![EPOCH [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/epoch--completed-.webp)
Elea
Aku memang menjadi sangat dekat dengan Ale sejak kejadian Dhana, 4 bulan lalu. Hampir tiap malam, Ale selalu mengantarku pulang, dan melakukan hal yang menurutku tidak mencerminkan status kami yang hanya teman. Ale tak pernah terang-terangan menyebutkan dirinya sedang mendekatiku, namun sikapnya mencerminkan itu. Bukannya aku kegeeran atau semacamnya. Namun, Ale bukan tipe orang yang banyak bicara atau mengatakan perasaannya yang sebenarnya. Ia hanya akan mewujudkannya melalui tindakan untuk memperlihatkan perasaannya.
Seperti sekarang, ia benar-benar tak melepaskan rangkulannya ketika kami menonton serial favorite kami. Ia bahkan sesekali menyandarkan pipinya ke puncak kepalaku.
Jam sudah menunjukan pukul 10.00 malam ketika Ale memutuskan untuk izin pamit pulang. Aku mengantarnya menuju pintu. Kali ini tidak sampai pintu pembatas lobby, karena aku sudah menukar nama Dhana menjadi nama Ale di VIP list untuk pengunjung unitku.
"Le?" Ucapnya sambil berjalan menuju pintu.
"Ya?" Jawabku singkat.
"Aku tau seharusnya aku ngomong sama kamu, tapi aku tau juga kalo kamu udah paham maksud dari perhatian aku selama ini." Ucapnya pelan sambil menggenggam tanganku. "I know, kamu butuh waktu. Dan aku juga nggak mau maksa kamu buat buru-buru. Jadi kalo kamu merasa aku terlalu mendesak kamu, just told me ya, Le." Tambahnya yang mendapat anggukan dariku.
"Aku pulang ya, selamat istirahat Elea." Ucapnya sambil memegang pipiku dan mendaratkan bibirnya pada keningku lalu tersenyum.
Aku yang terkejut hanya bisa terdiam dan mengucapkan "hati-hati ya Al." Jawabku sambil menatap punggungnya.
...***...
Sudah sekitar 5 bulan yang lalu Ale berbicara masalah sikapnya padaku tanpa pernah menyinggungnya lagi. Ia hanya akan menerima semua keputusanku ketika aku sudah siap atau ia hanya akan menjaga jaraknya jika aku mengatakan ia terlalu terburu-buru. Okay, aku akui sikap manis Ale beberapa bulan ini mampu meruntuhkan pertahananku sedikit demi sedikit. Tak hanya itu, ibuku, Eyang, Abangku pun mungkin akan setuju kalau ku bilang hal itu. Karena sikap manis Ale tak hanya ia lakukan padaku. Namun, juga pada seluruh anggota keluargaku.
"Nanti ikut main ya." Ucapnya yang membuat aku terkejut.
"Al, jangan ngaco deh. Aku nggak bisa main bowling. Yang ada malu maluin." Jawabku.
"Bisa, kan nanti belajar." Jawabnya santai sambil menatapku.
Hari ini kami memenuhi undangan mas Aji untuk ikut serta bermain bowling bersama beberapa teman di team A. Setelah sampai, kami menemui teman-teman yang ternyata sudah sampai, hanya tinggal menunggu aku dan Ale.
"Lama ya? sorry ya susah nyari parkiran" ucap Ale sambil menyuruhku duduk karena bangku yang tersisa hanya satu. Sedangkan dia, berdiri di sampingku.
"Alesan aja lo, Al" ucap Aji sambil melirik Tere.
"Tau nih mas Ale, bilang aja dilama-lamain biar bisa lama di jalannya kan sama El?" Ledek Tere.
"Yah ketauan ya?" Ucap Ale bercanda yang langsung mendapat cubitan dariku.
Setelah sedikit bercengkrama, kami akhirnya menuju tempat bowling yang memang menjadi tujuan utama kami.
...***...
Alreyshad
Kami menyewa 1 tempat VIP untuk bermain. Bukan, bukan ideku. Ini traktiran Aji sebab kami berhasil mempertahankan rating kami 3 bulan penuh di posisi 1.
