![EPOCH [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/epoch--completed-.webp)
Elea
Sesampainya di Bali semalam, kami tidak melakukan aktifitas apa-apa selain tidur. Oh iya, kami menyewa 2 villa yang berdampingan dan memiliki connecting door. Dengan kesepakatan Villa sesuai team. Dan orang-orang yang tidak masuk team sepertiku, namanya akan dikocok untuk menentukan Villa mana yang akan ditempati.
Karena di Villa tidak memiliki kamar sebanyak hotel. Jadi, kami memutuskan sekamar untuk 4 orang dengan 2 bed ukuran queen size yang cukup lega untuk tempat tidur 2 orang dalam 1 kasur. Berbeda dengan mas Aji, dia hanya akan sekamar dengan Ale.
Pagi ini, aku menggunakan floral mini off shoulder jumpsuit yang ku padukan dengan sandal model gladiator. Make up simple dan rambut yang ku biarkan tergerai berjalan menuju ruang tengah yang sudah dipenuhi teman-teman lainnya.
"Waaah, Mbak El cantik banget!" Ucap Ghea yang diikuti tatapan dari teman-teman lainnya.
"Bisa aja Ghea, mau aku jajanin apa nih?" Jawabku sambil bercanda.
"Sumpah El, tapi beneran cakep" timpal Ojan.
"Ghea belum pernah liat mbak El nggak pake office outfit. Tapi yang jelas mbak El cantik banget!" Puji Ghea lagi yang mendapat senyuman dan ucapan terima kasih dariku.
"Rugi Ale nggak berangkat semalem, kalo pagi-pagi disuguhin sarapannya pemandangan El secantik ini" kekeh mas Aji yang diikuti oleh tertawaan teman-teman lain.
"Video call mas Ale aja, mas." Ledek Tere.
"Oh iya, bener" jawab mas Aji sambil mencari nama Ale di Ipadnya. Dan tak lama setelahnya, terdengar suara Ale.
"Lagi dimana bos?" Ucap mas Aji.
"Apartment, baru mau sarapan. Kenapa?" Jawab Ale yang terlihat sambil membuat kopi.
"Mas Ale, rugi nggak sarapan sama kita" ledek Rani.
"Waaah iya nih, kayaknya enak banget menunya, beda banget nih sama gue yang cuma kopi. Rame-rame lagi." Jawabnya
"Bukan masalah sarapannya mas, tapi rugi karena mas Ale nggak bisa sarapan sambil liat mbak El yang super cantik hari ini." Ledek Ghea.
"Hahaha, ada-ada aja. Elea tiap hari cantik kok." Jawabnya santai.
"Kalo hari ini gimana mas Ale?" Ucap Tere sambil mengarahkan camera ipad mas Aji kepadaku yang diikuti tatapan dari seluruh teman-temanku.
"Hai" ucapku canggung karena tatapan seluruh teman-temanku.
Ale hanya tersenyum, "bener, aku rugi tuker tiket sama Fadhil." Ucapnya yang membuat teman-teman teriak histeris.
"Cantik kan mas Ale?" Tanya Ojan dengan nada memastikan.
Ale mengangguk sambil tersenyum, "ini nggak bisa reschedule ya? Biar lebih cepet berangkatnya" canda Ale yang mengundang teriakan teman-teman.
"Mbak El, ngobrol dong sama mas Ale" ucap Ghea.
"Iya El, ajak ngobrol dong si Ale. Pengen liat kan kalo kalian ngobrol kayak gimana?" Ledek mas Aji
Aku diam sejenak, jujur baru kali ini aku mengobrol dengan Ale secanggung ini karena tatapan teman-temanku.
"Udah sarapan, Le?" Suara Ale terdengar sekaligus menyapaku terlebih dahulu.
"Nih lagi sarapan mas sama yang lain. Mas Ale?" Tanyaku yang diikuti senyuman dari teman-teman.
