The True Love For Shinta

The True Love For Shinta
Perkenalan 1


Jika pada umumnya, banyak orang yang beranggapan bahwa masa paling indah dalam hidup adalah pada masa sekolah di SMA, maka itu tidak berlaku bagi Arshinta Diah Pratiwi. Bagi Shinta, masa paling kelam dalam hidupnya justru pada masa sekolah SMA. Di saat teman-teman seusianya saat itu lagi senang-senangnya menikmati masa pacaran SMA ala-ala cinta monyet kelas kakap sambil menempuh pendidikan, ya bolehlah sekalian minum sambil nyelam, mungkin seperti itulah pikiran teman-teman Shinta pada saat itu. Kapan lagi coba....masa habis puber beranjak dewasa, lagi mulai menyukai lawan jenis, dan di sekolah ketemu dengan yang ganteng-ganteng dan bening-bening, akh....sekolah nomor dua, pacaran nomor satu donk. Itulah yang menjadi motto teman-teman sekelas Shinta.


Bahkan boleh dikatakan hampir semua teman sekelas Shinta pada saat itu memiliki pasangannya masing-masing, entah itu pacar sungguhan, pacar hasil ledekan atau teman tapi mesra, entahlah...yang pasti Shinta tidak memiliki salah satu di antaranya. Bukannya dia tidak normal dan tidak menyukai lawan jenis, tapi bagi dia, saat itu bukanlah saat yang tepat untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Masalah keluarga yang harus dihadapi sudah cukup pelik dan mengganggu pikirannya, jadi sudah tidak tersisa ruang kosong di dalam hati dan pikirannya untuk memikirkan hal begituan. Sering kali dia terlihat murung dan melamun pada saat teman-teman sedang bersenda guru pada saat jam kosong alias jam pelajaran tetapi gurunya tidak nongol, itu adalah waktu yang berharga yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi teman-temannya.


Hari itu, pikirannya sangat kacau, ketika dia akan berangkat ke sekolah, untuk ke sekian kalinya, dia melihat lagi kedua orang tuanya bertengkar. Shinta tidak tahu apalagi yang dipertengkarkan, tetapi dia tahu bahwa semua ini pasti ada hubungan dengan tante Dina, seorang perempuan yang tiba-tiba menjadi orang ketiga dalam hubungan kedua orang tuanya.


Saat itu, Shinta melihat mamanya menangis, hatinya seolah teriris, apalagi kemudian terdengar ucapan dari papanya, "Saya tidak akan kembali ke rumah ini." Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalanya, benarkah papanya akan meninggalkan mamanya, dirinya dan kedua adiknya. Apakah papa benar-benar tidak akan kembali? Akh....bagaimana kalau itu benar-benar terjadi, bagaimana dia dan keluarganya akan menjalani hidupnya ini?. Ya itulah yang terjadi, sejak hari itu, dia tidak pernah melihat papanya lagi, sejak hari itu, mamanya harus bekerja keras untuk membiayai kehidupan keluarganya. Oleh karena itu, sejak masih menempuh pendidikan di SMA di tingkat akhir, di saat teman-teman sekelasnya yang lain sibuk berancang-ancang akan melanjutkan ke perguruan tinggi mana, Shinta harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk melanjutkan kuliahnya. Yang ada di dalam pikirannya saat itu, dia ingin segera menyelesaikan pendidikan saat itu, supaya dia bisa mencari sebuah pekerjaan. Pekerjaaan apapun boleh, yang penting halal pikirnya, dan dia bisa membantu mamanya untuk membiayai kehidupan keluarganya dan pendidikan keluarganya. Itu yang terpenting, meringankan beban mamanya.


Tanpa terasa, beberapa tetes air mata mulai menampakkan diri di sudut mata Arshinta.


" Hei.......sedang melamun ya?" teriakan Rina menggagetkan Shinta yang segera membuyarkan lamunannya.


"Kamu ini, dari dulu sampai sekarang, gak berubah ya, kerjaannya melamun aja? apa gak ada kerjaan sampingan yang lebih baik gituu..., yang bisa menghasilkan uang sampingan juga? kan lebih baik itu.....hehehehe...." Seru Rina meledek Shinta,


"Akh.....apaan sih kamu ini, siapa juga melamun??? Tadi diriku sedang berpikir aja, dirimu yang cerewet ini, juga tidak berubah ya....dari dulu sampai sekarang, apa gak capek itu mulut nyerocos terus, gak ada habis-habisnya stok kata dalam mulutmu ini???hiks..."


"yeah....biarin, kan memang sudah dari sananya begitu....." jawab Rina dengan cepat.


