The True Love For Shinta

The True Love For Shinta
Mencari Shinta


Message: Shinta


Rin, maaf ya hari ini, aku tidak bisa masuk kerja awal hari ini. Aku kurang sehat. Kalau sudah agak baikan, mungkin agar sorean nanti aku masuk ya.


Balas Rina :


Oke Shin, gimana kondisi sekarang, gak apa-apa ya....kalau belum sehat, gak usah dipaksain ya. Istirahat aja dulu.


Hari ini, Shinta tidak masuk kerja. Rina sedikit kerepotan karena pengunjung yang datang ke cafe cukup ramai. Namun, syukurnya semua masih bisa terkontrol dengan baik. Setelah semua terlayani dengan baik, Rina bermaksud istirahat sebentar duduk di kursi singasananya.


Ting..Ting...Ting... Bunyi bel penanda pintu dibuka.


Masuklah dua pria ganteng dengan perawakan badan tinggi kekar, sungguh menarik perhatian semua kaum hawa yang memandangnya, termasuk Rina yang tanpa sadar matanya sudah terbelalak pandangannya mengikuti jalannya kedua pria itu menuju kursi cafe yang masih kosong.


Kebetulan kedua karyawannya masih sibuk menyiapkan pesanan pengunjung lain, maka Rina segera beranjak dari kursi singgasananya untuk melayani pesanan kedua pria tersebut. Oh my God, ya Tuhan....sering-sering aja ya cafe ini dikunjungi banyak cowok-cowok ganteng, biar diriku yang jomblo akut ini semakin semangat bekerja, siapa tahu nanti bisa kecantol satu, Tuhan. Doa Rina dalam hati, berharap dia bisa segera melepaskan status kejombloannya.


"Mau pesan apa, Tuan... Silakan dilihat dulu, ini menunya." sapa Rina sambil menyodorkan buku menunya kepada kedua pria ganteng di depannya. Reza langsung cepat menerima dan membaca buku menu tersebut untuk memilih makanan dan minuman yang akan dipesannya. Sedangkan Artha sekilas terlihat bingung menatap ke sekeliling cafe.


Gadis itu, tidak kelihatan. Apakah dia tidak masuk hari ini? Guman Artha dalam hati, penasaran karena tidak melihat keberadaan Shinta, padahal tujuan utamanya dia mengajak Reza makan siang di temapt ini supaya bisa bertemu dengan Shinta. Hampir tercetus dari mulutnya untuk bertanya kepada gadis pelayan di depannya, namun kemudian dia mengurungkan niatnya, agar tidak menambah rasa penasaran Reza, yang akhirnya nanti dia akan diserbu dengan sederetan pertanyaan dari mulut temannya yang cerewet itu.


Setelah mencatat setiap pesanan dari Reza dan Artha, Rina beranjak dari tempatnya, dan segera memberikan kepada karyawannya untuk disiapkan. Sesaat kemudian, datanglah makanan dan minuman sesuai dengan pesanan mereka.


Tanpa menunggu lama, Reza yang memang sudah kelaparan dari tadi, langsung melahap makanannya dengan asyik tanpa mempedulikan Artha. Sedangkan Artha kelihatan tidak begitu semangat menikmati makanan di depannya itu. Rupanya ketidakhadiran gadis itu membuat dia menjadi tidak berselera makan.


Setelah beberapa saat, barulah Reza menyadari kalau teman di depannya itu sama sekali belum menyentuh makanannya, padahal makanan miliknya sudah hampir ludes bersih tak bersisa.


"Hei, kau kenapa? kok tidak dimakan makananmu? kalau tidak mau, kasih aku aja...." pinta Reza dengan muka memelas. Dasar Reza, entah benaran lapar atau sifat rakusnya lagi kumat, Artha menggeserkan piring makanannya mendekat ke arah Reza. Dengan senang hati, Reza menyambutnya.


"Nih....makan nih, habiskan tanpa bersisa, sama piring-piringnya ya." ketus Artha terheran-heran dengan kerakusan Reza, berpikir entah terbuat apa, perut temannya itu, sampai bisa menampung makanan sebanyak ini.


"Enak tahu.....sayang sekali kau tidak mencoba menikmatinya. Memang tidak salah, kau memilih tempat makan ya." puji Reza tanpa berhenti makan.


Ting....Ting...Ting....Ting....Bunyi bel penanda pintu cafe dibuka


"Hei Shin.....kok kamu datang sih? katanya sakit tadi." tanya Rina kaget melihat kedatangan temannya itu. Shinta berjalan masuk dengan ngos-ngosan dan kelihatan mukanya memang masih agak pucat.


"Kamu gak apa-apa kan, Shin? Gimana kondisimu saat ini? kok kelihatannya mukamu itu agak pucat." tanya Rina kuatir melihat keadaan temannya itu.


