?" Tanyanya kepada penjaga toko.
Disaat Ale sedang memeriksa matanya, aku memutuskan untuk melihat-lihat dan mencoba beberapa sunglases.
"You like it?" Tanya Ale yang tiba-tiba muncul.
"Nggak kok, cuma nyoba aja. Lagian belum butuh juga kok. Kamu udah?" Jawabku.
"Udah, lusa nanti diambilnya." Jawabnya.
Kami melanjutkan perjalanan kami menuju beberapa toko pakaian, sepatu, tas, bahkan kamera.
"Tapi Canon EF 24-70mm ready nggak barangnya ?" Tanya Ale kepada seorang penjaga di toko kamera.
"Ada paling display mas, kalo mau PO dulu 2 mingguan lah." Jawab mas penjaga toko.
"Hemm kalo gitu, next time kesini lagi deh mas. Thank you ya." Ucapnya.
"Kenapa nggak jadi?" Tanyaku pada Ale saat keluar dari toko.
"Masih kemahalan dan PO juga, sayang uangnya Le." Jawabnya, "makan yuk udah sore banget belum makan." Ajaknya yang aku setujui.
...***...
Di tengah-tengah makan, Ale membuat pernyataan yang lumayan membuatku terkejut.
"Le, Bunda pengen ketemu kamu." Katanya yang langsung membuatku tersedak. "Pelan-pelan sayang. Cuma ketemu biasa kok." Jawabnya sambil memberiku minum.
"Kapan?" Tanyaku.
"Next week, maybe? Kebetulan ada acara lamaran sepupuku. Sekalian ketemu mau ya?" Jawabnya.
Aku tak bisa menolak permintaan Ale, walaupun aku gugup setengah mati. Memang, aku sudah mengenal keluarga Ale sejak SMA. Bunda, Ayah, Acha, sampai si mbok yang notabennya adalah pekerja yang sudah bekerja di rumah Ale sejak Ale kecil pun aku mengenalnya. Hanya saja rasanya aneh jika kali ini Ale akan memperkenalkanku sebagai kekasihnya, bukan sahabatnya lagi.
Setelah makan, kami melanjutkan kegiatan kami. Kali ini adalah kegiatan terakhir kami yaitu Grocery Shopping.
Aku dan Ale menyusuri setiap lorong dan mengambil beberapa item yang kami perlukan. Tiba-tiba di suatu lorong Aku dikejutkan dengan panggilan seseorang.
"Elea!" Panggilnya yang membuatku menoleh. "Benerkan, Elea." Tambahnya.
"Wira? Kapan sampe Jakarta?" Tanyaku.
"Last week, kamu apa kabar Le? Ibu, Eyang? Lama banget nggak ketemu mereka." Ucapnya sambil tersenyum padaku. "I miss you, Le." Ucapnya yang membuatku terdiam.
...***...
Alreyshad
Ketika aku dan El sedang berbelanja, tidak sengaja terhenti karena panggilan seseorang yang tak ku kenal memanggil nama El. Tingginya sekitar 180 cm, memiliki wajah yang ya... bisa ku bilang lumayan sedang berjalan menghampiri kami. Mereka terlihat sangat akrab, bahkan beberapa kali ia menanyakan keadaan keluarga El.
"Belanja?" Tanyanya.
"Iya, wir. Oh iya, ini Ale." Kata El memperkenalkanku.
"Ale." ucapku sambil menjabat tangannya
"Wira." Jawabnya. "Kalo gitu aku duluan ya, Le. By the way, i miss you, Le. Nomer kamu masih yang lama kan? Nanti aku chat ya." Katanya yang El jawab dengan anggukan dengan senyum yang super lebar.
Selesai berbelanja, kami sepakat untuk pulang. Aku mengantar El sampai ke unitnya. Entah kenapa aku sedikit lebih diam setelah kejadian di Supermarket tadi. El juga tidak membahas apapun mengenai Wira. Ia tak memberi penjelasan Wira itu siapa? Mereka kenal dimana? Dan sebagainya. Aku juga tak menanyakannya. Tidak, aku tidak melarang El untuk bergaul dengan teman-temannya. Cuma pernyataan Wira yang terakhir membuatku sedikit terganggu.
Aku membantu El mengatur beberapa belanjaannya di dapur. Sampai tiba-tiba aku terkejut dengan sebuah tangan yang melingkar di perutku. El memelukku dari belakang.
"Are you mad at me?" Katanya sambil terus memelukku dan menempelkan pipinya di punggungku.
Aku memegang tangannya yang melingkar di perutku dan mengelusnya lembut. "Nggak kok, kok gitu ngomongnya." Jawabku dan melepaskan pelukan El.
