The True Love For Shinta

The True Love For Shinta
Kekasih Pura-Pura


Sepanjang perjalanan menuju kembali ke cafe Rina, keduanya terdiam tanpa obrolan apapun. Shinta sebenarnya ingin mengajak bicara untuk sekedar menghilangkan suasana ketegangan di dalam mobil. Namun, dia tidak tahu harus berbicara apa, dia takut salah-salah, malah akan membuat Thomas semakin emosi.


"Jadilah kekasihku.....!!" pinta Thomas tiba-tiba membuka percakapan.


"Hah...????Apa maksud......???" Shinta kaget meminta penjelasan, namun sudah dipotong duluan.


"Jangan kegeeran, maksudku jadi kekasih pura-pura." jawab Thomas singkat.


"Siapa juga yang ge..er, situ aja yang menggagetkan dengan permintaan aneh seperti itu...." sahut Shinta tidak mau kalah, untuk menutupi kegalauan hatinya mendengar ucapan Thomas tadi. Tentu saja, dia kaget dengan permintaan tersebut.


"Tetapi untuk apa??? Apa maksud dan tujuan kamu menjadikan aku sebagai kekasih pura-puramu? Tidak mau...." tolak Shinta dengan cepat untuk menghindarkan diri agar tidak terlibat lebih jauh dengan orang aneh di sampingnya.


"Tidak mau?? Apakah kamu lupa dengan apa yang bisa aku lakukan terhadap cafe tempatmu bekerja itu? sedikit saja kamu menolak perintahku, dengan mudah aku bisa merusak reputasi cafe itu...kamu mau itu terjadi???" ujar Thomas mengingatkan kembali apa mungkin bisa dia lakukan.


"Kamu....!!!" ujar Shinta geram.


"Baiklah.....aku penuhi permintaamu, tetapi tolong jangan menghancurkan reputasi cafe tempatku bekerja!" pinta Shinta menyudahi perdebatan dan mengalah terhadap permintaan Thomas.


"Oke, mulai sekarang kamu harus melakukan segala perintahku, berlaku seolah-olah menjadi kekasihku, kamu mengerti itu???" lanjut Thomas menegaskan kembali permintaannya tersebut.


"Baiklah..............terserah kamu saja." ketus Shinta tidak bersemangat.


Tidak lama kemudian, mobil Thomas sudah sampai di depan cafe Rina. Shinta segera membuka pintu mobil dan beranjak keluar dari mobil Thomas menuju ke cafe tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Dari dalam cafe, Rina melihat dengan penasaran, barusan Shinta dari keluar dari mobil siapa. Sepertinya mobil itu tidak asing baginya.


"Hai, Shin....sudah selesai temu kangennya? Siapa yang mengantarmu itu? teman SMP mu itu ya?" sederetan pertanyaan Rina menyambut kedatangan Shinta, namun tidak digubris sama sekali oleh Shinta.


"Hei Shin......ditanya kok gak jawab? Kesambet apa sih kamu nih? kamu baik-baik aja kan Shin???" lanjut Rina sambil menepuk pundak Shinta dan sedikit bingung karena melihat muka sahabatnya yang tidak seperti biasanya.


"Gak apa-apa Rin, aku baik-baik aja kok, yuk kita lanjutkan pekerjaan kita." jawab Shinta singkat, tidak berniat menjelaskan apa yang telah dia alami tadi, segera dia menuju ke belakang, ke dapur cafe untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda sebelumnya.


"Shin, kamu mau sekalian denganku???" Rina menawarkan tumpangan, kebetulan hari ini dia bisa membawa mobil orang tuanya, karena orang tuanya sedang keluar kota, jadi ada mobil nganggur di rumah yang bisa dia manfaatkan.


"Gak usah aja, kamu duluan saja.....aku masih ada sedikit pekerjaan. Setelah selesai baru pulang, aku bisa kok naik ojek online seperti biasanya." jawab Shinta menolak tawaran Rina karena dia tidak mau merepotkan temannya karena dia arah rumah Rina dengan arah kostnya sebenarnya berlawanan arah.


Baru saja Shinta menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap-siap memesan ojek online untuk pulang, tiba-tiba hujan lebat turun. Akh....kok hujan sih, baru aja mau pesan ojek..... Gerutu Shinta dalam hati sambil membatalkan aplikasi pemesanan ojek online dan beralih ke pemesanan taksi online, karena dia juga tidak mau pulang berbasah-basahan begitu, gak apa-apa deh, bayar mahal sedikit, yang penting aman sampai ke kost. Pikir Shinta.


