
Tidak banyak hal yang mereka obrolkan selama perjalanan pulang. Sesekali mereka hanya saling menanyakan hal-hal sepele sekedar basa-basi untuk mengurangi suasana canggung di dalam mobil. Tidak lama kemudian, sampailah mobil Thomas tepat di depan kompleks kost Shinta.
"Tunggu dulu !" ujar Thomas saat melihat Shinta sudah bersiap pintu mobil di sampingnya. Shinta mengarahkan wajahnya memandang Thomas dengan muka penasaran.
"Iya...kenapa?" tanya Shinta
"Bisakah kita berteman mulai saat ini? Aku senang kamu bisa menemaniku makan malam ini. Terima kasih atas waktumu." lanjut Thomas terlihat tulus mengucapkan terima kasih kepada Shinta.
"Tentu saja, bisa....berarti tidak ada lagi masalah lagi di antara kita, jadi aku tidak perlu lagi mematuhi perintahmu kan???" tanya Shinta lebih lanjut.
"He...he..he, tetapi sepertinya aku akan tetap terus memintamu untuk menemaniku makan malam, kalau boleh... tetapi ini bukan perintah, ini ajakan...." Thomas terlihat serius dengan ucapannya barusan membuat Shinta tersenyum tipis mendengarkannya.
"Kalau ajakan, berarti aku bisa menolaknya ya...." jawab Shinta spontan, membuat Thomas mengernyitkan dahinya.
"Maksudmu? Kamu tidak suka menemaniku makan malam?" tanya Thomas sambil mengernyitkan dahiny
"Hmmm, aku? tergantung...hehehe" jawab Shinta membuat Thomas menjadi penasaran.
"Sudah ya....aku masuk dulu ya..." lanjut Shinta tidak meneruskan penjelaskan tadi sembari berjalan masuk menuju arah kamar kostnya. Akhirnya, tinggallah Thomas yang masih penasaran dengan jawaban Shinta yang menggantung itu. Terpaksalah dia harus pulang ke rumahnya dengan rasa penasaran itu.
******
Sesampai di rumah, Thomas segera masuk ke dalam kamarnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya. Barulah kemudian, dia merebahkan dirinya ke ranjangnya yang empuk sambil membuka handphonenya untuk sekedar mengecek pesan yang masuk.
Message : Hansen
Kamu ke mana saja, dari tadi tidak bisa dihubungi?
Thomas membalas:
Tadi ada urusan, ada apa?
Seketika itu, tanda centang dua menandakan pesan chatnya terbaca oleh Hansen. Mungkin, Hansen juga pas lagi mengotak-atik handphonenya saat itu.
Hansen : Tadi, aku melihat Erika. Dia sedang menangis
Thomas : Oh ya??? bukan urusanku lagi. Kami tidak ada hubungan lagi.
Hansen : Aku sempat berbicara dengan dia. Sepertinya, hubungannya dengan kekasih barunya itu sedang bermasalah.
Thomas : Sudah kubilang, aku tidak peduli dengan urusannya lagi. Kamu tidak perlu memberitahuku.
Hansen : Benaran, kamu tidak peduli lagi dengannya. Apakah semudah itu kamu melupakan hubungan kalian?
Thomas : Sudah tidak usah dibahas lagi.
Hansen : Tetapi, dia sempat mengatakan masih mencintaimu lho...
Thomas : Ada topik lain?? Kalau tidak, aku tinggal ya....mau tidur dulu.
Hansen : Hei.....aku belum selesai
Meski tadi mengatakan kepada Hansen bahwa dia tidak peduli lagi, tetapi jauh di lubuk hatinya sebenarnya Thomas masih menyimpan rasa cinta kepada Erika. Tentu saja tidak segampang itu dia bisa melupakan hubungannya dengan Erika yang sudah terjalin selama 2 tahun itu. Hanya saja, kekesalannya saat pembicaraan terakhirnya dengan Erika membuatnya merasa enggan untuk melanjutkan hubungannya dengan gadis itu. Tiba-tiba, handphone di sampingnya berbunyai
Message: Shinta
Sudah sampai di rumah?
Thomas tersenyum membaca pesan singkat dari Shinta, dengan segera dia mengetik untuk membalasnya
Thomas : Sudah, baru saja. Kamu belum tidur
Shinta : Baru bersiap-siap akan tidur. Terima kasih untuk traktiran makan malamnya hari ini ya.
