
Dua kakak adik itu memang jarang akur, setiap ketemu ada saja yang mereka pertengkarkan. Tetapi meskipun begitu, Evelin merupakan satu-satunya orang yang mendukung hubungan Thomas dengan Erika di saat hubungan keduanya itu ditentang keras oleh orang tuanya, terutama mama mereka. Menurut Evelin, sosok seperti Erika pantas untuk menjadi kakak iparnya. Selama ini pun, hubungan Evelin dan Erika sangat baik, tetapi tentu saja tanpa sepengetahuan mamanya. Evelin sendiri kurang tahu mengapa mamanya begitu menentang hubungan Thomas dan Erika.
"Velin............" teriak Thomas sekali lagi, kali ini suaranya lebih keras, membuat Evelin menjadi merinding.
"Matikan tidak, sekarang juga....atau akan kudobrak pintumu itu." sepertinya ancaman abangnya kali ini sepertinya tidak main-main, dengan cepat dia berlari menuju laptopnya yang tersambung dengan speaker itu, untuk mematikan musiknya. Dia belum mau tidur di kamar tanpa pintu nanti malam, pikirnya.
"Akhirnya dia mematikannya juga....."guman Thomas.
"Tuan.....Nona.....sarapan sudah siap, cepat turun, sudah ditunggu Tuan besar dan nyonya di bawah." terdengar panggilan dari Bi Asih sambil mengetuk kamar Thomas dan Evelin.
"Iyah....Bik..." sahut Thomas dan Evelin bersamaan. Evelin segera berjalan keluar untuk bergabung dengan kedua orang tuanya di bawah. Sedangkan Thomas segera berjalan ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dulu agar kelihatan lebih segar, barulah dia turun untuk bergabung dengan keluarganya di meja makan.
Saat Thomas berjalan menghampiri meja makan, Evelin sengaja menjulurkan lidahnya untuk menggoda abangnya itu. Tetapi kali ini, tidak diladeni oleh Thomas, karena ada papa dan mama di dekat mereka.
"Tumben, kamu bangun kesiangan, Thom?" tanya Ibu Hani, mama Thomas melihat wajah Thomas yang memang kelihatan baru bangun tidur, tidak biasanya putranya itu bangun siang.
"Tidak kenapa-napa, Ma? Hanya tadi malam agak susah tidur saja, jadi bangunnya jadi agak siang."
Kemudian, mereka mulai menikmati sarapan mereka masing-masing. Tidak banyak percakapan di tengah makan bersama keluarga tersebut. Pak Harry, papanya Thomas memang terbiasa bersikap dingin, tidak banyak bicara, sehingga jarang mengobrol santai dengan kedua anaknya itu.
"Ngomong-ngomong, gimana hubunganmu dengan Erika sekarang?" Thomas dan Evelin sama-sama membelalakkan matanya ketika mendengar pertanyaan mama mereka itu.
Tumben...tidak biasanya mama menanyakan hubungan abang dengan kak Erika. Biasanya bahkan menyebut nama kak Erika aja, sudah bikin mama marah. Mama salah minum obat apa semalam ya? guman Erika dalam hati.
Sementara, Thomas yang kaget mendengar pertanyaan mamanya yang tdak biasanya itu, membuat dia kebingungan sesaat mau menjawab apa.
"Hubungan kami sudah berakhir, kami sudah pisah, Ma." jawab Thomas singkat, papanya yang mendengarkan terlihat cuek seolah-olah tidak peduli dengan masalah percintaan putranya itu.
"Hah......Abang putus dengan kak Erika? Kenapa Bang?" sahut Erika kaget, karena memang akhir-akhir ini dia jarang berhubungan dengan Erika, jadi tidak tahu informasi terbaru mengenai hubungan asmara abangnya itu. Dia sedang disibukkan dengan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk.
"Hmmmm.....sayang sekali kalau gitu ya..." Kali ini Evelin semakin yakin kalau mamanya salah minum obat tadi malam. Bukankah selama ini mama yang selalu menentang abang Thomas menjalin hubungan dengan Kak Erika, kok sekarang disayangkan. Hmmmm....sepertinya ini perlu dicurigai deh.
