EPOCH [COMPLETED]

EPOCH [COMPLETED]
Chapter 12


Elea


Ketika mengatakan keiinginanku untuk break sementara dari hubungan kami. Respon Dhana bukan lebih baik. Ia justru menghujaniku dengan seluruh kata-kata kasar yang ia miliki. Ia mengutukku dengan sesukanya. Dhana marah besar.


"What the fu.. El, kamu bener-bener percaya sama omongan orang? Oh aku tahu, sebenernya ini cuma alasan kamu, supaya kamu bisa deket-deket sama temen kamu itu kan? Emang aku nggak tau kelakuan kamu di kantor kayak apa selama 3 tahun aku disini. Bit.."


Aku langsung menutup telfon, dan mematikan handphoneku sebelum Dhana melanjutkan kata-katanya. Ya begitulah sifat Dhana ketika kami sedang ada masalah. Mendengar dia menggunakan segala kata-kata kasarnya tidak lagi membuatku heran ketika kondisi kami sedang seperti ini.


Di tengah pikiranku yang kosong, dan tanganku yang masih gemetar. Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Apartmentku.


Sesampainya di Apartment, aku hanya berjalan lurus menuju lift, dan setelah tiba di lobby lantai 20, aku melihat seorang laki-laki berdiri di pintu pembatas antara lobby dan unit. Memakai clasic polo shirt milik Botter, jeans hitam juga nike Sb dunk low traviss scott miliknya berjalan mondar-mandir, sesekali melirik ke arah unit dengan mimik muka yang khawatir sebelum pada akhirnya menoleh saat ku panggil.


...***...


Alreyshad


Setelah mematikan panggilan video dengan El, aku memutuskan untuk mereschedule jadwal penerbanganku menjadi pukul 2 siang. Entah kenapa aku merasa harus tiba lebih cepat dari sebelumnya. Setelah menjadwal ulang penerbanganku, tiba-tiba aku teringat Dhana dan Kalila, juga El. Bagaimana bisa Dhana setega itu dengan El. Andai aku tidak mengingat El, sudah ku patahkan hidung Dhana tadi.


Karena belum bisa tidur, aku memutuskan untuk menonton TV, sampai tiba-tiba aku mendapat chat dari Tere.


Teari INA24 : Mas Ale, udah tidur belum? Boleh ngobrol sebentar nggak?


Setelah mendapat persetujuan dariku, Tere menelponku dan kami mengobrol kira-kira hampir 1 jam.


"Okay deh mas, thanks ya udah mau ngobrol sampe tengah malem gini" katanya diujung telfon.


"Sama-sama, aku juga makasih banyak. Yaudah kalo gitu Ter, Aku tutup ya telfonnya" jawabku sebelum akhirnya menutup telfon.


...***...


Aku datang tepat waktu ke Airport. Sambil menunggu boarding, aku memutuskan untuk duduk di lounge sambil meminum ice Americano dan membaca beberapa laporan.


"Duh, turun lagi." Kataku sambil mengurut puncak keningku melihat persentase penonton Programku.


Triing...


Hpku berbunyi, dan ternyata itu chat dari Tere.


Teari INA24 : Mas Ale, udah boarding belum? Ada seseuatu yang harus aku sampein mas. Tapi nggak enak kalo lewat chat. Bisa aku telfon?


...***...


Selama di pesawat, aku tidak dapat beristirahat. Pikiranku terpecah. Mengingat kejadian Dhana, El sampai urusan pekerjaanku. Ditambah lagi mendengar kabar kalau pagi tadi ayahku kembali harus menemui dokter di rumah sakit, karena dadanya yang tiba-tiba sakit. Untung saja tidak sampai di opname.


Setelah landing, aku menunggu beberapa koperku yang berisikan beberapa pakaian sisa di SG dan beberapa barang lainnya yang tidak ikut aku paketkan. Saat sedang melihat satu per satu koper yang berlalu di hadapanku, tiba-tiba aku mendapat chat dari Ghea.


Ghea INA24 : mas Ale, kita baru selesai liputan di lokasi kedua, tapi nggak bisa langsung ke kantor karena kondisi mbak El yang tiba-tiba gemeteran sekujur tubuh. Nafasnya juga susah mas. Kita mohon izin telat balik ke kantor ya mas, mau nemenin mbak El sebentar. Sebelumnya, maaf dan makasih banyak ya mas Ale.


Setelah mendapat koperku, aku berlari menuju parkiran bandara sambil sibuk menelpon El. Aku sengaja meninggalkan mobilku di parkiran bandara karena memang aku harus segera menuju kantor seusai landing.


