EPOCH [COMPLETED]

EPOCH [COMPLETED]
Chapter 2


Elea


Pagi ini aku duduk di lobby Apartmentku sambil sesekali memeriksa jam di tanganku. Karena mobilku berplat nomor ganjil, jadilah aku memesan ojek online sepagi ini untuk menuju ke kantorku di daerah kuningan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Selang 10 menit aku menunggu, akhirnya yang ku tunggu datang dan segera menuju kantor.


Jalan ibukota pagi ini masih sama seperti kemarin-kemarin, ramai dan penuh debu. Hanya saja langit sedikit lebih mendung. "Aah, kenapa selalu mendung sih pas nggak bawa mobil" batinku. Aku bukan tipe perempuan yang repot saat hujan karena sibuk melindungi rambut agar tidak basah. Tetapi, aku lebih benci berebut taksi dengan karyawan lain ketika hujan.


"Terimakasih banyak, pak" kataku sambil memberikan helm dan tersenyum ke arah driver.


"Sama-sama mbak" jawab driver ojek online tersebut sambil menampakan senyum tulusnya.


Aku segera menaiki lift menuju departmentku. Setelah sampai, aku langsung duduk di kursiku sambil merapikan beberapa berkas yang berserakan di atas meja kerjaku.


"Pagi Bu Eleanor" sapa Tere sambil menaruh kopi hangat yang ia beli di salah satu gerai kopi terkenal dengan simbol putri duyung itu.


"Pagi Bu Teari. Tumben nih bawain gue kopi. Reward nemenin makan sushi kemaren ya?" ledekku sambil mengambil gelas kopi di mejaku.


"Duh salah banget kayaknya gue bawain lo kopi. Niat mau sweet malah disangkain yang nggak-nggak" Tere menimpali omonganku dengan muka yang sengaja ia buat sedikit kecewa.


"Hahahah bercanda sih, makasih loh. By the way, tumben udah dateng, bukannya ke lapangan pagi ini? Tumben juga pake blouse dan heels gini. Jangan bilang jadwal lo dituker sama gue ya? Gue ke lapangan lo siaran studio?" Ledekku sambil melihat penampilan Tere yang memang agak berbeda dari biasanya. Bukan Tere tidak pernah pakai heels dan blouse, karena dia spesialis lapangan, dia hanya akan memakai heelsnya ketika sudah sampai di lapangan. Hal yang membuat aku lebih heran lagi, dia menggunakan rok pagi ini.


"Apaan sih El. Nggak kok, jadwal lo tetep siaran studio tapi nanti jam 10." Sahut Tere sambil merapikan riasannya.


"Lah kok nggak ada pemberitahuan sih jadi jam 10.00 kan jadwal gue jam 8.00 pagi ini." Kataku kesal


"Lo pasti nggak baca group deh semalem."


"Emang ada apa di group?" kataku sambil buru-buru melihat group chat di handphoneku dan ternyata memang sudah ada pemberitahuan kalo siaran pagi ini digeser menjadi jam 10.00 karena ada siaran pidato presiden yang disiarkan serentak di semua stasiun TV pada pukul 8.30. "Duh tau gitu gue nggak buru-buru ke kantor. Nggak lari-lari ngejar lift, mana pake heels lagi kan, pegel." Kataku sambil mengurut pergelangan kakiku.


"Hahahaha, makanya group tuh jangan disilent. Jadi sebel sendiri kan lo? Tapi nggak apa-apa kok El, lo nggak akan rugi dateng sepagi ini. Karena nanti jam 8.00 kita bakal kenalan sama Producer baru kita. Menurut gosip yang beredar sih sama kayak prediksi gue semalem. Muda, ganteng, dan asik."


"Oooh jadi ini alasan lo dateng pagi pake dandan super cantik gini?" ledekku.


"Pinter deh bu Eleanor ini. Kalo cuma perkara siaran biasa mah gue pasti B aja . Soalnya yang diliat cuma Fadhil, Ojan, Fano. Yaah mereka-mereka lagi, nggak ada seru-serunya."


"Ngomongin gue nih pasti" timpal Fano.


"Kan geer, El. Apa gue bilang" seru Tere


Aku yang mendengar ocehan mereka berdua hanya bisa tertawa melihat mereka saling timpal ocehan satu sama lain. Fano, Fadhil dan Ojan atau Fauzan adalah teman-teman department kami. Fano dan Ojan bertugas menjadi juru kamera dan Fadhil adalah editor naskah.


"Eh disuruh ke studio 3 nih" seru Fadhil yang tiba-tiba muncul entah darimana.


Aku dan beberapa orang departmentku yang masih di ruangan segera menuju lift untuk turun ke lantai 7 menuju studio 3. Setelah sampai, ternyata seluruh orang departmentku berkumpul disana. Aku yang terlihat bingung hanya berjalan mengekor pada Tere yang berada di depanku.


"Ya mas, kita disini" jawab Tere sambil mengangkat tangannya yang ku selingi dengan senyuman ke arah mas Aji.


