EPOCH [COMPLETED]

EPOCH [COMPLETED]
Chapter 10


Alreyshad


Setelah siaran, aku memutuskan untuk meminum kopi dan mengistirahatkan mataku di rooftop kantor kami, yang secara tak sengaja bertemu dengan Tere dan pada akhirnya kami mengobrol. Ku akui Tere seorang yang sangat ceria dan mengetahui banyak hal. Jadi ketika berbicara dengannya, tidak akan kehabisan topik.


Di sela-sela obrolan ringanku dengan Tere, tiba-tiba Tere menyapa seseorang yang menghampiri kami dan berdiri tepat di belakangku. Sosok yang sangat familiar menatap lurus ke arah kami, dengan ekspresi yang tak bisa ku tebak. Sedih, murung atau kesal. Ya, El. Dia berdiri sambil memegang 2 kopi hangat di tangannya yang aku tidak tau untuk siapa. Karena, saat aku menawarkan diri untuk meminumnya pun, El tidak memberikannya padaku, dia malah memberikannya pada Gusti dengan alasan aku sudah memiliki kopi di tanganku.


Ekpresi Elea membuatku berpikir, mungkin masalahnya dengan Dhana belum selesai sehingga dia terlihat sedikit murung ketika meninggalkanku dengan Tere di rooftop tadi. Sampai jam pulang kantor pun aku masih melihat ekspresi yang sama.


"Le, kok belum pulang?" Tanyaku sambil menghampiri mejanya


"Iya, lagi nunggu Tere. " Kata El tanpa menatapku. "Le, are you okay?"


Belum sempat El menjawab, tiba-tiba sosok Tere muncul.


"Mau balik mas?" Tanya Tere sambil berjalan menuju bangkunya yang letaknya di sebelah meja El.


"Iya Ter. Yaudah kalo gitu aku duluan ya Le, Ter." Kataku sambil tersenyum.


Aku pulang on time bukan tanpa alasan. Besok aku izin untuk tidak masuk kerja 2 hari karena harus flight ke SG untuk mengambil beberapa barang yang masih ku tinggalkan disana. Jadi, sore ini mau tidak mau, aku harus packing untuk menyiapkan beberapa baju selama disana.


...***...


Elea


Setelah pulang kantor kemarin. Aku sempat mampir ke Pasific Place untuk membeli beberapa baju karena stock bajuku sudah mulai menipis. Bersama Tere pastinya.


Jadwal siaranku hari ini pukul 2 siang, jadi aku tidak harus terburu-buru seperti biasanya. Aku bahkan sempat memasak pagi ini untuk ku bawa dan ku bagikan ke Tere, sebagai ucapan terimakasihku sudah ditemani belanja semalam. Sesampainya di kantor, aku melihat Tere sedang duduk di mejanya.


"Nih buat lo" kataku memberi kotak makan yang berisi aglio olio buatanku.


"Waaaah, sumpah tau aja gue nungguin lo dateng, mau ngajak ke coffee shop bareng mulanya. Eh dibawain bekel." katanya sambil membuka kotak makan yang ku berikan. "Thanks loh, El. Kalo boleh request sih, tiap hari aja begini" tambahnya yang mendapat tatapan sinis dariku.


"Team siang nih?" Tanyaku sambil menyalakan komputer di mejaku.


"Yup. El, by the way, lo siaran lapangan 2 hari berturut-turut?" Tanyanya sambil menyuapkan pasta ke mulutnya.


"Iya, nanti siang sama besok. Udah lama juga nggak pake seragam buat liputan" jawabku sambil menaruh news bulletin dan bersiap untuk menuju ruangan Ale.


"Mau kemana El?" Tanya Tere karena melihatku beranjak dari kursi.


"Ke ruangan Ale, mau ngasih ini." Jawabku pelan sambil menunjukan news bulletin.


"Loh ,kan doi izin 2 hari" kata Tere santai sambil terus memakan bekal dariku.


"Oh ya? Izin kenapa?" Tanyaku.


"Semalem dia bilang sama gue. katanya mau ke SG ngurusin barangnya yang masih beberapa disana?" Jawab Tere santai sambil meminum air di gelasnya.


Aku hanya ber-oh ria mendengar penjelasan Tere. "Tunggu. Tere bilang semalam Ale bilang padanya? Oooh ternyata Ale yang menelfon Tere semalam, ketika aku dan Tere sedang sibuk memilih baju. Sejak kapan mereka sedekat ini?" Batinku.