Berulang kali aku menelfon El, tapi tak dapat jawaban. Jadi ku putuskan untuk menekan pedal gas mobilku menuju kantor. Beberapa kali mobilku terhenti karena macetnya ibukota. Ya, karena landingku bertepatan dengan jam pulang kantor, jadilah aku terjebak bersama pengendara lain. Di sela‐sela kemacetan aku masih terus menghubungi El. Tetapi masih tak mendapat jawaban.


Setelah tiba di kantor, aku segera berlari menuju lift dan menekan tombol 12. Hasilnya, tidak juga aku lihat kehadiran El di mejanya. Lalu aku berniat mencari Ojan dan Ghea, siapa tahu mereka mengetahui keberadaan El. Menyusuri tiap ruangan di lantai 12, tetap tidak ku temukan juga mereka. Akhirnya aku menelfon Tere, tetapi Tere tidak sedang di kantor karena harus mengambil liputan di Rumah Sakit. Ku putuskan untuk kembali turun ke lobby, untuk menanyakan keberadaan El, Ghea dan Ojan ke receptionist. Sesampainya di bawah, aku melihat Ghea dan Ojan sedang berjalan menuju lift.


"Mas Ale" panggil Ghea yang mendapat lambaian tangan dari ku sambil sedikit berlari menghampiri mereka.


"Ghe, Jan. Elea mana?" Tanyaku


"El langsung balik mas. Tadi gue suruh balik, soalnya kondisinya bener-bener udah nggak memungkinkan kalo harus balik ke kantor, udah gue tawarin dianter tapi dia nolak keras. Jadi, dia nyetir sendiri ke Apartmentnya" Jelas ojan.


Tanpa berlama-lama, aku berlari menuju parkiran lobby.


"Mas, hasil liputan yang sama Ghea buat besok?" Tanya Ojan setengah berteriak.


"Tarok di meja gue Jan, nanti gue balik lagi kok" kataku sambil melambaikan tangan ke sebuah taksi.


Aku membuka knop pintu taksi dan segera memberitahu tujuanku kepada driver.


"Distric 8, Senopati ya pak." Kataku yang mendapat anggukan dari driver.


Selama di perjalanan, aku menanyakan unit El pada Tere.


Tere INA24 : lantai 20, unit 2005 mas.


Begitu chat balasan dari Tere.


Untungnya, jarak kantor dengan Apartment El tidak terlalu jauh jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai. Setelah membayar taksi aku segera menghampiri receptionist.


"Sorry Mas, saya mau ke unit 2005 Eleanor Oliviera Cielo." Kataku kepada seorang receptionist.


"Boleh lihat ktpnya pak?" Jawabnya.


Dengan cepat aku memberikan ktpku.


"Maaf pak, ibu Eleanor belum menjawab panggilan kami dan juga belum mencantumkan nama bapak untuk pengunjung VIP, jadi bapak hanya bisa menunggu di lobby bawah atau di lobby lantai 20 sampai ibu Eleanor menjawab panggilan kami." Jelasnya.


Melihat loby bawah lumayan ramai, tidak mungkin aku menunggu El disini, "Okay, saya tunggu di lobby lantai 20 aja kalo gitu mas" jawabku.


"Baik, ini access card untuk lift, pak. Liftnya menggunakan lift G ya pak. Terimakasih" ucap receptionist tersebut sambil memberikan kartu akses lift padaku.


...***...


Sesampainya di lobby lantai 20, aku hanya terus mondar-mandi di pintu pembatas antara lobby dan unit sambil berulang kali mencoba menelfonnya. Sampai tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku.


"Ale" panggilnya lemah.


Tidak dengan nada ceria seperti biasanya. Tidak juga dengan wajah yang tersenyum seperti biasanya. Suaranya sangat pelan dan gemetar, diikuti dengan nafasnya yang terdengar sangat lelah. Wajahnya sedikit pucat dan sangat lemah. Senyumnya? Kemana perginya?


Aku menoleh ketika mendengar suara itu, menurunkan handphoneku yang menempel di telinga sambil melangkahkan kakiku untuk menghampirinya dan segera memeluknya.


"Ale" katanya lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih gemetar dalam pelukku.


Yang aku lakukan hanya terus memeluknya.


"Al, aku capek" katanya lemah, kali ini aku merasakan bahuku mulai basah. "Aku takut, Al."lanjutnya. Diikuti dengan tangannya yang mulai mencengkram lembut bajuku dan menyembunyikan mukanya di dadaku.


