![EPOCH [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/epoch--completed-.webp)
Elea
Pagi ini sama seperti yang sudah-sudah. Aku selalu terbangun di waktu yang seharusnya aku masih bermimpi. Disaat semua orang menyukai mimpinya, aku selalu berharap tidur tanpa bermimpi. Sebab hal itu tidak pernah aku dapatkan sejak aku berumur 16 tahun. Yaa, sejak saat itu aku hanya bisa tidur selama 3 sampai 4 jam setiap harinya. Kenapa? Karena suatu alasan yang menjadikan tidur adalah hal yang paling aku takuti.
Setelah mandi dan bersiap-siap, aku mengambil payung yang Ale pinjamkan kepadaku semalam untuk ku kembalikan. Jaketnya... mungkin besok ku kembalikan setelah aku selesai mencucinya. Setelah mengecek kembali pakaian dan barang bawaanku aku berjalan menuju parkiran untuk segera melajukan mobilku ke kantor.
...***...
Aku berjalan menuju meja kerjaku. Sambil ku lihat ruangan kaca yang terletak di ujung ruangan masing kosong, "oh belum datang." batinku. Tak lama setelah itu, aku melihat sosoknya. Kali ini lengkap dengan seragam kantor kami. Yang dipadukan dengan celana chino berwarna khaki dan Balenciaga triple S clear sole sneakers berwarna hitam, berjalan menuju ruangannya. Mukanya sedikit pucat, matanya juga tidak sesegar biasanya.
Tok tok..
"Misi.." kataku sopan.
"Eh Le, ada apa?" Jawabnya seraya membalikan tubuhnya yang mulanya menghadap rak buku menjadi menghadapku.
"Ini Al, aku mau kembaliin payung yang kamu pinjemin semalem. Makasih banyak ya" lanjutku
"Oh, padahal nanti-nanti juga nggak papa kok le." Jawabnya.
Suaranya sangat serak pagi ini. Yaa.. suara khasnya memang sedikit serak, tapi pagi ini berbeda. Terdengar sedikit dipaksakan.
"Kamu sakit?" Tanyaku
Dia tersenyum, "sedikit batuk. kurang tidur aja kayaknya. Semalem harus nyiapin bahan meeting hari ini soalnya"
Aku yang tidak percaya dengan ucapannya hanya menatapnya, berharap dia akan mengatakan keadaannya dengan sebenar-benarnya.
"I'm okay kok, Le. Tidur sebentar juga sembuh kok" katanya sambil berjalan ke arahku dan menyandarkan badannya di meja kerjanya, dan itu membuat posisinya benar-benar berhadapan denganku yang bediri di depan mejanya.
"Yaudah, kalo gitu. By the way, jaket kamu belum kering tadi, jadi paling besok ya aku kembaliinnya." Kataku.
Dia hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Aku balik ke meja ya." Lanjutku sambil membalikkan tubuhku menuju pintu.
"Le" panggilnya yang membuat aku harus menoleh lagi ke arahnya. "Makasih ya" lanjutnya.
"For what?" Jawabku
Dia hanya menggeleng sambil tersenyum. Pada akhirnya hanya aku balas dengan senyum lalu meninggalkan ruangannya.
...***...
Siaran hari ini sangat melelahkan, tapi terbayarkan dengan satu pesan yang baru saja masuk.
From : Ardhana
Aku udah landing, nanti malem aku jemput ya. Sekalian dinner :)
Senyumku merekah bersamaan dengan datangnya Tere yang baru menyelesaikan liputannya.
"Kepo banget sih lo" godaku. "Makan siang yuk!" ajakku, karena memang sudah masuk jam makan siang.
"Yuk!" Katanya.
Dari mejaku, terlihat Mas Aji dan beberapa orang berjalan menuju ruang meeting.
"Mereka meeting jam makan siang gini?" Kataku.
"Tadi sih gue ngeliat mas Aji udah sempet makan di ruangannya sebelum dipanggil buat meeting" jawab Tere
"Ya tetep aja, yang lain kan belum tentu udah makan" lanjutku sambil berjalan menuju lift yang dibalas dengan anggukan dari Tere.