"Oke, kebetulan banget hari ini siaran pagi kita di geser jadi jam 10.00 karena ada pidato presiden di jam 8.30. Kebetulan lagi, saya mau kenalin orang yang bakalan bikin jadwal kita nggak kacau lagi alias Producer baru kita. Mungkin beberapa orang udah denger berita ini dari minggu lalu, jadi udah nggak terlalu surprise lagi ya. Sebentar orangnya tadi izin ke kamar mandi. Nah, itu dia!" Ujar mas Aji sambil menunjuk ke arah pintu.


Semua mata tertuju pada pintu yang terbuka. Terlihat seorang laki laki dengan tinggi sekitar 185 cm berjalan ke arah kerumunan kami sambil merapikan rambutnya. Lelaki itu tersenyum ramah sambil menundukan badannya. Memakai setelan kemeja lengan panjang warna denim yang dilipat sampai siku dipadukan dengan kaos putih dibalik kemejanya dan celana denim casual. Matanya yang menatap satu per satu orang yang ia lalui memperlihatkan kepribadiannya yang cukup bersahabat. Sampai pada akhirnya mas Aji menyuruh lelaki itu berdiri di sampingnya.


"Ya, ini yang saya mau kenalkan ke kalian. Producer baru yang kalian udah omongin beberapa hari yang lalu. Namanya Alreyshad. Mulai hari ini dia yang akan megang program kita." Ucap mas Aji sambil memberikan senyumnya ke lelaki itu sebagai kode agar ia memperkenalkan dirinya sendiri.


Diiringi oleh tepuk tangan dari semua orang, lelaki itu mulai memperkenalkan dirinya "Saya Alreyshad Darien Tavish. Kalian bisa panggil saya Ale, bang Ale, atau mas Ale. Terserah kalian. Terhitung mulai hari ini saya mengisi posisi Producer untuk Program Berita Indonesia24. Mohon kerja samanya!" katanya sambil memberikan senyumnya.


"Waah kalo Producer kita kayak mas Ale gini mah, semangat deh liputan tengah malem juga" goda Tere yang diselingi tawa dari semua orang yang hadir.


"Ini Teari mas Ale. Salah satu jurnalis andalan kami" ucap mas Aji sambil memperkenalkan Tere.


"Ale" sahut Ale sambil menyodorkan tangannya dan tersenyum ke arah Tere


"Tere aja mas panggilnya." Jawab Tere sambil menyambut tangan Ale.


"Kalau ini Elea, newsanchor kita mas." Seru mas Aji saat memperkenalkanku.


Senyumnya terhenti saat mata kelabunya bertemu dengan pandanganku. Raut wajahnya berubah, sikapnya berubah. Dia diam seribu bahasa. Ada rasa sedih dan khawatir di wajahnya.


Ale. Nama yang sudah lama tak terdengar di telingaku. Mungkin sudah 7 tahun yang lalu. Wajah yang begitu familiar, suara bariton yang dipadukan dengan sedikit serak itu membangunkan ingatan lamaku.


...***...


Alreyshad


Pandanganku terhenti, saat aku melihat seorang yang aku rasa cukup familiar. Wanita itu tidak pernah berubah. Tetap dengan rambut panjang berwarna cokelatnya yang bergelombang di bagian bawah, matanya yang berwarna amber, lengkap dengan kulit sawo matangnya. Hanya saja dia terlihat jauh lebih dewasa dengan setelan blouse putih dan rok span krem selututnya. Keadaannya juga lebih baik pastinya. Mengingat terakhir kali aku menemuinya, kondisinya sudah sangat baik saat ini.


Ada rasa senang sekaligus khawatir saat mata kami bertemu. Tiba-tiba aku ingat terakhir kali aku menemuinya, rasanya tidak mungkin jika aku bisa berada di dekatnya ataupun hanya memanggil namanya dengan leluasa. Khawatir malah akan mengganggunya dengan kondisiku yang akan selalu berada di dekatnya. "Tuhan, aku harus apa?" batinku. Nggak mungkin kalo dia harus nahan rasa sakitnya  melihatku, tapi nggak mungkin juga kalo aku harus berhenti berada di dekatnya, mengingat aku baru saja diangkat menjadi PD programnya.


Aku tak bisa melepaskan pandanganku, dari wanita itu. Ya, Eleanor Oliviera Cielo. Nama itu yang memunculkan ingatanku kembali tetang kejadian malam itu.


"Elea" suara El memecahkan lamunanku. Ia memberikan tangannya sambil tersenyum ke arahku.


"Ale" kataku sambil menjabat tangannya dan mencoba untuk membalas senyumnya.


Setelah 7 tahun lebih aku mencoba untuk berlari jauh dari sisinya dan mencoba untuk hidup tanpa membuatnya khawatir. Namun, usaha itu lenyap pagi ini. Hari ini aku berdiri di hadapannya, berjabat tangan dengannya dan tersenyum ke arahnya. Berusaha menjadi se-normal mungkin, berharap El akan baik-baik saja dengan kondisi kami yang seperti ini.


...***...