![EPOCH [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/epoch--completed-.webp)
Elea
Pagi ini aku masuk kantor seperti biasanya dengan Ale pastinya. Setelah menghentikan mobilnya di lobby, aku berjalan menuju lift dan melewati beberapa orang. Ada yang menyapa ada juga yang hanya menatap.
Tatapan penuh tanya dari mereka sudah biasa aku dapatkan semenjak aku resmi menyandang status kekasih dari PD idolanya. Bahkan bukan hanya itu, beberapa ucapan mereka tentangku pun hampir tiap hari sampai ke telingaku. Namun responku masih saja sama. Pura-pura tak dengar dan lebih memilih untuk diam seperti saat ini.
"Mas Ale kok mau ya sama mbak El. dia kan sakit, Sayang bgt."ucap salah seorang pegawai yang ku lewati.
"Iya, kasian kan kalo jadi seumur hidupnya cuma buat ngurusin mbak El." Tambah temannya yang sedikit terkejut karena menyadari kehadiranku.
Suara mereka sangat pelan, namun aku mendengarnya.
Bukan hanya aku, Ale juga sering mendengarnya ketika ia bersamaku. Bukannya Ale tidak pernah menghampiri orang yang berkata seperti itu. Hampir setiap kali ia mendengarnya, ia selalu naik pitam dan ingin segera menghampiri orang yang membicarakan kami seperti itu. Namun, selalu ku larang dengan alasan pekerjaannya. Ia tak bisa berbuat semaunya sebab ada aturan yang harus ia patuhi selama berada di kantor.
Aku berjalan menuju meja kerjaku saat aku lihat Tere sudah tersenyum saat melihatku.
"Morning nyonya Alreyshad." Ucapnya
"Ter? Jangan bikin perkara deh. Kantor kali." Jawabku sambil meletakkan tas dan duduk di mejaku.
Tere merubah ekspresinya menjadi lebih serius, "Loh kenapa? Udah pada tau juga kan El." Jawabnya.
"Ya tetep aja nggak enak, Ter." Kataku.
"Naik apa lo? Ale libur kan?" Tanyanya seraya mengambil sandwich yang ku sodorkan padanya.
"Dianter Ale." Jawabku singkat.
"Wah, gila!! Udah lah El, mending lo resign trus lo nikah aja sama Ale. Biar resmi menyandang status nyonya Alreyshad." Ucapnya yang sukses membuatku tersenyum.
"Ngaco lo ah." Jawabku sambil tertawa.
"Loh kok ngaco sih? El, dengerin ya. Kalian itu tunggu apa lagi sih? Ale udah settle masalah kerjaan dan pendapatan. Keluarga kalian juga udah kenal satu sama lain. Apa lagi coba yang ditunggu? Kalo masalah yakin atau nggak, gue berani taruhan Ale yakin 1 juta persen sama lo." Ucap Tere.
Aku hanya terdiam karena memang semua yang Tere ucapkan benar adanya. Beberapa kali Ale juga sudah membahas perihal hubungan kami kedepannya. Namun, entah apa yang membuatku belum berani untuk membahasnya lebih lanjut. Mungkin karena kejadian ibu dan Ayahku di masa lalu yang membuatku sedikit takut dalam mengambil keputusan untuk menikah. Aku tau aku salah, namun aku tak bisa apa-apa. Itu yang ku rasakan. Aku memang belum membahasnya dengan Ale, tapi aku tau Ale pasti mengerti maksudku yang menunda sedikit lebih lama.
...***...
Pekerjaanku selesai tepat pukul 19.00 malam. Dan tiba-tiba aku menjumpai Ale di lobby kantor. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Kok jemput nggak bilang-bilang?" Kataku saat menghampirinya.
"Sengaja. Yuk!" Katanya sambil memberikan tangannya untuk ku genggam.
Kami sampai di parkiran saat beberapa orang sedang membicarakan kami. Tau apa yang Ale lakukan? Menutup kupingku sambil merangkulku.
