
Sesaat setelah Thomas dan Hansen meninggalkan ruangan, Artha pun menyudahi pertemuannya hari itu dengan bawahannya. Setelah semuanya meninggalkan ruangan, seketika itu mimik muka Artha langsung berubah menjadi penuh kekesalan.
"Laki-laki itu.....hmm...." Artha mengingat kembali kembali yang dia lihat dia cafe yang kebetulan dia singgah beberapa waktu yang lalu dan kemudian dia kembali bertemu tak sengaja saat sedang makan siang di sebuah resto beberapa hari yang lalu.
"Aku harus mencari informasi tentang dia....akh...." spontan dia meraih telepon genggamnya, lalu menghubungi seseorang.
"Cari tahu segala seluk beluk tentang Thomas, pemilik perusahaan sandiago Group....aku tunggu informasi secepatnya darimu." perintah Artha kepada orang yang dihubunginya di seberang telepon sana.
Artha Wijaya merupakan salah satu dari deretan pengusaha muda sukses saat itu. Dengan hasil jerih payahnya sendiri, dia telah membangun beberapa perusahaan besar. Namun, tidak banyak orang yang tahu akan sosok pria yang satu ini. Dalam beberapa kesempatan menghadiri acara penting atau pertemuan dengan klien, seringkali Artha meminta Reza, orang kepercayaannya sekaligus sahabatnya itu yang turun tangan. Dia hanya mengawasi dari belakang layar, sesekali jika dirasanya perlu, baru dia akan turun tangan sendiri.
Artha berjalan kembali menuju ruang pribadinya dan bermaksud untuk menyelesaikan pengecekan beberapa dokumen yang tertunda tadi. Namun, tiba-tiba pikirannya melayang memikirkan gadis cantik pelayan cafe tak sengaja dia singgahi beberapa waktu yang lalu.
Sepertinya aku mengenal gadis itu, wajahnya tidak asing bagiku. Guman Artha dalam hati.
Tok....tok....tok....suara pintu diketuk membuyarkan lamunan Artha saat itu.
"Boleh saya masuk, Tuan Artha Wijaya yang ganteng dan bersahaja ini?" sapa Reza tanpa menunggu izin dari Artha sudah menyelonong masuk dan ikut duduk di sofa di sudut ruangan pribadi Artha.
"Hei....main nyelonong saja, apakah kau sudah melupakan tata krama karena terlalu lama kuliah di luar negeri, hah?" protes Artha sekedar bercanda menyindir sahabatnya itu.
"Oh tentu saja tidak.....lagipula, dari tadi aku sudah mengetuk pintu cukup lama, kau saja yang tidak menyahut mempersilakan diriku masuk." balas Reza
"Siapa tahu aku bisa menemukan pemandangan istimewa, kalau-kalau kau lagi bermesraan dengan sekretarismu yang cantik itu ha...ha....ha..." canda Reza menggoda Artha.
"Tetapi rupanya, yang kutemukan, si bos ganteng ini sedang melamun...."
"Akh sudahlah....." potong Artha
"Memang apa sih yang Tuan Artha Wijaya lamunkan sih, jangan bilang kau masih memikirkan gadis itu? cinta pertamamu yang sudah hilang ditelan bumi, yang tak pernah kau temukan sampai saat ini hahahaha...." lanjut Reza menggoda Artha.
"Tahu apa, kau dengan urusan cinta pertamuku itu. Sana urus dirimu sendiri, yang sampai saat ini masih jomblo akut." jawab Artha tidak mau kalah balas meledek Reza.
"Eits...jangan salah, meskipun saat ini, statusku jomblo. Gini-gini aku sudah pacaran 3 kali....ingat...3 kali...." sambilkan menunjukkan tanda 3 jari kepada temannya itu.
"Tiga kali sih...tiga kali....tapi tak satupun yang bertahan lama....hahahahaha....." balas Artha.
Sebenarnya Artha ingin menceritakan tentang gadis pelayan yang dia lihat di cafe itu kepada Reza. Gadis itu begitu mirip dengan cinta pertamanya yang selama ini masih belum bisa dia lupakan. Tetapi dia, mengurungkan niatnya. Temannya yang lebih banyak bercandanya daripada seriusnya pasti menganggap dia hanya terobsesi dan memandang semua gadis itu mirip dengan cinta pertamanya itu.
