The True Love For Shinta

The True Love For Shinta
Melaksanakan Perintah


Kejadian tadi pagi cukup mengganggu pikiran Shinta. Tetapi, dia tidak mau berlama-lama galau dengan pikirannya itu, Shinta melanjutkan aktivitasnya hari itu dengan semangat, melayani setiap pengunjung yang datang dengan ramah, mengerjakan segala sesuatu dengan baik. Hari itu, semuanya berjalan dengan cukup baik, ya....kecuali kejadian yang tadi pagi. Tanpa terasa, hari sudah mulai malam, waktunya tutup cafe. Shinta segera menyelesaikan sisa pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi dan bersiap-siap untuk pulang.


Ketika baru saja mengunci pintu cafe dan membuka hapenya, bermaksud untuk memesan layanan ojek online, tiba-tiba sebuah panggilan nomor asing masuk. Spontan Shintan menerima panggilan tersebut karena tanpa sengaja jarinya memencet tanda terima pada panggilan telepon itu.


"Halo....selamat malam...dengan si.....?" belum selesai Shinta bertanya


"Baca pesan WA, jangan lupa lakukan perintahku!" singkat, jelas, padat dan sambungan telepon langsung terputus.


Apaan sih ini, siapa sih yang iseng malam-malam begini. Keluh Shinta dalam hati, badannya sudah cukup lelah dan menuntut jatah istirahat segera. Ingin sekali dia cepat-cepat sampai ke kostnya dan bisa merebahkan badannya, tetapi dia kaget melihat pesan singkat WA pada hapenya yang dikirimkan oleh nomor yang sama yang dengan nomor telepon tadi.


message : Datang segera ke cafe SS di jalan Mawar, seberang toko buku Aneka, 15 menit lagi sudah harus sampai!!!! Thomas.


Thomas???Emang siapa Thomas ya, seingatku tidak ada teman ataupun kenalanku yang bernama Thomas. Tunggu dulu....jangan-jangan....ya ampun.... Shinta menepuk jidatnya sendiri, otaknya lambat loading malam ini mungkin efek kecapekan atau dia sama sekali tidak mau mengingat kejadian tadi pagi lagi, kejadian yang membuat bad mood saja.


Dengan enggan, akhirnya Shinta terpaksa mengubah tujuan pada aplikasi pemesanan ojek onlinenya ke alamat yang disebutkan. Tidak perlu menunggu lama, ojek pesanan Shinta pun datang dan segera meluncur ke cafe yang dimaksud.


Sesampainya di cafe tersebut, Shinta segera masuk dan matanya menyapu sekilas orang-orang yang sedang ada di cafe tersebut, ya....itu dia....di pojok sana. Sepertinya orang itu memang suka mojok....selalu duduk di pojok cafe. Pikir Shinta sambil berjalan menuju ke arah Thomas yang sedang menunggunya. Sesampainya di sana, tanpa menunggu dipersilakan duduk sama yang ngundang....eh ini bukan undangan, tapi paksaan. Ingat Shinta.... Dengan santainya, Shinta langsung menghempaskan pantatnya menduduki kursi yang ada di depan Thomas.


Thomas yang sedari tadi bersibuk dengan hapenya, segera memandang ke depan.


"Sudah datang rupanya....temani saya makan malam ini!" kata Thomas tanpa basa-basi.


Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa pesanan makanan Thomas. Rupanya, tadi Thomas sudah memesan makanan untuk dirinya sendiri dan untuk gadis di depannya, tanpa menunggu Shinta datang dan menanyakan apa yang mau dipesannya. Shinta terima-terima saja deh apa yang sudah dipesan, tokh ini bukan undangan, ini perintah....yang penting urusan perut tertangani dengan baik malam ini, gratis pula. Lagipula, memang perut Shinta sebenarnya juga sudah sangat lapar. Tadinya, dia berpikir akan singgah sebentar untuk membeli nasi goreng sebelum pulang ke kost-kostannya.


Akhirnya keduanya menikmati makanannya masing-masing tanpa bersuara, di saat pasangan-pasangan di meja lain sedang makan malam dengan romantisnya. Shinta menjadi kikuk sendiri setelah selesai menyantap makanannya, dia ingin memulai pembicaraan, tetapi bingung apa yang harus dikatakannya. Salah-salah, pria yang ada di depannya tersinggung dan marah-marah tidak jelas seperti tadi pagi. Mau ditaruh di mana muka Shinta jika dia dimarahi lagi di tempat ramai ini. Lebih baik diam aja deh. Ingat slogan....diam itu emas.