"Speak banget lo, nggak pernah latihan selama di SG tapi strike mulu dari tadi. Berapa kali Turkey lagi" Ledek Aji.
"Kebetulan doang" kataku sambil duduk di samping El dan yang lain. "Kok duduk doang, pada nggak main?" Tanyaku pada El, Ghea, Rani dan Tere.
"Kita pada nggak bisa main, mas." Jawab Rani.
"Kasih tutorial bisa kali." Sahut Tere.
Aku tertawa mendengar ucapan Tere, "yaudah ayuk di ajarin." Ucapku yang diikuti senyuman dari mereka.
Aku hanya mengajari teknik dasarnya. Aku bukan seorang profesional. Namun, jika hanya teknik dasar, aku pikir aku bisa. Seperti cara memegang bola, sikap saat berjalan, mengayun sampai menggelindingkan bola. Tak disangka, mereka semua mengikuti arahanku dengan semangat.
"Mas ini bener?" Tanya Tere sambil memperlihatkan caranya memegang bola.
"Lo mau pake teknik apa? Konvensional, ujung jari, semi-ujung jari apa sarge easter?" Tanyaku saat melihat cara tere memegang bola bowling.
"Duh apaan tuh, mas. Yang kayak mas Ale aja tadi kayak gimana?" Tanyanya kembali.
Aku membenarkan letak jari Tere agar ia bisa memegang bola dengan teknik yang benar, dan tak ku sangka hal itu menjadi tontonan oleh beberapa temanku yang lain.
"Coba lo praktekin sana, lempar ke pin." Ucapku.
Tere berhasil menjatuhkan 5 pin, dan diikuti oleh seluruh teman-teman wanita yang lainnya. Termasuk El. Anehnya, El tak pernah bertanya padaku tentang benar atau salahnya teknik yang ia pakai. Ia hanya akan membenarkannya sendiri setelah melihat teman-temannya dan sesekali bertanya pada Ghea jika ia tak yakin dengan tekniknya.
Kami semua terus melanjutkan permainan sampai tiba-tiba El duduk bersama Ghea, dan Ghea sibuk mencari sesuatu di tasnya. Aku menghampiri mereka sambil mengambilkan minum untuk El dan Ghea.
"Nyari apa Ghe? Ada yang hilang?" Tanyaku sambil memberikan minum.
"Nggak ada mas, aku lagi nyari plester buat tangannya mbak El." Katanya yang langsung dapat senggolan dari El.
"Tangan kamu kenapa?" Tanyaku dan langsung berjongkok untuk melihat tangannya. "Kok nggak bilang aku kalo luka?" Tanyaku sambil menatapnya.
El menggeleng, "nggak apa-apa kok." Jawabnya tanpa menatapku.
Aku segera keluar untuk mencari plester dan segera kembali untuk mengobati jari El yang terluka. Aku duduk bersama El, di tengah teman-teman yang sedang bermain.
"Are you mad at me?" Tanyaku sambil meniupkan luka di jari El.
El hanya diam sambil menatapku. Tak ada mimik kesal ataupun marah di mata dan wajahnya.
"Aku nggak tau kalo kamu diem aja, El." Ucapku yang akhirnya menatapnya karena sudah selesai menempelkan plester pada lukanya.
El, hanya menggeleng.
"Tere?" Tanyaku.
El membulatkan matanya, aku yakin ia terkejut dengan ucapanku.
Aku tersenyum, "Bener, ternyata." Ucapku.
Aku mencium punggung tangan El dan tersenyum.
"Main lagi atau udahan?" Tanyaku.
"aku liatin aja, masih perih." Katanya sambil tersenyum.
"Tunggu sebentar ya, beberapa kali lagi kok." Kataku sambil mencium punggung tangan El sekali lagi dan mendapat anggukan El.
"Duh gemes banget mas Ale." Ledek Rani tiba-tiba saat aku kembali ke permainan.
"Gemes ngapain nih, gue nggak liat." Tanya Aji
"Nggak, udah main lagi deh yuk. Dikit lagi." Jawabku mengalihkan.
"Ngapain dia Ran?" Tanya Aji penasaran.