"Mungkin itu yang terbaik buat kami." lanjut Thomas. Evelin sebenarnya tidak rela kalau hubungan abangnya dan Erika berakhir begitu saja. Kali ini dia memantapkan misinya, dia akan menyatukan kembali abang tersayangnya itu dengan Kak Erika.
"Aku sudah selesai, aku duluan ya....aku mau kembali ke kamar ya, Pa, Ma.."
"Hmmmmm..." guman papanya singkat.
Thomas pamit kembali ke kamarnya, karena memang dia belum mandi sejak dia bangun tadi. Jadi, dia bermaksud mandi dulu, dan bersiap-siap keluar. Hari ini libur akhir pekan, seperti waktu yang pas untuk mengajak gadis itu berjalan-jalan, sekaligus agar bisa mengenalnya lebih dekat pikirnya.
Selesai menyegarkan badannya setelah hampir setengah jam berada di kamar mandi, dengan handuk yang masih membungkus separuh badannya, dia menyambar handphonenya yang tersimpan di meja nakas, untuk mengirim pesan kepada Shinta.
Thomas menunggu, namun belum ada tanda centang biru pada pesan yang dikirimnya itu, barulah setelah kira-kira 10 menit dia menunggu, akhirnya ada balasan dari gadis itu.
Shinta : Selamat pagi juga
Thomas : Hari ini kerja?
Shinta : Tidak, kebetulan hari jadwal jatah liburku sehari.
Thomas : Kalau gitu, pas donk.....jalan-jalan yuk...
Shinta yang membaca pesan terakhir dari Thomas itu menjadi kegirangan. Akh....kok aku jadi kesenangan begitu, sadar....sadar Shinta, jangan terlalu cepat percaya dengan laki-laki itu dulu.....jangan mudah terbujuk rayuannya itu, kamu gak kan nanti ujung-ujungnya sakit hati seperti mama. Suara hati Shinta mengingatkan.
Thomas menunggu dengan penasaran, pesannya terbaca tetapi tidak dibalas oleh Shinta. Apa dia sibuk? Atau dia tidak mau? Thomas kemudian mengirim pesan lagi.
Thomas : kok tidak jawab???
Shinta : Memangnya mau ke mana?
Thomas : Pokoknya jalan-jalan aja keluar, mungkin kita bisa berjalan ke taman hiburan. Aku jemput ya.....
Ikh....belum juga aku jawab oke, udah mau jemput segala.
Meski masih agak ragu, akhirnya Shinta mengiyakan ajakan Thomas.
Shinta : Oke, aku bersiap-siap dulu.
Thomas : Aku nyampai di tempatmu, satu jam lagi ya.
Thomas segera bersiap diri, memakai baju casualnya beserta celana jeansnya. Tidak perlu waktu lama, dia sudah siap dan berjalan keluar dari kamarnya. Saat keluar dari kamar, dia berpapasan dengan Evelin, yang melihatnya dengan penuh curiga.
"Abang mau buru-buru begini." tanya Evelin sambil memandang abangnya itu dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas.
"Sudah jangan ikut campur urusanku, sibuk aja kamu ini, sana urusi dirimu sendiri."
"Hmmmmm.....sepertinya ada ya aneh nih." balas Evelin yang spontan mencubit area samping perut Thomas, lalu dengan cepat dia berlari masuk ke kamarnya untuk menghindari balasan dari Thomas.
Thomas bergegas menuju mobilnya dan kemudian mengendarai mobilnya ini segera menuju ke tempat Shinta. Entah kenapa, hari ini dia sangat bersemangat, untuk pergi bersama-sama dengan gadis itu. Sudah lama dia tidak merasakan semangat seperti ini, sejak dia mengakhiri hubungannya dengan Erika beberapa waktu yang lalu. Dan kini gadis itu seolah memberi warna baru dalam hidupnya. Tidak sabar rasanya dia ingin cepat bertemu dengan Shinta dan menghabiskan waktu seharian ini bersamanya.
Akhirnya setelah hampir 1 ja, sampailah mobil Thomas pas di depan kost Shinta. Kebetulan Shinta sudah menunggu di depan, jadi dia tidak perlu turun dari mobil, Shinta pun langsung masuk ke dalam mobilnya. Mereka pun segera meluncur ke taman hiburan.