
"Gadis itu....." Reza memandang kaget kepada Shinta yang kebetulan sedang melayani pengunjung yang baru datang. Artha juga ikutan kaget melihat temannya ikutan mengenali gadis tersebut. Dirinya sendiri sebenarnya belum seratus persen yakin kalau gadis itu adalah orang yang sama dengan cinta pertamanya itu. Spontan dia memberi kode tanda diam kepada temannya itu.
"Itukah sebabnya kau mengajakku makan siang di teman ini, kawan? Ada maksud terselubung rupanya. " kekeh Reza sambil mengernyitkan dahinya.
"Sudah selesai makan kan kamu, ayo kita kembali ke kantor!" Artha segera beranjak dari kursi menuju meja kasir untuk membayar, diikuti oleh Reza di belakangnya. Mobil belakang terparkir cukup jauh dari depan cafe, sehingga mereka harus berjalan agak jauhan dari cafe.
"Kenapa kau tidak samperin gadis itu, bro?" tanya Reza setelah berhasil menyelaraskan langkah kakinya di samping Artha yang berjalan dengan cepat.
"Belum tentu dia orang yang sama, mungkin saja hanya mirip saja." Artha berkelit, segera dia masuk ke dalam mobilnya dan sudah berada di balik kemudi disusul oleh Reza yang duduk di sampingnya. Lalu mobil pun melaju meningggalkan cafe tersebut.
"Kau bisa memastikannya dengan bertanya kepada gadis itu kan?" lanjut Reza masih penasaran.
"Terus, memangnya apa yang harus kukatakan selanjutnya? kalaupun benar dia orangnya, apa aku datang tiba-tba, terus bilang gini lho...aku telah jatuh cinta padamu dari kita SMA, maukah kau jadi pacarku sekarang? begitu? bisa lari terpontang-panting anak gadis orang, kawan." Reza terkekeh mendengarkan perkataan temannya itu.
"Jika akhirnya waktu mempertemukan kalian kembali, saranku jangan kau sia-siakan kesempatanmu kali ini, bro. Jangan lagi kau menyesal untuk kedua kalinya nanti." Artha tidak bergeming mendengarkan nasehat temannya itu. Namun sebenarnya, ia mengiyakan perkataan temannya barusan. Dia tidak mau menyesal untuk kedua kalinya.
Obrolan tidak lagi berlanjut, Artha terlihat fokus mengemudi memandang ke arah depan, namun sebenarnya pikirannya sedang melayang-layang memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan untuk memperjuangkan cinta pertamanya itu. Sedangkan, Reza sibuk chat dengan salah seorang gadis yang baru saja dikenalnya beberapa hari yang lalu, dia sudah meluncurkan banyak rayuan gombal terhadap gadis itu. Dasar, Reza playboy cap kucing....julukan Artha untuk sahabatnya itu.
Di Cafe Rina :
Sementara itu, di cafe Rina, Shinta mulai menyibukkan diri melayani para pengunjung yang datang. Hatinya masih galau memikirkan kejadian semalam. Bisa-bisanya dia ikut aja dengan Thomas dan menginap di hotel dalam saut kamar yang sama. Parahnya, dia kepergok oleh Hansen pagi itu. Kira-kira apa yang akan dipikirkan Hansen....Pasti dia menganggapku wanita murahan yang dengan gampang diajak ke hotel. Hati Shinta galau memikirkan semua itu.
Kenapa ya, hatiku selalu berdebar-debar ketika berada di dekat Thomas. Tidak bisa dipungkiri, kalau secara fisik, penampakan Thomas sangat menarik, tubuhnya yang tinggi kekar ditambah dengan wajahnya yang ganteng, dengan gaya pakaiannya yang modis, benar-benar menambah seratus persen kadar kekerenannya. Pasti banyak gadis di sekeliling Thomas. Gak mungkin, dia belum punya pacar. Akh sudahlah Shin....jangan banyak berharap. Seketika itu, Shinta tersadar dari lamunan, dia teringat kembali bagaimana sakit hatinya ketika mamanya diperlakukan buruk oleh papanya, membuat Shinta membuang jauh-jauh rasa suka itu sebelum berkembang menjadi benih-benih cinta, pikirnya.
