The True Love For Shinta

The True Love For Shinta
Menghabiskan waktu bersama


Setibanya di taman hiburan, Thomas mengajak Shinta mengitari tempat tersebut sambil melihat-lihat dan memilih atraksi apa yang akan mereka mainkan. Saat ini mereka sedang mengantri untuk menaiki bianglala, setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliran mereka untuk bisa masuk ke dalam bianglala tersebut. Betapa senangnya Shinta, ketika bianglala itu mulai berputar dan membawa mereka pada posisi pada tinggi.


"Kamu senang?" tanya Thomas yang segera dijawab Shinta dengan anggukan kepalanya. Tiba-tiba saja bianglala yang mereka naiki itu bergoyang cukup kuat sehingga membuat tubuh Shinta terdorong ke depan, spontan Thomas yang duduk di depannya menyambutnya sehingga Shinta mendarat sempurna dalam pelukan pria tampan di depannya itu. Mereka beradu pandang.


Cup...


Tanpa sadar Thomas mengecup kening membuat Shinta kaget dan langsung kembali pada posisi duduknya semula. Gadis itu menjadi tersipu malu.


Setelah selesai dan turun dari bianglala, mereka ingin coba menaiki roal coaster yang seperti cukup menantang adrenalin. Sebenarnya Thomas agak enggan untuk menaiki atraksi tersebut, karena dirinya termasuk orang yang takut pada ketinggian, tetapi kaena melihat Shinta begitu menginginkannya, akhirnya dia pun ikut. Saat roal coaster tersebut mulai meluncur di ketinggian, membuat Shinta berteriak lepas seolah melepaskan semua beban masalahnya selama ini. Sedangkan Thomas, wajahnya sudah pucat, bahkan sedari tadi dia sama sekali tidak berani membuka matanya. Dia begitu tersiksa menaiki atraksi tersebut, namun tidak disadari oleh gadis yang duduk di sampingnya itu


Akhirnya penyiksaan itu berakhir dan ketika mereka turun...


Euekkk....euekkkk


Seketika itu, Thomas memuntahkan semua isi perutnya termasuk sarapan yang dia makan tadi pagi. Untung saja, dia sudah duluan tiba di sebuah tong sampah untuk memuntahkan semua isi perutnya itu. Dirinya benar-benar mual setelah menaiki roal coaster. Shinta tersenyum melihat pria gagah tersebut menjadi tak berdaya gara-gara roal coaster sambil mengurut-urut leher Thomas, untuk coba membantu memberikan sedikit kelegaan kepada laki-laki itu.


"Udah akh....aku angkat tangan....aku tidak mau main lagi." ujar Thomas lemas sambil mengangkat tangannya sebagai tanda dia benar-benar menyerah.


"Yah, payah....padahal masih banyak atraksi yang belum kita coba." keluh Shinta, namun dirinya juga kasihan dengan keadaan Thomas saat ini.


"Kita makan aja yuk....aku lapar nih, gara-gara semua makanan yang kumakan tadi pagi, habis kumuntahkan tadi." ujar Thomas sambil memegang perutnya, sepertinya dia benar-benar kelaparan saat ini.


Kryukkkk...kryukkkkk


Bunyi perut Shinta juga berbunyi.


"Tuh kan, kamu lapar juga kan?" Tentu saja Shinta juga lapar, saking semangatnya karena diajak Thomas, dia lupa sarapan sebelum pergi tadi.


Mereka pun pergi menuju area foodcourt yang terletak di taman hiburan tersebut. Setelah memilih menu kesukaan masing-masing, mereka memilih untuk duduk di salah satu meja yang masing kosong sambil menunggu pesanan makan mereka datang.


"Kelihatannya kamu senang sekali." ujar Thomas membuka pembicaraan.


"Tentu saja, sudah lama aku ingin merasakan semua atraksi ini, yang menantang adrenalin tersebut, baru sekarang kesampaian." balas Shinta. Thomas tidak menyangka kalau gadis di depannya ini memiliki keberanian yang melebihi dirinya. Dia jadi malu sendiri mengingat tadi dia sempat muntah di depan Shinta.


"Kalau begitu, kita sering-sering ke sini bersama ya."


"Akh, yang benar? bukankah situ sudah terkapar tak berdaya, baru juga naik roal coaster haha...." canda Shinta yang terdengar seperti sindirian halus di telinga Thomas.


"Kita naik yang lain aja, pokoknya jangan lagi yang itu....aku kapok deh." Shinta tertawa kecil mendengarnya.


"Aku senang menghabiskan waktu seharian ini bersamamu." lanjut Thomas.