Ya, itulah Rina satu-satunya teman baik Shinta dari masa sekolah SMA dulu sampai sekarang. Berkat Rina juga, dia akhirnya bisa bekerja di tempat ini, sebuah cafe yang terletak di dekat sebuah kampus ternama di Kota Metropolitan ini. Rina juga tidak melanjutkan kuliah seperti Shinta. Bukannya karena orang tua Rina tidak mampu membiayai kuliahnya, tetapi dasar si Rina itu sendiri, dari sekolah dulu dia gak pernah serius dengan pendidikannnya. Bisa lulus dengan nilai pas-pasnya dia sudah bersyukur, karena memang dia lebih suka memulai bisnisnya sendiri daripada harus melanjutkan kuliah, tokh pada akhirnya mencari pekerjaan dan menjadi bawahan seseorang, dia tidak mau hidupnya berakhir seperti itu. Oleh karena itu, setelah bersusah payah membujuk orang tuanya untuk tidak memaksanya melanjutkan kuliah, sebagai gantinya dia meminta biaya kuliah yang telah dipersiapkan untuk dirinya, bisa dia pakai sebagai modal untuk membuka bisnis kecil-kecilan yang diimpikannya. Rina yang merupakan anak tunggal dari keluarga yang hidup berkecukupan, awalnya keinginannya itu ditolak oleh kedua orang tuanya, namun setelah menggencarkan berbagai bujuk rayu, akhirnya dengan sedikit keberatan kedua orang tuanya menyetujui keinginan Rina.


"Lagian saya heran sama kamu ya.....aku yang dari dulu pengen sekali bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, harus merelakan karena keadaan tidak memungkin, eh...kamunya yang memiliki kesempatan, malah tidak mau melanjutkan kuliahmu? apa tidak sayang???" Shinta melanjutkan obrolannya dengan Rina. Kebetulan saat itu, cafe sedang sepi, jam-jam saat itu biasanya memang sepi karena bukan jam istirahat atau waktu nonkrongnya para mahasiswa dari kampus yang tidak jauh dari cafe Rina tersebut.


"Akh sudahlah, jangan dibahas itu terus.....lagi pula kamu kan tahu, aku dari dulu tidak suka namanya sekolah, pusing ngerjain tugasnya....lagian banyak kok orang sukses, tapi tidak pernah kuliah?" bela diri Rina seperti biasanya.


"Lho, apa hubungannya dengan diriku?" tanya Shinta bingung.


"Ya iyalah, kalau aku kuliah, cafe ini tidak ada tokh......kamu mau kerja di mana?" jawab Rina dengan cepat.


Iya ya.... batin Shinta. Dia menyadari tidak gampang mencari pekerjaan dengan riwayat pendidikannya yang hanya tamat SMA. Yang sudah sarjana saja banyak yang jadi pengangguran, apalagi dirinya.... Bisa bekerja di cafe Rina saja dia sudah bersyukur sekali. Dengan upahnya setiap bulan, dia bisa membantu mamanya untuk membiaya pendidikan kedua adik laki-lakinya. Dito adik yang pertama saat ini sedang menempuh pendidikan SMA kelas II dan Deni adiknya yang kedua saat ini sedang berada di tingkat akhir SMP. Dia harus bekerja keras dan menabung untuk mempersiapkan dana buat pendaftaran kedua adiknya ketika akan melanjutkan pendidikan di tingkat selanjutnya. Bagi Shinta, dirinya yang tidak memiliki kesempatan kuliah, dia ingin kalau kedua adiknya memiliki kesempatan itu, paling tidak itu sudah cukup menghibur dirinya.


"Tuh kan....melamun lagi...hei!!!" tepukan Rina pada pundak Shinta menggagetkan Rina.


"Iya deh....makasih ya.....kamu memang sahabatku yang sudah menjadi malaikat penolongku."


"Apaan sih...??ngak ngerti...aku....." tanya Rina bingung.


Ting....Ting...Ting....


Bunyi penanda yang terpasang pintu cafe menandakan ada tamu yang datang. Shinta dan Rina melihat bersamaan ke arah pintu. Mereka berdua sama-sama terkesima. Seolah-olah melihat malaikat turun dari surga. Dua pria berbadan tinggi dan tegap sedang berjalan masuk menuju salah satu kursi di sudut cafe. Soal wajah tidak usah ditanya lagi, dengan kulit wajah yang putih bersih tanpa ada bentolan-bentolan yang menghiasi wajah mereka aliasa jerawat, tentu saja wajah mereka termasuk dalam kategori ganteng. Kedua pria itu terlihat asyik di dalam obrolan mereka sedari tadi tanpa menyadari kedua gadis pemilik dan pelayan cafe sedang memperhatikan mereka.


"Kali ini, saya yang akan mencatat pesanan mereka." Dengan sigap, Rina langsung meraih nota pesanan dan berjalan ke arah mereka.


"Dasar Rina, giliran yang ganteng saja, cepat dia langsung tanggap..." celetuk Shinta sambil mengelap cangkir-cangkir basah dan menaruh pada tempatnya. Tetapi bukankah memang itulah tujuannya. Rina sengaja mencari lokasi strategis untuk membuka cafenya, bukan saja supaya bisnisnya bisa cepat berkembang, tetapi supaya juga bisa sering melihat yang bening-bening seperti yang barus barusan masuk. Cafe Rina yang terletak tidak jauh dari kampus ternama, memang sering menjadi salah satu tempat nonkrongnya mahasiswa-mahasiswa.


Bagi Shinta sendiri, melihat mahasiswa-mahasiswa yang datang bersantai di cafe temaptnya bekerja menjadi hiburan tersendiri bagi dirinya. Kadang-kadang dia membayangkan dia bisa juga menjalani rutinitas mahasiswa-mahasiswa tersebut. Alangkah senangnya.....