Tapi sialnya, seperti karena hujan lebat ataupun memang lagi kurang taksi online yang beroperasi di area tersebut, membuat Shinta kesulitan mendapatkan taksi online. Dia sudah berkali-kali mencoba melakukan pemesanan tetapi gagal terus. Mau tidak mau, Shinta menunggu bingung di depan cafe, berteduh dari hujan sambil mencoba lagi aplikasi taksi online. Kali aja ada yang berhasil yang nyangkut.


Tiba-tiba, sebuah mobil sport merah mendekat dan membunyikan klakson sehingga menggagetkan Shinta yang masih terpaku pada hapenya saat itu. Pintu kaca mobil terbuka, "Masuk!!!" seru pemilik mobil dari dalam.


Shinta masih mencoba melihat, siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Tidak perlu waktu lama untuk mengenalinya, tentu Shinta kenal siapa pemilik mobil tersebut. Dengan sigap namun sedikit terpaksa, Shinta segera berlari menuju masuk ke mobil tersebut.


"Terima kasih, kamu mau menjemput saya." sapa Shinta sekedar basa-basi untuk memulai pembicaraan.


"Jangan kege-eran, saya kebetulan lewat di jalan ini dan melihat kamu sendirian di depan cafe." bantah Thomas padahal sebenarnya entah apa yang dipikirkannya tadi, ketika dalam perjalanan pulang yang seharusnya tidak akan melewati tempat ini, tiba-tiba saja dia membelokkan mobilnya melewati tempat ini. Dan itulah yang terjadi, dia melihat seorang gadis yang tidak asing itu sedang duduk sendiri di depan cafe, dia pun segera memberhentikan mobilnya, berinisiatif untuk memberi tumpangan kepada gadis itu.


"Ups....aku kira ini bagian dari keuntungan yang aku dapat, dengan menjadi kekasih pura-puramu hehehe...." kata Shinta sekedar bercanda. Tentu saja, dia sangat tahu diri, pria yang ada di sampingnya itu bukanlah kekasih yang sesungguhnya, jadi jangan berharap apapun deh. Lagipula, Shinta sendiri selama ini juga selalu menjaga jarak dengan pria manapun yang mencoba untuk mendekatinya, dia belum siap untuk mempunyai hubungan serius dengan seorang pria, terjebak dalam cinta yang akhirnya hanya menguras habis perasaan dan tenaganya saja. Apalagi kalau dia mengingat kembali bagaimana mamanya disakiti oleh seorang pria yang dipanggil sebagai papanya itu. Untuk saat ini, Shinta belum siap untuk menghadapi semua itu.


Sepertinya suasana di dalam mobil sedingin dengan kondisi di di luar mobil yang memang laig sangat dingin karena hujan lebat tak kunjung berhenti. Ditambah lagi, pakaian shinta yang basah ketika harus berlari menerobos hujan untuk masuk ke mobil tadi, membuat dia merasa kedinginan. Dia berusaha menghangatkan diri dengan mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya. Melihat gelagat aneh Shinta, Thomas tahun bahwa Shinta sedang kedinginan, dengan segera dia membuka jas yang dipakainya kemudian memberikan kepada Shinta untuk dipakainya agar bisa menghangatkan badannya.


"Terima kasih." ucap Shinta singkat tanpa menolak, karena dia memang merasa kedinginan sekali. Dia kemudian terdiam kembali sambil terpaku ke arah kaca mobil di samping memandangi hujan lebat di luar mobil.


Pikiran sedang kalut memikirkan keadaan kostnya saat ini. Seperti biasa, kalau hujan lebat, pasti jalan menuju kostnya banjir bahkan kadang-kadang parahnya kamar kostnya pun ikut kebanjiran. Apa boleh buat, resiko Shinta memilih kost di area situ karena harga sewa bulanannya memang lebih murah dibandingkan dengan kost di tempat lain. Lumayan kan, selisih biayanya bisa untuk ditabungkannya untuk nambah-nambah biaya pendidikan keduanya adiknya. Pikir Shinta dengan segala macam perhitungannya.


Bersambung.....