![EPOCH [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/epoch--completed-.webp)
Alreyshad
Hari ini adalah hari pertama untukku membawa El ke keluargaku dengan status yang berbeda. Sejak pagi, aku sudah tertawa melihat tingkah El yang tak bisa tenang karena permasalahan baju apa yang harus ia pakai, sampai warna lipstik yang harus ia pakai.
"Bagus kok, Le." Ucapku.
"Al, kenapa bagus-bagus terus. Kamu jangan liat handphone dulu, bantuin aku pilih." Ucapnya kesal sambil menutup layar handphoneku.
"Apa sayang?" Jawabku lembut.
"Kenapa sih nggak mau liat aku sebentar doang." Jelasnya, kali ini matanya sudah berkaca-kaca.
El memang tidak bisa marah, yang ia bisa hanya tersenyum dan menangis. Jadi jika dia sudah kesal, jangan terkejut jika matanya sudah siap menumpahkan segala kekesalannya dalam bentuk tangisan.
"Sorry" kataku sambil memeluknya. "Kamu suka yang mana?" Tanyaku sambil menyuruhnya memilih tasnya.
"Ini. Tapi ini juga aku suka." Ucapnya.
"Okay, kita pilih pilihan pertama kamu." Kataku sambil menunjuk handle bag milik coach.
Setelah proses pilih-memilih yang cukup panjang, akhirnya kami langsung menuju kediaman tante Puti yang berlokasi di daerah Cinere, tempat berlangsungnya acara lamaran Arkeyla sepupuku.
...*** ...
Sesampainya di depan rumah Arla, aku memarkirkan mobilku tepat di belakang mobil Ayah yang kebetulan juga baru sampai.
"yuk! Itu Bunda, Ayah sama Acha." Ucapku.
Aku bisa melihat wajah tegang El, ketika melihat keluargaku turun dari mobil. Namun, bukan El namanya jika tak bisa menutupinya dengan senyumnya.
Kami berdua turun dari mobil dan menghampiri keluargaku. Responnya seperti biasa. Bunda dan Ayah langsung tersenyum ketika melihat kami turun dari mobil. Acha? Sudah pasti heboh.
"Oh my God, kak El cantik bangeeeet!!!" Heboh Acha menghampiri El dan mencoba menggandengnya namun segera ku tepis. "Aww! Posesif banget sih bang." Ucapnya.
"Ketemu tuh salam dulu bukan main ngegandeng aja." Ucapku.
"Nggak apa-apa, Al. Hai cha, apa kabar?" Ucap El lembut.
"Baik kak." Jawab Acha yang sekarang menggandeng El menuju orang tuaku.
Senyum Bunda dan Ayah merekah ketika El menyapa mereka.
"Apa kabar, Bunda, Om?" Sapanya lembut sambil menyalami kedua orang tuaku.
"Baik El, El apa kabar?" Ucap Bunda.
"Baik, Bunda." Jawab El canggung.
"Tunggu, manggilnya Bunda. Tapi manggil Ayah kok Om? Abang kok nggak bilangin El manggil Ayah jangan Om lagi, kan bakal jadi Ayahnya kan?" Ledek Ayah.
"Le, bukan aku yang minta tapi Ayah." Ucapku.
"Iya Om.. eh Yah." Jawab El malu-malu.
"Udah ah, Ayah sama Ale ngeledekin El aja. Kasian kan." Ucap Bunda sambil membelai halus rambut El. "Yuk kita masuk. Udah rame kayaknya."ajak Bunda sambil menggandeng El.
...***...
Elea
Aku bukan tipe orang yang mudah menyesuaikan diri dengan orang baru. Namun, hari ini aku tak merasa mengenal orang baru berkat Bunda, Ayah, Acha dan pastinya Ale. Bunda dan Ayah selalu membawaku dan memperkenalkanku ke semua kerabatnya, sedangkan Acha memperkenalkanku ke semua sepupunya. Ale? Selalu di sampingku dan menggenggam tanganku.
Keluarga Ale tidak terlalu banyak seperti keluargaku. Arkeyla adalah sepupu Ale dari Bunda. Bunda hanya 3 bersaudara, jadi tidak perlu banyak ruang untukku mengingat satu per satu kerabat Ale.
