
Sesampainya di Cafe, Shinta langsung menyibukkan diri dengan rutinitas pekerjaan di awal hari. Tidak lama kemudian, datanglah Rina yang terlihat senyum sumringah berjalan memasuki cafe.
"Hai, Shin, apa kabarmu? gimana? gak ada masalah kan selama kutinggal seharian kemarin?" basa-basi Rina, dia sebenarnya tidak pernah mengkuatirkan keadaan cafenya ketika ditinggal, karena dia percaya sahabatnya itu selalu bisa menghandle dengan baik.
Shinta terkejut dengan pertanyaan Rina, padahal itu hanya sekedar basa-basi Rina. Dia jadi teringat kembali kejadian di pagi hari kemarin. Dan tentu saja peristiwa yang akhirnya membuat dia terjebak harus mematuhi perintah si tuan aneh tersebut. Sebenarnya, Shinta ingin bercerita kepada Rina, tetapi dia tidak mau temannya jadi kuatir berlebihan. Dia tahu sekali bagaimana kalau Rina menghadapi suatu masalah, suka kalang kabut sendiri padahal belum tentu masalah besar. Apalagi kalau dia tahu, ada yang berniat menghancurkan reputasi nama cafenya, gara-gara kesalahan kecil yang dia perbuat kemarin.
"Semua aman, Rin.... tenang saja. Kamu tahu sendiri, temanmu ini selalu bisa diandalkan..." sahut Shinta cepat tanpa menunjukkan kekuatiran sedikitpun di wajahnya sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri menganggap hebat dirinya sendiri, padahal sikap yang ditunjukkannya saat itu sangat bertolak belakang dengan keadaan hatinya.
"Oh ya, Rin...nanti siang, aku minta izin keluar sebentar ya. Gak lama kok, sebentar juga balik..." Shinta membuka pembicaraan untuk meminta izin.
"Emank, kamu mau ke mana Shin?" tanya Rina cepat.
"Gak kok, hanya ketemu teman lama kok, temu kangen sebentar...gak apa-apa kan aku tinggal sebentar?" tanya Shinta.
"Teman yang mana Shin, setahu aku teman yang kamu kenal tentu aku kenal donk, secara....kita satu SMA kan dulu..." tanya Rina penuh rasa ingin tahu.
"Akh.....sok tahu aja kamu, kita kan tidak satu SMP. Ini teman SMP aku, jadi tentu saja kamu tidak kenal." jawab Shinta cepat.
"Oh gitu..cowok atau cewek, Shin? Kalo cowok ganteng, kenalin juga ke aku ya." goda Rina seperti biasa yang tidak bosan-bosannya menggagumi cowok ganteng yang dia temui di mana saja dan kapan saja.
Mereka pun melanjutkan aktivitas mereka pagi itu dan mulai melayani pengunjung-pengunjung yang mulai berdatangan. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB siang, Shinta terkejut dia hanya memiliki waktu setengah jam untuk segera menuju tempat pertemuan yang diperintahkan tadi padi sesuai pesan WA yang diterimanya.
"Rin, aku pergi dulu ya...." Shinta meminta izin kepada Rina. Kebetulan saat itu, pengunjung tidak begitu banyak, jadi Shinta bisa meninggalkan cafe dengan tenang tanpa harus memikirkan temannya akan kerepotan karena kekurangan tenaga.
Sial, sisa 7 menit lagi...ini masih setengah perjalanan. Sepertinya aku akan terlambat. Gerutu Shinta dalam hati di atas motor ojek online yang ditumpanginya. Karena jalanan macet, membuat perjalanannya tidak bisa cepat, sehingga mau tidak mau dia terlambat 5 menit ketika sampai di tempat tujuan.
Shinta segera berjalan agak cepat memasuki resto tersebut sambil memandang di sekelilingnya, untuk melihat di mana si Tuan aneh itu duduk. Itu dia.....Shinta segera berjalan menuju ke arah si Tuan aneh tersebut.
"Kamu terlambat!" ujar Thomas sambil memandangi jam tangan di pergelangan tangan kirinya ketika baru saja Shinta duduk di hadapannya.
"Aku tidak suka menunggu..." lanjut Thomas.
