
Pikirannya sedang kalut memikirkan keadaan kostnya saat ini. Seperti biasa, kalau hujan lebat, pasti jalan menuju kostnya banjir, bahkan kadang-kadang parahnya kostnya pun ikut kebanjiran. Apa boleh buat, resiko Shinta memilih kost di area situ karena harga sewa bulanannya memang lebih murah dibandingkan dengan kost di tempat lain. Lumayan kan, selisih biayanya bisa ditabungkannya untuk nambah-nambah biaya pendidikan pendidikan kedua adiknya. Pikir Shinta dengan segala macam perhitungannya.
Betul saja, apa yang dikalutkan oleh Shinta barusan benar-benar terjadi. Ketika mobil Thomas mulai memasuk jalan sempit menuju kost Shinta, tiba-tiba Thomas menghentikan mobilnya mendadak karena genangan air cukup tinggi di depannya. Mobil Thomas tidak bisa melewati genangan air tersebut.
"Sudah...sampai di sini saja cukup. Terima kasih sudah mengantarkan saya, Tuan." ujar Shinta sembari menggulung celana jeansnya dan bersiap menerobos genangan air dengan berjalan kaki, pikirnya.
Saat Shinta akan membuka mobil, tiba-tiba tangannya dicengkeram kuat oleh Thomas.
"Bagaimana mungkin kamu akan pulang melewati tempat seperti ini sendirian? Besar sekali nyalimu...." entah ini sindirian atau kekuatiran Thomas yang sedikit ditutup- tutupi, tetapi sebenarnya Shinta pun agak ngeri ingin berjalan pulang sendirian. Entah karena hujan lebat, jalanan yang biasa dilewatinya ini menjadi sangat tidak biasa. Biasanya jam segini, jalanan ini masih cukup ramai, tetapi mungkin karena hujan, tidak ada lagi yang berlalu lalang, sehingga membuat jalanan ini menjadi sepi dan cukup mengerikan untuk dilewati oleh seorang gadis seperti dirinya ini.
"Ikut aku!!!" ujar Thomas tanpa menunggu persetujuan Shinta, langsung membalikkan arah mobilnya dan meluncur ke jalan besar.
"Hei....aku mau dibawa ke mana ini, sudah turunkan saja aku di sini!" pinta Shinta namun tidak ditanggapi oleh Thomas.
"Jangan berisik! Bisa gak sih, kamu diam....gangguin orang nyetir saja!!" sahut Thomas menolak menghentikan mobilnya.
"Huh.....!" Gerutu Shinta kesal karena permintaannya tidak ditanggapi oleh Thomas. Tetapi dia masih bisa berpikir waras, tidak mungkin kan dia harus melompat keluar dari mobil dalam kecepatan seperti ini. Bisa-bisa berpatahan kaki-kakinya. Ih...membayangkannya saja sudah ngeri. Ya sudahlah, kita ikutin saja apa maunya si Tuan aneh saat ini.
Tidak lama kemudian, mereka sampailah di sebuah hotel yang cukup besar kelihatan dari luar. Thomas menghentikan mobilnya pas di area depan lobby hotel, yang segera disambut oleh pelayan hotel untuk membukakan pintu dan pelayan satunya segera mengambil alih untuk membawa mobil Thomas ke area parkiran. Shinta turun dari mobil dan segera mengikuti langkah Thomas yang sudah berjalan duluan menuju resepsionis hotel. Namun, kemudian Shinta memilih duduk menunggu di kursi sofa di lobby hotel yang memang biasa diperuntukkan untuk menunggu.
"Ayo naik....!" sahut Thomas dengan suara agak keras menggagetkan Shinta yang sedang membolak-balikkan majalah yang kebetulan terdapat di atas meja di dekatnya itu. Shinta segera menoleh ke arah sumber suara dan segera berjalan mengikuti dengan langkah cepat, karena dia melihat Thomas sudah mendekat lift.
"Kita mau ngapain di sini???? apakah.....???" tanya Shinta masih bingung ketika mereka di dalam lift.
"Sudah....tidak usah banyak tanya, kamu ikut saja!!!" jawab Thomas singkat.
Ting...
Bunyi pintu lift terbuka, menandakan mereka suda sampai pada lantai yang dituju. Thomas segera melihat nomor kamar yang tertera pada kunci yang dipegangnya dan melihat lorong mana yang harus dilaluinya.
