
Sesampai di kamar kostnya, dengan segera Shinta merebahkan badanya di atas kasur yang sangat dia rindukan dari tadi. Shinta masih merasa sangat malu dengan kejadian barusan. Bisa-bisanya dia berpikir kalau pria dingin itu akan menciumnya. Hatinya menjadi berdebar - debar memikirkan hal itu. Belum pernah Shinta memiliki perasaan aneh seperti itu, selama ini belum sekalipun hatinya berdebar-debar ketika dia dekat dengan laki-laki manapun, bahwakan laki-laki yang biasa menggodanya dan berusaha membujuknya untuk menjadi kekasih hatinya.
Akh.....sudahlah. Kenapa aku jadi terus memikirkan hal itu? Kurang kerjaan saja. Shinta tiba-tiba tersadar dari lamunannya, dia segera beranjak menuju kemar mandi untuk membersihkan diri, mengganti baju tidur dan bersiap-siap untuk beristirahat setelah melewati hari yang melelahkan sepanjang hari ini. Sebelum tidur, dia berdoa singat, semoga hari besok semakin baik. Semangat Shin.....dia menyemangati dirinya sendiri. Tidak perlu waktu lama, akhirnya, si gadis cantik itu pun terlelah dalam mimpi-mimpinya.
Keringat dingin membasahi tubuh Shinta, dia memanggil mamanya dalam mimpinya, tiba-tiba dia terbangun. Dia mengalami mimpi buruk itu lagi. Mimpi yang selalu menghiasi tidurnya sesekali, dan akhir-akhir ini menjadi lebih sering. Shinta segera beranjak dari tempat tidur untuk mengambil segelas air minum yang terletak di meja di sudut kamar kostnya itu.
Sialan....semakin sering aku mimpi buruk itu lagi, membuat setiap malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Umpat Shinta dalam hatinya. Sebenarnya mimpi yang dialami oleh Shinta bukanlah sesuatu yang asing buat dia, mimpi itu sebenarnya adalah kilas balik dari setiap kejadian yang pernah dialaminya pada masa dulu. Kilasan kejadian dulu seolah-olah terangkai menjadi sebuah film yang selalu setia menjadi bunga tidur Shinta belakang ini.
Seperti biasanya, jika Shinta sudah terbangun dari tidurnya, akan sangat susah baginya untuk bisa terlelah lagi. Dia terbaring bengong di atas tempat tidurnya sambil memandangi langit-langit kamar kostnya dengan tatapan kosong.
Flashback on :
Sejak kepergian papanya hari itu, Shinta melihat sendiri bagaimana mamanya berjuang bekerja keras agar bisa menghidupi keluarganya dan menyekolahkan dirinya beserta kedua adiknya. Shinta sangat ingin berhenti sekolah supaya bisa membantu meringankan beban mamanya dengan ikut bekerja, namun mamanya tidak pernah mengizinkannya. Mamanya hanya meminta agar dia fokus menyelesaikan pendidikannya.
Sebenarnya meskipun sedih dengan keputusan egois papanya yang pergi meninggalkan keluarga demi wanita lain, namun di satu sisi,sebenarnya Shinta merasa lega. Paling tidak, dia tidak akan lagi melihat mamanya bertengkar dengan papanya, melihat mamanya mendapat tamparan dari papanya, melihat mamanya menangis disakiti oleh papanya. Dia tidak pernah melihat itu lagi sejak kepergian papanya. Dalam hati kecilnya, dia merindukan keutuhan keluarganya seperti masa kecilnya dulu, begitu menyenangkan. Namun, kebencian dan dendam Shinta terhadap papanya lebih besar dan menutupi setiap kerinduan itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri, sampai kapanpun dia tidak akan memaafkan pria breng**k tersebut.
Penderitaan mamanya tidak berakhir begitu saja setelah kepergian papanya. Cibiran tetangga bahkan kerabat dekat baik dari pihak keluarga mamanya atau papanya dulu sering kali tidak terdengar. Dan entah mengapa, seringkali mereka tetap melontarkan perkataan-perkataan yang menyakitkan hati seolah-olah semua yang terjadi ini merupakan kesalahan mamanya.