Aku mengeratkan pelukanku dan El menangis di dalam pelukanku. Kami diam beberapa saat. Sampai El, melepaskan pelukannya.


"Udah Nggak apa-apa?" Tanyaku sambil menatap wajahnya.


...***...


Setelah memasuki unit El, kami langsung menuju sofa yang terletak di ruang TV. El berjalan di depanku dan aku mengikutinya di bekalang.


"Le" panggilku. Jujur melihatnya dengan keadaannya yang sekarang, sangat tidak tega. El yang selalu bersinar dimana pun dia berada, berbanding terbalik malam ini. Cahayanya redup bahkan hampir mati.


"Duduk Al, aku ambilin minum dulu ya" katanya sambil menuju dapur.


Aku mengikutinya ke dapur dan berdiri di ujung tembok sambil memperhatikannya.


"Al, Aku break sama Dhana" katanya dengan suara yang bergetar. Aku tahu El menahan tangisnya.


Aku berjalan menghampirinya, menarik tangannya lembut dan memeluknya lagi.


"Dhana jahat, Al" katanya sambil menangis di pelukanku.


Aku bersumpah akan menghabisi Dhana, bukan hanya tulang hidungnya yang patah, tapi setiap tulang dan sendinya akan patah jika dia muncul di hadapanku sekarang. Aku tak pernah melihat El selemah ini. Dia bahkan menangis sampai sulit bernafas.


"Dhana, Keparat! ********!" Batinku.


Aku hanya bisa menyuruh El menumpahkan seluruh tangisnya sambil terus memeluknya. Hanya itu yang bisa ku lakukan, alih-alih berbicara aku lebih memilih untuk menjadi pendengarnya malam ini.


...***...


Kami duduk di sofa ruang TV sambil meminum chamomile tea buatan El.


"Le?" Tanyaku sambil menatapnya dalam-dalam.


"Udah nggak apa-apa kok , Al" jawabnya sambil memperlihatkan tangannya. Ia tersenyum, seolah mengerti maksudku.


"Aku nggak akan nanya apa-apa sama kamu. Kalo memang kamu belum mau cerita nggak apa-apa kok." Kataku yang mendapat senyuman dari El. "Udah makan?" Tambahku.


El menggelengkan kepalanya, "nggak laper" lanjutnya.


"Le, aku nggak mau disalahin ibu karena kamu sakit abis liputan ya. Perkara kamu nggak mau makan alasannya apa, aku nggak peduli yang jelas kamu harus makan. Mau makan apa?"


"Nggak pengen apa-apa, Al" jawabnya.


"Le..." panggilku.


"Hemm..I want telur dadar buatan kamu" jawabnya random yang mengundang pertanyaan dipikiranku. "Ayolah, Al. Aku udah lama nggak makan telur dadar buatan kamu" rengeknya yang mendapat helaan nafas dariku.


"Yaudah, aku buatin. Tapi makan ya!" Kataku sedikit menultimatumnya yang dibalas dengan anggukan dan senyuman dari El.


...***...


Aku menaruh telur dadar buatanku di piring dan memberikannya pada El.


"Dadarnya nggak sempurna, karena susah pas balikinnya." Kataku sambil menyodorkan piring berisikan telur dadar yang jauh lebih mirip scramble egg itu.


"Aku nggak mau makan scramble egg, Al" katanya meledek.


"Le?!" Jawabku dengan nada yang ku buat kesal.


"Hehehe, iya-iya bercanda. Aku makan kok." Katanya sambil menyuapkan telur dadar ke mulutnya. "Kamu nggak makan?" Tanyanya.


"Aku kenyang liat kamu makan" jawabku meledeknya.


"Kok gitu? Makan bareng aku ya. Aku nggak akan habis" katanya.


Kebiasaan El dari dulu adalah tidak bisa makan banyak. Jadi yang selalu kebagian menghabiskan sisa makanannya adalah aku. Untungnya dia selalu hafal kalau aku tidak suka nasi, jadi dia pasti hanya akan menyuruhku menghabiskan sisa lauknya bukan nasinya.


Selesai makan, aku melirik jam. Sudah pukul 10.00 malam.


"Kalo kamu mau balik, Nggak apa-apa kok, Al. I'm fine" katanya dengan senyum.


"Aku temenin sampe kamu tidur" lanjutku.


"Al, beneran udah nggak apa-apa kok." Ucapnya meyakinkanku.


