
Pria yang berdiri depan pintu sama kagetnya dengan Shinta. Namun, gadis itu tidak peduli, dengan cepat dia menerobos, kemudian segera berlari menuju ke arah lift untuk pergi dari tempat itu.
Hansen yang masuk bingung masuk ke dalam kamar hotel tersebut dan melihat temannya sedang berbaring santai di ranjang hotel. Dia duduk di sofa, dan terlihat masih bingung sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi di antara sahabatnya itu dengan gadis tadi barusan.
"Gila bro, tidak kusangka kamu bertindak begitu jauh. Bukan itu gadis pelayan cafe yang kita daangi kemarin?" tanya Hansen penasaran menuntut penjelasan.
"Hei, jangan berpikir sembarangan, tidak terjadi apa-apa di antara kami. Lagipula, kenapa tiba-tiba kamu bisa nongol di sini juga?" Thomas balik bertanya.
" Hapemu semalaman tidak bisa dihubungi, mamamu kuatir karena kamu tidak pulang tadi malam. Beliau meneleponku untuk mencari tahu keberadaanmu. Dan seperti biasa, tebakanku selalu benat. Jika kamu tidak pulang ke rumah, pasti dirimu berakhir di tempat ini." ujar Hansen menjelaskan kedatangannya.
" Tetapi aku benar-benar penasaran, bagaimana bisa gadis itu juga berada di kamarmu semalaman? Apa yang telah kamu lakukan? atau jangan-jangan kalian telah...?" sederetan pertanyaan keluar dari mulut Hansen seperti kereta api lengkap dengan gerbong-gerbongnya, sambil mengetukkan jari telunjuknya ke sisi kiri dahinya, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
" Sudah kukatakan tadi, jangan berpikir macam-macam, atau mau kuplester mulutmu itu." ancam Thomas sambil melemparkan bantal ke arah Hansen yang dengan sigap menangkap bantal tersebut, sehingga Hansen aman terhindar dari timpukan bantal.
" Ayo, kamu cepat bersiap, sebentar lagi kita akan bertemu dengan klien besar yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita. Itulah tujuannya aku datang untuk menjemputmu. Kamu lupa ya kita punya janji hari ini." lanjut Hansen mendadak dia ingat tujuan utama dia datang ke hotel untuk nyamperin temannya itu. Orang tua Hansen yang juga termasuk jajaran orang kaya sebenarnya juga memiliki perusahaan yang siap diwariskan kepada putranya itu. Tetapi entah kenapa, Hansen lebih senang bekerja sama dengan Thomas di perusahaan yang dipimpin Thomas ketimbang dia memimpin perusahaannya sendiri. Mungkin dia belum siap mengemban tanggung jawab besar sebagai pemimpin perusahaan.
Kebetulan Hansen juga sudah membawakan pakaian ganti untuk Thomas, sehingga Thomas bisa langsung bersiap-siap di kamar hotel langsung tanpa harus pulang ke rumahnya.
Sambil menunggu Thomas mempersiapkan diri, Hansen mengira-ngira sendiri apa yang terjadi di antara sahabatnya dengan gadis pelayan cafe itu. Tunggu dulu, siapa namanya...yah..Shinta namanya. Thomas pasti telah jatuh cinta kepada gadis itu. Berarti dia sudah mulai bisa melupakan Erika. Baguslah jika memang demikian, mereka layak bahagia dengan pilihan mereka masing-masing. Pikir Hansen.
Sebenarnya dari sudut pandang Hansen sendiri, dia sangat menyayangkan berakhirnya hubungan Hansen dan Erika. Dulu pada masa kuliah, mereka bertiga merupakan teman baik. Hansen sendiri sempat jatuh hati kepada Erika, karena gadis itu memang cantik dan enak dijadikan sebagai teman ngobrol. Tetapi ketika dia menyadarkan bahwa rupanya sahabatnya juga mencintai gadis pujiannya itu, ditambah Erika juga lebih memilih Thomas daripada dirinya, maka dengan jantan Hansen mundur secara teratur, supaya tidak merusak hubungan persahabatan dengan sahabatnya itu.
Tidak lama kemudan, Thomas keluar dari kamar mandi. Dirinya sudah rapi dan sekilas dia melirik jam tangannya.
" Masih ada waktu, kita sarapan dulu di resto hotel sebelum pergi menemui klien kita hari ini." ujar Thomas sambil berjalan menuju pintu kamar tanpa menghiraukan Hansen yang masih terduduk melamun. Dengan sigap, Hansen mengikuti dari belakang, mereka bersama berjalan menuju resto hotel untuk sarapan mengisi amunisi hari ini sebelum menemui klien mereka.
Sesampai di resto cafe, mereka berdua segera menuju stand makanan sesuai selera masing-masing, mengambil makanan secukupnya, lalu mencari meja yang masih kosong untuk menikmati sarapan mereka.
"By the way, bagaimana ceritamu dengan si gadis pelayan cafe itu? Tunggu siapa namanya kemarin? Ya...Shinta yah? Bagaimana ceritanya kalian bisa sekamar di hotel ini tadi malam?" tanya Hansen penasaran masih mencoba mengorek informasi.
