![EPOCH [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/epoch--completed-.webp)
Elea
Setelah Ale menceritakan sebabnya meninggalkanku 7 tahun lalu dengan lengkap, aku merasa sangat bersalah. Begitu pula Ale. Ia tak henti-hentinya meminta maaf padaku.
"I'm so sorry, Le. Truly Sorry" ucapnya pelan.
"It's okay kok, Al. Aku justru yang minta maaf. Waktu itu, aku bener-bener kacau. Aku butuh kamu, tapi tiap aku liat kamu bukan wajah kamu yang muncul. Tapi bayangan Ayah yang malah muncul di kepala aku. Maaf." Kataku sambil menunduk. "Semenjak kita nggak ketemu, aku berulang kali masuk RS gara-gara tipus. Karena aku cuma bisa tidur 2-3 jam tiap hari, nggak ada lagi yang nemenin aku bergadang." Lanjutku sambil meminum minumanku
"Tapi kan habis itu ketemu Dhana. Dia nemenin kamu kan, gantiin aku." Ledeknya.
"Nggak ada perubahan juga sih, Al. Kalo masalah emosi emang jauh lebih kekontrol tapi masalah jam tidur kayaknya nggak ngaruh. By the way, kamu jahat banget, selama hampir 6 tahun di SG nggak pernah sekali-sekalinya nanya kabar aku atau ngunjungin aku." Lanjutku dengan nada kesal
"Aku pernah ke rumah kamu yang di Menteng. Tapi taunya kamu udah pindah. Dan jangan bilang aku nggak pernah nanyain kamu ya! Aku selalu nanyain kamu lewat Sherin." Jawabnya yang membuat aku sedikit terkejut.
Sherin adalah teman SMA kami, yang kebetulan satu universitas denganku dan Sherin lah yang mengenalkanku dengan Dhana. Selesai membahas masa lalu kami, obrolan kami berlanjut menjadi obrolan santai lainnya.
"Hasil rapat kemaren buat gathering minggu depan gimana Al?" Tanyaku sambil menyantap hidangan makan siang kami
"Bali jadinya, berangkatnya dibagi 2. Ada yang Jumat malem, ada juga yang Sabtu pagi. Sesuai shift aja. Masalah penayangan udah diurus, jadi dialihin ke yang nggak bisa ikut, tinggal di up aja sih. Jadi Senin sampe Jumat siang semua file berita buat week-end udah rampung. Jadi Sabtu-Minggu tinggal di up sama paling kalo ada berita darurat ya harus disisipin. Untungnya ada 2 produser kan nggak bisa ikut dan lumayan banyak juga editor, jurnalis dan kameramen yang nggak bisa ikut. Jadi aman sih kalo aku titipin kerjaan karena mereka juga titip anak buahnya kan ke aku." Jawabnya.
Memang beberapa orang di departement kami tidak bisa ikut pergi. Berbagai macam alasannya. Ada yang karena masalah kesehatan, keluarga yang tidak bisa ditinggal, atau bahkan memilih masuk agar bisa dapat cuti lebih panjang 3 hari pada akhir tahun atau hari libur lainnya.
Di sela-sela perbincangan kami, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu menghampiri kami.
"Lea?" Panggilnya yang membuat kami menengok ke arah ibu itu.
"Ibu? Ngapain disini?" Jawabku heran.
Benar, ibuku yang datang menghampiri kami. Ia tidak sendiri, bersama kakak ipar dan keponakanku, Sabian.
"Ibu abis belanja keperluan buat perayaan ulang tahun Abi, kan sabtu ini acaranya." Kata ibu El sambil melirik menantunya dan cucunya. "Ale kan?" Tanyanya yang langsung mendapat anggukan dan senyuman lebar dari Ale.
"Apa kabar tante?" Kata Ale dengan nada sopan.
"Baik, ya ampun udah lama banget tante nggak ketemu Ale. Lea kok nggak cerita kalo satu kantor sama Ale?" Katanya sambil melirikku.
