EPOCH [COMPLETED]

EPOCH [COMPLETED]
Chapter 18


Elea


Setelah acara makan malam team, kami memutuskan untuk pulang ke villa dan beristirahat. Selesai membersihkan badan dan berganti pakaian, aku menuju dapur untuk mengambil air minum. Namun ternyata, Ale masih duduk di sofa sambil memainkan gitar dan memandangi kolam renang.


"Ale?" Panggilku yang berhasil membuatnya menoleh.


"Hei, belum tidur?" Tanyanya yang ku balas dengan gelengan kepala.


Aku duduk di sampingnya dan memberinya teh hangat.


"Thank you." Ucapnya. "Tidur gih, istirahat." Tambahnya sambil menyenderkan kepalanya di sofa dan menatapku.


"Kamu kenapa nggak tidur?" Tanyaku


"Nggak apa-apa. Belum ngantuk dan lagi pengen gitaran aja. Mumpung Ojan bawa gitar jadi aku pinjem aja." Katanya sambil memetik gitar.


"Aku boleh disini nggak?" Tanyaku kembali.


Ale mengangguk, "mau senderan juga boleh" katanya sambil menepuk pundaknya.


Entah apa yang ku pikirkan, dengan santai aku menyenderkan kepalaku pada bahu Ale dan membahas kekhawatiranku esok malam saat menemui Dhana. Jujur aku tak tau harus memulainya dengan apa, terlebih aku sudah membayangkan sikap Dhana yang tidak akan baik-baik saja setelah aku mengucapkan keinginanku.


...***...


Alreyshad


Sejujurnya aku tidak serius menawarkan pundakku pada El. Namun, responnya di luar kendaliku. Kepala El tiba-tiba bersandar di pundakku. Semoga detak jantungku tidak sampai terdengar oleh El, karena jujur kali ini aku rasa jantungku bekerja jauh lebih keras.


"Al?" Panggilnya.


"Hemm?" Jawabku.


"Aku harus bilang apa ke Dhana?" Tanyanya pelan.


"Bilang aja apa yang kamu mau sampein." Jawabku sambil menatapnya. Sumpah, darimana saja aku menatapnya, El tidak pernah terlihat jelek. Terserah jika kalian bilang aku lebay, karena memang tak ada kata-kata lain selain Cantik, yang akan terus aku gunakan ketika melihat El.


"Aku takut Dhana marah kalo aku langsung minta break up, Al." Ucapnya


"Mau aku temenin?" Jawabku dengan nada bercanda.


El langsung mendongakan kepalanya dan menatapku. Dia menggeleng.


"Bisa-bisa tambah marah nanti." Jawabnya sambil menyandarkan kembali kepalanya.


"Trus maunya gimana?" Tanyaku.


"Aku nemuin dia sendiri aja nanti Al." Katanya seraya menegakkan tubuhnya. "Aku tidur ya." Lanjutnya sambil melangkah melewatiku.


Entah setan apa yang ada di tubuhku sampai aku berani untuk menahan tangannya.


"Kenapa Al?" Tanyanya bingung.


Aku menggeleng, "sleep well." Jawabku.


"You too, jangan tidur terlalu malem ya" ucapnya sambil tersenyum dan meninggalkanku.


...***...


Sore ini kami sudah menyelesaikan seluruh kegiatan gathering kami, sehingga sekarang waktunya untuk pulang dan kembali ke rutinitas harian kami.


Sesampainya di Jakarta. Kami semua berpisah menuju tempat tinggal kami masing-masing. Aku sudah menawarkan tumpangan pada El. Namun ternyata, Dhana sudah menjemputnya, dan El tidak mau mengulur waktu untuk menyelesaikan masalahnya dengan Dhana. Jadi, dia memutuskan untuk pulang bersama Dhana dan menyelesaikan segalanya.


"El, pokoknya kalo ada apa-apa langsung telfon kita ya" ucap Tere yang langsung diiyakan oleh El.


Aku tidak langsung pulang ke Apartment, melainkan harus ke kantor terlebih dahulu guna mengambil beberapa file yang harus aku kerjakan di rumah karena deadline esok hari.


Ketika baru sampai parkiran kantor, aku mendapat telfon dari El.


Eleanor Oliviera is calling..