"Nyium punggung tangan El, mas." Jawab Rani sambil tersenyum.
"Ooooh, udah go public sekarang Al?" Tanya Aji.
"Apaan sih, udah ah main lagi yuk!" Ajakku.
Kami akhirnya melanjutkan permainan sampai selesai. Setelah selesai kami memutuskan tidak langsung pulang melainkan makan malam. Malam ini kami makan di Ming Dine and Chill restaurant.
"Iya kayaknya akan tetep tinggal disana. Sayang juga soalnya kalo di jual, belinya nabung dulu soalnya." Jawab El sambil tertawa.
"Al, cepet sah-in deh si El. Biar bisa lo bawa El pindah ke Apartment lo." Ledek Aji.
"Ji?!" Jawabku yang diikuti oleh tertawa teman-teman.
Obrolan dan candaan kami masih terus berlanjut sampai pukul 10.00 malam.
"Pulang?" Ajakku pada El yang dibalas dengan anggukan.
"Lo mau balik Al?" Tanya Aji.
"Iya ji, udah malem juga kasian El capek." Jawabku. "Kalian nggak balik?" Tambahku.
"Kita bentaran lagi mas. Mas Ale sama mbak El duluan aja nggak apa-apa kok." Jawab Ghea.
"Yaudah kalo gitu, kita duluan ya." Ucapku sambil berpamitan.
...***...
Elea
Selama keluar parkiran, aku dan Ale lebih banyak diam di mobil. Kali ini benar karena aku memikirkan hubungan aku, Ale, dan Tere. Aku tak tau seberapa jauh hubungan Ale-Tere. Namun, aku juga tidak bisa memastikan hubunganku dengan Ale sekarang. Lamunanku terpecah saat mobil Ale berhenti saat lampu lalu lintas menyalakan warna merahnya dan Ale memulai untuk berbicara.
"Mikirin apa sih?" Katanya sambil menatapku dan mengelus puncak kepalaku.
Aku menggeleng pelan.
"Masih mikirin soal Tere kah?" Tanyanya lagi.
Setelah dia menanyakan hal itu, aku baru berani untuk bertanya.
"Kamu sama Tere sedeket itu sejak kapan? Al, aku tanya ini cuma pure penasaran aja. Karena kalian nggak pernah cerita apapun sama aku" ucapku.
Ale menggenggam tanganku dan mengecupnya lembut.
"Nanti aku ceritain di Apartment kamu ya" jawabnya sambil mengalihkan pandangannya untuk fokus menyetir sambil tetap menggenggam tanganku.
...***...
Kami sudah sampai di parkiran namun tak kunjung untuk keluar dari mobil Ale.
"Al?" Panggilku.
"Iya, aku cerita. Aku deket sama Tere dari setelah kita ngobrol di pantry itu. Deket juga bukan deket yang gimana-gimana. Aku sering nanyain kamu ke Tere. Dan Tere sering nanyain Aji ke aku. Waktu aku mau ke SG aku titip pesen ke dia supaya ngabarin apapun tentang kamu ke aku. Makanya dia tau aku mau ke SG. Dan pas aku balik dari SG, aku tau trauma kamu kambuh abis liputan juga karena dia ngasih tau. Aku bisa tau lantai unit kamu juga karena dia, makanya aku bisa tiba-tiba di lobby unit kamu. Aku nggak ada hubungan apa-apa kok Le sama Tere." Jelasnya sambil menatapku dalam.
"Turun yuk. Aku mau numpang kamar mandi." Lanjutnya.
Setelah turun dari lift kami berjalan menuju unitku.
"Jadi Tere sukanya sama mas Aji? Kok dia nggak pernah bilang ke aku." Tanyaku pada Ale
"Iya, udah lumayan lama katanya. Cuma ya kamu tau sendiri kan problemnya apa. Mau aku jodoh-jodohin, masalahnya juga bukan di Aji doang, tapi di keluarga pasangannya nanti dan di princess kecilnya Aji. Belum tentu keluarga pasangannya nanti setuju kalo tau Aji punya princess kecil yang harus sepaket sama dia. Masalah nggak cerita ke kamu, katanya nggak enak soalnya kamu kan banyak masalah. Dia nggak mau nambahin beban kamu katanya" jawabnya sambil mengikutiku masuk ke unit.