"Belum sempet cerita, bu." Kataku "Abi salim dulu sama om" lanjutku menyuruh Abi untuk bersalaman dengan Ale.
"Ibu sama kak Vriska doang? Abang?" Tanya El yang tidak melihat sosok abangnya.
"Abang kan kerja, dek. Jadi sama pak Amir." Jawab kak Vriska.
"Ale, Sabtu ini ke rumah ya. Abi ulang tahun yang ke-3. Datang sama Lea ya!" Ajakan ibu yang tiba-tiba membuatku sedikit terkejut.
"Bu, Ale Sabtu ke kantor. Minggu juga mau ke rumah orang tuanya" jawabku cepat.
"Jam berapa, tante? Kalau siang ke sore sih bisa." Jawaban Ale yang sama mengejutkannya mendapatkan tatapan dariku.
"Acara pengajiannya jam makan siang, abis itu acara potong kuenya sore kayaknya. Cuma keluarga besar aja kok yang hadir. Nggak rame-rame banget." Jawab ibu. "Datang ya om" lanjut ibu, yang menirukan suara anak kecil sambil menggerakkan tangan Abi.
"Iya abi, insyaAllah nanti om datang ya." Katanya sambil mencubit gemas pipi Abi.
"Yaudah, kalo gitu ibu duluan deh ya. Ale tante duluan ya" ucap ibu sambil berjalan keluar resto.
Kami melanjutkan makan siang kami. Dan segera kembali ke kantor setelah selesai. Selama di perjalanan, kami hanya mengobrol sambil diselingi candaan yang cukup membuat kami tertawa lebar.
"Kamu beneran mau dateng ke ulang tahun Abi?" Tanya ku tiba-tiba dan mendapat anggukan dari Ale. "Nggak capek? Besoknya kan mau ke Bandung lagi" lanjutku.
"Jakarta-Bandung cuma 3 jam, Le. Nggak apa-apa kok. Lagian ibu kamu yang langsung ngundang masa ditolak. Nggak sopan kali" katanya sambil menatapku saat lampu lalu lintas menampilkan warna merah.
...***...
Setelah sampai kantor, kami langsung menuju lantai 12 dimana department kami berada, aku langsung menuju mejaku dan Ale langsung memasuki ruangannya.
Seperti yang sudah aku prediksi, mejaku sudah dipenuhi beberapa orang. Gia, Rani, dan Ghea. Orang-orang ini yang sudah duduk sambil menatapku penasaran. Dan benar saja, baru saja aku duduk mereka langsung menodongku dengan pertanyaan.
"El, jadi serius sama mas Ale?" Tanya Rani.
"Serius apaan sih maksudnya? Cuma temenan sayang-sayangku" jawabku santai.
"Mbak El sama mas Ale cuma temenan setelah semua yang mas Ale lakuin ke mbak?" Ucap Ghea yang mengundang tatapan dari 2 rekanku yang lain.
"Mas Ale ngereschedule flightnya pas dari SG, dateng-dateng ke kantor panik banget mukanya nyariin mbak El. Sampe-sampe rela lembur buat meriksa liputan aku sama mas Fauzan waktu itu, gara-gara mau nemenin mbak El katanya." Jelas Ghea yang mendapat tatapan amazed dari Gia dan Rani.
"Gosip kok nggak ngajak-ngajak sih? Lagi ceritain apa nih?" Tanya Tere yang baru saja datang dan duduk di mejanya.
"Ini Ter, tadi El abis makan siang sama PD ganteng." Kata Rani.
"Program apa?" Jawab Tere yang tak kalah semangat.
"Indonesia24, alias PD kita. Mas Ale." Jawab Gia
"Oooh, kirain siapa" jawab Tere "gue duluan ya, mau take 1 jam lagi. Bye" lanjutnya.