"Al, tolongin aku.." katanya sambil menangis.


...***...


Elea


Aku sudah mengirimkan chat pada Dhana sesaat sebelum aku meninggalkan Bandara Ngurah Rai untuk kembali ke Jakarta. Aku meminta untuk bertemu Dhana di suatu tempat dan menyelesaikannya malam ini. Sungguh, aku tak ingin mengulurnya lagi setelah semua yang sudah aku lihat di Bali kemarin.


Begitu sampai Jakarta, ternyata semua rencananya berubah. Dhana tiba-tiba menjemputku dan mengantarkanku pulang ke Apartment. Namun, tekadku untuk berbicara dengan Dhana sudah bulat. Sehingga sesaat sebelum aku turun dari mobilnya, aku mengatakan keinginanku.


"Dhan, aku mau putus." Ucapku.


"El, kamu bercanda ya?" Katanya sambil tersenyum


"Aku serius, Dhan. Aku mau putus." Ucapku lagi.


"Ngomong sekali lagi, El!" Katanya marah, kali ini tangannya sudah mencengkram kuat rahangku.


"Dhan, aku tau kelakuan kamu di Bali. Dan aku nggak peduli kamu mau ngapain sekarang. Yang jelas aku mau putus." Kataku sambil melepaskan tangan Dhana pada rahangku, dan turun dari mobilnya.


Kakiku lemas, tanganku bergetar setelah kejadian Dhana di mobil tadi. Namun, aku tetap berjalan menuju unitku tanpa menengok ke belakang


Setelah sampai unit, aku menekan passlock pada pimtu unitku dan segera masuk. Namun, tiba-tiba ditahan oleh sebuah tangan.


Dhana sudah berdiri menghadapku sekarang.


"you're mine, El" katanya sambil memegang pipiku. "El, i love you and I don't wanna loose you" lanjutnya.


Aku takut. Dhana benar-benar tidak seperti biasanya. Ia memaksaku untuk mengikuti maunya. Ia memelukku dengan kuat. Sekuat tenaga aku mencoba melepaskan pelukannya dan menahan tanganku yang gemetar agar tidak terlihat lemah.


Dhana memegang tengkukku dan mencoba menciumku yang ku balas dengan menendang perutnya untuk dapat lepas dari perlakuannya. Percobaan pertamaku gagal, yang malah membuat Dhana lebih marah. Ia menekan tengkukku dan menghimpit leherku yang membuatku sulit bernafas. Namun, aku berhasil menendang perutnya untuk kedua kalinya dan berhasil. Dhana terjatuh kesakitan dan aku berhasil memasuki kamarku dan menguncinya.


Seluruh tubuhku bergetar, dan jari-jariku lemah tak berdaya saat aku mencoba menelfon Ale. Dhana masih mencoba untuk menghampiriku dengan cara mengetuk dan menekan knop pintu kamarku dengan paksa. Namun, tak ada yang bisa aku lakukan lagi, aku hanya bisa berbaring sambil menangis di samping tempat tidur dan berharap Ale segera datang.


...***...


Alreyshad


Aku langsung berlari menuju unit El, sesaat setelah memarkirkan mobilku. Dan benar saja, pintu unit El tidak menutup sepenuhnya. Aku memutuskan untuk masuk dan ku dapati Dhana yang sedang mencoba membuka pintu kamar El.


Dhana menyadari kehadiranku dan langsung menyambutku dengan sebuah tatapan meremehkan.


"Oh jadi orang ini yang kamu tungguin di Apartement, El? Ini penyebab kamu mutusin aku?" Ucapnya asal.


Aku yakin El mendengarnya, karena ia langsung berteriak dari kamar.


"Ale, kamu panggil security. Cepet, Al!" Ucapnya.


Aku yakin El ketakutan. Sebab dari cara bicaranya terdengar bergetar.


"********!" Kataku sesaat El menyudahi kata katanya.


Aku memukul Dhana. Kali ini sudah tak ada ampun baginya. 3 kali ia membuat El menangis. Dan kali ini ia membuat El menangis lagi dan ketakutan. Aku memukulnya berkali-kali. Dhana juga tak tinggal diam, ia mengambil pot tanaman El untuk menghantam kepalaku.


