EPOCH [COMPLETED]

EPOCH [COMPLETED]
Chapter 23


Elea


Aku sedang duduk di mejaku saat Tere datang membawa rombongan. Ghea, Rani, Ojan dan Fadhil. Mereka menarik bangkunya masing-masing dan duduk di hadapanku.


"Lo serius, El?" Tanya Tere


Aku mengangguk pelan, "baru submit kok, belum tentu juga cepet diapprove." Jawabku santai.


"Udah bilang mas Ale?" Tanya Ojan


Aku menggeleng, "belum sempet, Jan. Nanti aja kalo udah pasti diterima."


"El, mendingan lo bilang secepatnya sebelum mas Ale mikir yang nggak-nggak." Lanjut Tere yang mendapat anggukan setuju dari seluruh teman-temanku.


"Mikir yang nggak-nggak apa sih? Kan gue sekolah." Jawabku sambil meminum kopiku di meja.


"El, tetep aja. Lo pengen sekolah tapi nggak bilang apa-apa sama mas Ale. El, mas Ale tuh pacar lo. Masa kita duluan yang lo kabarin." Ucap Tere.


"Ya kan gue cuma bilang gue submit. Belum di approve kok. Nanti kalo udah pasti baru gue kasih tau Ale. Udah ah, gue liputan dulu. Bye." Ucapku sambil berjalan menuju studio.


...***...


Selesai liputan, aku berjalan meninggalkan studio untuk kembali ke mejaku. Belum sempat menekan tombol lift, aku dikejutkan dengan suara seseorang.


"Le, boleh ngomong sebentar?" Ucap Ale yang aku iyakan.


Aku dan Ale menuju taman samping, dan memilih untuk mengobrol disini. Sambil meneguk kopi, aku duduk di seberang Ale yang berdiri menghadapku.


"Kamu kok nggak cerita ke aku kalo ada rencana mau lanjut kuliah?" Tanyanya yang sedikit membuatku terkejut.


"Baru submit aja kok, Al. Belum di Approve juga." Jawabku meyakinkan.


"Ya tapi kenapa nggak cerita, Le? Aku juga nggak mungkin larang kamu kan." Ucap Ale.


Kali ini aku tahu, Ale kecewa bukan main dengan tindakanku. Namun, seperti biasa bukan Ale namanya jika ia tak bisa menahan segala emosinya padaku.


"Aku bakal cerita kok, Al kalo udah pasti. Ini kan belum pasti." Jelasku.


"Kamu bilang sama aku kalo besoknya kamu resign dan berangkat ke Aussi ninggalin aku, Le? Iya gitu?" Ucapnya kali ini aku yakin emosinya tak bisa ia pendam lagi.


"Kamu anggep aku apa sih? Sampe temen-temen lain lebih dulu tau kamu mau lanjut sekolah dibandingkan aku." Tambahnya yang mampu membuat airmataku hampir jatuh.


"Ale, nggak gitu. Kok kamu ngomongnya gitu?" Ucapku sambil menahan airmataku agar tak jatuh di depan Ale.


"Terserah kamu, Le." Ucapnya seraya pergi meninggalkanku sendirian.


Aku tau Ale kecewa dengan semua tindakanku. Aku memang tak berencana untuk melanjutkan studyku secepat ini. Namun, alasannya semakin kuat karena pikiranku tentang hubungan kami. Menurutku tak ada cara yang lebih baik selain pergi jauh meninggalkan Ale. Berharap Ale bisa lebih fokus pada impian-impiannya yang selama ini tertunda karenaku.


Aku mendaftar untuk program Master of Digital Communication and Culture di University of Sydney. Baru mendaftar, dan sambil mengumpulkan berkas. Itu pun nggak tau akan lolos seleksi atau tidak. Jika lolos, kemungkinan akhir tahun ini, aku berangkat. Namun, hal itu belum ku pikirkan, yang jelas pikiranku saat ini masih tentang Ale yang sangat kecewa dengan semua tindakanku.


Aku berjalan menuju meja kerjaku. Ku lihat Ale sedang berdiri di lorong sambil mengobrol dengan beberapa staf. Ketika aku lewat di hadapannya, Ale tak seperti biasanya. Ia mengacuhkanku, tak menatapku ataupun memanggilku. Sikapnya dingin seolah-olah tak melihatku berjalan melewatinya.


Hal itu berlanjut sampai jam pulang kantor. Aku yang baru saja selesai rapat, kembali ke meja dan membereskan beberapa barang untuk bersiap pulang.