Dia hanya tersenyum sambil menunjukan kopi dan roti yang ada di meja makannya.
"Tangannya udah sembuh? Jangan kena air dulu kalo belum kering ya" ucapku reflek karena melihat tangan Ale.
"Duuuh seneng deh liatnya kalo perhatian gitu" ledek Tere
"Aku landing jam 11-an mungkin jam 1-an baru ketemu. Sebelum itu, tolong tetep hati-hati ya, jangan sampe kenapa-napa" ucapnya yang mengundang tatapan dari teman-teman lain.
"Khawatir banget, Pak Alreyshad? Tenang pak, saya akan mengerahkan seluruh anak buah saya untuk jaga Elea." Ledek mas Aji sambil mengambil ipadnya. "Udah Ah, cepetan siap-siap ke Airport! Keburu Elea gue ajak jalan" tambah mas Aji sambil menutup video callnya dengan Ale.
...***...
Setelah sarapan tadi, acara kami hanya berjalan-jalan berkeliling daerah Kuta. Karena teman-teman lain belum sepenuhnya datang, jadi acara gathering baru akan dimulai siang ini. Sebelum disibukan dengan acara bersama teman-teman department, mas Aji berinisiatif untuk menyewa mobil untuk kami berkeliling sambil menunggu teman-teman lain yang baru berangkat dari Jakarta menuju Bali.
Kami mengunjungi beberapa tempat untuk hang-out atau hanya sebatas mengambil foto. Jujur, kali ini aku sangat senang. Pergi bersama teman-temanku tanpa telfon dari Dhana membuat liburanku jauh lebih berasa serunya.
"Mbak El, pilihin kita baju dong" ucap Ghea yang diikuti dengan teman-teman lainnya.
Aku memang sedang di sebuah toko baju bersama seluruh teman-temanku yang tiba-tiba mendownloadku untuk menjadi fashion stylist mereka.
"Setelah dandanin yang cewek. Dandanin kita juga ya El." Ucap Ojan yang mendapat anggukan dari Fadhil dan Fano.
Mereka berbelanja memang untuk keperluan makan malam nanti yang menjadi acara bersama untuk Department News. Aku? Tidak, kali ini aku tidak berbelanja karena aku membawa cukup baju sekaligus sudah menyiapkan baju untuk makan malam nanti.
Selesai memilihkan pakaian untuk teman-temanku. Kami melanjutkan perjalanan menuju Restaurant Merah Putih untuk makan siang bersama. Sayangnya, hanya bersama teman-teman yang tiba Jumat malam bersama kami, tidak dengan teman-teman yang berangkat hari ini dikarenakan ada keterlambatan keberangkatan.
Aku duduk berdekatan dengan teman-temanku yang sudah pasti sering aku sebutkan namanya dan teman-teman lain dari Team B. Tetapi, Tidak dengan mas Aji yang duduk terpisah lumayan jauh karena memilih untuk duduk dekat dengan teman sesama Produser.
Aku sedang menunggu makananku sampai sambil mengobrol dengan teman-teman team A maupun B, saat handphoneku berbunyi dan memunculkan nama Ale di layarnya.
Alreyshad Darien is calling...
"Ada apa nih mas Ale telfon personal?" Ledek Tere yang langsung membuat teman-teman dari Team B saling menatap satu sama lain.
Supaya tidak memunculkan kecurigaan, aku memutuskan untuk mengangkat telfon tanpa memisahkan diri.
"Ya?" Ucapku yang mendapat tatapan penasaran dari teman-teman.
"Ini mau makan siang. Nggak kok, baik-baik aja." Jawabku pada Ale.
"Iya, you too ya. Bye" ucapku sambil mengakhiri telfon.
Tere dan yang lainnya menatapku penasaran.
"Cuma bilang udah boarding." Kataku pada mereka yang masih terus menatapku penasaran.