"Beneran?" Kataku yang mendapat anggukan dari El. "Yaudah kalo gitu aku pamit ya" lanjutku sambil bersiap.


Karena aku tidak memiliki kartu access lobby jadi El mengantarku sampai ke lift.


"Aku anter sampe parkiran ya?" Ucapnya.


"Nggak usah, Le. kamu istirahat aja. Lagian aku nggak bawa mobil. Mobilku di kantor." Jawabku.


"Trus kamu ke kantor lagi ini?" Tanyanya yang aku balas dengan anggukan. "Naik taksi? Aku anter aja ya" tambahnya.


Pintu lift terbuka saat aku mengatakan "Le? Istirahat. Denger kan kata aku? Udah ya aku pamit. Entar aku telfon, okay?" Jawabku sambil mengelus puncak kepalanya.


El hanya tersenyum dan melambaikan tangannya ketika pintu lift tertutup.


"Hati-hati" katanya pelan.


...***...


Aku kembali ke kantor untuk menuntaskan pekerjaanku yang sempat tertunda. Karena untuk minggu ini teamku mendapat shift pagi jadi mau tidak mau aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku sebelum besok.


Program Indonesia24 dibagi menjadi 4 waktu tayang. Pagi, siang, sore dan malam. Dan untuk team dibagi menjadi 2 team. Team A dan Team B dengan 2 produser untuk masing-masing team. Biasanya tiap program berita memiliki 1 produser untuk masing-masing waktu penayangan. Tetapi tidak untuk kami. Kami bertanggung jawab pada 2 kali penayangan berita dalam sehari. Dalam team juga terdapat 2 produser yaitu Produser Acara (Show Producer), dan Produser Lapangan (Field Producer). Tugasnya? Tentu berbeda.


Aku yang menjabat sebagai Produser Acara (Show Producer) bertugas mengatur penayangan dan memilih berita-berita apa saja yang akan ditayangkan. Aku harus memutuskan berita apa yang akan disiarkan dan mempersiapkan segala sesuatu, agar berita itu dapat ditayangkan. Seorang Produser Acara (Show Producer) harus mempersiapkan susunan berita (rundown) yang berisikan berbagai format berita yang akan ditampilkan, Apakah itu paket, VO, reader, grafik, dan lain-lain pada program berita. Aku juga harus memperhitungkan waktu tayang (durasi) dari masing-masing format berita itu. Tak hanya itu, Produser Acara (Show Producer) juga harus mempersiapkan urutan beritanya; apa saja yang akan tampil pada segmen pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.


Jika Aku mengalami kesulitan dengan program yang akan dijalankannya atau ragu-ragu untuk memutuskan berita-berita yang harus menjadi berita utama (top stories) dalam rundown, maka aku dapat berkonsultasi dengan Aji selaku Produser Eksekutif atau Pak Tama selaku Direktur Pemberitaan. Tugas Produser Acara akan diawasi langsung oleh Produser Eksekutif dan Direktur Pemberitaan.


Sedangkan, Gilang sebagai Produser Lapangan (Field Producer) memiliki tugas untuk melakukan koordinasi pada saat peliputan dan sesuai namanya, Produser Lapangan akan lebih banyak berada di lokasi. Fungsi Produser Lapangan menjadi penting, ketika stasiun televisi melakukan liputan langsung (live). Dia akan mengarahkan juru kamera dan reporter di lapangan, termasuk mempersiapkan wawancara, memberikan masukan kepada reporter mengenai materi wawancara atau siapa narasumber yang dapat diwawancarai. Produser lapangan membantu reporter melakukan riset guna mendapatkan informasi bagi suatu liputan, dia juga harus mempersiapkan rencana perjalanan jika team liputan harus berangkat ke daerah lain.


Setiap minggu jadwal Team kami berubah. Yang masuk ke dalam team tetap hanya Produser beserta Asisten Produser, Jurnalis/Reporter, dan Kameramen. Selebihnya memiliki jadwalnya sendiri yang sudah di tetapkan oleh kantor.  Maka jangan heran saat jadwalku dan El berbeda. Disaat ia libur aku belum tentu libur juga, begitu pula sebaliknya.


Aku berada di Team A bersama Ojan, Tere, Fadhil, Ghea, dan beberapa jurnalis dan kameramen lainnya. Minggu ini kami kebagian shift pagi, namun karena harus menayangkan breaking news jadilah Ojan, Ghea juga El harus bekerja sampai malam.


Setelah selesai menuntaskan seluruh pekerjaanku. Aku bersiap untuk pulang dan beristirahat.


...***...