"Abis ini kamu kan mbak?" Tanya tante Puti.
"Ya aku sih maunya gitu, tapi tanya dulu anak-anaknya." Jawab Bunda.
"Abang?" Tante Puti melemparkan pertanyaanya ke Ale.
"Kamu mau kapan El?" Jawabnya yang malah balik bertanya padaku.
Pertanyaan Ale membuat suasana menjadi riuh. Sampai-sampai Oma Opa pun ikut semangat.
"Oma Opa kan sudah tua, jangan kelamaan ya Abang, Elea. Biar Oma Opa juga bisa liat." Ucap Opa.
Aku hanya bisa tersenyum.
"Iya Opa, didoain ya." Jawab Ale sambil menatapku.
...***...
Kali ini aku sedang mengobrol dengan Acha dan sepupunya, Syeina dan membiarkan Ale untuk bercengkrama dengan sepupunya yang lain. Kami banyak mengobrol tentang masalah hubunganku dengan Ale. Namun, obrolan kami terhenti karena aku harus izin ke kamar kecil.
Setelah selesai, aku kembali menuju Acha dan Syeina. Namun, tak sengaja aku mendengar pembicaraan mereka yang membuat langkahku terhenti.
"Bukannya El tuh sakit ya mentalnya?" Tanya tante Keenanti pada Bunda.
"Udah membaik kok. Lagian bukan sakit yang gimana lagi, cuma trauma aja." Jelas Bunda.
"Ya itu masuk dalam psikis kali, mbak. Ale nggak apa-apa tuh? Kalo buat pacaran sih ya nggak masalah sih. Tapi kalo nikah saran aku mendingan jangan deh. Bakalan kasian si Ale. Soalnya kalo sakit psikisnya lama sembuhnya, yang ada malah menghambat Ale buat berkembang karena sibuk sama El." Ucap tante Keenanti.
Belum sempat Bunda menjawab, Ale sudah muncul dan menanyai keberadaanku pada mereka.
"Liat El nggak Bun?" Tanyanya.
"Nggak, Bunda nggak liat. Tadi bukannya sama Acha." Ucap bunda. "Cha, kak El mana?" Tanya bunda pada Acha yang berjalan ke arah dapur tempat Bunda berada.
"Tadi ke kamar man... eh tuh kak El" ucap Acha saat melihat ku berjalan menghampiri mereka.
Aku mencoba bersikap biasa saja walau pikiranku terpecah. Aku mencoba menahan semua perasaanku agar terlihat baik-baik saja di depan semuanya. Terutama Ale. Aku tak ingin membawa suasana yang tidak nyaman di antara kehangatan keluarga ini.
"Le, disuruh ikut foto. Yuk." Ajaknya yang ku iyakan.
Ale merangkul pinggangku saat berfoto. Wajahnya sangat bahagia, senyumnya sangat lebar. Ia tak pernah menunjukan sikap atau ekspresi lelahnya saat bersamaku. Ia selalu mencoba tersenyum di depanku walau aku nggak tau apa yang ia rasakan sebenarnya. Apa dia benar-benar bahagia atau dia hanya tak ingin aku mengkhawatirkannya.
"Le, are you okay?" Tanyanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
Setelah mengobrol dan berfoto, kami pamit pulang karena acaranya pun sudah selesai sejak sore tadi. Aku dan Ale berpamitan dengan Bunda, Ayah dan Acha. Karena mereka harus segera kembali ke Bandung. Sebab, besok Ayah ada janji dengan rekan kantornya untuk Golf jadi tidak bisa bermalam di Jakarta.
"Abang, hati-hati ya nyetirnya. Anterin Elea sampe rumah." Ucap Bunda yang mendapat anggukan dari Ale. "El, Bunda pamit ya sayang. Nanti ikut Ale ya kalo pas ke Bandung. Main ke rumah, ajak Ibu juga boleh." Tambahnya.
"Iya Bun. Bunda, Ayah sama Acha hati-hati juga ya. Sampai ketemu lagi" jawabku sambil memeluk Bunda.