"Nanya udah makan siang apa belum, sama mastiin semua baik-baik aja. Udah gitu doang" ucapku yang akhirnya menghentikan tatapan penasaran mereka.
"El, aku kalo jadi kamu bakalan nggak bisa tidur kali di telfon mas Ale. Udah gitu nanyanya hal personal lagi." Ucap Rani yang diiyakan oleh beberapa orang di team A dan B.
Selesai makan siang, kami mendapat free time sampai nanti tiba acara dinner bersama di Kisik bar & grill. Aku dan teman-teman lain yang ikut dalam rombongan mobil mas Aji memanfaatkan waktu kami untuk sekedar nongkrong bersama. Kali ini kami memutuskan untuk ke La Placha. Kenapa kesana? Pertama karena memang kami ingin mencari suasana pantai untuk sekedar nongkrong bersama dan kami rasa tempat itu cocok. Kedua masih daerah Kuta yang mana masih bisa kami jangkau agar tidak terlambat untuk pulang ke Villa dan bersiap makan malam nantinya.
Kami sampai di La Plancha saat matahari sudah mulai rendah jadi tidak terlalu panas untuk memilih duduk di bean bag. Cukup ramai, namun tidak mengurangi keseruanku dengan teman-teman. Namun semua berubah ketika aku izin untuk pergi ke kamar mandi.
Aku berhenti ketika melihat sosok pria yang ku kenal. Segera ku cari nomor pria itu di handphoneku untuk menelponnya.
"Dhan, kamu lagi dimana?" Ucapku.
"Aku lagi di cafe, meeting sama client aku disini. Kenapa?" Katanya diujung telfon dan segera ku tutup panggilanku.
Dhana yang ku telfon dan berbicara sedang meeting dengan clientnya, nyatanya ada di hadapanku. Bersama perempuan yang sama, yang ku lihat di foto kiriman Nada tempo hari. Duduk berdua sambil sesekali tertawa. Tangannya merangkul pinggang perempuan itu dengan mesra dan terlihat sangat bahagia.
Mataku terasa panas dan mulai tak bisa menahan airmataku. Aku terdiam saat melihat Dhana yang akan mengecup mesra bibir perempuan di hadapannya. berbarengan dengan itu, ada sebuah tangan yang menutup kedua mataku dan menghilangkan pandanganku. Aku tau siapa orangnya. Aku hafal wangi ini, bahkan saat ia tak mengatakan apapun.
...***...
Alreyshad
Sesampainya aku di La Plancha, aku mencari keberadaan teman-temanku. Tak sengaja, aku melihat El yang sedang berdiri terdiam. Saat ingin menyapanya, aku tersadar bahwa ia sedang melihat ke satu arah. Dan ternyata..
Dhana is here. Tepat di seberang El berdiri saat ini. Berpelukan mesra dengan Kalila dan saling tersenyum bahagia. Melihat pemandangan itu, Aku memutuskan untuk menghampiri El dan segera menutup matanya dengan tanganku tepat saat Dhana akan mengecup lembut bibir Kalila.
El tidak terkejut sama sekali. Ia bahkan menggenggam tanganku yang lain sambil tetap membiarkanku yang sedari tadi menutup matanya.
Sambil tetap menutup matanya, aku mengarahan badannya untuk membelakangi Dhana dan menghadapku.
"Aku mau ke kamar mandi. Yang lain disana" katanya pelan.
Aku tau El menahan air matanya, jadi ku putuskan untuk mengajaknya ke luar sambil terus menggandengnya.
...***...
El menumpahkan airmatanya ketika kami berada di luar. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan menangis. Isaknya nyaris tak terdengar. Namun, punggungnya bergetar. Aku yang melihatnya mencoba untuk menenangkannya. Ku pegang tangannya dan ku turunkan dari wajahnya, seraya membawanya ke dalam pelukku. Berharap dia akan jauh lebih tenang.