Aku tak bisa menyimpulkan apa yang terjadi antara Ale dan Tere akhir-akhir ini. Ditambah dengan respon Tere barusan. Beberapa kali aku tak sengaja melihat Tere menyambangi Ale yang baru keluar Control Room dan mengajaknya mengobrol di taman samping atau rooftop. Pernah juga, aku tak sengaja bertemu mereka di coffee shop langgananku dan Tere. Tere biasanya selalu cerita apapun padaku, tapi mengenai kedekatannya dengan Ale, tak pernah sedikit pun ia bahas dan hanya membiarkan segalanya abu-abu di pikiranku.
...***...
Alreyshad
Di saat semua orang sedang tidur di kasurnya, Sabtu pagi ini aku sudah sampai di kantor. Duduk di ruanganku sambil membaca beberapa naskah berita dari beberapa reporter di mejaku. Sebagian besar sudah ku edit dan ku masukkan ke file "final edit" di komputerku untuk ku serahkan ke reporter dan editor gambar dan dilanjutkan ke proses dubbing. Aku memilih mencicilnya sekarang karena mulai senin akan datang banyak pekerjaan yang harus aku dan teman-teman lainnya kerjakan sebelum kami berangkat ke Bali pada week-endnya.
"Pagi banget bos datengnya" tanya Aji yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Banyak kerjaan." Jawabku.
"Banyak kerjaan, apa mau ngedate sorenya? Jadi yang mana nih? Yang pojok atau yang sampingnya" goda Aji sambil menunjuk meja El dan Tere.
"Apaan sih, Ji." Jawabku.
"Al, satu aja kali. Jangan malah bikin salah satu anak orang nangis nanti." Ucapnya yang membuatku tertawa.
"Apaan sih maksud lo?" Kekehku.
"Senin gue liat lo lunch sama El. Tapi kamis kemaren gue liat lo ngopi sama Tere di taman samping. Nggak usah ngeles lo ah" ledeknya.
"Tere lagi curhat, ji. Makanya ngobrol di taman samping. Lagian kenapa lo jadi ikut-ikutan karyawan lain sih gosip-gosip gitu?" Jelasku.
"Ya kepo aja sih, sama sekalian mau ngingetin sahabat gue ini biar nggak bikin anak orang patah hati." Kekehnya. "Besok bowling yuk!" Ajaknya tiba-tiba.
"Besok gue ke Bandung. Bokap gue baru pulang dari RS, belum sempet gue tengok." Jawabku.
"Yaudah, sore ini deh" ajaknya lagi.
"Udah ada janji gue, sorry ji" kataku sambil menuju ke ruangan editor bersama dengan asistenku Clara.
"Janji sama siapa lo?" Tanya Aji sambil mengikutiku dan Clara.
"Ibunya El" jawabku.
"Serius lo?!! Waaah kalo gini gue udah tau yang lo niatin yang mana" ucapnya semangat.
"Ponakannya ulang tahun, gue di undang sama ibunya pas ketemu nggak sengaja waktu lunch sama El. Jangan mikir aneh-aneh deh lo. Udah ah, gue kerja dulu. Lo juga tuh laporan minggu ini dibaca" jawabku meninggalkan Aji dan masuk ke ruangan editor.
...***...
Elea
Sabtu ini aku bangun lebih pagi. Karena siang ini harus ke rumah Ibu untuk merayakan ulang tahun keponakanku, Sabian. Jadi, aku harus bangun lebih pagi untuk sekedar membereskan unitku yang untungnya tidak terlalu berantakan minggu ini.
"Ah, akhirnya selesai juga" pekikku sambil menyandarkan punggungku ke sofa ketika menerima satu pesan dari Ale.
From : Alreyshad Darien
El, aku belum beli kado, nanti mampir Mall dulu nggak apa-apa?
Yang segera aku balas.
To : Alreyshad Darien
Nggak apa-apa kok, Al :)
Setelah membalas pesan Ale, aku mendapat telfon dari receptionist kalau beberapa tanaman yang aku pesan beberapa minggu lalu sudah datang. Jadi, aku segera turun menuju lobby bawah untuk mengambil paketku.