Setelah berpisah dengan Orang tua dan Adik Ale, aku dan Ale langsung menuju Apartmentku. Selama di perjalanan, aku hanya menimpali obrolan Ale dan menanggapinya.
"Le, kamu sakit?" Tanya Ale tiba-tiba.
Aku menggeleng.
"Yakin? Kok lebih diem?" Tanyanya kembali.
"Aku nggak apa-apa, Ale. Cuma capek aja kayaknya." kataku sambil tersenyum dan menggenggam tangannya dan segera ia cium.
"Kalo ada apa-apa bilang aku ya, Le." Ucapnya yang ku balas dengan anggukan dan senyuman.
...***...
Setelah sampai di unitku, Ale meminta izin untuk merebahkan punggungnya di sofa ruang TV ku.
"Al, kalo kamu mau tiduran pakai aja kamar satu lagi." Ucapku.
Apartmentku miliki 2 kamar tidur dan 3 kamar mandi. Sama tipenya dengan Apartment milik Ale. Jadi tidak perlu memakai kamarku jika Ale ingin meluruskan punggungnya di Kasur.
"Nggak apa-apa sayang, aku di sofa aja. Kamu kalo mau bebersih silahkan loh." Ucapnya.
"Aku ganti baju sebentar ya. Nanti aku bikinin cemilan." Jawabku sambil berjalan menuju kamarku.
Setelah selesai berganti baju dan menghapus make upku, aku langsung menuju ruang TV tempat Ale berada.
"Al, kamu mau kentang gor.." ucapanku terhenti ketika melihat Ale tertidur.
Dengan pelan aku menghampirinya dan melihatnya tertidur. Ale tertidur pulas, mungkin lelah setelah hampir seharian bercengkrama dengan keluarganya, dan menjagaku agar tetap merasa nyaman di tengah-tengah keluarganya.
Semakin aku menatapnya aku semakin terpikir oleh kata-kata tante Keenan tadi. Orang sebaik Ale tidak mungkin memperlihatkan kesulitannya menghadapiku di depanku. Ia pasti akan terus mencoba menutupinya agar aku tak merasa bersalah padanya.
Ale bukan tak pernah lelah, ia hanya mencoba untuk selalu kuat disampingku agar aku bisa terus bersandar di bahunya. Ale bukan tak pernah kesulitan namun, ia selalu mencoba untuk menjadikan segalanya mudah walau nyatanya tidak. Dan secara tidak langsung, aku membebaninya.
Ada benarnya yang dikatakan tante Keenan. Lambat laun Ale akan sulit berkembang jika ia hidup denganku. Banyak hal yang takbisa ia raih jika ia hanya terfokus padaku. Banyak kesempatan yang akan ia lewatkan karena hanya terpusat padaku.
Ale orang yang sangat senang mencoba hal baru. Namun setelah aku sakit, Ale tak mengambil banyak kesempatan itu untuk ia coba. Ia bilang "nanti kapan-kapan aja aku ikutnya." Hanya karena ia ingin selalu menjagaku. Ale tak punya banyak waktu bermain karena ia selalu sibuk menemaniku. Bahkan sampai di umur yang sekarang Ale meninggalkan segala urusan kantornya dan lebih memilih untuk menghampiriku ketika tau traumaku kambuh.
Aku yang selalu akan mengganggunya dengan kondisiku yang tak tentu, Membangunkan tidurnya ketika aku terjaga di tiap malam, dan membuatnya meninggalkan impiannya karena sibuk menjagaku. Bagaimana aku bisa membiarkan mimpinya terbang jauh sedangkan ia tak bisa terbang tinggi karena kehadiranku.
"egois kamu, Elea." Batinku.
Aku memaksa Ale untuk menghidupkan dongengku namun mengancurkan dongengnya sendiri.
"Le?" Panggilnya sambil menatapku dan menegakan tubuhnya untuk duduk bersandar.
"Hemmm? Tidur aja kalo masih capek." Kataku.
Ale menepuk sofa untuk menyuruhku duduk disampingnya.
"Mikirin apa sih?" Tanyanya. "Aku liat kok abis dari rumah tante Keenan kamu kayak kepikiran sesuatu. Kenapa Le? Ada yang ganggu pikiran kamu?" Tanyanya sambil menatapku.
