The True Love For Shinta

The True Love For Shinta
Makan Malam


Message : Thomas


Nanti malam temani aku makan malam, nanti aku jemput pukul 21.00 WIB.


Pesan singkat dari Thomas yang dibaca oleh shinta ketika dia bersiap-siap akan pulang, membuat hatinya berbunga-bunga. Aneh, padahal beberapa hari yang lalu, dirinya kesal sekali setiap kali mendapat pesan dari laki-laki itu yang selalu memaksanya untuk menemani makan siang ataupun makan malam.


Oke, aku tunggu. Balas Shinta singkat. Thomas juga barusan menyelesaikan pekerjaan terakhirnya dan akan mengakhiri kesibukannya hari itu, tersenyum membaca balasan dari Shinta. Tumben dia balas, pikir Thomas.


Tanpa menunggu lama, Thomas segera menuju parkiran mobil dan mengendarai mobilnya menuju cafe Rina untuk menjemput gadis itu. Shinta terlibat sedang menunggu sendirian di depan cafe, Rina dan kedua rekan kerjanya itu telah pulang duluan. Syukurlah mereka semua sudah pulang duluan, aku tidak mau aja mereka melihat aku nanti dijemput oleh Thomas, entah apa yang mereka pikirkan nanti. Pikir Shinta adalam hati.


Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di depannya, kali ini tanpa perlu diperintah, Shinta langsung masuk ke dalam mobil dan duduk manis di samping sopirnya itu.


"Kita akan makan di mana?" tanya Shinta untuk membuka pembicaraan. Ini pertama kalinya, dia jalan dengan laki-laki. Hatinya sudah berdebar-debar dag...dig...dug....dari tadi.


"Nanti kamu akan tahu..." jawab Thomas singkat dan dingin.


Ih, dingin amat sih, ditanya baik-baik kok jawabnya ketus begitu. Gerutu Shinta dalam hati mendengarkan jawaban Thomas yang nadanya terdengar kurang bersahabat itu. Akhirnya, mereka pun diam sepanjang perjalanan, karena mereka berdua sama-sama tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan, atau apa yang harus mereka bicarakan.


Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di resto yang cukup mewah kelihatannya dari luar. Tanpa menunggu aba-aba, Shinta membuka pintu mobil untuk keluar. Tentu saja, dia tidka perlu menunggu sampai Thomas akan membuka pintu baginya, itu tidak akan terjadi deh.


Thomas melangkah masuk duluan disusul oleh Shinta di belakangnya. Thomas memilih meja di sudut resto yang kebetulan masih kosong, tempat yang strategis menurutnya. Tidak lama setelah mereka duduk, datanglah pelayan resto yang menyodorkan buku menu pesanan dan mencatat pesanan mereka.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Thomas sambil melihat jenis-jenis menu pada buku menu tanpa melihat ke arah Shinta. Shinta yang bingung membaca nama-nama menu pada buku tersebut, yang dirasanya asing itu, menjadi bingung harus menjawab apa.


"Terserah deh, saya ikut saja." jawab Shinta, mencari aman saja, pikirnya.


"Oke, saya pesan ini....2 porsi, minumnya ini.....dan dessertnya salad buah ya." Thomas berkata kepada pelayan sambil jarinya menunjukkan pada nama makanan dan minumannya yang dimaksud.


Sembari menunggu makanan, keduanya kembali terdiam, bingung mau memulai pembicaraan dari mana.


"Maafkan saya......" ucap Thomas tiba-tiba membuka pembicaraan, yang membuat Shinta menjadi bingung kenapa dirinya meminta maaf.


"Untuk apa?" tanya Shinta Spontan


"Saya pikir, kemarin saya agak kasar berbicara kepadamu atas kejadian yang sebenarnya sepele itu." lanjut Thomas.


Tahu pun itu, kenapa tidak dari kemarin-kemarin sadarnya, Tuan....


"Oh...tidak apa-apa, itu memang kesalahan saya, jadi saya terima aja kalau kemarin saya dimarahi." ucap Shinta padahal bertolak belakang dengan suara batinnya itu.


"Jadi, kamu memaafkan saya?" tanya Thomas.


"Tentu saja, lagipula sebenarnya tidak ada yang perlu dimaafkan dan meminta maaf kok." padahal sebenarnya kemarin Shinta juga kesal dengan perlakuan Thomas yang menurutnya seenak saja, mentang-mentang orang kaya kali, tetapi tentu saja tidak mungkin dia akan mengatakan jujur seperti itu, pikir Shinta.