"Terima kasih banyak, pak Hamzah" kataku kepada salah satu satpam sambil memberikan uang tips karena sudah membantuku membawa tamanan sampai ke unitku.
Setelah menata tanaman, aku bersisap. Kebodohan pertamaku hari ini adalah mencuci rambut ketika sedang terburu-buru. Sambil mengeringkan rambut, aku yang masih menggunakan piama tidurku setelah mandi tadi, terkejut mendengar suara bel. Dan setelah ku buka pintu, ternyata Ale sudah berdiri disana.
"Ale?" Kataku dengan ekspresi terkejut.
"Aku boleh numpang kamar mandi nggak?" Katanya sambil memperlihatkan paper bag yang ia bawa yang ku yakini isinya adalah baju ganti. Karena Ale baru saja dari Kantor, jadi ia masih menggunakan seragam kantor.
Aku mengangguk dan mempersilahkannya masuk.
"Kok bisa naik?" Kataku heran. Bagaimana tidak, nama Ale belum ku cantumkan ke daftar tamu VIP, jadi mustahil kalau dia tiba-tiba bisa melewati beberapa keamanan tanpa access card.
"Satpam di bawah tiba-tiba kenal aku, katanya udah beberapa kali liat aku nganter kamu. Jadi dibolehin deh." Katanya sambil mengambil pakaiannya di paper bag.
"Oh pak Hamzah." Pekikku. "Al, kalo udah selesai ganti baju, keberatan nggak kalo masih harus nunggu aku?" Tanyaku sambil menatap bajuku.
"Take your time, Le. Nggak usah buru-buru" jawabnya sambil tersenyum.
"Thank you, Al. Kamar mandinya disitu. Kalo mau minum atau ngemil, ada di kulkas atau kamu cari aja di laci dapur ya." Jawabku sambil berlari menuju kamar.
...***...
Alreyshad
Setelah menuntaskan pekerjaan aku segera menuju Apartment El. Tentu saja sudah menghubunginya terlebih dahulu. Ketika sampai, aku menuju receptionist dan memberi tahu bahwa aku ingin mengunjungi unit El. Dan tanpa disangka, salah satu security ternyata mengenalku. Jadi, tanpa harus meminta El untuk menjemputku, aku sudah diantarkan oleh security menuju unit El.
Dan disinilah aku sekarang. Selesai berganti pakaian aku menunggu El sambil duduk di ruang TVnya dan menatap ke jendela yang memperlihatkan view beberapa gedung di kawasan SCBD.
"Liat apa sih? Serius banget" suara El memecah keheningan.
Kali kedua bagiku melihat El tidak menggunakan office style, dan ku rasa cukup membuatku akan sering memandanginya hari ini. Dia memakai wide leg jeans yang ia padukan dengan sleeveless turtleneck black yang menampilkan lengannya. Memegang ville small top handle bag milik balenciaga dan disempurnakan dengan women's Rhyton Sneaker with Mystic cat milik Gucci.
Aku melajukan Audi A7 ku menuju Mall. Kami memilih untuk ke PIM supaya jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Ibu El.
"Kenapa mata kamu?" Tanyaku saat melihat El sibuk melihat matanya di kaca.
"my makeup isn't good, i think. Muka ku jadi kayak jutek banget nggak sih, Al?" Katanya pelan.
"It's good, kok. Cantik" jawabku sambil menatapnya. "El, Sabian suka apa ya kira-kira?" Tanyaku tiba-tiba.
"Al, apa jawaban yang kamu harapin dari anak usia 3 tahun?" Jawabnya sambil menatapku.
"Ya kali aja tantenya tau. Kalo tantenya suka apa?" Ledekku.
"Suka cubit orang yang suka ngeledek" jawabnya sambil mencubit pelan perutku.
...***...
Sesampainya di Mall, aku dan El memasuki sebuah toko alat olahraga untuk anak-anak. Aku memutuskan untuk membelikan sebuah Balancing Bike karena beberapa waktu lalu Abi sempat memintanya namun El malah membelikannya sebuah scooter.