Dan setelah di dalam mobil. Ia hanya menatapku. "Why?" Ucapku sambil tersenyum.
"Yang harusnya kasian itu kamu deh kayaknya bukan aku. Aku cuma bisa masak telur dadar, kalo kamu sakit masa makan telur dadar terus." Ocehnya asal.
Aku tertawa mendengarnya, "tapi aku suka kok telur dadar buatan kamu." Ucapku sambil tersenyum.
"Le?" Ucapnya.
"Ya?" Jawabku.
"Bukan kamu yang beruntung dapet aku. Tapi aku yang beruntung dapet kamu." Ucapnya sambil mencubit gemas pipiku. "Makan sate Ayam Kambing RSPP mau?"
"Mauuu!!!" Jawabku semangat.
Aku tak tau apa yang selalu ada di pikiran Ale. Ia selalu bisa membuatku merasa lebih baik seusai mendengarnya berbicara.
Alreyshad Darien Tavish. Nama yang bagus kan? Pria dengan tubuh 185 cm, berambut hitam kecokelatan (warna asli rambutnya memang bukan hitam pekat) sekaligus pemilik mata indah berwana kelabu yang turun dari gen sang Bunda yang amat sangat cantik. Cool namun sangat banyak omong ketika bersamaku. Sosok Pemimpin yang tegas namun bijaksana. Persis dengan arti namanya, Ale selalu bersikap jujur dan bijaksana. Bukan karena semata-mata aku kekasihnya, Ale tak pernah menegurku di kantor. Ale tetaplah atasanku saat di kantor, yang tetap menegur bahkan membentakku ketika pekerjaanku tidak rapih, dan sukses membuat semua orang terkejut. Karena mereka semua tak menyangka Ale akan bersikap sama kepadaku. Walaupun setelahnya ia berulang kali meminta maaf padaku ketika mengantarku pulang.
Ia adalah Sahabat terbaik yang kini jadi kekasih terbaikku. Kali ini sedang sibuk mengunyah sate langganan kami semasa SMA. Kepribadiannya yang hangat, selalu mampu membuat semua orang menyukainya. Termasuk aku.
"Kenapa sih liatin aku terus?" Tanyanya.
Aku menggeleng sambil tersenyum, "thank you ya, Al." Ucapku singkat.
Ale menghentikan suapannya dan menatapku lekat.
"Kenapa Le?" Ucapnya lembut.
Aku menggeleng lagi, "nggak apa-apa." Ucapku sambil tersenyum padanya.
"Le, kapan-kapan temenin aku liat rumah ayah yang di radio dalam yuk." Ucapnya tiba-tiba.
Aku mengangguk, "boleh. Siapa yang nempatin sekarang?" Tanyaku.
Ayah Ale memang memiliki satu rumah di Jakarta. Karena selama kami bersekolah Ayah masih bertugas di kantor pusat Jakarta, sebelum akhirnya ditugaskan ke kantor pusat Bandung dan memilih untuk menetap disana karena Acha sudah terlanjur sekolah disana walaupun Ayah masih harus bolak-balik Jakarta-Bandung.
"Nggak ada, buat aku katanya. Mau aku liat dulu, takut ada yang perlu direnove." Jawabnya. "Kamu nggak apa-apa kan tinggal disana nanti?" Tanyanya dengan nada meledek.
Aku terdiam, cukup terkejut dengan pernyataan Ale barusan yang Ale balas dengan tertawaannya karena melihat ekspresiku.
...***...
Alreyshad
Aku menanyakan hal itu bukan semata-mata untuk meledeknya. Tetap saja niatku benar adanya. Aku memang belum menanyakan atau mengajaknya untuk memilih ke jenjang yang lebih serius dalam waktu dekat ini. Namun, niatku untuk ke arah sana tentu ada, dan bersama orang yang sedari tadi sedang sibuk memisahkan antara kulit dan daging ayam pada satenya.