Aku hanya akan menemaninya menangis, sambil sesekali ku tepuk lembut punggungnya dan ku elus puncak kepalanya.
El menumpahkan seluruh tangisnya, kecewanya dan sakit hatinya dalam pelukku. Andai aku bisa bertindak seperti mauku. Mungkin saat ini Dhana sudah tak bisa tertawa sebahagia itu setelah membuat El menangis separah ini.
10 menit berlalu, namun El masih menangis saat teman-teman yang lain muncul dan terkejut melihat kami. Melihat aku yang sedang memeluk El yang sedang menangis.
"El?" Kata Tere pelan sambil berjalan menuju El, namun segera ku hentikan dengan gerakan tanganku yang mengisyaratkan kata "jangan".
Tak lama setelahnya, El memunculkan tanda-tanda lebih tenang. Jadi, ku lepaskan pelukanku dan memastikannya sudah tenang.
"Udah nggak apa-apa?" Kataku sambil menatapnya dan menyeka air matanya dengan tanganku.
El mengangguk, "sorry. Aku nangis lagi." Katanya yang masih sulit berbicara karena masih harus mengatur nafasnya.
"It's okay." Kataku mengelus pipinya. "Temen-temen kamu juga ikut nemenin kamu kok" kataku sambil menunjuk ke arah teman-teman yang lain.
"El." Ucap Tere sambil berjalan menuju El yang diikuti teman-teman yang lain.
...***...
Setelah kejadian di La Plancha tadi, kami memutuskan untuk kembali ke Villa. Selama di perjalanan menuju Villa, El hanya diam dalam rangkulan Tere. Aku? Aku juga hanya diam sambil sesekali memperhatikannya lewat kaca spion dalam.
Setibanya di villa, El duduk di ruang tengah bersama yang lainnya saat aku sedang mengambil minum di dapur yang letaknya menyatu dengan ruang tengah.
"El lo nggak mau ambil keputusan sekarang aja?" Tanya Tere.
"Iya mbak El, biar mbak El juga tenang liburannya." Lanjut Ghea yang menyutujui saran Tere.
"Bener El, biar udah plong semuanya sebelum balik ke Jakarta." Ucap Aji setuju.
"Nggak ada yang baik-baik aja setelah berpisah." Ujar ku yang tiba-tiba sekaligus membuat terkejut seisi ruangan.
El menatapku berjalan ke arahnya dan berjongkok di hadapannya tepat setelah aku mengatakan kata-kata itu.
"Semua keputusannya terserah kamu, Le. Karena cuma kamu yang tau baiknya buat kamu gimana. I know it's hurt. Tapi jangan sampe emosi kamu malah buat kamu nyesel. Kalau bertahan buat kamu lebih sakit dari berpisah, jangan pilih itu. Begitupula sebaliknya. Nggak ada yang baik-baik aja setelah berpisah. Tapi setidaknya kamu nggak merasa menyakiti diri kamu sendiri karena keputusan yang kamu ambil." Ucapku sambil menatapnya.
"Aku ketemu Dhana di Jakarta aja boleh nggak? Aku belum bisa kalo harus nemuin dia disini." Katanya sambil menatapku.
"It's fine. Senyamannya kamu, Le." Jawabku sambil tersenyum.
"Yaudah daripada sedih-sedih mendingan kita siap-siap buat dinner yuk." Ajak Rani dengan semangat agar El melupakan rasa sedihnya sejenak, yang diikuti persetujuan dari yang lain.
"Kamu ikut nggak? Kalo nggak mau ikut nggak apa-apa nanti aku temenin." Tanyaku pada El.
El mengangguk, "aku ikut kok, ini kan acara gatheringnya masa aku nggak ikut." Jawabnya sambil tersenyum.
...***...