"Makanya kalau punya suami dijaga baik-baik, biar tidak diembat!"
"Kamu sih tidak pandai merawat diri sehingga suami meninggalkanmu!"
"Kamu cuma bisanya menghabiskan uang suami saja, tidak bisa ikut bekerja..."
Masih banyak lagi cibiran lainnya. Namun, mamanya tetap sabar menghadapi setiap cibiran tersebut. Bagi mama, tidak ada yang lebih penting, selain bekerja keras demi memberikan masa depan yang lebih baik bagi ketiga anaknya itu.
Ketegaran hati dan kemandirian mama Shinta sepertinya menurun pada putri semata wayangnya itu. Seiring dengan waktu, Shinta pun bertumbuh menjadi gadis yang tegar dan mandiri seperti mamanya.
"Jika suatu hari nanti, sudah saatnya kamu memiliki pasangan hidup, kenali benar-benar calon suami itu Nak, agar kamu tidak menyesal suatu saat seperti mama." lanjut mama Shinta memberikan wejangan hidup kepada Shinta.
"Iya Ma....Shin akan selalu mengingat nasehat mama." jawab Shinta.
Sejak kepergian papanya hari itu, Shinta juga tidak pernah tahu lagi kabar tentang keadaan papanya. Dia tidak tahu atau lebih tepatnya tidak mau tahu lagi bagaimana kehidupan pria tersebut. Yang dia dengar sekilar dari obrolan tante-tantenya, papanya sudah menikah lagi dan memiliki keluarga baru. Bahkan dia sudah memboyong keluarga barunya itu untuk tinggal di kota lain. Di kota mana, Shinta tidak pernah tahu dan tidak mau mencari tahu, karena bagi dia sosok papanya itu sudah lama meninggal sejak kepergiannya dari rumah, dengan tega meninggalkan keluarganya.
Flasback off
Karena matanya susah terlelap lagi, akhirnya Shinta memilih membaca buku untuk mengusir kebosanannya. Tidak lama kemudian, dia malah merasa mengantuk dan akhirnya tertidur lagi.
Tit...tit....tit....tit...
Bunyi alarm pada hape Shinta menggagetkan dirinya, membuat dia segera terbangun dari tidurnya. Sambil mengucek-ngucek matanya, dia beranjak dari dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk segera mandi agar dirinya lebih segar dan siap menjalani aktivitasnya di hari yang baru ini.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Shinta membuka hapenya untuk sekedar mengecek pesan-pesan WA yang masuk. Matanya terfokus pada salah satu notifikasi pesan dari nomor asing yang belum dia cantumkan nama kontak, tetapi tidak asing ujung nomor itu bagi dirinya. Dia segera membuka pesan tersebut.
Message :
"Temani makan siang di resto XX siang ini pukul 12.30 WIB. JANGAN DATANG TERLAMBAT!!" pesan singkat dengan penekanan huruf besar pada akhir kalimat, seolah-olah menjadi sebuah ancaman bagi Shinta.
Ini orang apa kesepian kali ya????.....mengapa makan saja harus selalu minta ditemani sih. Bukannya dia memiliki teman baik, ajak saja sobatnya itu untuk makan. Apa susahnya sih.....Shinta mengeluh dalam hatinya. Apa boleh buat nanti siang dia harus mencari alasan yang tepat untuk meminta izin kepada Rina, agar bisa meninggalkan cafe sebentar untuk bisa memenuhi permintaan orang aneh yang satu ini.
Sembari menunggu pesanan ojek online yang baru dipesannya, Shinta memberi nama kontak pada pemilik nomor asing tersebut. Kira-kira nama apa yang cocok ya???? Hmm.....tiba-tiba tanda sadar terketik kata TUAN ANEH pada kontak hape Shinta. Ya sudahlah, diOKEkan saja, meskipun Shinta tahu nama pria tersebut sebenarnya karena memang sebelumnya, Hansen sempat memperkenalkan diri dan sahabatnya itu kepada Shinta.
Tidak lama kemudian, datanglah abang ojek online yang siap mengantar Shinta meluncur ke kafe tempatnya bekerja.