"Bagus, kamu benar-benar menepati janjimu untuk melakukan perintahku untuk menebus kesalahanmu tadi pagi. Saya suka itu..." ujar Thomas membuka pembicaraan namun dengan nada bicara yang kurang bersahabat.


"Seperti yang saya katakan tadi pagi, Tuan...saya akan melakukan apa saja perintah Tuan, asal Tuan tidak mendatangkan masalah bagi cafe tempat saya bekerja, lagipula ........" jawab Shinta berusaha menjelaskan, namun sudah dipotong duluan oleh Thomas, sebelum dia bermaksud menjelaskan lebih lanjut.


"Sudah....saya tidak mau mendengarkan ocehanmu lagi, kita pulang sekarang!" ketus Thomas singkat.


Sambil berjalan keluar, Shinta segera membuka hape, bermaksud memesan ojek online dari cafe menuju kostnya.


"Masuk ke dalam mobil, cepat!!!" teriak Thomas yang sudah berada di belakang kemudi.


"Tidak Tuan, terima kasih atas tawaran Tuan, saya bisa pulang sendiri kok." jawab Shinta dengan sopan menolak tawaran Thomas.


"Siapa bilang ini tawaran.....ini perintah....cepat!!!" balas Thomas cepat


"Tapi...." Shinta terlihat bingung, entah apa yang sedang dipikirkannnya.


"Tidak ada tapi-tapian, masuk....cepat!!" suara Thomas semakin meninggi.


Mendengar nada suara yang tidak bersahabat, Shinta segera masuk ke dalam mobil di samping Thomas, lebih baik dia tidak mencari masalah aja deh. Cari aman saja, yang penting dia bisa sampai ke tempat kostnya dan cepat beristirahat.


Apaan sih...selalu perintah.....emang seberapa mahal sih kemejanya tadi pagi. Kalau seperti ini, aku rela menghabiskan upahku sebulan untuk mengganti kemeja tersebut daripada harus berurusan dengan orang aneh seperti ini. Pikir Shinta dalam hati sambil menunjukkan muka cemberutnya yang sudah menyamai pepaya busuk.


"Berikan alamatmu!" perintah Thomas singkat.


" Jl. Melati kompleks kost Pelangi." jawab Shinta yang tak kalah singkat karena sudah sangat kesal dengan pria di sampingnya itu, yang terkesan memaksa, padahal kan bisa menanyakan baik-baik alamat tempat tinggal Shinta.


Perjalanan menuju tempat tinggal Shinta tidak memakan waktu yang lama. Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan sama sekali. Tentu saja, tidak akan ada obrolan mesra seperti pasangan pada umumnya, ya karena mereka memang bukan pasangan. Akhirnya sampai juga alamat yang dituju, dengan segera Shinta membuka pintu mobil supaya bisa secepatnya keluar dari mobil tersebut sampai dia melupakan seatbelt masing terpasang menahan tubuhnya. Saat melihat Shinta membuka pintu, Thomas langsung mencengkeram tangan Shinta dengan kuat, sehingga gadis itu kembali pada posisi duduknya semua. Thomas mendekatkan badannya dan tangannya meraih pembuka kaitan seatbell. Tubuh Thomas condong ke arah Shinta hingga bibir mereka berada pada jarak yang dekat sekali. Shinta reflek menutup mata, karena mengira pria di sampingnya itu ingin melakukan sesuatu kepadanya. Tetapi, tiba-tiba dia merasakan tepukan di jidatnya, yang membuat dia segera membuka mata.


"Apa yang ada dalam pikiranmu??kamu pikir aku akan menciummu??? dasar mesum....." sindir Thomas. "Sekarang, silakan keluar, seatbeltnya sudah terbuka!" lanjut Thomas.


Shinta merasa malu sekali mendengar perkataan Thomas tersebut. Bisa-bisanya dia berpikir sejauh itu. Dengan cepat dia segera keluar dan berlari menuju kostnya tanpa menoleh lagi ke belakang.


Sementara itu, Thomas segera melajukan mobilnya, sambil mengingat- ingat kembali moment makan malam bersama mereka tadi. Thomas tersenyum-senyum sendiri, dia mengakui gadis itu memang cukup cantik.


Bersambung.....