"El, lo pulang sama mas Ale kan?" Tanya Tere.


"Belum tau Ter, lo kalo mau duluan nggak apa-apa kok." Ucapku dengan senyum.


"El, ngomong baik-baik aja sama mas Ale. Dia pasti ngerti kok." Ucap Tere yang mendapat anggukan dariku. "Gue duluan ya." Tambahnya seraya meninggalkanku.


Aku berinisiatif untuk menghampiri Ale di ruangannya dan mengajaknya pulang untuk makan malam bersama.


Tok.. tok..


"Ya?" Ucap Ale.


"Al, kamu mau mak..." ucapku yang terpotong.


"Kamu bisa pulang sendiri nggak hari ini? Aku masih punya kerjaan." Ucapnya dingin tanpa menatapku.


"Mau aku bantu?" Tawarku.


"Nggak usah, kamu pulang aja." Jawabnya.


"Al, i'm sorry." Ucapku kali ini dengan pelan. Jujur kali ini aku mengaku salah, tindakanku memang tak bisa dibenarkan dari sisi Ale.


Ale tak merespon. Ia hanya fokus pada layar komputernya.


"Jangan terlalu malem ya baliknya. Aku pulang." Ucapku sambil menuju pintu keluar.


Setelah sampai, Aku duduk di ruang TVku sambil meminum teh hangat dan memandangi lampu gedung dari jendela unitku. Hujan. Malam ini hujannya hanya gerimis namun, tak kunjung reda dari 1 jam lalu. Ku lihat layar handphoneku menunjukan pukul 23.00 malam, namun Ale masih tak kunjung memberiku kabar.


Aku berniat menunggu emosinya reda, jadi ku putuskan untuk tidak menghubunginya sampai ia menunjukan tanda-tanda membaik. Jadi ku pakaikan mode senyap pada handphoneku dan pergi istirahat.


...***...


Sabtu ini aku sengaja bangun siang, pukul 10.00 siang tepatnya dan langsung mencharge handphoneku karena ternyata sudah kehabisan daya sampai mati. Setelah mencolokan kabel pengisi daya pada handphoneku, aku beranjak untuk sarapan lalu membersihkan unitku dan pergi mandi. Baru saja aku selesai mengeringkan rambutku, aku di kejutkan dengan suara bel yang berbunyi terus menerus. Dan setelah ku lihat ternyata Tere.


"Kenapa Ter?" Ucapku saat melihat sosoknya di depan pintu unitku.


"Lo ditelfonin kemana aja sih?!" Ucap Tere dengan nada sedikit marah.


"Handphone gue mat..." belum sempat menjawab, Tere memotong ucapanku.


"Ayahnya mas Ale meninggal. Dia nelfonin lo tapi nggak ada jawaban. Mas Aji akhirnya nyuruh gue ngabarin lo." Ucap Tere.


Aku terdiam lemas mendengar pernyataan Tere barusan. Bagaimana bisa aku tak mengetahui kabar sepenting ini. Bagaimana bisa aku membiarkan Ale menyetir malam-malam ke Bandung saat hujan dan keadaannya yang pasti sangat kacau.


"Di kubur jam berapa Ter?" Tanyaku.


"Abis Ashar. Nunggu kerabat dulu katanya." Ucap Tere.


"Lo bawa mobil apa ikut sama gue?" Kataku sambil mengambil kunci mobil.


Aku tak berpikir lama untuk melajukan mobilku menuju Bandung. Yang ku pikirkan hanya Ale, Bunda, dan Acha. Tak peduli, seberapa kencang aku menekan pedal gas dan seberapa membahayakannya aku menyetir. Yang aku pikirkan adalah menemui Ale secepat mungkin.


...***...


Ternyata, aku sedikit terlambat. Aku tiba di pemakaman saat jenazah Ayah sudah di kebumikan.


Dari jauh aku bisa melihat beberapa rekan-rekanku, dan teman-teman Ale yang ku temui 3 minggu lalu saat perayaan ulang tahun Ale.


Aku berjalan sambil terus mencari Bunda, Acha dan Ale. Namun ketika aku menemukan sosok Ale, ada seorang wanita di sampingnya yang mengelus lembut lengan dan bahunya. Mereka tampak akrab, seperti sudah mengenal sangat lama.


"Kiara." Panggil seseorang dan memberikannya tissu untuk ia berikan pada Ale, Bunda, dan Acha.


Kiara. Mantan pacar Ale sewaktu kuliah sampai 1 tahun terakhir Ale di SG sebelum pindah ke Jakarta. Aku tahu itu dari Syeina, sepupu Ale sewaktu mengobrol saat acara lamaran Arla beberapa minggu lalu.