"Le, kamu nggak ada niatan mau ke rumah Ayah?" Ucapku tiba-tiba.
Bukan maksud membuat El mengingat kembali masa lalunya, namun dokter Widya menyarankan hal serupa. Jika ingin kondisi El seperti sedia kala, jalan satu-satunya El harus berdamai dengan masa lalunya. Ia harus memaafkan rasa kesal dan sesalnya di masa lalu agar pikirannya tenang.
"Aku nggak maksa kok kalo emang belum mau." Ucapku lagi sambil menggenggam tangannya.
El tersenyum, "makasih ya." Ucapnya.
"Untuk sabar, dan pengertiannya. Aku tau itu pasti sulit buat kamu tapi kamu terus ngelakuinnya buat aku " ucapnya pelan.
"Kalo aku sulit, kamu pasti jauh lebih sulit. I'm fine kok Le, selama kamu baik-baik aja aku pasti akan jauh lebih baik-baik aja. So, if you feel I push you too much. Just told me ya, Le. Aku nggak mau buat kamu nggak nyaman." Ucapku sambil mengelus tangannya yang sedari tadi ku genggam.
Aku mengantar El ke rumah Ibunya setelah selesai makan Sate langganan kami. Tak lupa membungkuskan beberapa tusuk sate yang kami jadikan buah tangan untuk keluarga El di rumah. Karena ku dengar dari El, Bang Elo dan keluarga sedang menginap disana.
Setelah memarkirkan mobil, kami disambut dengan sapaan ibu yang selalu terlihat senang saat kami berkunjung.
"Ale, akhirnya main lagi." Ucapnya.
Aku sering berkunjung, mungkin setiap 2 minggu sekali karena El akan selalu pulang ke rumah setiap 2 minggu sekali. Namun, beberapa kali aku memutuskan untuk tidak masuk melainkan hanya mengantarnya saja.
"Apa kabar bu?" Ucapku sambil mencium tangannya.
"Baik, Ale? Kok kayak lagi flu." Tanyanya sambil mempersilahkan kami masuk.
Ucapan Ibu tadi rupanya membuat El berbicara. "Ale emang Flu, bu. Bandel, nggak mau dengerin Lea." Ucapnya sambil memeluk Abi.
"Bentar Ibu ambil stetoskop dulu." Ucap Ibu sambil menuju kamarnya.
Aku menghampiri El setelah bersalaman dengan Eyang, Abang Elo, dan Kak Vriska. "Le, aku nggak apa-apa kok." Kataku sambil mengajak Abi bermain.
"Kamu Flu. Diperiksa ibu sebentar kan nggak apa-apa, sayang." Ucapnya sambil tersenyum lembut yang akhirnya membuatku luluh.
Setelah mendapat pemeriksaan, kami melanjutkan pembicaraan kami di meja makan. Tidak, aku dan El tidak makan, kami hanya menyantap dessert selagi yang lain makan.
"Jadi kapan Al nyusul gue sama Vriska?" Ucap Bang Elo tiba-tiba.
Aku tersenyum, "Leanya belum siap Bang. Tunggu siap dulu." Ledekku.
"Loh apa lagi yang ditunggu Lea? Mumpung Eyang masih sehat." Ucap Eyang.
El terdiam dan menatapku.
"Hmmm itu eyang.." ucap El yang terlihat bingung.
"Rumah Ayah Ale yang di Radio Dalam biar direnove dulu Eyang. Biar nanti udah nyaman kalo Ale bawa Lea kesana. Sambil nunggu proses renove, kita jalanin semuanya pelan-pelan aja. Ale nggak mau buat Lea merasa terburu-buru, senyamannya Lea aja. Selagi pilihan Lea masih Ale, Ale nggak masalah kok nunggu." Ucapku pada Eyang yang sukses membuat El tersenyum.