"Al, are you okay? Kata El sambil menangis di balik pintu ketika mendengar suara pecahan pot.


Aku bangkit dan mengumpulkan kesadaranku sepenuhnya sampai pada akhirnya aku benar-benar menendang Dhana dan membuat dia terjatuh lemah. Saat itu ku putuskan untuk menelfon security dan mengamankannya.


...***...


Aku mengetuk pintu kamar El , saat Dhana sudah diamankan.


"Le?" Panggilku dari luar pintu.


Tak lama setelahnya, El membuka pintu kamarnya dan terjatuh tepat di badanku. Keadaan El sangat lemah. Ia benar-benar tak memiliki tenaga. Nafasnya terengah-engah, tangannya bergetar, air matanya terus jatuh. Aku memeluk El sambil menahan badannya.


"Al, kamu nggak apa apa kan?" Katanya lemah.


Bagaimana bisa Dhana menyakiti orang seperti El? Bahkan disaat kondisinya yang sangat lemah pun ia masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan orang lain.


Aku memutuskan untuk mengendong El ke sofa, karena kondisinya tak memungkinkan untuk berjalan.


"Le, kamu nggak apa-apa kan? Dhana apain kamu?" Kataku menatapnya sambil memasangkan selimut kepadanya.


Aku menanyakan hal itu bukan tanpa alasan. Lengan kanan baju El robek, dan menampilkan bahunya.


El menunduk dan menggelengkan kepalanya.


"Al, aku takut." Ucap El sambil menangis.


"Ssst, it's okay, Le. Ada aku. Kamu nggak perlu takut lagi." Kataku sambil memeluk dan mengelus lembut puncak kepalanya.


...***...


Aku menelfon Tere dan memintanya untuk menemani El malam ini di Apartment El. Sambil menunggu Tere, aku membereskan beberapa kekacauan sisa perkelahianku dengan Dhana tadi. Dan ketika aku selesai membuang pecahan pot, El muncul dari arah dapur dan membawa sebuah kotak.


Ia menghampiriku dan mengandeng tanganku sambil mengajakku ke arah kursi Bar. Setelah sampai ia menaruh kotak itu di meja Bar.


"Duduk" katanya menyuruhku duduk.


Setelah itu ia berdiri di depanku dan membersihkan luka di kepalaku. Ya, aku sempat terluka karena hantaman pot yang dilemparkan oleh Dhana.


...***...


Elea


"Al?" Ucapku.


Saat aku menyebutkan namanya, saat itu pula bel unitku berbunyi.


"Al, ada tamu." Kataku.


Ale melepaskan rangkulannya dan membiarkanku membukakan pintu. Ternyata Tere yang datang.


"El, lo nggak apa-apa kan?" Katanya sambil memasuki unitku menuju ruang TV. Tere terkejut saat melihat Ale yang tengah duduk di meja Bar dapurku dengan perban di dahinya. "Yaampun mas Ale nggak apa-apa?" Tanyanya.


"Nggak apa-apa Ter." Jawabnya tenang. "Udah ada Tere, aku pulang ya." Ucapnya sambil bangkit dari kursi bar. "Ter, gue titip, Elea ya." Lanjutnya yang mendapatkan anggukan dari Tere.


"Ter, gue nganter Ale ke depan dulu ya." Ucapku.


"Okay, gue nyalain TV ya, mau lanjut nonton Money Heist" katanya yang aku iyakan.


Aku mengantarkan Ale menuju pintu unitku.


"Sampe sini aja, Le." Katanya. "Udah diubah?" Tanyanya sambil menunjuk ke passlock pintuku.


Aku mengangguk, "udah kok, udah aku reset passwordnya."


Aku mengganti password ku dengan alasan keamanan, Ale mengusulkannya agar Dhana atau sembarang orang tak dapat masuk ke unitku.


"Yaudah kalo gitu aku pulang ya." Ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku.


Ale berjalan menuju pintu pemisah lobby. Namun tiba-tiba ia berhenti dan berbalik ke arahku.


"Ada yang ketinggalan?" Tanyaku.


Ale mengangguk dan memegang pipiku dengan satu tangannya lalu membawaku kembali ke pelukannya.


Aku terdiam.