Aku tak menghampiri Ale dan memilih untuk berdiri di dekat rekan-rekanku. Entah kenapa, rasanya sesak. Kehilangan Ayah dan melihat Kiara berdiri di samping Ale, dimana seharusnya aku yang menemani Ale.


...***...


Selesai pemakaman Ayah, kami semua memutuskan untuk ikut kembali ke rumah Ale.


"Bunda, maafin El datangnya terlambat." Ucapku pada Bunda dengan sedikit terisak.


"Nggak apa-apa sayang, maafin Ayah ya kalo ada salah." Ucap Bunda sambil memelukku. "Abang di atas, ke atas aja El." Lanjutnya.


Aku menaiki anak tangga dan tiba di pintu berwarna hitam dengan tulisan "Reyshad".


"Al?" Ucapku sambil membuka pintu yang memang tidak menutup sempurna.


Kali ini, aku hanya berharap semuanya tidak terjadi. Aku tak ingin melihat apapun yang ada di hadapanku saat ini.


Ale membenamkan wajahnya pada pundak Kiara dan tangan Kiara memeluk erat tubuh Ale saat aku benar-benar berdiri di depan pintu kamar Ale.


Belum sempat masuk, aku memutuskan untuk menutup kembali pintu kamarnya dan menuruni anak tangga.


"El, lo kenapa?" Tanya mas Aji saat aku melewatinya.


Aku menghampiri Bunda, dan Acha.


"Kak El, kenapa?" Tanya Acha.


"Bun, El harus balik ke Jakarta. Soalnya harus anter Eyang." Ucapku beralasan.


"El, nggak apa-apa kan?" Tanya Bunda saat melihat mataku mulai berkaca-kaca.


Aku menggelengkan kepala sambil mencoba untuk tetap menahan airmataku.


"El pamit ya Bun, nanti El kesini lagi." Jawabku sambil memeluk Bunda dan Acha.


Aku berjalan keluar rumah dan menuju mobilku.


Aku tersenyum, "it's fine kok mas. Aku tau Ale butuh teman, dan aku nggak ada di sampingnya." Jawabku.


"El, lo nggak mau nemuin Ale dulu? Dia pasti nungguin lo." Ucapnya lagi.


Aku menggeleng, "Aku harus balik ke Jakarta mas. Mas Aji sampein aja tadi aku kesini, dan nggak bisa nemuin dia ya mas. Aku pamit. Titip Tere juga ya mas, maafin ngerepotin." Jawabku sambil masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.


Aku mengendarai mobilku sendirian melintasi tol Bandung-Jakarta dengan pikiran yang entah terpecah menjadi berapa bagian. Memikirkan kelanjutan studyku, keadaan bunda dan Acha, hubunganku dengan Ale, sampai hubungan Ale dan Kiara. Jujur pemandangan yang ku lihat di kamar Ale tadi, benar-benar membuat pikiranku kacau di tengah-tengah masalah yang hadir di hubunganku dan Ale saat ini. Aku bukan tipe pencemburu, namun melihat kedekatan mereka tadi, aku merasa seperti orang lain diantara mereka.


Aku memarkirkan mobilku dan langsung menuju unitku saat jam sudah menunjukkan pukul 00.02 dini hari. Handphoneku masih dalam keadaan senyap tanpa notifikasi dari Ale, dan aku pun berniat tidak menghubunginya dulu sampai keadaannya membaik.


...***...


Alreyshad


Jujur, kali ini aku sangat kecewa dengan sikap El. Malam dimana aku sangat membutuhkannya, ia tak menjawab telfonku dan mematikan handphonenya. Ia bahkan tak menyapaku di pemakaman Ayah saat melihat sebegitu rapuhnya aku saat itu. Dan terakhir, ia tak menyambangiku di rumah untuk sekedar menyampaikan rasa prihatinnya atau mengabarkan kalau ia pamit pulang.


Bahkan sampai 2 hari kepergian Ayah, El belum sama sekali mengabariku. Pesan atau pun telfon darinya nyaris tak ada. Memang kesan terakhir kami bertemu dapat mencerminkan kalau hubungan kami sedang tidak baik-baik saja. Namun, aku merasa bukankah kami lebih baik mengesampingkan persoalan kami demi persoalan lain yang lebih peting.


