EPOCH [COMPLETED]

EPOCH [COMPLETED]
Chapter 7


Alreyshad


Setelah perkenalan dengan Dhana tadi, aku tidak berniat langsung pulang. Jadi, ku putuskan untuk kembali ke ruanganku dan menuntaskan beberapa pekerjaan yang masih tersisa. Lantai 12 sudah terasa semakin sepi, beberapa lampu juga sudah mati. Hanya tersisa aku dan beberapa orang yang ku yakini adalah editor yang baru selesai merevisi beberapa cuplikan video untuk teman-teman yang mendapat shift Sabtu dan Minggu. Setelah selesai, aku memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Sebab, aku merasa suhu badanku akan naik jika aku tidak cepat tidur.


"Loh mas, lembur?" Ucap Satria salah seorang editor kami.


"Nyelesain kerjaan, sambil nunggu macet, Sat" kekehku. "Duluan ya." Tambahku sambil tersenyum.


"Hati-hati mas" jawabnya sambil tersenyum.


Selama perjalanan menuju Apartmentku, aku teringat wajah Dhana yang sangat familiar. Rasanya aku pernah melihatnya, tapi aku lupa dimana. Wajah itu sangat tidak asing bagiku. Puas memikirkan hal itu sepanjang perjalanan, sampai tidak menyadari kalau aku sudah memasuki parkiran Apartmentku.


...***...


Setelah istirahat semalam, aku tidak merasa jauh lebih baik pagi ini. Hanya saja, sakit kepalaku sedikit hilang, tetapi suaraku malah semakin serak. Setelah berolahraga di fasilitas gym yang disediakan oleh Apartmentku, aku menuju unitku dan membuka kulkas untuk mengambil air minum.


"Harus belanja nih kayaknya." ucapku sambil meliat isi kulkasku yang hanya ada 4 botol rejuve, 2 botol minuman isotonik dan susu yang hanya sisa setengah botol. Buah, sayur, dan yang lainnya juga tersisa sedikit. Hal serupa aku temui di dalam laci dapurku, sereal, cemilan dan beberapa makanan siap saji pun sudah mulai menipis stocknya.


Setelah mandi, aku bersiap ke Grand lucky untuk berbelanja beberapa perlengkapan rumahku yang sudah mulai habis. Kenapa kesana? Sebab, jaraknya sangat dekat dengan tempat tinggalku, dan cukup lengkap. Lagi pula, aku juga hanya ingin berbelanja keperluan Apartment bukan shopping keperluan pribadi seperti baju atau sepatu. Makanya aku lebih memilih kesana dibandingkan ke supermarket yang terletak di dalam Mall.


"Shampoo, detergen, pasta gigi, ....." kataku sambil melihat notes di handphoneku yang berisikan barang-barang apa saja yang harus aku beli. Ketika merasa sudah lengkap, aku langsung mengambil troli belanjaan dan menuju ke dalam supermarket.


Tak butuh waktu lama dalam memilih barang-barang yang aku butuhkan. Aku bukan penggila promo atau mengikuti "katanya orang" dalam memilih barang belanjaan. Karena aku tipe orang yang hanya mengambil barang yang biasa aku gunakan. Buktinya, beberapa barang sudah memenuhi troliku.


"Sekarang tinggal buah, susu dan olahannya, sama sayuran" ucapku.


Saat sedang memilih buah aku mendengar suara yang sangat familiar memanggil namaku.


"Ale" panggil orang itu dengan bibir yang sedikit menekuk ke atas.


...***...


Elea


Aku sedang sibuk memilih pakaianku. Sudah hampir 30 menit aku terdiam di depan lemariku, dan pada akhirnya aku memutuskan untuk memakai, tanktop putih yang ku padukan dengan cardigan rajut berwarna cappucino yang ku beli minggu lalu dan jeans berwarna hitam.


"Ini aja deh, kan mau masak-masak juga. Biar nggak ribet" kataku sambil berkaca.


Aku mengambil chanel 19 large flap bag ku dan memakai sepatu dengan model ankle strap ketika Dhana sudah berdiri di depan pintu unitku.


"Cantik banget sih, El" katanya sambil memeluk dan mencium keningku.