"Le, habis ini kamu boleh salah sangka sama sikap aku ke kamu sekarang." Katanya sesaat setelah memelukku. "Selamat istirahat, aku pulang ya." Lanjutnya tersenyum sambil melangkahkan kakinya meninggalkanku yang masih terdiam menatap punggungnya.


...***...


Pagi ini aku berangkat bersama Pak Amir menuju ke kantor memakai mobil ibu. Setelah 3 bulan semenjak kejadian Dhana di Apartmentku, aku memutuskan untuk tinggal sementara waktu di rumah Ibu sesuai permintaan Ibu dan Ale.


"Elea sayang, pilihannya cuma 2. Lo jual unit lo dan pindah Apartment atau pindah ke rumah Ibu lo?" Kata Tere saat kami bertemu di lift.


"Gue beneran udah nggak apa-apa, Ter. Lagian kan smart lock handlenya udah diganti sama yang ada sidik jari gue. Jadi, udah lebih aman kok. Gue juga nggak mau terus-terusan buat ibu khawatir" ucapku seraya berjalan keluar lift menuju department kami.


"El, kalo mau ngerayu jangan ke gue. Ke orang itu tuh!" Katanya sambil menunjuk Ale yang sedang berbicara dengan mas Aji.


"Pagi mas Aji, mas Ale." Sapa Tere yang ku ikuti dengan senyuman dan anggukan kepala.


"Eh pagi, Ter, El. Berangkat bareng?" Tanya mas Aji.


"Nggak mas, ketemu di lift tadi trus El maksa-maksa biar bareng ke atasnya" kekeh Tere.


"Aku boleh ngomong sebentar nggak?" Kataku sambil menatap Ale.


"Heh? Boleh kok." Ucap Ale sedikit terkejut.


Aku dan Ale berjalan menuju lorong dekat lift untuk memisahkan diri dari mas Aji dan Tere.


"Kenapa?" Katanya lembut sambil menatapku


"Al, malem ini aku balik ke Apartment ya? Aku udah nggak apa-apa kok. Nggak enak juga aku di rumah ibu malah buat ibu khawatir terus nanti." Kataku.


"Dhana masih nelfon atau chat kamu ngga?" Tanyanya tiba-tiba.


Aku menggeleng, "udah engga kok." Jawabku tenang.


"Kamu yakin sendiri di Apartment? Nggak mau di rumah ibu aja sementara? Aku takut Dhana macem-macem lagi, Le" katanya dengan ekspresi khawatir.


"Ih, aku nggak apa-apa kok Ale. Udah nggak apa-apa. Kalo aku pulang ke rumah ibu terus yang ada nanti ibu malah nambah khawatir kalo aku kemana-mana. Nggak mau ah aku. I'll be fine kok, Ale. Ya? Please.." ucapku sambil memohon pada Ale.


"Yaudah, tapi tiap hari aku anter jemput ya!" Ucapnya


"Al, aku nggak apa-ap..." jawabku yang langsung dipotong oleh Ale.


"Mau iyain atau aku nggak bantuin kamu buat izin sama ibu ?" Katanya dengan tampang super galak. "Aku takut kamu kenapa-napa, Le." Lanjutnya sambil menatapku dalam.


"Iya, kamu boleh tiap hari anter jemput aku. Asal kalo kamu nggak sempet atau banyak kerjaan jangan dipaksain ya?" Jawabku yang langsung mendapat senyum dan anggukan dari Ale.


...***...


Siang ini, setelah selesai siaran aku memutuskan untuk mengiyakan tawaran Ale untuk makan siang bersama di sebuah Mall yang kebetulan melewati toko kamera. Jadi, setelah makan siang, Ale meminta waktuku sebentar untuk mampir dan melihat-lihat.


"You want it?" Tanyaku ketika Ale memegang salah satu kamera.


"Mau sih tapi nanti nanti dulu deh, belum ada waktu juga buat hunting." Jawabnya. "Le, sabtu ini kemana?" Tambahnya sambil menoleh ke arahku.


"Hemmm belum ada rencana sih. Why?" Tanyaku.


"Bogor mau? Sekalian temenin aku hunting" Ucapnya.


"Boleh, tapi kamu nggak capek? Jumat bukannya mau bowling sama mas Aji?" Tanyaku.