Aku memutar badanku menghadapnya.
"Wira itu siapa?" Tanyaku.
"Wira itu kakak tingkat aku di kampus. Cuma temen kok. Emang deket banget dulu tapi udah jarang ketemu semenjak dia lulus. Baru ketemu lagi tadi." Jelas El.
"Do you miss him?." Ucapku
El menggeleng, "you're jealous, right?" Tanyanya.
Aku menggeleng, dan segera berbalik lagi menghadap kulkas untuk menaruh beberapa barang.
"I know you're jealous. Sorry. Jangan ngambek lagi please." Ucapnya sambil menyelinap ke hadapanku.
Aku mengalihkan badanku membelanginya. Dan ia terus mengikuti arah badanku.
"Mas Ale, jangan ngambek lagi dong, please. Ya, ya?" Katanya memelukku.
Kali ini aku tak bisa memungkiri bahwa El sangat menggemaskan jika tingkahnya seperti ini. Dengan cepat aku mengangkat tubuh El dan membuatnya duduk di atas countertop.
Aku menatapnya lekat, dan mengecup singkat bibirnya. "Bilang sama dia, you're mine. Jangan bilang kangen-kangen sama pacar orang!" Jelasku.
...***...
Elea
Aku terdiam ketika bibir Al mengecup singkat bibirku. Terkejut? Ya. Bagaimana tidak, Ale melakukannya dengan cepat dan tiba-tiba. Bahkan, aku tak tau harus berekspresi seperti apa. Aku hanya bisa menatapanya.
"Bilang sama dia, you're mine. Jangan bilang kangen-kangen sama pacar orang!" Jelasnya.
Aku masih terdiam.
"Why?" Katanya masih sambil menatapku. "Kaget?" Tanyanya.
Aku mengangguk. Dan apa yang terjadi?
Ale mengecup bibirku sekali lagi. "Yang ini nggak boleh kaget lagi." Katanya yang ku balas dengan cubitan kecil di perutnya.
"Aaaw! Le, sakit dong." Rintihnya.
"Jangan diemin aku lagi." Ucapku pelan.
"Aku nggak diemin kamu sayang, kapan aku diemin kamu hemm?" Jelasnya sambil mengelus pipiku.
"Okay, i'm sorry. Aku harusnya keselnya ke Wira bukan ke kamu. Maaf ya, jadi kamu yang kena." Katanya sambil menatapku dalam.
"Aku yang minta maaf bikin kamu bete. Sorry." ucapku.
Ale mengangguk, "biar nggak cemberut terus, aku harus ngapain nih?" Tanyanya.
"Peluk, boleh?" Ucapku.
Ale tersenyum dan merentangkan tangannya lalu memelukku.
...***...
Aku masih membereskan beberapa paper bag yang berisikan beberapa skincareku, sampai tiba-tiba aku menemukan satu paper bag dari toko kacamata yang Ale beli tadi.
"Al, ini punya kamu bukan? Kok dibawa turun." Ucapku sambil berjalan menuju ruang TV tempat Ale berada.
"Bukan, bukan punya aku. Itu punya kamu." Ucap Ale yang jauh membuatku lebih bingung.
"Kok punya aku?" Kataku sambil membuka isinya.
Yap, benar. Sunglases yang tadi ku inginkan kini ada digenggamanku. Ale membelinya entah kapan. Tapi yang jelas ia membelinya.
"Ale?" Panggilku.
"You like this sunglases, Le. Aku tau itu, kenapa harus nanti-nanti." Jawabnya sambil berjalan menghampiriku.
"Ya tapi kan aku belum but...." ucapku menggantung saat Ale tiba-tiba mencium pipiku.
"Kalo masih ngomong, aku cium lagi. Mau? Udah ah, kan udah dibeli. Nggak apa-apa kalo belum butuh. Disimpen aja dulu, siapa tau besok butuh kan." Ucapnya sambil berjalan menuju dapur. "Kamu mau ice cream nggak?" Tanyanya saat membuka kulkas.
"Al?" Ucapku.
"Iya sayang?" Jawabnya lembut.
"Thank you." Ucapku.
"Sama-sama. Makan ice cream, sambil nonton series yuk." Ajaknya sambil merangkulku dan menuntunku ke sofa.
...***...
Hari ini adalah jadwalku mengunjungi Rumah Sakit, yang kebetulan bertepatan dengan hari liburku. Bukan terapi, hanya untuk kontrol dan sedikit konseling saja. Pukul 11.00 siang jadwalnya, jadi aku masih punya 4 jam lagi untuk bersiap. Sambil mengoleskan nuttela ke rotiku, tiba-tiba aku harus beranjak mengambil handphoneku yang berbunyi.