"Kan bisa tinggal sini dulu. Tapi ya nggak apa-apa. Menikah itu bukan karena omongan orang, tapi memang didasari dengan kesiapan masing-masing pribadi. Pesan Eyang, kalo sudah siap Lea maupun Ale, ya jangan ditunda ya. Mau rumah sudah jadi atau belum jangan dipikirkan kalo sudah sama-sama siap." Ucap Eyang.
"Iya Eyang." Ucapku sambil tersenyum.
Setelah mengobrol dan bercengkrama dengan keluarga El. Aku memutuskan untuk pulang, karena hari sudah malam.
"Besok aku jemput ya ke kantornya." Ucapku yang mendapat anggukan dari El.
"Kamu hati-hati nyetirnya. Obatnya diminum ya!" Ucapnya yang ku balas dengan pelukan dan kecupan di keningnya.
"Aku pulang ya." Ucapku.
...***...
Pagi ini aku merasa benar-benar tidak enak badan, sehingga aku memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dan diam di Apartementku. Namun, ternyata tidur sampai siang tidak menjadikanku baik-baik saja. Tubuhku benar-benar tak bertenaga sehingga mengharuskanku menelfon security Apartement untuk membawaku ke Rumah Sakit.
Dan disinilah aku sekarang di kamar VIP Superior nomer 413 Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC Jakarta), dengan selang infus di tangan kananku, dan remote TV di tanganku yang lain. Setelah mendapatkan perawatan dan tidur sejenak, aku mendapatkan lagi tenagaku. Aku izin kerja hari ini. Sudah ku kabari Aji tadi pagi setelah sebelumnya aku meminta maaf pada El karena tak bisa menjemputnya. Dan sedikit menyesal karena membuatnya panik dan menangis mendengar aku di larikan ke Rumah Sakit sedangkan ia tak bisa mengantarku karena jadwal siarannya.
Sedang sibuk menonton TV, aku dikejutkan dengan keberadaan El dan beberapa rekanku. Mata El sudah sembab, dan wajah khas khawatirnya terlihat jelas. Ia berjalan ke arahku sambil menangis.
"Aku nggak apa-apa, sayang." Ucapku sambil membawa El ke pelukanku.
El benar-benar menangis.
"Kalo kamu nggak apa-apa, kamu nggak akan disini Ale." Ucapnya sambil menangis.
...***...
Setelah El tenang, aku melanjutkan obrolanku dengan teman-teman lainnya sampai sekitar pukul 21.00 dan akhirnya mereka pamit pulang.
"Kamu pulang aja gih, ikut Aji." Ucapku pada El.
El menggeleng, "aku disini aja. Jagain kamu." Jawabnya.
"Le?" Ucapku lembut.
"Jangan larang aku, Al please. Aku mau disini aja jagain kamu." Ucapnya pelan sambil menunduk. "Ya Al?"
Kalau El sudah seperti ini, aku tak bisa lagi melarangnya. Aku mengangguk, "yaudah tapi kamu tidur disini, biar aku yang di sofa." Ucapku.
"Ale, yang sakit kan kamu. Lagian itu kan bisa aku tarik biar jadi sofa bed." Jawabnya
Setelah sempat menonton tv bersama El. Kami sepakat untuk beristirahat.
"Kamu tidur ya, sleep well, Al" ucapnya pelan sambil berjalan menuju sofa yang segera ku tahan dan ku tarik lengannya.
Aku mengecup singkat bibirnya, "sleep well, Le." Ucapku sambil tersenyum.
"Bandel." Katanya sambil memukul bibirku pelan dengan telunjuknya.
Aku hanya tersenyum, "lagian ngucapin sleep well ke aku gitu doang, cium pipi kek atau apa git..." ucapku menggantung saat tiba-tiba El mengecup kembali bibirku.
"Sweet dream, mas Ale" ucapnya sambil pergi meninggalkanku ke sofa.
"Bakal manis banget sih mimpi aku." Ledekku.
"Sssstt, istirahat." Ucapnya sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut.
...***...