Tidak lama kemudian, pesanan makanan mereka pun datang. Suasana resto yang kebetulan agak sepi pengunjung pada saat itu menambah suasana romantis makan malam mereka. Mereka kemudian asyik dengan makanannya masing-masing, suasana agak canggung, masing-masing tidak tahu harus memulai obrolan dari mana. Sesekali Thomas memandang Shinta yang lagi serius memotong steaknya, begitu pula sebaliknya. Namun hingga pada satu waktu, pandangan mereka saling bertemu. Shinta tersipu malu menundukkan kepalanya.


Cantik juga, gadis ini, lumayan....Pikir Thomas


"Oh ya..." Thomas dan Shinta bersamaan ingin memulai obrolan. Hingga mereka tergelak bersama.


"Kamu duluan..." kata Shinta


"Gak, kamu duluan aja...." balas Thomas


"Kalau boleh tahu, apakah Anda tidak mempunyai kekasih, kok beberapa kali harus meminta aku untuk menemani makan???" tanya Shinta polos.


"Ha....ha...ha...tentu saja, untuk saat ini belum, kalau ada mana berani saya." jawab Thomas tergelak mendengar pertanyaan to the point Shinta.


"Lalu bagaimana dengan gadis yang bertemu dengan kita pada saat makan siang kemarin?" Waduh, berani sekali aku menanyakan itu, itu kan bukan urusanku, ih....bodohnya aku....Shinta tersadar sendiri dengan pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulutnya itu.


"Oh...itu, tidak usah dipikirkan, dia salah satu bagian dari masa laluku saja. Untuk sekarang, aku lagi mencari untuk masa depanku, siapa tahu kamu berminat? ha...ha...ha...." Akh, sialan, kok to the point lalu aku nih....pasti dia jadi salah paham nih....


"Hah...? Maksud Anda?" tanya Shinta kaget dengan pertanyaan Thomas dengan barusan.


"Bukan apa-apa, hanya sekedar bercanda saja...ha...ha..." Ternyata enak juga ya gadis ini diajak bicara, jadi merasa tidak enak kemarin-kemarin memperlakukannya dengan agak kasar, sesal Thomas.


"Lalu bagaimana sendiri dengan kamu? Sudah lama kerja di cafe itu?" tanya Thomas mencoba untuk lebih mengenal gadis di depannya itu.


"Lumayan lama, sejak lulus sekolah. Kebetulan Rina dengn bantuan modal dari orang tuanya membuka cafe itu dan mengajakku untuk membantunya. Kami bersama-sama merintisnya dari awal, hingga bisa seperti saat ini." Shinta menjelaskan sambil menyeruput jus dingin di depannya.


"Wow, hebat....gadis muda seperti kalian sudah bisa membuka usaha mandiri. Sudah cantik, mandiri lagi, pasti banyak nih, laki-laki yang mengantri untuk mendapatkan gadis seperti kalian." Thomas terlihat takjub mendengarkan penjelasan Shinta.


"Akh....biasa saja, kalau Rina sih iya, kalau aku sih belum ada sama sekali." Seketika itu, thomas mengernyitkan dahinya.


"Masa sih? saya gak percaya deh...pasti kamunya yang tidak mau atau jangan-jangan kamu pasang standarnya kelewat tinggi nih?" goda Thomas membuat Shinta menjadi tersipu malu.


"Benaran deh.....tetapi mungkin memang aku nya yang belum siap untuk menjalani hubungan dengan laki-laki." jawab Shinta jujur.


"Lho...kok gak siap?" tanya Thomas keheranan.


"Gak apa-apa kok....takut patah hati aja." jawab Shinta asal, padahal dia belum siap karena takut nantinya akan dikecewakan sama seperti mamanya yang dikecewakan oleh ayahnya.


"Belum dicoba...udah takut patah hati, ini sih ibarat, belum perang udah nyerah duluan nih." balas Thomas yang tanpa sadar tiba-tiba saja sudah memegang tangan Shinta. Shinta kaget dan cepat menarik tangannya.


"Oh maaf, saya tidak sengaja...." Waduh, kok aku pegang tangannya sih....ini tangan kok gak bisa diajak kerja sama, main pegang aja....batin Thomas memarahi tangannya sendiri. Sedangkan Shinta menjadi makin tersipu malu menundukkan kepalanya.


"Kita pulang ya, sepertinya malam sudah cukup larut ..." ajak Thomas untuk mengalihkan suasana yang tiba-tiba cangung.


"Iya..." Jawab Shinta singkat, kemudian beranjak dari kursi mengikuti Thomas yang sudah berjalan duluan menuju kasir.