Alreyshad is calling...
"Kenapa Al?" Ucapku heran.
"Kamu janji sama dokter Widya jam berapa nanti, Le?" Tanyanya di ujung telfon.
"Jam 11.00. Aku nyetir nggak apa-apa kok." Jawabku seketika saat tau kemana arah pembicaraan ini.
"Le, kamu bisa bilang dokter Widya nggak kalo mundur setengah jam?" Ucapnya.
"Ale, aku nggak apa-apa kok nyetir sendiri. Kamu kan juga banyak kerjaan." Jelasku.
"Aku jemput jam 10.30 ya, sayang." Ucapnya sesaat sebelum mematikan telfonnya.
Kalau Ale sudah seperti ini, aku tak bisa lagi melarangnya. Ia pasti akan muncul di depanku tak peduli apapun.
...***...
Aku memutuskan untuk menunggu Ale di lobby, sampai tak lama kemudian aku melihat mobil Audi A7 berwarna hitamnya memasuki lobby Apartementku.
"Udah lama ya? Maaf ya, tadi harus ngobrol sebentar sama Gilang." Ucapnya saat aku memasuki mobilnya.
Aku menggeleng, "kamu flu?" Tanyaku setelah mendengar suara Ale yang terdengar sengau. "Ale, kalo sakit izin aja sih, istirahat. jangan dipaksain masuk kantor. Kan bisa titip mas Renal kalo masalah siaran." Tambahku dengan nada khawatir.
Ale mengambil tanganku dan mengecupnya, "I'm fine, sayang." Ucapnya sambil menatapku dan tersenyum.
Tak lama mobil Ale sudah terpakir di lobby Rumah Sakit. Sesaat sebelum turun, aku menatap Ale yang berulang kali memijat pangkal hidungnya.
Ale tersenyum, "Ibu Eleanor, aku nggak apa-apa. Nanti juga sembuh, cuma flu kok." Jawabnya sambil menggenggam tanganku dan tersenyum.
Aku masih menatapnya, kali ini mungkin Ale melihat rasa khawatirku berlebih padanya. Bagaimana tidak, dalam 2 bulan terakhir Ale sudah berulang kali harus mendapatkan cairan infus dalam tubuhnya karena terlalu fokus bekerja.
Ale tersenyum menatapku, dan menariku ke dalam dekapannya.
"I'm okay, sayang. Tinggal minum obat sama tidur juga besok sembuh kok. Don't be affraid, Le." Ucapnya sambil mengelus pangkal kepalaku dan menciumnya.
"Turun?" Tambahnya saat melepas pelukannya yang ku balas dengan anggukan.
Setelah selesai berkonsultasi, Ale mengantarku menuju Apartment sebelum ia kembali ke kantor untuk lanjut bekerja.
"Nanti malem aku mampir ke unit ya." Ucapnya sambil mengecup keningku.
Aku mengangguk, "take care ya, Al." Jawabku setelah mengecup singkat pipinya.
...***...
Ale sudah sampai di Apartmentku sejak 30 menit yang lalu. Namun, matanya masih terus berkutat dengan laptopnya.
"Al?" Panggilku yang berjalan ke arahnya sambil membawakan beberapa potongan buah.
"Hemm?" Jawabnya tanpa menatapku.
"Masih banyak kerjaannya? Butuh bantuan?" Tanyaku sambil duduk di sampingnya.
Ale menggeleng dan menutup laptopnya. "Nggak sayang, udahan kok." Jawabnya sambil tersenyum. "Thank you buahnya." Tambahnya sambil membawa sepotong kiwi ke dalam mulutnya.
"Jangan capek-capek ya, Al. Nanti sakit lagi. Kamu kan punya anak buah, di bagi-bagi aja tugasnya. Jangan kamu semua." Ocehku yang hanya mendapat tatapan dan senyuman dari Ale.
"Sini, Le." Ucapnya seraya menarikku dalam dekapannya. "Aaah, ilang capek aku." Tambahnya yang mendapat pukulan kecil dariku.
"Aku nggak mau kamu sakit, Al. Yang khawatir bukan satu dua orang doang. Kamu tau kan?" Ucapku yang masih dalam pelukannya.
"Iya sayang, aku tau kok." Jawabnya.
"Kalo tau, jaga badannya. Jangan bandel dong, Ale." Tambahku, aku tau Ale pasti tersenyum melihat aku mengomelinya.
"Le?" Panggilnya.
"Apa?!" Jawabku ketus sambil melepaskan pelukannya. "Aku masakin tomyam mau?" Tambahku yang dibalas dengan anggukan Ale.