Seluruh kerabat, rekan kerjaku, teman-temanku bahkan Kiara yang notabennya mantan pacarku memang datang dan menemaniku. Namun, aku tak bisa lebih baik jika bukan El orangnya. Yang aku harapkan hanya El selalu berada disisiku ketika keadaanku seperti kemarin, bukan hanya menatapku kosong dari jarak yang jauh.


Aku rindu pelukan El yang menenangkan, genggaman tangannya yang menguatkan dan senyumnya yang mendamaikan. Namun, kali ini tak ia berikan. Aku mendapatkan seluruh ketenangan dan kekuatan dari sahabat-sahabatku, bukan El.


Berulang kali aku mengecek handphoneku namun tetap sama. Nama El tetap tak muncul pada notifikasi handphoneku.


"Abang?" Suara Bunda memecahkan lamunanku.


"Ada apa Bun?" Jawabku sambil menoleh pada bunda yang berjalan menghampiriku.


"Kamu nggak lagi ada masalah kan sama El?" Tanya Bunda.


Tuhan, kenapa Bunda menanyakan hal yang tak bisa ku jawab dengan jujur.


Aku menggeleng, "Ale sama El baik-baik aja kok, Bun." Ucapku sambil mengalihkan pandanganku ke bawah.


Aku tau mungkin Bunda mengetahui bahwa aku berbohong tentang kondisiku dan El saat ini. Namun Bunda juga tidak melanjutkan pembicaraan mengenai hal itu. Ia cukup paham anak sulungnya seperti apa, dan ia juga mengenal El seperti apa. Jadi bukan suatu perkara besar jika Bunda tidak menanyakan perihal masalah kami.


...***...


Aku memutuskan untuk cuti selama 3 hari kedepan dan memilih menetap di rumah Bunda di Bandung untuk menemani Bunda dan Acha. Dan hari ini, hari ke-3 El tidak memberiku kabar. Hari ini aku dan keluarga memutuskan untuk mengadakan pengajian di rumah, hanya keluarga dan orang-orang terdekat. Aku tidak memberi kabar pada El perihal ini, mungkin rasa kecewaku terhadapnya masih sangat besar sehingga, aku tak ada niat untuk menghubunginya lebih dulu.


"Al, are you okay? Udah ngomong sama El?" Tanya Kiara saat melihatku duduk di sofa.


Aku menggeleng, "nanti aja, Ra." Jawabku


"Al, jangan ditunda-tunda nanti malah jadi salah paham." Ucap Ara. "Jelasin ke El. Gue nggak mau El mikir macem-macem." Tambahnya.


"Iya, nanti gue jelasin. Tenang aja, Ra." Ucapku sambil tersenyum simpul ke arahnya sesaat sebelum suara yang sangat familiar itu terdengar.


"Assalamualaikum." Ucapnya, sambil berdiri di ujung pintu.


...***...


Elea


3 hari belalu, dan aku masih belum memutuskan untuk menghubungi Ale. Ku pikir lebih baik aku menghampirinya di kantor dan mengajaknya makan siang dan pulang bersama nanti malam.


Namun, rencanaku gagal hari ini. Ale mengambil cutinya hari ini karena memang ia masih berada di Bandung kata mas Aji.


"Lo sama Ale belum kabar-kabaran?" Tanya mas Aji, seusai aku menyelesaikan liputanku.


Aku menggeleng, "mulanya hari ini aku mau ajak dia makan bareng mas. Tapi dianya masih cuti." Jawabku lemas.


"El, bukannya lebih baik lo hubungin Ale?" Tanyanya


Aku mengangguk, "iya mas, aku izin balik sekarang, mau nyusul ke Bandung karena Bunda juga minta aku dateng karena 3 harian Ayah." Jawabku pelan.


"El, omongin sama Ale baik-baik. Jangan ikutin emosi lo. Gue bukan di pihak salah satu dari kalian tapi kondisi Ale lagi kacau banget jadi gue harap lo kali ini bisa lebih mengerti sedikit. Nggak apa-apa ya El?" Ucap mas Aji yang aku balas dengan anggukan.


...***...


Aku sampai di rumah Ale tepat pukul 17.00. Setelah memarkirkan mobilku, aku tak langsung turun. Entah kenapa perasaanku lebih gugup, jadi ku putuskan untuk meminum obatku dulu dan menyiapkan diri sebentar di dalam mobil.


Ketika aku sudah merasa lebih tenang, aku turun dari mobil dan melangkahkan kaki ke dalam rumah Ale. Perlahan namun pasti. Si mbok yang sedang membereskan beberapa sandal, melihatku dan mempersilahkanku masuk.


