![EPOCH [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/epoch--completed-.webp)
"The heart wants what it wants.
There's no logic to these things.
You meet someone and you fall in love and that's that."
-Woody Allen-
Elea
Aku meminum kopi sachet panas yang kubuat di *P*antry beberapa saat lalu, sambil melihat pemandangan jalan ibukota yang terlihat samar dari kaca samping mejaku yang terletak di lantai 12. Beberapa orang masih terlihat sibuk mengedit naskah berita yang harus dibawakan esok pagi. Ada juga yang baru saja datang untuk mengambil beberapa barang yang dibutuhkan untuk menginap di kantor polisi, demi mendapatkan sebuah berita. Jam memang sudah menunjukan pukul 08.30 malam tapi aku masih setia memandangi lampu jalan.
"Belum balik lo? Ada tugas malem?"
Aku membalikan badan ke arah Tere yang baru saja pulang dari tugasnya. "Nggak ada. Ngabisin kopi dulu nih, sayang kalo dibuang" jawabku.
"Besok siaran ke lapangan or studio?" Tanyanya kembali.
"Belum tau. Kalo jadwal sih studio, tapi ya lo tau sendiri kan jadwal jadi kacau seminggu ini karena PD yang tiba-tiba pindah ke stasiun TV sebelah." Kataku sambil melihat jam di tanganku yang sudah menunjukan pukul 9.00 dan buru buru menghabiskan kopi yang sedari tadi aku minum. "Udah ah, mau balik gue."
"Eeeeh, tunggu.. Bareng dong!" Tere tiba-tiba langsung mengambil tasnya dan ikut berjalan menuju lift.
Kenalin, cewek bawel dan biang gosip kantor ini namanya Teari Giore atau biasa dipanggil Tere. Sahabatku dari awal masuk kantor bahkan dari interview. Kita berada di profesi yang sama. Bedanya Tere lebih sering meliput di lapangan. Sedangkan, aku di studio dan lapangan tergantung dengan jadwalku.
"Makan yuk, pengen sushi nih gue" ajaknya sambil memegang tanganku dengan harapan aku mengiyakan ajakannya. Apalah daya, kalo Tere udah bertingkah sok imut kayak gini harus diiyain, daripada nanti malem menelfonku dan mengganggu istirahatku dengan ocehannya yang isinya cuma ngedumel karena makan sushi sendirian. "Bawa mobil or naksi lo?" Tanyanya.
"Bawa mobil, kan ganjil. Besok baru naik ojek pagi, malemnya baru gue naik taksi. Itu juga kalo nggak kebagian liputan malem" kataku seraya menekan tombol lift menuju P3 tempat dimana aku memarkir mobil. "Lo lantai berapa?" Tambahku
"Sama kok P3. Orang gue parkir seberang mobil lo. Hehe" jawab Tere sambil cengengesan.
"Sushi mana nih?" Tanyaku kemudian
"Tatemukai aja yuk!" Jawabnya semangat.
"GI?" Kataku yang dibalas dengan anggukan dari Tere. "Yaudah ketemu disana ya" lanjutku sambil membuka knop pintu mobilku dan langsung menuju ketempat yang kami tuju.
...***...
"Lo tau nggak bakalan ada PD baru yang gantiin Pak Hendra. Katanya sih mantan PD TV luar. Semoga aja masih muda ya, biar gue semangat tiap dapet jadwal liputan malem" katanya sambil menyantap sushi dengan muka berharapnya yang sebenarnya nggak enak banget dilihat.
"Dapet gosip darimana lagi sih lo? Lagian mantan PD TV luar yang tiba-tiba masuk ke kantor kita tuh aneh kali. Fix banget sih, antara dia nggak bisa kerja atau emang orangnya super nyebelin makanya pindah" jawabku.
"Ah lo mah, awas lo yah kalo tiba-tiba orangnya ganteng trus asik. Lo dilarang untuk deket apalagi naksir."
"Ambil gih. Lagian kan gue juga punya Dhana, ngapain juga gue naksir cowok lain." Timpalku sambil meminum ocha hangat pesananku.