"Aku juga senang." balas Shinta singkat


Belum sempat menjawab, tiba-tiba Hansen sudah muncul di depan mereka.


plok....plok....plok....


"Rupanya ada yang main rahasia-rahasiaan ini dengan sahabat sendiri?" canda Hansen sambil bertepuk tangan menyindir temannya itu, membuat Shinta semakin merasa malu. Dengan cepat, dia menarik tangannya dari genggaman Thomas.


"Akh...gadis cantik, gak usah malu-malu begitu kok...maklumin aja, temanku ini memang kadang kelewat agresif." lanjut Hansen.


"Ih....ngapain sih kamu di sini, ganggu aja atu jangan-jangan kamu ingikutin kami ya?." ketus Thomas merasa kesal karena momen pentingnya dirusak oleh kedatangan Hansen yang tiba-tiba saja sudah nongol di depan mereka.


"Tenang dulu dong kawan, mana mungkin diriku kurang kerjaan sampai-sampai ngekorin kalian pacaran begini." goda Hansen.


"Jangan salah paham,, kami tidak....."ujar Shinta bermaksud membenarkan kesalahpahaman ini namun sudah keburu dipotong oleh Thomas.


"Makanya kalau udah tahu orang pacaran, pergi jauh sana....jangan gangguin kami di sini." ujar Thomas terlihat tidak senang.


"Waduh, ada yang marah nih....sabar donk, nanti gadis cantik di depanmu ini bisa lari, takut dengan orang galak kayak kamu ini." Hansen malah semakin semangat menggoda sahabatnya itu yang jelas-jelas sudah terlihat tidak senang.


"Aku kebetulan hari ini harus menemani ponakanku, anak kak Risa, tuh dua bocah di sana....." sambil menunjuk ke arah dua bocah yang sedang ditemani oleh satu babysitter. Risa adalah kakaknya Hansen, kebetulan hari ini karena dia ada urusan dengan suaminya pergi ke luar kota, mau tidak mau kedua keponakan Hansen ini dititipkan di rumah orang tuanya. Alhasih, akhirnya Hansen yang ditodong mamanya supaya membawa kedua ponakannya itu ke taman hiburan agar tidak membuat keributan di rumah.


"Sudah akh, aku tidak mau mengganggu kalian. Selamat pacaran ya...." lanjut Hansen sambil nyelonong pergi. Harusnya dari tadi kek, batin Thomas.


"Maafkan kelakuan temanku tadi ya, dia memang agak-agak....."ujar Thomas sambil membuat tanda miring dengan telunjuknya di depan dahinya membuat Shinta langsung tertawa.


"Hahahah....gak segitunya kali, masa teman sendiri, dikatakan gila...."


"Habis dia memang suka rada-rada aneh dan ngesalin sih....."


"Tetapi, tadi kok, kamu malah mengiyakan bahwa kita pacaran?" tanya Shinta mengerucutkan bibirnya menunjukkan muka cemberutnya


"Oh soal tadi, maaf membuatmu tidak nyaman....tetapi tidak apa-apa kan, kan memang dulu sesuai perintahmu, kamunya harus jadi pacar pura-puraku, tetapi kalau sekarang mau jadi pacar benaran juga boleh." ucap Thomas spontan membuat Shinta menjadi salah tingkah.


"Maksud kamu?"


"Jujur, aku nyaman jalan bersama kamu....mau gak kalau kita coba jalani hubungan yang lebih dekat lagi. Tahu gak, beberapa hari ini, yang terlintas di pikiranku hanya kamu aja." gombal Thomas.


"Ikh...bisa aja kamu, gombal begitu. Aku juga merasa nyaman jalan sama kau, tetapi soal itu, beri waktu buat aku memikirkannya ya." jawab Shinta berpura-pura jual mahal, padahal dirinya sudah kegirangan mendengar penyataan cinta Thomas begitu. Maklum, dia baru mengalami pertama kali, inikah rasanya jatuh cinta? Sepertinya dirinya memang harus belajar untuk membuka diri pada pria untuk menyembuhkan trauma kekecewaanya pada ayahnya dulu.


"Sudah sore nih, kita pulang yuk!" ajak Shinta yang langsung diikuti dengan anggukan kepala Thomas.


Hari ini, kedua insan ini begitu senang. Sebenarnya, entah sejak kapan rasa itu sudah mulai tumbuh dalam hati mereka masing-masing. Hanya waktu yang akan menjawab, apakah hubungan mereka akan berlanjut ke rah yang lebih serius atau tetap sebatas teman seperti ini.