Kalau kalian berpendapat aku menghawatirkan Ale, ya pendapat kalian 100% benar. Semenjak aku menemuinya pagi tadi, aku selalu berfikir Ale sakit karena memberikanku payung dan jaketnya semalam. Bagaimana tidak, semalam tubuhnya benar-benar basah. Terlebih lagi sejak pagi Ale sibuk dengan mengontrol siaranku. Lalu di jam makan siangnya, dia adalah salah satu orang yang ikut serta dalam meeting. Aku yakin, belum ada makanan yang masuk ke tubuhnya hari ini selain kopi yang ia minum di ruangannya pagi tadi.
"Mbak, aku minta satu soto betawi lagi tanpa nasi ya, dibungkus" kataku kepada pelayan resto tempat aku dan Tere makan siang.
Tere yang mendengar ucapanku terlihat bingung, "masih laper El?" tanyanya.
Aku yang mendengar hanya tersenyum, sambil mengirimkan pesan teks ke ibuku.
"Ter, nanti mampir Century dulu ya, ada yang mau gue beli" kataku yang dibalas dengan anggukan dari Tere.
Selesai makan dan membeli beberapa keperluan di Century, kami menuju kantor. Aku berjalan sendirian menuju mejaku karena Tere buru-buru izin ke toilet tadi. Ku lihat ruangan meeting masih penuh dengan orang-orang yang sama ketika aku pergi makan siang tadi. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi menuju ruangan Ale, lalu menaruh soto betawi dan obat yang tadi ku beli di mejanya.
Setelah menaruh makanan dan obat di ruangan Ale, aku berjalan menuju mejaku dan dikejutkan dengan tatapan penuh tanya dari seorang Tere.
"El, jujur sama gue. Lo sama mas Ale pernah ada hubungan apa? nggak usah pake ngelak lagi. Dari kenalan, gue liat tatapan mas Ale ke lo beda. Semalem, gue liat mas Ale rela ujan-ujanan sambil lari-larian cuma buat ngasih lo payung sama jaket. Siang ini gue liat lo beliin makan siang dan obat buat mas Ale. Terlebih mas Ale manggil lo dengan "Le" not "El" seperti orang pada umumnya manggil nama lo. Udah jelas lo pasti kenal mas Ale sebelum mas Ale masuk kantor kan? Sekarang cerita ke gue, cepetan!"
Mendengar semua ucapan Tere barusan, tak bisa lagi aku mengelak dan pada akhirnya, aku menceritakan semuanya ke Tere.
...***...
Aku dan Ale saling mengenal di bangku SMP dan pertemanan kami berlanjut sampai SMA. Aku menjadi sangat dekat dengan Ale ketika kami masuk ke SMA yang sama. Jujur saja, sewaktu MOS aku tak mengenal satupun orang kecuali Ale. Wajar saja kan kalau setiap hari sebelum MOS berlangsung aku selalu menerornya dengan pertanyaan seputar barang-barang yang diwajibkan kakak kelas untuk kami bawa. Dan bisa ku bilang Ale adalah satu-satunya orang yang tidak pernah mengeluh dengan semua pertanyaanku saat itu. Dia bahkan mengalikan 2 untuk semua barang-barang yang harus kami bawa. "Takut kamu lupa bawa" katanya. Kami tidak pernah satu kelas, tapi Ale tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Ketika pengumuman kelas diumumkan saat MOS, dia bilang "kamu pasti bakal punya banyak temen kok. Tiap istirahat aku main ke kelas kamu. Jangan takut" dan dia membuktikannya.
Tak hanya itu, ketika kelas XI Ale dihadiahi motor oleh orang tuanya dan ia tidak pernah memboceng siapapun kecuali aku. Dia bilang "Simku udah keluar, mulai besok aku anter jemput naik motorku". Bahkan ketika pengambilan nilai lari untuk pelajaran olahraga yang biasanya diambil pada hari Sabtu pagi, Ale selalu mengantarku dan menungguku selesai, padahal jadwal kelas kami berbeda. Ale juga selalu rela menungguku latihan cheers sampai sore walaupun dia hanya duduk di pinggir lapangan sambil memainkan gitarnya.