"Mbak El, masuk saja ya. Ibu, abang sama yang lain ada di dalam. Mbok mau buang sampah dulu." Katanya sambil tersenyum.


Aku melangkahkan kakiku menuju pintu yang terbuka, ku lihat samar Ale dan Kiara sedang duduk bersama dan terlihat sedang mengobrol diselingi candaan yang mampu membuat Ale tersenyum. Aku kembalikan fokusku dan mencoba menarik nafas panjang sebelum mengucapkan salam.


"Assalamualaikum." Ucapku yang sukses membuat Ale dan Kiara menoleh.


"Walaikumsalam, yaampun El masuk sayang. Naik apa?" Ucap Bunda yang langsung menghampiriku.


"Bawa mobil Bunda. Oh iya ini ada sedikit untuk Bunda dan keluarga." Ucapku sambil memberikan kue yang ku sempat ku beli tadi sebelum menuju kesini.


Ale hanya berdiri sejajar dengan Kiara dan mematung melihatku.


"Bunda aku boleh pinjem kamar mandi." Ucapku sambil melihat bajuku yang masih menggunakan seragam kantor.


"Pakai kamar mandi di kamar Abang aja ya, sekalian kalo mau istirahat dulu. Acaranya masih abis maghrib kok." Ucap Bunda. "Abang anterin El ya. Bunda mau nemenin opa oma dulu." Tambahnya sambil menoleh ke Ale.


...***...


Aku dan Ale menaiki tangga dan menuju kamar Ale. Tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutku maupun Ale.


"Pake aja, aku ambilin handuk dulu." Ucap Ale singkat saat membukakan pintu kamar mandinya lalu berjalan menuju lemari pakaiannya.


"Al, aku minta maaf." Ucapku pelan.


Ale menghentikan aktifitasnya yang sedang mengambil handuk untukku saat aku mengucapkan kalimat itu.


"Nggak apa-apa." Jawabnya singkat. "Kalo butuh apa-apa, nanti panggil mbok aja. Kalo mau istirahat pake aja kasurnya. Nggak seharusnya kamu nyetir sendiri sampe Bandung." Tambahnya.


"Al, maaf." Ucapku lagi.


Baru saja Ale hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba ia mendapat panggilan dari seseorang.


"Al, dipanggil bun.." ucap Kiara di ujung pintu.


"Sini, Ra." Ajak Ale.


Kiara berjalan menghampiri kami.


"Ini Kiara." Ucap Ale memperkenalkan Kiara padaku.


"Kiara." Ucap Kiara pelan sambil memberikan tangannya untuk ku jabat.


"Elea." Ucapku sambil menjabat tangannya dan tersenyum.


"Kenapa ra?" Tanya Ale tersenyum pada Kiara.


"Di panggil Bunda tadi." Jawabnya.


"Aku kebawah dulu." Ucap Ale padaku yang ku balas dengan anggukan. "Ayuk, Ra." Tambahnya mengajak Kiara saat sudah di ujung pintu.


"Eh, iya." Jawab Kiara. "Aku ke bawah dulu ya, El." Tambahnya yang aku balas dengan senyum.


Sikap Ale kepadaku dan Kiara sangat berbeda. Ale bisa terlihat sangat dingin ketika berbicara denganku, berbanding terbalik jika dengan Kiara atau teman-temannya.


Setelah pengajian selesai, dan aku bersiap untuk pulang ke Jakarta.


"El, nginep aja ya. Besok pagi baru pulang." Ucap Bunda yang di setujui oleh kerabat Ale.


"Iya kak, Bahaya. Nanti kalo ngantuk gimana?" Ucap Acha.


Aku hanya menggeleng sambil tersenyum, sampai tiba-tiba suara Ale memecah obrolan kami.


"El pulang sama aku." Ucap Ale tiba-tiba.


...***...


Tinggal 2 Chapter lagi nih. Keliatannya persoalan Ale-El ini sepele tapi lumayan membekas buat masing-masing pribadi nggak sih? Bakalan terselesaikan atau malah terabaikan nih?


By the way, Thank you teman-teman yang udah baca EPOCH dari chapter 1-23, yang nggak pernah absen buat vote. Buat teman-teman yang baru baca selamat bergabung! Jangan lupa Vote ya kalo suka ceritanya (tetep promosi), comment juga boleh. Aku liat yang comment masih sedikit banget tiap chapter, padahal baca comment kalian tuh sering buat aku senyum-senyum sendiri. Itu tuh


The sweetest thing for me loh :)


Happy Reading & Happy Week-end, Guys.


Jangan lupa pakai masker dan jaga kesehatan ya♡