"Gak apa-apa Rin, benaran deh....aku gak apa-apa....aku kecapean aja, tadi aku sengaja singgah di minimarket di seberang sana, baru jalan kaki ke sini, makanya ngos-ngosan begini." jawab Shinta menjelaskan alasannya supaya temannya itu tidak kuatir berlebihan. Dia tahu betul, sifat sahabatnya ini, suka menanggapi hal sepele dengan berlebihan.


"Lho, kok aku? Kan aku gak sakit, dirimu yang sakit, non...." balas Rina cepat.


"Iya donk, tentu aku kuatir....dirimu pasti kerepotan kan kurang satu tenaga hari ini." lanjut Shinta menjelaskan algi.


"Akh gak juga, semua aman terkendali...Ada Rina gitu lho...." sanggah Rina tidak mau kalah. Padahal sebenarnya, tadi memang dia agak kerepotan mengurus cafenya tanpa kehadiran Shinta. Dia bahkan berpikir, sepertinya dia perlu menambah karyawan lagi, karena akhir-akhir ini cafenya mulai semakin ramai dikunjungi.


"Akh...yang benar..." colek Shinta menggoda temannya itu.


Sementara itu, obrolan kedua sahabat itu rupanya sedang diamati oleh sepasang mata dari kejauhan di salah satu meja cafe. Artha yang tadinya agak kurang bersemangat tiba-tiba tersenyum ketika melihat Shinta memasuki cafe. Sedangkan Reza masih tidak peduli dengan perubahan mimik muka sahabatnya itu, dia masih sibuk menikmati makanan operan dari Artha tadi.


" Puas....puas......benar-benar puas aku bro, makasih ya atas traktirannya ini." ujar Reza setelah menyelesaikan pertempurannya dengan makanannya tadi. Terlihat setumpuk piring sudah dalam keadaan kosong. Artha menatap kaget tumpukan piring tersebut. Rasanya dia tidak percaya, semua makanna tadi benar-benar habis oleh satu mulut pelahap di depannya itu.


"Gila kamu....aku heran perutmu itu terbuat apa sih? Jangan-jangan dari karet ya, jadi elastis bisa menampung semuanya hiks...." Artha tertawa geli meledek temannya itu.


"Aku sudah kenyang sekarang, kita balik lagi ke kantor, yuk. " ajak Reza, namun sepertinya Artha masih enggan untuk pergi, apalagi setelah melihat kedatangan Shinta tadi. Dia masih belum puas memandangi lama-lama gadis itu, wajahnya begitu tidak asing baginya. Wajah yang mengingatkannya akan cinta pertamanya dulu.


Flash back on :


"Hei, sedang apa sih loe, bro?" tegur Reza mengagetkkan Artha yang dari tadi sepertinya lagi mengintip sesuatu dari balik tembok. Reza akhirnya ikutan melihat-lihat apa yang sedang diintip kawannya itu karena penasaran.


"Gadis itu ya??? Udah....sana samperin, sebelum keburu disambet orang." ujar Reza santai namun tidak digubris Artha.


"Lagian.....sekian lama kamu memendam perasaanmu, kalau kamu gak pernah ungkapkan, bagaimana dia akan tahu bro?" lanjut Reza


" Memandangnya dari kejauhan itu sudah cukup bagiku. Namun, kok rasanya hatiku ikut perih ya melihat dia duduk termenung sedih begitu ya..." Artha melihat Shinta yang sedang duduk sendiri di taman sekolah. Saat itu Shinta sedang termenung sendiria dan Artha merasa seperti gadis itu memiliki masalah. Ingin rasanya dia menghampiri gadis pujaannya itu untuk menghiburnya, namun Artha tidak memilki keberanian itu.


Artha dan Shinta duduk di bangku SMA di tingkat SMA, mereka sudah di tingkat akhir saat ini. Namun, sejak dari kelas I, Artha sudah mulai mengagumi Shinta secara diam-diam ketika pertama kali dia melihat gadis itu dihukum oleh kakak kelas saat mereka menghadapi masa orientasi pada awal-awal mereka masuk sekolah. Hingga akhirnya mereka tamat sekolah, Artha tidak pernah mengungkapkan perasaannya, sehingga Shinta tidak pernah tahu bahwa dia mempunyai penggemar selama ini. Artha melanjutkan kuliahnya di kota lain mengikuti ayahnya yang dipindah tugaskan. Sejak saat itu, dia tidak pernah bertemu dengan Shinta lagi.


Flash back off


"Hei bro....kita pergi sekarang?" ujar Reza membuyarkan lamunan Artha.


"Gadis itu...." Reza memandang kaget kepada Shinta yang kebetulan sedang melayani pengunjung yang baru datang.


Bersambung.....