Aku melangkahkan kakiku menuju dapur dan segera menyiapkan bahan. Tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah dekapan. Ale memelukku dari belakang dan menempelkan pipinya di samping kepalaku.
"I love you." Ucapnya dan mengecup samping kepalaku.
"Me too." Jawabku sambil mengelus lengannya.
"Mau aku bantuin?" Ucapnya sambil berdiri di sampingku.
Aku menggeleng, bukan tak percaya Ale. Namun, aku tau dia lelah jadi aku hanya akan menyuruhnya duduk dan memperhatikanku memasak.
"Nggak apa-apa loh Le, kalo mau aku bantu." Ucapnya saat aku mengandengnya untuk duduk di bangku bar.
"Ale, aku masak sendiri aja. Kamu cukup liatin aja. Okay?"
...***...
Alreyshad
Aku duduk di kursi bar dapur unit El sambil memperhatikannya memasak. Entah kenapa aku sedikit menyesal baru menjadikannya kekasihku 7 bulan belakangan. Tau rasanya sebahagia ini, harusnya sudah ku lakukan sejak duduk di bangku SMA.
Eleanor Oliviera Cielo. Sesuai dengan artinya Cahaya Surga yang Damai. Sosok wanita ceria, tangguh, dewasa, dan lemah lembut. El akan selalu memancarkan cahayanya dimanapun ia berada. Pribadinya yang lemah lembut, bukan hanya perlakuan dan tutur katanya namun juga perasaannya. Ia bisa menangis tiba-tiba saat melihat kucing yang lemah di jalan, atau melihat anak-anak yang harus berjualan di jalan sepulang sekolah. Bahkan ia pernah membeli banyak sekali koran hanya karena seorang anak yang terlihat lelah dan mengantuk di pinggir jalan sambil menjajakan koran.
Dia hampir tak pernah marah kepada siapapun, padahal aku tau seberapa sering ia mendapatkan omongan tidak menyenangkan untuk didengar. Ia hanya akan marah ketika aku tak menuruti ucapannya yang meminta agar tidak lupa makan dan istirahat. Itu pun, ia akan mengomel sambil menangis dan mengatakan, "Kamu kenapa bandel sih, aku kan takut kalo kamu sakit gini." Sudah ku katakan kalo El hanya bisa menangis dan tertawa untuk memperlihatkan perasaannya.
El adalah wanita hebat (setelah Bunda pastinya). Ia tak pernah mengeluh setiap traumanya kambuh. Padahal aku tau rasanya sulit bernafas dan tak bertenaga saat sekujur tubuhnya gemetar. El hanya akan memegang lembut lenganku saat itu terjadi, dan mengatakan pada dirinya sendiri, "Elea, itu cuma bayangan. Nggak nyata. Itu nggak ada.".
Wanita kuat itu adalah kekasihku sekarang. Yang selalu membuatku merasa kecil di hadapannya yang sekuat itu. El mungkin tumbuh tidak dengan kasih sayang seorang Ayah. Namun, ia bisa tumbuh dengan sangat baik dengan segudang luka yang ia punya.
Lamunanku terhenti saat El menaruh mangkuk berisikan tomyam buatannya.
"Makasih Le." Ucapku sambil tersenyum.
"Sama-sama, Al. Mau minum apa? Aku ambilin." Katanya sambil berjalan menuju kulkas dan segera ku tahan.
Ku bawa El kembali dalam dekapanku.
"Ale? Ada apa?" Ucapnya saat aku memeluknya.
El selalu menanyakan hal itu ketika aku tiba-tiba memeluknya. Ia selalu mengetahui jika aku memiliki hal yang sedang aku pikirkan.
Aku menggeleng, "cuma mau peluk kamu aja." Kataku sambil melepaskan El dari pelukanku.
"You sure?" Tanyanya kembali yang ku balas dengan anggukan dan senyuman. "Yaudah mau minum apa?"ucapnya.
"Apa aja." Kataku singkat.
...***...
Setelah menghabiskan tomyam buatan El dan sedikit mengobrol, aku memutuskan untuk pulang.
"Besok aku anter ya." Ucapku.
Besok adalah jadwal liburku sedangkan El harus masuk kantor.
"Kamu istirahat aja Al. Aku nggak apa-apa." Ucapnya.
"Anterin kamu ke kantor nggak lebih dari 30 menit kok El. Udah ah, aku pulang ya." Kataku sambil mengecup kening El. "Bye sayang, nanti aku telfon kalo udah sampe Apartment." Tambahku dan meninggalkan Apartmentnya.
...***...