"Al beneran kamu mau beliin itu?" Tanya El yang ku balas dengan anggukan.
"Emang kenapa?" Tanyaku sambil mengeluarkan kartuku untuk membayar
"Trus aku jadinya beli apa kalo pilihannya udah diambil kamu?" Katanya dengan lemah.
"Hahaha, katanya mau beliin mini set drum?" Jawabku sambil mencubit hidungnya yang hanya mendapat tatapan kesal dari El.
Selesai membeli dan membungkus kado. Kami langsung menuju rumah ibunya El.
Kondisi rumah ibu El sudah ramai dengan beberapa mobil yang terparkir di depan rumahnya. Harus aku akui, rumah modern minimalist ini memiliki halaman yang cukup besar dan sangat asri karena taman yang terawat. Kolam ikan dan beberapa unsur kayu menambah suasananya jadi semakin asri.
"Al, kalo ditanyain aneh-aneh dan kamu nggak bisa jawab biar aku aja yang jawab ya. Trus maafin, keluarga aku pasti bakakan rame banget. Secara kamu kan tau ibu aku 4 bersaudara, jadi maaf kalo agak bikin kamu pusing." Ucap El yang ku balas hanya dengan senyuman.
"Udah? Yuk turun" kataku yang El balas dengan anggukan.
Baru hendak menurunkan kado yang aku dan El beli, kami dikagetkan dengan panggilan ibu El.
"Ya ampun udah dateng. pak Amir! Pak, bantu bawa barang, pak!" Ucap ibu El sambil menghampiri aku dan El.
"Hallo, tante" kataku sambil menyalaminya. "Ini tante, maaf nggak bawa apa-apa" lanjutku memberikan beberapa cake yang ku beli di union tadi.
"Duh kok repot-repot, harusnya nggak usah bebawaan gini Ale, kamu dateng aja tante udah seneng banget" katanya sambil menggandengku dan El masuk ke dalam rumahnya.
...***...
Elea
Setelah sampai, Aku dan Ale disambut dengan kedatangan ibu yang menjemput kami di depan rumah. Senyuman ibu sangat lebar, bahkan aku sampai terheran-heran, ibu senang bukan main ketika melihat kami sampai.
Setelah berbasa-basi dengan Ale, ibu menggandengku dan Ale untuk masuk ke dalam rumah. Tak ku sangka seluruh keluarga keluarga besarku sudah berkumpul. Eyang, Bude, Pakde, Om, Tante, para sepupu dan keponakan. Kali ini bisa ku bilang lebih mirip acara halal bihalal ketika lebaran dibandingkan acara ulang tahun, padahal acara pengajian bersama anak yatim-piatu baru akan mulai pukul 1 siang.
"Eh yang ditunggu-tunggu dateng juga" ucap Abangku dengan nada khas meledeknya.
Jujur, selama hampir 6 tahun aku berhubungan dengan Dhana. Dhana belum pernah bertemu dengan keluarga besarku, hanya pernah bertemu Eyang itu pun jarang. Semua dikarenakan hubungan jarak jauh kami dan memang tempat tinggalku yang tak sama dengan ibu.
"Tumben nungguin gue" jawabku.
"Hai Al, apa kabar?" Ucap bang Elo.
Ya, Elnino Ovaldi Cielo. Abangku satu-satunya, sekaligus ayah dari Sabian Vadim Cielo yang hari ini terlihat sangat sibuk bermain dengan para sepupunya.
"Baik, sehat bang?" Sapa Ale yang mendapat anggukan dari bang Elo.
"Kok nggak dikenalin sih Lea ke yang lain?" Ledek kak Vriska yang bekerja sama dengan Abangku yang sedang puas tersenyum meledekku.
"Ini Ale, temen Lea." Jawabku sambil melirik Ale.
"Sini Ale, tante kenalin satu-satu." Sahut ibuku yang tiba-tiba menarik Ale menuju Eyang.