Thomas : Aku yang seharusnya berterima kasih, karena sudah ditemani.
Shinta : kalau gitu, kita sama-sama berterima kasih saja.
Thomas : hahahaha....iya...
Shinta : tidur dulu ya, bye...
Thomas : iya, good night, sweet dream ya ...
Pesan Thomas mengakhiri obrolan mereka. Entah kenapa, Thomas merasa senang sekali mendapat pesan dari Thomas meski hanya sekedar pertanyaan basa-basi, padahal tadi setelah mengakhiri obrolan dengan Hansen, dirinya memang bermaksud akan tidur karena memang badanya cukup lelah setelah menjalani aktivitas sepanjang hari ini. Namun, kini dirinya malah menjadi segar kembali, matanya yang tadinya sudah kurang 5 watt, sekarang malah tidak mau terlelap tadi. Akhirnya, dengan sedikit memaksa diri untuk memejamkan mata, malah dalam pikirannya terbayang terus wajah gadis itu, sehingga membuat dia tidak bisa tidur semalaman.
*****
Sementara di atas ranjang dalam kamar kostnya, Shinta pun merasakan hal yang sama. Dia jadi kepikiran terus acara makan malamnya tadi. Tentu saja, itu menjadi hal yang berkesan bagi Shinta tersendiri, karena selama ini belum pernah sekalipun makan malam berdua dengan laki-laki, meskipun makan malam tadi hanya makan malam biasa, tetapi bagi Shinta, itu merupakan hal yang spesial baginya.
Apakah aku jatuh cinta kepada dia??? Akh....mungkin saja aku yang kegeeran....Shinta bertanya dalam hati, hatinya berdebar-debar merasakan gejolak aneh dalam dirinya saat ini. Semakin Shinta mencoba memejamkan mata untuk tidur, semakin pikirannya kacau tidak bisa diajak kerja sama. Akhirnya, dia memilih bangun dan menuliskan beberapa catatan kecil di buku diarinya. Buku yang selama ini menjadi tempat curahan hatinya, karena memang Shinta termasuk orang yang agak tertutup. Meski dia memiliki sahabat seperti Rina, namun tidak semua hal yang dialami dalam hidupnya dia bicarakan dengan Rina. Hanya sesekali saja, Shinta curhat kepada Rina jika dirasanya perlu. Selebihnya, maka dia akan menuangkan isi hati nya ke dalam tulisan di buku diarinya ini.
Akhirnya, setelah menulis beberapa halaman, Shinta pun merasa mengantuk, dia kembali berbaring di atas ranjangnya. Tidak perlu waktu lama, kali ini dia benar-benar terlelap.
*****
Lain ceritanya dengan Thomas yang juga menjadi galau semalaman ini, dirinya benar-benar tidak bisa tertidur, meski dia sudah mencoba. Entah sudah berapa kali, dia membolak-balikkan badannya untuk mencari posisi nyaman, namun dirinya tetap tidak bisa terlelap. Ternyata, gadis itu sukses membuat pikirannya menjadi kacau saat ini.
kok aku jadi kepikiran terus dengan dia....ada apa denganku? apakah aku jatuh cinta dengan dia....Akh, rasanya semua ini terlalu cepat, Pikir Thomas.
Setelah sekian lama melamun sendirian, akhirnya Thomas terlelap juga siap menyongsong mimpi indah di tengah malam menjelang subuh ini.
Dia baru terbangun ketika sinar matahari sudah menyelinap masuk melalui celah-celah golden jendelanya yang tidak tertutup rapat. Kebetulan hari ini adalah weekend, jadi dia tidak ke kantor hari ini. Kesempatan baginya untuk bisa bangun agak siang.
Namun, suara ribut Evelin, adik perempuannya itu dari kamar sebelahnya yang sedang berdendang dengan membuka musik cukup keras, sangat mengganggunya.
"Velin...." teriaknya kesal
" Tidak bisakah kau memberi ketenangan bagi rumah ini sekejap saja." lanjutnya sambil menggapai sebuah bantal untuk menutup telinganya.
Dari kamar sebelah, sebenarnya Evelin mendengar teriakan abangnya itu, tetapi dia pura-pura tidak kedengaran dan terus saja bernyanyi mengikuti musik, sengaja memperkeras suaranya untuk menggangguan abangnya itu. Dua Kakak adik memang tidak pernah akur, mereka memang suka saling iseng satu sama lain, bahkan setiap kali bertemu mereka akan selalu adu mulut.