Seperti tadi malam, tanpa ditawarkan memesan makanan atau minuman apa, tiba-tiba saja seorang pelayan sudah mengantarkan makanan dan minuman yang sebelumnya sudah dipesan oleh Thomas. Syukurlah, Shinta bukanlah orang yang pemilih soal makanan. Jadi, apapun yang tersedia di depannya saat ini, sesuai- sesuai aja dengan seleranya, apalagi kebetulan kondisi perutnya memang lagi meminta jatah pengisian. Shinta baru teringat, dia memang belum sempat sarapan tadi pagi.
Melihat Thomas sudah mulai mencicipi makanannya, tanpa malu-malu Shinta pun mulai melahap makanan yang tersedia di depannya, bagian makanan yang tersedia untuknya. Seperti tadi malam, mereka berdua makan dalam keheningan, tanpa obrolan apapun. Lagipula, apa juga yang mau diobrolkan, Shinta juga tidak begitu kenal dengan pria yang ada di depannya saat ini. Setahu dia, pria di depannya yang bernama Thomas ini, hanya salah satu di antara sekian pengunjung cafe tempatnya bekerja.
Dari meja lain di resto lain, seorang pria mengamati pasangan yang sedang makan tanpa obrolan sama sekali itu, dia melihat ada yang aneh dengan pasangan tersebut. Dia adalah orang yang sama yang melihat ketika insiden kecil terjadi di cafe Rina kemarin. Kebetulan sekali, dia bertemu kembali di tempat ini. Sedang serius mengamati, tiba-tiba melihat sepasang kekasih menghampiri meja pasangan aneh tersebut.
"Jadi...rupanya kamu sudah bisa move on secepat ini, Thom? Syukurlah.....Selamat ya...." sapa wanita tersebut kepada Thomas sambil melirik ke arah Shinta dan mengamati sekilas gadis itu dari atas ke bawah seolah-olah sedang melihat ada sesuatu yang salah pada diri Shinta.
Shinta menoleh ke arah wanita tersebut, dilihatnya sekilas juga perawakan wanita yang sedang berbicara, tampilannnya menarik, dengan setelan berwarna navi yang dipadukan highheel hitam. Soal wajah, dengan dandanannya yang maksimal, tentu saja wanita tersebut layak dikategorikan sebagai wanita cantik yang bisa menarik perhatian pria manapun yang melihatnya. Tidak seperti dirinya, yang kadang-kadang tanpa polesan apapun di wajahnya.
"Ini bukan urusanmu, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, silakan urus dirimu sendiri dengan kekasih barumu itu." sindir Thomas sambil memandang geram kepada sepasang kekasih tersebut.
"Hei, aku menyapa dengan sopan, kenapa kamu harus menjadi marah begitu?? Lagipula aku sedikit penasaran dengan gadis yang menjadi pengganti posisiku, boleh donk aku berkenalan dengannya?" lanjut wanita tersebut sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Shinta.
"Perkenalkan, saya Erika, teman kekasihmu ini atau lebih tepat mantan kekasih dari kekasihmu ini" sapa wanita tersebut dengan ramah namun dengan kata-kata sindiran yang ditujukan kepada Thomas.
Dengan spontan, Shinta mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Erika untuk membalas keramahan wanita tersebut.
"Saya Shinta, tapi nona, mohon jangan salah paham, saya bukan....." Belum selesai Shinta berbicara, Thomas sudah memotong duluan.
"Apa urusannya, kamu harus berkenalan dengan kekasihku, urus dirimu sendiri!!!" ujar Thomas geram langsung beranjak dari kursinya dan menyambar tangan Shinta, segera berjalan menuju kasir, melakukan pembayaran dan meninggalkan resto tersebut secepatnya.
"Masuk dalam mobil!!!" Perintah Thomas kepada Shinta dengan keras.
Kali ini, Shinta tidak berani menolak, dia langsung membuka pintu mobil dan segera duduk di kursi di samping Thomas, karena dia membaca situasi yang tegang di resto tersebut. Jadi, dia tidak berani mencari masalah untuk berdebat dengan Thomas lagi.
Sepanjang perjalanan menuju kembali ke cafe Rina, keduanya terdiam tanpa obrolan apapun. Shinta sebenarnya ingin mengajak bicara untuk menghilangkan suasana ketegangan di dalam mobil. Namun, dia tidak tahu harus berbicara apa, dia takut salah-salah, malah akan membuat Thomas semakin emosi.
bersambung.....