"Yuk! Kita mampir dulu ya, beli bahan. Kamu mau makan apa?" Tanyaku sambil menutup pintu unitku dan menuju ke parkiran.


"Hemmm apa ya? Quiche? Aku lagi pengen makan itu." Jawabnya.


"Okay" kataku


"Please bikin dessert juga ya. Blueberry cheese cake enak kayaknya" tambahnya


Aku menggangguk sambil tertawa melihat tingkah Dhana. Jujur, melihatnya sekarang seperti orang yang berbeda. Ketika kami bertatap muka, Dhana jauh lebih ramah daripada di chat. Sebenarnya Dhana anak yang cukup ramah dulu, entah kenapa sudah 2 tahun belakangan ini dia menjadi lebih cuek ketika di chat. Makanya aku sangat senang jika kami bertemu.


Setelah dinner semalam, Aku berjanji akan melewatkan sepanjang hari Sabtu ini dengan Dhana dan keluarganya. Dhana yang jarang pulang juga menjadi alasanku tidak ingin memonopolinya. Jadi, aku bilang padanya kalau kita bisa melewatkan hari Sabtu bersama dengan keluarganya juga.


Mobil Dhana melaju menuju supermarket andalanku. Yes, betul sekali Grand Lucky. Aku kesini hanya jika aku ingin berbelanja keperluan tanpa melihat-lihat barang lain. Karena menurutku jauh lebih simple dan tidak butuh waktu lama, karena jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Apartmentku.


...***...


Selesai memilih beberapa bahan, tak terasa troli kami sudah terisi dengan bahan-bahan untuk membuat Quiche. Sekarang beralih ke section susu, dan buah-buahan untuk pelengkap menu dessert yang akan aku buat. Dhana sedang izin keluar mencari tempat sepi karena mendapat telfon dari kantor katanya. Jadi hanya aku yang berjalan menyusuri section buah.


Dari kejauhan aku melihat seorang yang mengenakan kaos putih berlogo Off-white dan celana jeans hitam. Kali ini ditambah dengan balenciaga Allover Logo Triple S Sneaker warna putihnya dan topi balenciaga hitam. Penampilannya cukup untuk membuat beberapa wanita memusatkan pandangan mereka kepadanya. Kurasa aku mengenalinya, karena dari jarak ini aku juga bisa mencium wangi wood sage and sea salt cologne khas Jo Malone yang sangat familiar.


"Ale" panggilku dengan hati-hati.


Lelaki itu menoleh ke arahku dan tersenyum.


"Hei, ngapain?" Tanyanya.


Ale tertawa mendengar celotehanku "Sendirian?" Tambahnya dengan suara yang bisa ku bilang lebih parah dari kemarin.


Aku menggeleng, "sama Dhana. Tapi dia lagi terima telfon. Kamu mau bagi-bagi sembako?" Tanyaku sambil melirik troli belanjaannya yang bisa dibilang lumayan penuh untuk orang yang hanya tinggal sendiri.


"Semua barang di Unitku pada abis. Jadi ya begini deh, Le. Kamu? Ngisi unit juga? Kok dikit?" Tanyanya.


"Nggak. Ini aku mau ke rumah orang tuanya Dhana, mau masak-masak. Makanya mampir beli bahan dulu." Jelasku. "Al, kamu udah ke dokter? Suara kamu makin parah kayaknya" tambahku.


Ale menggeleng, "nanti aja, entar juga sem..."


Belum sempat mendengar jawaban Ale, Dhana sudah berdiri di sampingku dan merangkul pinggangku.


"Eh mas Ale, ketemu lagi. Belanja mas?" Tanya Dhana yang dibalas dengan anggukan dan senyuman dari Ale.


"Udah semua belum, sayang? kalo udah, yuk ke kasir biar nggak kesiangan" lanjutnya, yang mendapat anggukan dariku.


"Kita duluan ya, mas Ale" kata Dhana dan langsung menggenggam tanganku.


"Oh iya mas, hati-hati" jawab Ale sambil tersenyum.


"Al, aku duluan ya" kataku sambil tersenyum yang Ale balas dengan anggukan lengkap dengan senyumannya


...***...