" Atau jangan-jangan kau sudah jatuh jatuh cinta dengan si cantik itu? Cepat juga ya kau move on dari Erika?" lanjut Hansen, masih tidak digubris oleh Thomas yang masih sibuk dengan sarapannya.
" Hubungan kami masih berjalan dengan sangat baik, tidak ada masalah meski kami harus menjalani hubungan jarak jauh. Lagipula dia akan kembali bulan deoan untuk liburan. Aku tidak sabar lagi menunggunya hiks.." Hansen menjelaskan.
Sebanarnya Thomas, Hansen dan Erika adalah teman baik saat mereka kuliah di universitas yang sama dulu. Hansen pun menaruh hati pada Erika, namun ketika mengetahui Thomas juga memiliki perasaan yang sama terhadap Erika, ditambah lagi akhirnya dia tahu bahwa Erika lebih memilih Thomas ketimbang dirinya. Jadi, akhirnya Hansen dengan rela hati memilih mundur dari cinta segitiga ini supaya tidak sampai merusak persahabatannya dengan Thomas. Syukur, akhirnya Hansen bertemu dengan Renata yang kemudian membuat dia jatuh cinta. Dia sudah menjalin hubungan dengan Renata setahun belakang ini. Namun, beberapa bulan yang lalu, karena urusan pekerjaan kantor Renata yang mengirim dia untuk mengurusi bisnis di kantor cabang di luar negeri, membuat mereka harus rela menjalani hubungan jarak jauh ini.
Selesai sarapan, mereka segera meluncur ke perusahaan Artha Jaya Group yang sebelumnya mereka sudah janji temu untuk mengajukan proposal kerja sama mereka dengan perusahaan tersebut. Setibanya di ruang pertemuan, mereka melihat beberapa orang sudah duduk pada tempatnya masing-masing sambil berdisksu.
"Selamat siang, perkenalkan kami dari Sandiago Group, sudah membuat janji temu untuk presentasi penawaran kerja sama dengan Bapak Artha Wijaya, pemiliki perusahaan ini." salam Hansen sambil berjalan memasuki ruang pertemuan.
Seketika itu, semua orang yang ada di dalam ruang itu memandang ke arah suara yang menyapa, temasuk seorang pria berkharisma yang sedang duduk di kursi pemimpi saat itu. Sejenak, pria tersebut mengernyitkan dahinya terkejut melihat kedua tamunya yang masuk ke ruangannya saat itu. Namun, segera kemudian pria itu memasang wajah ramah dan mempersilakan tamunya duduk.
"Oh, Anda berdua dari Sandiago Group, silakan duduk....Kami sudah menunggu siap untuk mendengarkan presentasi kerja sama dari perusahaan Anda." sambut pria itu sembari mempersilakan kedua tamunya untuk duduk.
"Perkenalkan saya Artha Wijaya pemilik perusahaan ini. Baiklah, Anda sudah bisa memulai presentasi Anda sekarang saat ini." lanjut Artha memberikan kesempatan kepada Thomas untuk memulai presentasinya.
Maka, tidak perlu menunggu lama, Thomas mempresentasikan profil perusahaan dan menjelaskan berbagai keuntungan yang bisa didapatkan jika kedua perusahaan besar ini dapat menjalin kerja sama yang baik. Namun, tanpa disadari, Artha memandang sinis terhadap pria yang sedang presentasi tersebut. Presentasi Thomas bisa dikatakan cukup sukses dan meyakinkan orang-orang yang hadir saat itu, namun semua keputusan kembali kepada pemegang kepemimpinan yaitu Tuan Artha Wiaya sebagai presdir sekaligus pemilik perusahaan tersebut.
"Luar biasa....saya pikir kita akan sama-sama mendapatkan keuntungan jika kedua perusahaan kita dapat bekerja sama Tuan Thomas. Namun, sebelum saya memutuskan, saya akan diskusikan dalam forum rapat dewan direksi pemegang saham kami Tuan. Jadi, untuk keputusan finalnya akan saya kabari nanti." kata Artha menanggapi sesaat setelah Thomas menyudahi presentasi.
"Baiklah, Tuan Artha. Kami berharap perusahaan kita dapat menjalin kerja sama. Kami tunggu kabar baik dari Anda." jawab Thomas.
"Kalau begitu, kami pamit dulu Tuan Artha. Semoga kita dapat merealisasikan kerja sama kita." lanjut Thomas memohon undur diri setelah dirasanya tidka ada basa-basi lagi yang perlu disampaikan.
"Oke, Tuan Thomas dan Tuan Hansen. Senang bertemu dengan Anda." balas Artha.
Sesaat setelah Thomas dan Hansen meninggalkan ruangan, Artha pun menyudahi pertemuannya hari itu dengan bawahannya. Setelah semuanya meninggalkan ruangan itu, seketika itu mimik muka Artha berubah menjadi penuh kekesalan.
Bersambung.....