Elea
Setelah mandi, aku, Tere, Ghea dan Rani bersiap untuk menghadiri makan malam bersama dengan Department News. Tidak ada tema khusus untuk pakaiannya, asal nyaman saja katanya. Jadi aku memutuskan untuk memakai Tie Belt Cotton Blend Romper berwarna sky blue yang ku padukan dengan ankle strap shoes berwarna putih.
"Mbak El, mbak Tere, Ghea tunggu di ruang tengah ya" ucap Ghea yang memang sudah siap diikuti oleh Rani.
Aku dan Tere mengangguk sambil merapikan beberapa make up ku.
"Yuk, udah siap belum El?" Tanya Tere yang aku balas dengan anggukan.
Aku dan Tere berjalan menuju ruang tengah yang ternyata sudah dipenuhi oleh teman-teman yang lain.
"Eh kok El samaan nuansanya sama Ale?" Tanya mas Aji yang bingung karena bajuku dan Ale berwarna senada.
Akibatnya, seluruh tatapan terfokus padaku dan Ale. Benar memang pakaian kami senada. Ale memakai short pants dan kaos berwarna putih yang ia padukan dengan kemeja berlengan panjang berwarna sky blue untuk menjadi luarannya. Lengkap dengan topi dan sneakers berwarna putih. Aku dan Ale hanya diam ketika mas Aji meledek kami.
"Kapan mau berangkat?" Ucap Ale sambil bangun dari duduknya.
"Yuk" jawab semua orang.
...***...
Setelah sampai, kami berjalan menuju ke meja kami. Aku yang berjalan berdampingan dengan Ale, hanya mengangguk ketika Ale menanyakan kondisiku.
"You're okay, Le?" Tanyanya
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Kalo ada apa-apa bilang aku ya." Ucapnya lagi sambil menatapku.
"Aku nggak apa-apa kok, Al" kataku sambil tersenyum kepadanya.
"Duuuh mas Ale sama El dalem banget tatap-tatapannya, jadi iri." Ucap Dara salah seorang dari Team B yang diikuti oleh tatapan dari seluruh orang yang hadir saat itu.
"Gue lagi hipnotis Elea biar mau duduk samping gue, Dar" jawab Al asal.
"Trus Elnya mau nggak, Al?" Timpal mas Aji.
"Nggak tau deh." Jawab Ale. "mau nggak?" Lanjut Ale sambil menoleh padaku. "Please Le, jangan bikin aku diledekin?" Tambahnya yang mengundang tawa teman-teman lainnya.
Aku mengangguk sambil tertawa melihat tingkah Al yang mengepal tangannya sambil berkata "yes".
Makan malam kali ini lebih meriah karena di temani oleh alunan musik dari band yang kami sewa untuk menemani makan malam kami.
"Al, nyanyi dong." Todong mas Aji pada Ale yang pada akhirnya mendapat dukungan dari yang lainnya.
Ale mengambil gitar dan duduk sambil memyiapkan microphonenya. Hiruk pikuk teman-teman sudah terjadi sejak Ale melangkahkan kakinya menuju panggung kecil tempat band tadi bernyanyi. Suara gitar yang Ale mainkan menambah semangat teman-teman untuk memvideokan pertunjukannya.
Ale menyanyikan lagu photograph milik Ed Sheeran dengan petikan gitar yang ia mainkan sendiri. Namun, tiba-tiba semua mata tertuju padaku.
"Eheem, El kayaknya mas Ale nyanyiinnya buat lo deh." Ledek Tere yang mendapat senyuman dari seluruh teman-temanku.
Aku tau penyebabnya. Selama bernyanyi, Ale memang sesekali mengarahkan pandangannya pada ku. Seolah mengatakan bahwa liriknya lagunya untukku. Namun, aku tak ambil pusing, aku tahu Ale hanya bertingkah sesuai dengan kondisi sekarang yang mana supaya situasinya menjadi seru. Dan berhasil, makan malam kami memang menjadi sangat seru karenanya.
...***...