****
Sementara itu, Thomas yang sedang bekerja di kantornya saat ini, pun sedang tersenyum-senyum sendiri memikirkan kejadian semalam bersama Shinta. Dia merasa senang berduaan dengan gadis itu di kamar hotel, meskipun mereka tidak melakukan apa-apa. Tanpa disadarinya, tiba-tiba jarinya memencet handphonenya dan melakukan panggilan kepada Shinta. Dari seberang, terdengar suara ...
"halo.....halo....halo..." dengan cepat Thomas mematikan panggilan teleponnya itu.
Astaga, kok bisa-bisanya aku menelepon gadis itu, apa yang telah merasuki pikiranku ini hingga aku terus memikirkan gadis itu. Gadis itu cukup menarik, tidak ada salahnya aku mengenal lebih dekat dengan dirinya. Pikir Thomas.
Tok...Tok...Tok...
Bunyi ketukan pintu seketika itu membuyarkan lamunan Thomas. Hansen berjalan masuk dengan santainya kemudian duduk di kursi di depan Thomas.
"Jadi, bagaimana? apakah sudah ada kabar dari Artha Jaya Group? apakah mereka menerima tawaran kerja sama kita?" tanya Hansen yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kelanjutan hasil presentasi mereka tadi pagi.
"Kamu lihat gak, ketika tadi kita masuk ruangan meeting tersebut, aku melihat pandangan aneh dari pak Artha, seolah-olah dia tidak menyukai kita." lanjut Hansen. Thomas langsung menatap serius padanya.
"Maksudmu??" tanya Thomas.
"Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku menangkap pandangan kurang bersahabat dari bosnya itu." jawab Hansen sembarangan. Sebenarnya dia sendiri kurang yakin, mungkin hanya perasaannya saja, pikirnya.
Akhirnya, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
*****
Shinta yang tiba-tiba mendapat telepon dari Thomas, reflek menjawab panggilan telepon tersebut karena kebetulan saat itu dirinya sedang mengotak-atik handphonenya itu membalas chat dari mamanya yang menanyakan kabar tentang dirinya.
"Halo....halo....halo...." jawab Shinta
Tut...tut.....tut....
"Lah, kok dimatikan, situ yang telepon, situ pula yang matikan....gimana sih? Aneh....." gerutu Shinta yang sudah kegirangan mendapat telepon dari Thomas. Padahal sebelumnya, setiap kali mendapat kiriman pesan Thomas, dirinya sudah merasa malas duluan. Tetapi kok kali ini rasanya beda, dia malah menjadi senang. Tanpa disadarinya, dia jadi tersenyum-senyum sendiri. Entah apa yang dibayangkannya. Rina yang melihat gelagat aneh temannya, tiba-tiba menepuk pundak temannya dari samping....
"Hei....hayo....ngapain nih??" goda Rina.
"Ikh....ngagetin aja sih kamu ini, kalau aku jantungan gimana? tanggung jawab ya...." sahut Shinta pura-pura menunjukkan muka kesalnya.
"Apaan sih, tanggung jawab segala? kayak dirimu hamil aja terus minta tanggung jawab....hahahaha..." balas Rina. Shinta menjadi kesal benaran digoda oleh temannya yang kelewatan iseng.
"Ikh....apaan sih? kok jadinnya lari dari topik, hamil....hamil...segala, lagian jomblo kayak aku mana mungkin ada yang mau." ujar Shinta merendahkan dirinya.
" Siapa bilang gak ada yang mau, noh coba kamu berdiri di luar cafe sana, terus kamu pasangi tulisan " Jomblowati akut, kebelet minta dikawini", aku taruhan, belum lima menit pasti kamunya dah diembat orang, hahaha....." balas Rina semakin senang saja menggoda sahabatnya itu.
"Lagian Shin, coba kamu jangan terlalu menutup diri, biar cepat kamu dapat pacar.....jadi sekalian melepaskan status jomblomu itu.....emang, kamu mau jadi perawan tua?" kali ini Rina kelihatan serius menasehati Shinta yang berpura-pura sibuk merapikan gelas dan cangkir, padahal dia mendengar perkataan temannya itu.
"Udahlah Shin, lupakan masa lalumu, tidak semua laki-laki itu jahat dan akan menyakiti, seperti papamu menyakiti mamamu. Percaya deh, kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang mencintaimu dengan tulus." lanjut Rina meskipun tidak ditanggapi oleh Rina.
"Iya deh...iya bawel. Doain aja ya, biar aku bisa mendapatkan laki-laki seperti yang kamu bilang itu." jawab Shinta singkat.
Mereka pun kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing hingga waktu menjelang malam.