Ale selalu jadi malaikat baikku. Dia yang selalu memberikan jaketnya ketika aku lupa membawa jaketku saat ke sekolah, menggendongku menuju parkiran saat sekolahku banjir, memberikan sepatunya saat sepatuku disita karena tidak sesuai dengan aturan sekolah, bahkan ia juga rela separuh seragamnya basah saat payung yang kami pakai terlalu kecil, sehingga dia lebih mencondongkannya kepadaku, dia bilang "aku nggak mau diomelin ibu kalo kamu sakit". Pernah juga, ketika kami sudah di kelas XII, kalian tau kan hal yang paling horor saat upacara? Ya, tidak memakai atribut upacara lengkap. Saat itu aku lupa memasukan topi ke dalam tas ku. Aku tahu akibatnya aku harus dijemur selama 2 jam pelajaran bersama teman-teman lain yang kesalahannya sama sepertiku. Baru saja aku berjalan menuju ke bagian depan lapangan, Ale yang barisan kelasnya berbeda 5 baris dengan ku, tiba-tiba menarikku dan memberikan topinya, "pake, cepetan" katanya dan ia menggantikanku menerima hukuman. Setelah ku tanya alasannya, dia hanya bilang "aku lagi males belajar, lumayan jadi alesan nggak ikut 2 jam pelajaran". Aku tau itu cuma alasannya, tapi ia selalu mengatakan "i'm okay kok, Le" disaat ia tau kalau aku khawatir.
Satu lagi, Ale sudah seperti bayanganku sendiri. Terlebih saat kejadian paling menyakitkan menimpa keluargaku. Ibuku menjadi seorang ibu sekaligus ayah untuk aku dan abangku, dia seorang dokter umum yang gajinya cukup untuk menghidupi, dan membiayai sekolah kami. Ayahku? Ada, dia hidup bahagia dengan keluarga barunya. Ibu Ayahku berpisah saat aku duduk di bangku kelas XI. Penyebabnya? Hemmm, itu adalah sebab dari kenapa aku selalu minum obat setiap aku membacakan berita tentang kekerasan.
Ayahku seorang Ayah yang sangat baik, lembut, dan penuh perhatian kepada keluarganya. Tapi semuanya berbeda setelah Ayah mendapatkan promosinya di kantor. Ayah seorang Banker. Saat itu Ayah naik menjadi salah satu Direksi di kantornya. Ayah jadi sering meninggalkan rumah, jarang pulang dengan alasan tugas kantor. Ayah selalu bersikap kasar kalau Ibu menanyai alasannya pulang larut bahkan pagi. Tak hanya sekedar membentak, bahkan aku sering melihat luka lebam di tangan dan pundak ibu. Sampai suatu hari aku pulang dari sekolah, aku terkejut melihat Ayah yang memukul Ibu yang menyebabkan dahinya mengeluarkan darah. Aku yang mencoba menolong ibu tetap tak berhasil. Aku malah mendapatkan luka lebam di punggungku. Sejak saat itu, aku sulit tidur karena aku selalu memimpikan kejadian itu, dan Ale selalu menemaniku lewat video call sampai aku tertidur setiap harinya.
Ale juga yang selalu menemaniku terapi ke Rumah Sakit untuk mengobati traumaku. Dia juga yang selalu datang setiap traumaku kambuh dan memelukku sambil berkata, "sstt, nggak apa-apa Le, ada aku. Jangan takut ya, ada aku. It's okay, Le" dia selalu bisa menenangkanku disaat obat yang ku konsumsi tidak berfungsi.
Yaa, Ale selalu hadir di setiap ceritaku saat itu. Saat itu aku tak butuh banyak teman, yang aku butuhkan hanya Ale selalu disisiku. Sebab, tak ada obat yang bisa membantuku selain Ale.
...***...