"Ale eyang, temennya Lea." Sapa Ale dengan sopan sambil menyalami ke-2 Eyangku.
Selesai berkenalan, aku memanggil Abi yang tengah asyik bermain.
"Mas abi, mau birthday gift nggak?" Tanyaku yang langsung menggiring Abi berlari ke arahku dan Ale.
"Emang teta unya gift?" Tanyanya penasaran.
"Punya dong. Om Ale juga punya. Mau yang mana dulu?" Tanyaku membuat Abi tambah bingung mau memilih yang mana.
"Teta duwu deh. Abis itu bawu unya om aye" katanya dengan nada yang imut.
Abi memang sudah fasih berbicara walaupun masih terdengar cadel dan belum jelas. Namun, masih dapat dimengerti.
"Waaaw, so big! Apa ini teta?" Ucapnya senang karena melihat kadoku yang cukup besar.
"Kalo ini dari om Ale" lanjut Ale memberikan kotak yang sama besar pada Abi yang membuat matanya melotot hampir copot karena mendapat kado yang sama besar.
"Waaaw, abi happy dapet 2 gift yang big. Thank you teta, om Aye" katanya sambil memberikan ciuman di pipiku dan Ale.
"Bukanya nanti ya, habis pengajian." Kataku yang di balas anggukan dari Abi.
...***...
Selesai pengajian bersama beberapa anak yatim-piatu kami berkumpul di ruang tengah dan berbincang.
"Jadi sekantor sama Lea?" Tanya tante Shabil.
"Iya tante, kebetulan sekantor" jawab Ale sopan.
"Ale tuh atasannya Lea, Bil di kantor. Baru pindah dari SG 4 bulan lalu ya?" Ucap ibuku yang tiba-tiba ikut nimrung sambil memberikan kue untukku dan Ale.
"Iya tan" jawab Ale sambil tersenyum.
Di tengah-tengah obrolan kami, tiba-tiba Abi datang menggandeng tangan Ale.
"Om aye, kita buka gift yuk. Kan udah sewesai pengajiwannya." Katanya pada Ale yang langsung mendapat anggukan dari Ale.
Semua kado sudah diletakkan di tengah-tengah ruangan. Beberapa kado sudah Abi buka dengan sangat semangat.
"Sekarang gift dari teta!" Katanya semangat. "Waaaah, abi punya drum! Thank you teta" lanjutnya sambil sibuk melihat drum barunya.
"Sama-sama mas Abi, bilang Ayah jangan alesan lagi ya nggak ngajarin Abi drum" kataku sambil melirik bang Elo.
"Sekarang kado dari om Ale" kata bang Elo mengalihkan pembicaraan.
Betapa terkejut dan senangnya saat Abi membuka kado dari Ale. Balancing Bike yang sudah lama ia inginkan akhirnya muncul dihadapannya. Bukan hanya Abi yang terkejut, beberapa sepupuku dan bahkan ibuku menampakan ekspresi yang sama terkejutnya.
"Waaah, thank you om Aye." Kata abi sambil melompat lompat.
"Wah ini sih langsung jadi om favorite Abi abis ini" kekeh Bang Elo.
"Ayah, mas Abi mau main bikenya." Ucap Abi semangat.
"Main sama om yuk di luar." Ajak Ale, yang langsung Abi balas dengan menggandeng tangannya.
Ale dan Abi bermain Balancing Bike di halaman belakang rumah ibuku. Ale dengan cermat memasangkan pelindung lutut, siku dan kepala untuk Abi.
"Lo yakin nggak mau jadiin dia pilihan?" Ucap bang Elo yang tiba-tiba berdiri di sampingku sambil menatap Abi dan beberapa keponakanku yang sedang bermain dengan Ale.
"Jangan ngaco deh lo" jawabku sambil tertawa.