Aku menggeleng, "nggak ada kok. Kamu mau cemilan nggak?" Jawabku sambil tersenyum.
"Bener?" Tanyanya lagi yang ku balas dengan anggukan.
"Kalo gitu aku langsung pulang aja, Le. Udah malem juga, besok kan ngantor. Aku jemput besok ya, kita berangkat bareng." Ucapnya sambil berjalan menuju pintu.
"Aku bawa mobil aja, Al." Kataku tiba-tiba yang langsung mendapat tatapan heran dari Ale. "Udah lama nggak nyetir takut lupa caranya." Kekehku "selama ini kan selalu kamu anter-jemput" tambahku sambil tersenyum.
Ale mengangguk, "yaudah kalo gitu. Tapi hati-hati ya." Ucapnya sambil mengecup keningku dan memelukku. "Kalo ada apa-apa cerita sama aku ya, Le. Jangan simpen semuanya sendirian. Okay?" Tambahnya sebelum pergi meninggalkanku.
...***...
Alreyshad
Sudah 1 minggu ini aku merasa ada yang aneh dengan sikap El. Ia selalu menolak ku antar dan ku temani. Di kantor pun ia seperti menghindariku dan enggan mengobrol berdua denganku. Sejak pulang dari rumah tante Puti aku mendapati wajah El jauh lebih murung. Seperti memikirkan sesuatu. Tapi setelah ku tanyakan, El selalu mengelak dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Seperti hari ini, aku menawarkannya untuk ku antar pulang seusai bowling bersama Aji. Namun, El menolak dan lebih memilih menaiki taksi untuk pulang. Aku tidak tau apa yang terjadi, ku tanya Acha pun, Acha bilang tak ada apa-apa selama mereka mengobrol kala itu.
Sambil meneguk air mineral aku duduk dan mencoba menghubungi El, namun tak ada jawaban. Jadi ku putuskan untuk mengirim pesan.
To : Elea
Le, kalo udah baca chat ini, langsung telfon aku ya. I love you.
Aku tertunduk lesu.
"Kenapa lo? Berantem? Galau? Elea marah?" Tanya Aji.
"Ji, pernah merasa hubungan lo lagi nggak baik baik aja padahal nggak ada masalah nggak?" Tanyaku
"Why bos? Kenapa sama El?" Tanyanya kembali.
"Gua ngerasa hubungan kita nggak ada masalah tapi kenapa kayak ada masalah ya. El lebih diem semenjak pulang dari acara lamaran sepupu gue. Setiap gue tanyain dia jawabnya selalu sama "baik-baik aja". Gue udah coba inget-inget kejadian disana, tapi gue nggak menemukan 1 hal pun yang bisa buat El begini." Jelasku.
"Samperin, Al. Omongin, jangan jadi berlarut-larut." Jawabnya.
"Udah ji, tetep nggak berhasil. Elea nutup dirinya banget banget. Buat ngobrol sebentar aja dia nggak mau." Tambahku.
Di tengah-tengah pembicaraanku dengan Aji. handphoneku berbunyi.
Tere INA24 : mas, El di Grand Cafe, pingsan.
Tak pikir panjang, aku langsung mengemasi barang-barangku.
"Mau kemana lo?" Tanya Aji heran.
"El, pingsan." Kataku sambil berlari menuju parkiran yang diikuti Aji.
Selama perjalanan, aku tak bisa fokus menyetir. Yang aku pikirkan hanya keadaan El saat ini.
...***...
Setelah sampai, aku dan Aji langsung berlari menuju ruangan yang di tunjukan oleh waiters. Dan setelah ku buka pintu, aku terkejut.
"Surprise!! Happy birthday, Ale."
Seluruh teman-temanku, keluargaku bahkan Oma dan Opa juga turut hadir disini. Tak lupa, sosok El pun hadir walau sedikit tertutup, namun aku masih bisa melihatnya.
Aku menghiraukan semua orang, pandanganku hanya terpusat pada El yang tersenyum di belakang sana. Aku berjalan lurus menghampirinya dan membawanya ke pelukanku.