Reza orangnya memang suka tidak serius dalam situasi santai begini, namu kalau dalam urusan pekerjaan, Reza adalah orang yang sangat bisa diandalkan. Dia tahu sekali membedakan kapan dia harus serius dan kapan dia bisa bercanda. Oleh karena itu, Artha merasa yakin selalu bisa mempercayakan beberapa tanggung jawab kepada temannya itu, setelah Reza menyelesaikan pendidikan di luar negeri dan pulang ke tanah air.
"Entahlah, aku masih belum memutuskan. Aku belum sepenuhnya yakin dengan orang itu, aku akan mencari tahu dulu, sebelum mengambil keputusan finalnya."
"Memang kenapa, ada yang salah dengan perusahaan itu? Setahuku, pemiliknya memiliki reputasi yang baik. Perusahaannya juga dalam kondisi maju pesat saat ini." tanya Reza bingung menanggapi ketidakyakinan temannya itu.
"JIka kau ragu, baiklah, aku juga akan membantumu menyelidiki perusahaan mereka, supaya kita tidak salah mengambil keputusan dalam hubungan kerja sama ini." lanjut Reza.
"Akh.....gitu donk, kutahu kau selalu bisa diandalkan sobat." balas Artha dengan senyum sumringah mendengarkan penawaran bantuan dari Reza ini.
"Eits....tunggu dulu, ada bayarannya donk...gak ada yang gratis di dunia ini, Hmm...." sanggah Reza cepat dengan mimik muka penuh dengan maksud terselubung.
"Emang, kau mau dibayar dengan apa lagi, bos..Tidak cukupkah dengan posisimu di perusahaanku saat ini. Hampir-hampir semua orang di luar sana, mengira kau yang bosnya lho...." ketus Artha.
"Lapar nih....traktir makan ya kawan...." jawab Reza cepat.
"Oh....kirain....dasar yang dipikirkan makan terus." balas Artha sambil melirik ke jam dinding yang terpasang di salah satu sisi ruangannya itu. Rupanya hari memang sudah cukup siang, waktu yang tepat untuk mengisi kampung tengah yang sudah keroncongan.
"Baiklah, mari kita ke cafe bagus, yang kebetulan aku singgah beberapa hari yang lalu." Artha segera menyambar jasnya dan beranjak keluar tanpa menunggu Reza yang duduk santai di sofa. Melihat sahabatnya sudah berjalan keluar, dengan cepat Reza mengejar mengikuti dari belakang.
"Hei, memang kita mau ke cafe mana? cafe baru ya?" tanya Reza penasaran.
"Sudah, jangan banyak tanya. Ikut saja. Yang penting kampung tengahmu ini terisi tokh....gratis pula..." jawab Artha singkat. Mereka pun segera menuju parkiran mobil, Artha mengendarai mobilnya kemudian menuju cafe tempat dia melihat seorang pelayan yang mengalami insiden dengan Thomas dan Hansen beberapa waktu yang lalu.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Artha baru kepikiran sesuatu.
"Rez, di belakang ada baju kos tuh, kamu ganti ya." perintah Artha
"Apaan sih, mau pergi makan siang aja kok perlu pakai ganti-ganti baju segala...." protes Reza. Artha memelototinya. Mau tidak mau, dengan terpaksa menyambar kaos yang ada di belakang, kemudian menggantinya dengan cepat meski sedikit penasaran apa tujuan Artha.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di kafe yang dimaksud. Tidak lupa juga, Artha menggantikan atasannya dengan kaos juga sama seperti Reza.
"Aku tidak mau saja kita terlalu menarik perhatian, kita terlalu keren.....Dan aku juga tidak mau dikenali orang banyak" kata Artha narsis dengan senyumannya menyeringai.
"Akh......lah...... selama ini orang-orang juga tidak banyak yang mengenal dirimu kali, kan lebih banyak aku yang tampil di depan, kamunya di belakang layar aja." balas Reza.
Mereka pun akhirnya berjalan masuk menuju cafe Rina.