Semenjak kejadian di rooftop kemarin. Tere menjadi sangat sibuk dengan handphonenya. Bahkan ketika menemaniku berbelanja, beberapa kali ia menerima telfon dan mengirim chat ke seseorang yang baru aku ketahui kalau itu adalah Ale.


...***...


Aku mengerjakan beberapa pekerjaanku sebelum meninggalkan kantor untuk liputan. Entah kenapa, rasanya aneh saat mengetahui 2 sahabatku ternyata dekat tanpa ada pembicaraan padaku. Aku bukan anak yang posesif pada siapapun. Termasuk pada sahabat-sabahatku. Tapi, ini pertama kalinya Tere tidak menceritakan segala hal padaku. Apalagi menyangkut hubungannya dengan orang lain.


"El, liputan sama gue kan?" Tanya Fano membangunkanku dari lamunan.


"Eh iya Fan, On the way jam berapa? Mobil udah siap?" Tanyaku


"10 menit lagi di bawah ya. Gue cek Kamera dulu. Mobil aman udah di bawah." Jelasnya sambil menuju lift untuk mengambil kameranya.


Aku langsung merapikan beberapa barang yang akan aku bawa ke lokasi liputan. Tidak lupa memasukan obat, dan membawa tumblr yang akan aku isi air di pantry sebelum berangkat.


"El, minumnya 2 aja. Jangan lebihin dosis. Gue takut lo kenapa‐napa" kata Tere yang terlihat khawatir melihat aku memasukan obatku ke dalam tas.


"Tenang bu Tere, nggak usah khawatir ya. Nggak akan kenapa-napa. Okay?" Jelasku menenangkan Tere.


"Yaudah gue pergi ya, titip meja sama studio." Ledekku sambil berjalan pelan meninggalkan Tere di mejanya.


"El, kalo ada apa-apa langsung telfon gue ya?" Katanya sedikit teriak karena jarak kami yang sudah lumayan jauh dan hanya aku balas dengan tanganku yang membentuk simbol okay.


...***...


Kasus pembunuhan yang pelakunya menggunakan kekerasan sebelum membunuh korban yang tempo hari aku bawakan beritanya, hari ini mendapat titik terang. Pelakunya sudah tertangkap . Ia membunuh 7 korban yang 3 di antaranya adalah istri dan anaknya.


Aku melakukan liputanku bersama Fano yang bertugas menjadi kameramenku hari ini di pengadian karena sidangnya berlangsung siang ini. Beberapa jurnalis sudah memenuhi tempat persidangan. Fano sedang sibuk memasang kamera agar mendapat gambar yang bagus, saat aku izin keluar sebentar untuk meminum obatku sebelum persidangan dimulai.


Sidang pertama ini, hanya berisikan pembacaan dakwaan, dan besok rencananya polisi akan meninjau masing-masing tempat kejadian perkara.


Selama sidang berlangsung, aku tidak bisa fokus mendengarkan karena potongan bayangan ayahku muncul beberapa kali saat jaksa membacakan dakwaannya. Hal itu mengakibatkan tanganku sedikit gemetar, nafasku juga sudah mulai tidak beraturan disertai keringat mulai muncul di dahiku. Aku tidak bisa tenang, bahkan efek obat yang ku minum tidak mampu menahan gejala traumaku. Untung saja sidang pertama kali ini hanya sebentar, dan aku bisa melaporkan hasilnya secara live di luar ruang persidangan.


...***...


Setelah selesai liputan aku kembali ke kantor. Tere yang sedari tadi rupanya menungguku langsung menghampiri mejaku sambil membawakan air hangat yang ia ambil di pantry.


"Thanks ya, Ter" jawabku sambil mengambil air tersebut yang dibalas dengan senyum khawatir dari Tere.


"Lo beneran nggak apa-apa, El?" Tanyanya pelan.


"Nggak apa-apa kok, Ter." Jawabku sambil tersenyum berharap dia tidak terlalu khawatir.


"Tapi masih gemeteran gini" katanya sambil melihat tanganku yang memang masih gemetar. "Kenapa nggak langsung pulang aja sih, El." Tambahnya.


"Ih, gue nggak apa-apa Teari. Entar juga ilang kok gemeterannya. Lagian gue balik ke rumah ibu juga. Udah janji mau kesana soalnya dari minggu lalu. Nggak mungkin gue langsung pulang dengan kondisi begini, yang ada buat ibu kepikiran lagi." Tambahku


"El, kalo besok lo ngerasa nggak mampu buat liputan, kita tukeran aja ya? Nggak apa-apa kok." Kata Tere sambil menggenggam tanganku.