"El, El, yakin lo masih mau bertahan sama cowok kayak Dhana? Yang kalo bales atau ngechat lo pas dia inget doang kalo dia punya pacar? Gue sih ogah deh. Lagian lo juga jangan terlalu positive thinking banget kali El. Gue tau sih lo sama Dhana udah lama, tapi keadaannya juga udah beda banget dari sebelum-sebelumnya. Bukannya gue mau ngehasut lo atau nyuruh lo selesai sama Dhana. Coba deh lo pikir, mana ada orang yang nggak cek handphonenya dalam sehari? Trus lo juga kan pernah bilang kalo Dhana tuh suka marah-marah nggak jelas kalo lo bahas masalah chat lo yang lama dia anggurin. El, sesibuk-sibuknya orang, dia pasti liat handphone kan? Kita aja yang liputan seharian, pas waktunya break tetep bisa liat handphone. Udah lah El, masa lo terus yang nyariin dia sedangkan dianya B aja. Gue bilang ini karena gue sayang lo ya, El. Bukan karena gue nggak suka sama Dhana."
"Iya-iya Tere sayang, makasih ya selalu ingetin gue dan nasehatin gue. Gue tau kok lo sayang sama gue tapi nanti gue coba buat omongin baik-baik sama Dhana ya dan cari solusinya berdua." Jawabku sambil melengkungkan bibirku ke atas yang dibalas dengan helaan nafas khas dari Tere.
...***...
Selesai membayar tagihan makanan, kami beranjak menuju parkiran.
"Udah ah, see you besok ya. Tiati, jangan bengong di lampu merah!" Timpalnya sambil melambaikan tangannya yang ku balas dengan senyuman dan lambaian tangan.
Teringat ucapan Tere tentang Dhana tadi, aku jadi melihat chat terakhir yang Dhana kirim. "Aaah, udah 2 minggu." Ya, udah 2 minggu lalu sejak terakhir kali Dhana memberikan ucapan selamat istirahat yang dia kirimkan melalui aplikasi chat. Setelah itu, aku tak tau lagi kapan dia akan membalas pesan Selamat pagiku yang ku kirimkan keesokan harinya. Terhitung 2 minggu sejak aku mengirimkan ucapan itu yang sampai hari ini belum dia balas, jangankan dibalas dibaca pun belum. Aku mengerti pekerjaan Dhana yang berpusat di Singapura membuatnya tak bisa sering-sering bertemu denganku. Tapi yang membuat aku tak mengerti, setahun belakangan ini komunikasi kami menjadi sangat jarang. Dhana pun jarang mengangkat telfonku dengan alasan dia kelelahan.
Aku mengenal Dhana ketika kami sama-sama berada di bangku kuliah. Dia kakak tingkat di jurusan yang berbeda denganku. Teman SMAku yang kebetulan satu jurusan dengan Dhana yang mengenalkan saat aku dimintai tolong untuk menjadi juru kamera di salah satu acara fakultasnya. Dhana tipe pria yang sweet namun bukan tipe womanizer seperti kebanyakan lelaki sweet pada umumnya. Aku akui, sejak kuliah Dhana banyak dikenal di kalangan cewek-cewek kampus karena sifat asiknya dan aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia lulus lebih dulu dariku dan langsung diterima di salah satu Bank terkenal milik negara Singapura dan ditempatkan di kantor pusatnya. Hal itu juga tak jadi masalah untuk hubungan kami, karena memang sejak awal kami tahu mimpi kami masing-masing dan saling mendukung untuk hal itu.
Awal hubungan LDR kami berjalan lancar. Hanya saja kami lebih sering bertemu di layar, dibandingkan tatap muka langsung karena kami tinggal di negara yg berbeda. Hal itu masih terus kami lakukan rutin sampai aku diterima di sebuah mediacorps dan mulai sulit menyesuaikan jadwal free kami. Karena jadwal liputanku yang tak menentu saat baru menjadi junior. Entah pulang larut atau malah harus menginap di kantor polisi dan rumah sakit demi mendapatkan satu berita yang harus aku dan teman-teman junior lainnya laporkan setiap 15 menit sekali ke senior kami di kantor. Akibatnya, komunikasiku dan Dhana mulai sedikit demi sedikit tergantikan dengan pekerjaan. Yaa, seperti yang tadi Tere katakan, karena sudah jadi hal yang biasa, sekarang disaat jam kerjaku mulai lengang, Dhana tetap jarang menghubungiku. Aku bahkan sampai lupa terakhir kali kami face time itu bulan apa.
Tak terasa lamunanku membawaku menuju Apartmentku. Setelah memarkirkan mobilku di parkiran khusus, aku menaiki lift dan langsung menuju unitku. Selang beberapa menit, pintu lift terbuka di lantai 10 dimana unitku berada.
Selesai menaruh tas, aku menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dan berganti pakaian untuk segera tidur.
...***...