"Bowling paling bentar. Okay kan?" Tambahnya yang aku balas dengan anggukan.


...***...


Malam ini aku diantar pulang ke Apartment oleh Ale, sesuai perjanjian tadi, bahwa mulai malam ini aku sudah kembali tidur di Apartmentku. Selesai memarkirkan mobilnya, Ale mengantarku ke unit.


"Aku boleh masuk sebentar nggak?" Tanyanya ketika kami sudah sampai di depan pintu unit.


Aku mengangguk dan membukakan pintu.


"Aku taruh tas dulu ya. Kamu kalo mau minum ambil aja ya Al." Kataku sambil berjalan ke arah kanan menuju kamarku untuk menaruh tasku, sedangkan Ale ke arah kiri menuju dapur dan ruang TV.


Setelah menaruh tas, aku menyambangi Ale di ruang TV yang sedang duduk sambil menatap layar Ipadnya.


"Liat apa sih?" Kataku sambil menundukan badanku tepat di belakang sofa tempat Ale duduk.


"Hem? Nggak, liat destinasi di Bogor. Biar nggak bingung ajak kamu kemana besok." Katanya sambil menatapku. "Ngapain sih di belakang?" Tanyanya sambil mengambil tanganku dan menggiringku untuk duduk di sebelahnya.


"Nggak usah repot-repot cari destinasi kali bapak Ale, saya kemana aja okay kok." Kekeh ku. "Belum makan kan? Makan disini ya? Aku masakin dulu bentar." Lanjutku.


"Le, nggak usah repot." Katanya yang segera ku bantah dengan gelengan kepala sambil berjalan menuju dapur.


"Kamu nonton TV aja, aku masak bentar ya." Ucapku yang dibalas dengan senyuman oleh Ale.


Menu kali ini adalah beef steak with mushroom sauce. Aku tambah dengan kentang goreng yang ku goreng di fry dryer agar tidak menggunakan minyak.


"Steak?" Tanya Ale ketika melihat tatanan piring berisi daging steak di meja makan.


"Aku nggak tau abis harus masak apa. Kebetulan bahan yang lengkap cuma buat masak ini. Sorry" jawabku.


Ale menggeleng, "ini mah wah banget, Le. Kamu bikin mushroom saucenya sendiri lagi. Berasa dinner di resto ini mah. Mau pake lilin nggak biar romantis?" Tanyanya sambil tersenyum. "Nggak usah ya, nanti malah ngantuk karena aromanya" kekehnya.


Yang Ale maksud adalah scented candle milikku yang memang aromanya menenangkan, cocok untuk tidur.


Selesai makan malam, kami mengobrol sambil memakan ice cream dan menonton TV.


"Le?" Panggilnya.


"Hemm?" Jawabku tanpa menatapnya karena lagi sibuk memindahkan channel TV.


"Kalo aku giniin, Kamu marah nggak?" Katanya sambil merangkulku dan membuatku bersandar pada bahunya.


Aku yang terkejut hanya bisa menggelengkan kepalaku.


Ale tertawa kecil. "Nggak usah tegang kali bu Eleanor. Kayak nggak pernah dirangkul cowok aja." Kekehnya


Aku yang mendengar ledekannya, menegakkan tubuhku dan mencubit perutnya. "Apaan sih, nggak lucu." Kataku kesal.


"Aaww! Iya-iya bercanda aku." Katanya mengelus perut yang aku cubit sambil tertawa. "Sinian sih, jauh banget dari aku." Katanya sambil menjulurkan tangannya.


"Nggak aku males sama kamu!" Jawabku kesal.


Ale menundukkan kepalanya dan menatapku.


"Sorry. Jangan diemin aku, please." Katanya sambil menatapku dalam. "Kalo kamunya bete, aku balik aja deh." Tambahnya sambil bangkit dan mengambil kunci mobilnya di meja yang segera ku tahan.


"Nanti dulu pulangnya." Kataku sambil menggenggam tangannya.


Ale tersenyum. Ia kembali duduk dan merangkulku.


"Merah nih kamu cubit." Katanya sambil tetap merangkulku.


"Sorry, abis kamunya iseng." Kataku sambil mengelus perutnya yang habis ku cubit tadi.


Ale hanya tersenyum sambil mengeratkan rangkulannya.


...***...