"Aku numpang kamar mandi ya." Katanya sedikit berlari.
Setelah selesai, ia berjalan menghampiriku menuju dapur.
"Kamu mau Teh atau..." tanyaku
"Le?" Panggilnya.
"Hemm?" Jawabku sambil menoleh padanya.
"Mau coba jalanin sama aku nggak?" Tanyanya yang berhasil membuat aku terdiam. "Mungkin bagi kamu 9 bulan masih terlalu cepat, mungkin kamu juga belum bisa ngelupain mantan kamu sepenuhnya dan aku nggak bisa memaksa kamu untuk cepet lupa juga tapi, i'll wait it. So, can i be...?" Lanjutnya.
Ale membuat pertanyaannya menggantung, namun aku tau maksudnya. Aku terdiam cukup lama.
"Nggak usah jawab sekarang juga ngg..." ucapnya yang terpotong dengan jawabanku.
"Yes you can, Al." Jawabku pelan.
Kali ini Ale yang terkejut. Namun tak lama setelahnya ia tersenyum dan menarikku ke pelukannya. Pelukan yang selalu hangat. Pelukan yang selalu ku butuhkan saat segala sesuatunya tak berjalan baik. Pelukan yang selalu bisa membuatku nyaman.
"Haaah, gini toh rasanya meluk pacar." Ucapnya yang langsung mendapatkan cubitanku di perutnya.
"Aw! Iya bercanda." Ucapnya sambil mengecup singkat puncak kepalaku. "Thank you, Le." Ucapnya pelan.
...***...
Setelah meminum teh dan sedikit bercengkrama, Ale pamit untuk pulang.
"Besok aku jemput jam 11 ya." Ucapnya yang mendapatkan anggukan dariku. "Yaudah aku pulang ya. Kamu istirahat!" lanjutnya yang diikuti dengan kecupan singkat di keningku.
Saat Ale akan membuka knop pintu. Aku memanggilnya dan mencondongkan badanku ke arahnya. Sedikit menjinjit, dan mengecup singkat pipinya.
"Hati-hati." Kataku yang hanya dibalas senyuman dari Ale.
...***...
Alreyshad
Sepanjang perjalanan, dari mulai keluar dari unit El sampai aku sudah sampai di kamarku, tak henti-hentinya aku tersenyum. Mungkin jika Aji melihatku sekarang ia akan bilang kalau aku seperti anak SMP yang sedang kasmaran. Bagaimana bisa kecupan singkat di pipiku bisa membuatku sebahagia ini? Aku tak yakin kalau bukan El orangnya aku akan sesenang ini.
Sambil berbaring di tempat tidur, aku mengirimkan pesan pada El.
To: Elea
Le, i've arrived safely ya.
Ini sudah menjadi kebiasaanku untuk selalu mengabari El, sepulang mengantarnya. Aku tak berharap El akan membalasnya karena ku pikir El lelah sekali hari ini dan akan lebih baik jika dia sudah tidur.
From : Elea
iya mas Ale. Selamat istirahat ya :)
Aku terkejut ketika El membalas pesanku. Ku lihat jam kamarku menunjukkan pukul 12 malam. Ku putuskan untuk menyambungkan panggilan videoku dengan El.
"Kok belum tidur?" Ucapku melihat El di layar handphoneku
"Nunggu kabar kamu dulu. Aku nggak tenang kalo kamu belum sampe." Jawabnya yang ku sambut dengan senyum.
"Yaudah kan sekarang udah nyampe. Udah tenang kan? Istirahat ya." Ucapku yang El jawab dengan anggukan dan senyum. "Sleep well, Le." Tambahku.
"You too, mas Ale." Jawabnya.
Ku rasa, aku akan tidur jauh lebih nyenyak hari ini dibandingkan sebelum-sebelumnya. Beban pekerjaanku sedikit demi sedikit berkurang, rasa khawatirku ke Ayah juga berkurang karena keadaannya jauh lebih baik, dan ditambah dengan Elea yang sekarang di sisiku. Untukku itu sudah lebih dari cukup.