"Kenal udah lebih dari 10 tahun masih belum cukup buat lo paham apa artinya Ale buat hidup lo? Lagian keluarga besar kita kayaknya juga pada interest sama dia. Ibu apalagi. Lo nggak liat perbedaannya ibu nyambut Ale sama nyambut Dhana waktu itu? Eyang juga, mana pernah ngobrol sampe ketawa lepas selain sama Ale. Abi, lo tau sendiri kan anaknya susah deket sama orang baru. Lo liat dia tuh. Sehappy itu main sama Ale." Jelasnya sambil melihat Abi dan Ale.
Aku akui yang bang Elo katakan benar. Ale adalah orang paling supel sekaligus sopan yang pernah aku kenal. Dia bisa dengan sangat cepat mengikuti arah obrolan keluargaku. Mungkin karena memang pengetahuannya luas ditambah dengan gaya bicaranya yang supel namun tetap pada norma kesopanan yang berhasil membuat Eyang yang tidak pernah banyak bicara dengan orang baru, hari ini sangat banyak bicara dan tertawa.
"Lea, laki-laki baik itu nggak cuma harus menjaga pasangannya. Tapi juga harus bisa jaga ucapannya. I know Dhana nggak pernah nyakitin kamu secara fisik. Tapi kalo dia udah buat kamu nangis karena ucapannya, aku big no, dek. Aku udah pernah benci laki-laki seperti itu, jadi aku nggak mau liat laki-laki yang seperti itu lagi di hidup ibu atau kamu nantinya." Ucapnya yang membuat aku menoleh.
"Bang?" Panggilku
"Aku tahu aku nggak berhak ngatur hidup kamu. Tapi aku juga tau, kalo kamu tau mana yang lebih banyak buat kamu ketawa sampe nangis, daripada yang buat kamu nangis sampai sulit tertawa. Lea, Walaupun abang lebih sering marahin kamu dibandingin manjain kamu, tapi abang nggak rela kalo adek abang satu-satunya hidup sama orang yang hobinya buat kamu nangis" ucapnya sambil merangkulku dan sukses membuatku hampir menangis.
...***...
Setelah puas bermain dengan Abi, Al kembali ke dalam untuk mengobrol dengan beberapa keluarga yang masih tersisa. Beberapa keluarga sudah pamit duluan karena memiliki acara yang lain.
"Lea waktu SMA gimana Al? pasti nyebelin banget." Tanya abangku yang mengundang penasaran.
"Hemm, nggak nyebelin sih bang..." jawabnya yang terpotong oleh ucapan bang Elo
"Lebih ke ngerepotin ya Al?" Kekeh bang Elo yang diikuti tawa dari keluarga yang lain.
"Al, udah malem mau balik? Besok kan ke Bandung" ucap ku memotong pembicaraan.
"Oh iya." Jawabnya sambil melihat jam di tangannya. "kamu nggak nginep sini?" Lanjut Ale sambil menoleh padaku yang ku balas dengan gelengan. Bukan tidak ingin bermalam di rumah ibu, tapi beberapa keluarga berencana akan menginap jadi ku putuskan untuk pulang ke Apartment saja.
"Oh ya tante, saya mohon izin besok mau ajak Elea ke Bandung untuk nengok Ayah yang baru pulang dari RS." Ucap Ale yang langsung mendapat tatapan meledek dari Abang kepadaku.
"Oalaah, iya Al ajak aja. Jarang jarang juga dia short holiday, di Apartment terus." Jawab ibuku.
"Yaudah kalo gitu, Ale pamit ya semua." Ucap ale sambil menyalami semua keluargaku.
Sesampainya di depan, Ale pamit dengan ibu.
"Makasih banyak, tante udah diajak main ke rumah. Maaf merepotkan." Ucapnya sopan.
"Tante malah yang makasih Ale mau main. Jangan kapok ya, kapan-kapan kesini lagi. Nggak sama Lea juga nggak apa-apa." Jawab ibuku yang diikuti oleh senyuman Ale.
"Kita pamit ya bu, Assalamualaikum" ucapku sambil mencium tangan ibu.
"Hati-hati ya" jawab ibu.
...***...