"Makasih Ter, tapi beneran kok gue udah nggak apa-apa. Lagian kalo gue nggak terjun langsung ke lapangan dan ngeliput soal beginian kapan gue sembuhnya? Itung-itung terapi lah, biar gue terbiasa." Kataku tenang sambil tersenyum


"Yaudah, tapi inget kalo udah ngerasa sesak langsung kabarin team lo di lapangan ya. Jangan dipaksain!" Jawabnya yang ku balas dengan anggukan dan senyuman.


...***...


Setelah pulang kantor tadi, aku langsung memesan taksi menuju rumah ibu yang terletak di daerah Pondok Indah. Bukan, bukan rumah masa kecilku. Ibu merasa harus pindah ketika berpisah dengan Ayah. Jadilah ibu membeli rumah ini, rumah yang cukup besar dengan lingkungan yang lumayan tenang. Ibu tidak tinggal sendiri, eyang kakung dan eyang putri, mbak Yani, dan pak Amir, ikut tinggal disini bersama ibu. Terkadang abangku dan keluarganya juga menginap disini.


Kali ini aku sedang duduk di ayunan belakang sambil menatap kolam renang. Aku sudah mengirim pesan ke Dhana dan menceritakan kejadianku hari ini. Sama seperti sebelum-sebelumnya, Kali ini juga tidak mendapat balasan. Setelah kejadian kami dari rumah orang tua Dhana, aku tidak berhenti mengirimkannya pesan, karena kata-kata Ale yang membuat aku berpikir mungkin ini cara Dhana menjagaku. Tapi sampai hari ini, tidak satu pun pesanku dibalasnya. Hanya dibaca saja. Mungkin Dhana sedang banyak pekerjaan, hanya itu pikiran yang bisa membuatku terus bertahan dalam kondisi saat ini.


Aku meminum teh jahe hangat buatan mbak Yani sambil terus memandang kolam.


"Ada masalah apa Lea?" Suara ibu memecah lamunanku.


"Nggak apa-apa, bu." Jawabku dengan memberikan senyuman agar ibu tidak khawatir.


"Jangan bohong sama ibu. Kenapa? Dhana?" Tanyanya yang tiba-tiba membuatku sedikit terkejut. "Kalo ekspresinya begitu, ibu pasti bener. Ada apa sama Dhana?" Tambahnya sambil duduk di sampingku.


Aku menceritakan keadaan hubunganku dan Dhana 3 tahun belakangan. Dan juga menceritakan permasalahanku kemarin dengan Dhana . Entah apa yang ada di pikiranku sampai bisa menceritakan semuanya pada ibuku, padahal selama ini aku bisa menyimpannya sendiri.


"Lea, ibu nggak pernah melarang kamu deket atau berteman dengan siapapun. Apalagi membatasi apa yang Lea ingin lakuin. Selama itu buat Lea happy, ibu pasti dukung. Tapi kalo ibu yang melahirkan Lea aja nggak pernah larang Lea, apa berhak orang lain membatasi apa yang buat Lea happy? Le, ibu tau Dhana orang baik, dan Lea sayang betul sama Dhana. Tapi kalo memang baik aja nggak buat Lea happy untuk apa kan? Lea dan Dhana kan sudah dewasa, coba diselesaikan baiknya bagaimana, ibu selalu dukung Lea apapun yang terjadi, yang penting Lea happy" ucap ibu yang mampu membuat air mataku jatuh.


"Bu, makasih banyak ya" jawabku singkat.


"Loh kok nangis? Sini sayang" ucap ibu sambil mendekatkan dirinya padaku dan memelukku. "Lea, setiap hubungan pasti selalu punya masalah, itu wajar. Tapi semua itu tergantung kita menyikapinya gimana. Duh, kalo ibu ketemu Dhana, ibu marahin deh nanti, bikin anak ibu kepikiran sampe nangis gini" tambahnya yang sukses membuatku tersenyum. "Le, Kita boleh berharap, tapi tidak bermimpi, coba buat menjadikannya nyata nak, walaupun nggak sempurna" ucapnya sambil menghapus air mataku memakai punggung tangannya.


Setelah keadaan hatiku sudah jauh lebih baik. Aku meneruskan pembicaraanku dengan ibu. Kali ini tentang pekerjaan ibu. Ibu menceritakan beberapa kejadian lucu bersama pasiennya selama di RS yang sukses membuat moodku kembali baik. Di sela-sela obrolanku dengan ibu tiba-tiba handphoneku berdering dan menampilkan sebuah pesan.


From : Alreyshad Derien


Le, boleh aku telfon?


...***...