Aku cukup lama berada di rumah orang tuanya Dhana. Berhubung besok pagi Dhana juga harus kembali ke SG, jadi kami putuskan untuk sedikit lebih lama di rumah orang tua Dhana. Selesai dari rumah orang tua Dhana, Dhana langsung mengantarku.


Di sepanjang perjalanan, Dhana sama sekali tidak membahas hal-hal yang menyenangkan atau yang terkait dengan hubungan kami, secara pertemuan kami cukup singkat, tapi Dhana hanya sibuk membahas hubungan ku dengan beberapa rekanku di kantor. Dan tidak lupa, membahas soal Ale dengan nada bicaranya yang selalu membuat moodku terjun bebas.


"Kamu deket sama si Ale itu?" Tanyanya dengan nada sedikit ketus.


"Ya kan dia PD program aku, masa iya aku nggak deket." Jawabku.


"Bukan itu maksudnya, kayaknya kamu perhatian banget sama dia. Sampe nyuruh ke dokter segala tadi aku denger" tambahnya dengan mata yang melirik sinis kepadaku.


"Dia sakit dari kemarin, Dhan. Ya apa salah aku nanya dia udah ke dokter apa belum ke temen aku yang lagi sakit?" Jelasku mencoba untuk membuat Dhana untuk lebih mengerti situasinya.


"Ya nggak usah sampe segitunya kali, El. Nanti cowok nganggepnya beda. Model cowok kayak Ale gitu nggak bisa kamu gituin. Yang ada malah kesenengan dia." Tambahnya, kali ini nada bicaranya sedikit meremehkan.


"Dhan, aku sama Ale juga nggak ada hubungan apa-apa kok, nggak usah sampe mikir sampe segitunya lah." Jawabku dengan nada halus, mencoba untuk menenangkan Dhana.


"Loh kok kamu jadi belain dia, El. Jangan bilang kamu juga udah mulai ada rasa ya sama dia? Oooh.. aku tau nih selama ini kamu nggak mau pindah ke tempat lain karena disini kamu jadi bebas kasih-kasih perhatian ke cowok-cowok di kantor kamu gitu." ujarnya dengan menaikkan nada bicaranya.


Obrolan yang seperti ini yang selalu membuatku menghela nafas panjang. Ini yang ku bilang kemarin. Dhana tipe orang yang seperti ini. Makanya, aku sangat membatasi pergaulanku dengan teman-teman pria, karena aku malas dituduh yang tidak-tidak.


Baru hendak menjelaskan perihal aku dan Ale, layar monitor yang terhubung dengan handphone Dhana memunculkan sebuah nama.


Kalila is calling...


"Temen kantor aku." Jawabnya cepat.


"Angkat aja, nggak apa-apa kok" kataku santai.


Bukannya mengangkat, Dhana malah mematikan telfon itu. "Nanti aja, paling urusan kerjaan. Lagian ini juga udah mau sampe kok" tambahnya.


Tak lama mobilnya memasuki lobby kantor, tanpa banyak berbicara aku membuka seat beltku.


"Inget jangan macem-macem ya, El. Aku nggak suka kalo sikap kamu ke cowok-cowok kayak tadi!" Katanya yang aku hiraukan.


Aku memang meminta Dhana untuk mengantarku ke kantor, karena aku harus mengambil mobilku yang masih terparkir di kantor. Sebab, hari Senin aku tidak bisa membawanya karena platnya tidak sesuai. Jadi, mau tidak mau aku harus mengambilnya sekarang.


Selama di perjalanan menuju Apartment, aku sudah berulang kali menghela nafas karena mengingat tuduhan yang Dhana tuduhkan kepadaku dan Ale. Bukan sekali dua kali dia melakukannya. Dulu Ojan, lalu Fadhil sampai mas Aji pun pernah dia curigai. Pokoknya, setiap Dhana bertemu dengan teman priaku, ia selalu menyebutkan hal yang sama. Selalu menuduhku kalau aku menyukai mereka. Itu semua hanya karena aku terlihat akrab dengan mereka.


Setelah sampai di Apartment, aku hanya meminum chamomile tea dan menonton TV untuk mengistirahatkan pikiranku dan pergi tidur jika seluruh tubuh dan pikiranku sudah sampai titik tenang.


...***...