"Lewat sini!" perintah Thomas. Tidak perlu waktu lama, Thomas kemudian menemukan nomor kamar yang sesuai, segera dia membukanya dan menyuruh Shinta masuk ke dalamnya.
"Hei....apa yang kamu mau lakukan?" tanya Shinta spontan, dia sedikit takut membayangkan kemungkinan yang bisa terjadi. Biar bagaimana pun juga, seorang perempuan dan laki-laki yang tidak mempunyai hubungan pernikahan dan berada dalam satu kamar itu sangat bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat, menurut Shinta.
"Mau tidurlah, emang apa lagi?" dengan santainya Thomas menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Sambil melirik ke jam tangannya.
"Ini sudah larut sekali, aku juga sudah malas mengemudi pulang ke rumah di tengah hujan lebat begini, gak ada salahnya donk, aku tidur di kamar yang ku booking ini." lanjut Thomas santai.
"Lalu, aku aku harus bagaimana???" tanya Shinta yang masih bingung karena berada satu kamar dengan si Tuan aneh.
"Tidur sajalah, emang apa lagi yang kamu mau lakukan???" jawab Thomas
"Hei, bagaimana aku bisa dengan tenang, kalau di kamar ini juga ada kamu???" tanya Shinta polos karena selama ini dia memang tidak pernah dekat dengan laki-laki apalagi sampai satu kamar begini.
"Maksudmu???" tanya Thomas balik.
" Terus aku harus tidur di mana, tidak mungkinkan aku tidur satu ranjang denganmu??" Shinta tanya balik.
" Oke....oke....kamu tidur di sini, aku akan tidur di sofa itu, puas????" jawab Thomas segera beranjak dari ranjang empuk itu dan menuju ke sofa. Sebenarnya tadi bisa saja Thomas mereservasi 2 kamar jika dia mau, tokh sebenarnya hotel ini adalah miliknya, tetapi entah apa yang merasuki pikirannya, tiba-tiba dia mempunyai ide mereservasi satu kamar saja, supaya dia bisa berada satu kamar dengan Shinta. Sepertinya ada modus tersembunyi nih. Hmm.....
Shinta segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Dia mencari mungkin saja ada yang bisa dia kenakan untuk mengganti baju yang basah. Dia tidak merasa nyaman jika harus tidur dalam kondisi baju basah lengket begitu. Syukurlah, karena mungkin ini termasuk hotel yang lumayan mewah, Shinta melihat handuk kimono yang tergantung di sudut kamar mandi. Memang apa lagi yang bisa diharapkan, ini sudah lebih dari cukup, pikir Shinta. Dia segera membuka bajunya dan membalut tubuhnya dengan handuk kimono ini setelah dia membersihkan diri dengan air hangat yang cukup memberikan kenyamanan pada dirinya.
Saat Shinta baru mencoba memakai handuk kimono tersebut, tiba-tiba...
krak....bunyi pintu dibuka. Shinta terkejut menoleh ke arah Thomas, yang sama terkejutnya saat melihat Shinta ada di dalam kamar mandi. Rupanya tadi Thomas sempat terlelap sebentar dan tiba-tiba terbangun karena rasanya ingin buang air kecil, dia tidak menyadari bahwa Shinta tidak ada di ranjang. Spontan Shinta berteriak mengagetkan Thomas yang setengah sadar. Dengan cepat Thomas menutup kembali pintu tersebut.
"Dasar mesum....mencari kesempatan dalam kesempitan." Gerutu Shinta, syukurlah dia tidak dalam keadaan telanjang benar-benar, karena dia masih memakai dalamannya. Sementara itu, Thomas yang masih terkaget dengan pemandangan yang dilihatnya barusan, terduduk bengong di sofa, kilasan pemandangan tadi masih menari-nari di dalam pikirannya. Tanpa disadari, adik kecilnya yang tersembunyi di dalam celananya sedikit ikut menegang mengikut ketegangan yang terjadi baru saja. Dengan spontan dia menepuk adik kecilnya itu supaya segera sadar tegang tidak tepat pada waktunya dan menyambar bantal yang berada di dekatnya untuk menutupinya, sebelum Shinta keluar dan melihat ada yang aneh pada bagian bawah celananya.
Bersambung....