Aku hanya akan memeluknya, dan menumpahkan segala rasa khawatirku dan menggantinya dengan rasa syukurku karena ia baik-baik saja.
El membalas pelukanku, dan mengelus lembut punggungku.
"Happy birthday ya, Al" ucapnya pelan yang tak ku balas apa-apa selain mengeratkan pelukanku dan sesekali mencium puncak kepalanya.
Setelahnya, aku menggandeng El dan memperkenalkan ke beberapa teman dekatku dan kerabat ku yang hadir.
"Akhirnya dikenalin juga sama El." Ucap Andrew.
Ya Andrew dan Tian memang sengaja datang ke Jakarta untuk ikut serta dalam acara surprise ulang tahunku ini.
"Besok-besok kalo main ke SG kabarin kita aja, kita siap jadi supir kok." Canda Tian yang El balas dengan tawa dari El.
...***...
Setelah acara, aku mengantar El pulang ke unitnya. Dan memutuskan untuk mampir sebentar.
"Makasih ya." Ucapku sambil menggenggam tangan El.
El mengangguk, "maaf ya buat kamu khawatir terus." Ucapnya pelan.
Aku menggeleng, "kok gitu ngomongnya? Wajar kan aku khawatir kalo pacar aku pingsan." Jawabku.
El hanya tersenyum sambil menunduk.
"Hei, kenapa sayang?" Tanyaku sambil mengelus pipinya.
El menangis. Kali ini aku tak tau sebabnya. Ia menangis pelan, namun cukup membuatku merasa bersalah.
"Kenapa hemm? Cerita sama aku?" Tanyaku sambil membawanya ke pelukanku.
El menggeleng dan menghapus air matanya.
"Nggak apa-apa, aku lagi sensitif aja kayaknya." Jawabnya.
Aku yakin bukan itu masalahnya. El hanya tak bisa memberitahuku apa masalahnya.
"Beneran?" Tanyaku lagi dan dijawab oleh anggukan El. "Le, kamu punya aku. Jadi kalo kamu mau cerita apapun, kamu bisa cerita ke aku. Okay?"
El mengangguk lagi, "Ale, aku boleh peluk kamu sebentar lagi nggak?" Tanyanya yang langsung ku iyakan.
Aku tak tau apa yang menjadi alasan El sesedih ini, aku juga tak tau apa yang membuatnya tetap murung. Awalnya aku kira ini hanya menjadi skenarionya untuk memberikan surprise ulang tahun padaku tadi. Namun, aku menyadari ternyata tidak. Ada sebab lain yang membuatnya bersikap seperti ini. Dan ku harap aku akan segera mengetahuinya.
...***...
Elea
Setelah Ale meninggalkan Apartmentku, aku hanya berdiam diri kamar. Entah kenapa, aku malah semakin merasa membebani Ale dengan semua yang ku lakukan. Acara tadi adalah keinginan Bunda dan Ayah untuk memberikan perayaan kepada Ale di hari ulang tahunnya. Aku hanya membantu mewujudkannya dan untungnya semuanya terlihat senang.
Namun, hal itu yang membuatku semakin merasa bersalah pada Ale. Ia sangat senang bertemu dengan seluruh teman-teman lamanya. Bahkan banyak rencana liburan yang ia dan teman-temannya bicarakan. Namun, ketika akan memutuskan tanggalnya, Ale kembali menoleh padaku dan menggantungkan rencananya dengan kalimat, "nanti kita omongin lagi lah ya enaknya kapan."
Aku sudah mencoba untuk tak menjadi fokus utama Ale dengan cara menolak untuk berdiri di antara keluarga Ale dan memilih di pojok belakang agar Ale bisa fokus ke keluarga dan teman-temannya dulu dari pada aku. Namun usahaku sia-sia, Ale tetap melihatku dan menghampiriku.
...***...
Kalian Team El bertahan atau team El menyerah nih?
Hai, aku mau ucapin terimakasih banyak untuk kalian yang udah menyempatkan waktu kalian untuk baca tulisanku♡
Kalo kalian suka tulisanku, jangan lupa untuk comment dan vote di tiap chapternya ya. Supaya aku lebih semangat lagi untuk nulis ceritanya.
Happy reading & happy week-end, guys♡♡♡