
Sementara itu, dengan cekatan Rina segera mendatangi kedua pria ganteng yang memilih duduk di sudut cafe. Sepertinya mereka masih asyik mengobrol sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Rina yang sudah berdiri di samping mereka untuk menanyakan pesanan mereka.
"Mau pesan apa, mas-mas ganteng?" tanya Rina dengan sopan tetapi dengan sedikit panggilan godaan.
"Bisa dilihat daftar menunya mbak?" tanya balik salah satu di antaranya.
Dengan segera, Rina menyerahkan daftar menu yang sedang dipegangnya. Ya ampun, kok aku bisa sampai lupa menyerahkan daftar menu ini....ya tentu saja mereka tidak tahu mau memesan apa, sepertinya mreka baru pertama kali mengunjungi cafe ini, jadi mana mungkin mereka tahu menu makanan dan minuman yang tersedia di cafe miliknya ini. Pikir Rina dalam hati.
Setelah memandangi cukup lama daftar menu yang diberikan Rina.
"Kamu pesan apa, Thom?" tanya salah satu pria tersebut kepada teman yang duduk di depannya.
"Kopi capucino saja plus roti bakar coklat." jawab pria tersebut.
"Kalau saya, lemon tea hangat dengan pisang bakar keju ya mbak!" lanjut teman si Thom yang juga tidak kalah gantengnya.
"Mbak...mbak...hei mbak...!!" panggilan teman si Thom membuyarkan lamunan Rina. Rupanya sedari tadi Rina melamun sambil menunggu pesanan dari kedua pria ganteng tersebut, dalam hatinya dia menebak nama panjang si pria yang dipanggil Thom tadi, apakah nama Tommy, Thomas, Thompson, entahlah....yang pastinya namanya pasti sebagus dengan wajahnya yang ganteng dan perawakannya yang menarik. Pikir Rina dalam hati sambil senyam-senyum sendiri.
"Maaf mas....bisa diulangi pesanannya tadi mas?" tanya si Rina
"Ya ampun....si mbaknya melamun tokh dari tadi...hati-hati lho mbak, kata nenek saya, gadis cantik yang suka melamun ntar susah lho ketemu jodohnya.. hahaha."
What.....????mitos dari mana pula, belum pernah Rina mendengar mitos seperti itu. Tetapi hatinya berbunga-bunga karena ada sisipan kata "gadis cantik" yang tentu saja ditujukan untuk dirinya. Jadi tersipu malu sendiri dia.
"Kami pesan satu capucino, satu lemon tea hangat, ditemani roti bakar coklat dan pisang goreng keju. Masing-masing satu porsi ya mbak. Ingat ya...jangan pakai lama ya mbak.." si temannya Thom mengulangi pesnaannya tadi sambil dicatat oleh Rina
"Segera pesanan disiapkan ya. Mohon ditunggu sebentar, ya mas-mas ganteng." Rina segera beranjak dari situ, sambil tersipu malu karena dirinya dipuji gadis cantik tadi.
"Segera disiapkan pesanannya ya...Shin." ujar Rina sambil menyerahkan catatan pesanannya kepada Shinta yang masih sibuk merapikan cangkir, gelas, sendok pada tempatnya.
"Siap.....bos." Shinta segera membaca kertas pesanan yang diserahkan Rina dan menuju dapur cafe untuk menyiapkannya. Sebenarnya selain Shinta yang bekerja sebagai salah satu karyawan di cafe Rina tersebut, Rina masih memiliki 2 karyawan lain yang membantunya. Namun, kebetulan hari ini salah satu karyawannya yang biasa bertugas menyiapkan pesanan tamu sedang tidak masuk, sedangkan satunya lagi sedang sibuk melayani pengunjung lain yang baru masuk tadi, maka Shinta dengan sigap menggantikan tugas rekan kerjanya menyiapkan pesanan pengunjung meskipun biasanya tugas Shinta memang di bagian depan bukan di bagian belakang menyiapkan makanan dan minuman, tetapi itu tidak masalah buat Shinta. Dia selalu melakukan semuanya tugasnya dengan senang hati.
Tidak lama kemudian..
"Pesanannya siap....apakah kamu mau
mengantarkannya Rin?" Shinta berjalan keluar dari dapur cafe sambil membawa pesanan yang telah jadi, namun pertanyaannya tidak dijawab oleh Rina karena rupanya Rina sedang sibuk menerima panggilan telepon.
"Baiklah.....aku saja yang mengantarkannya ya..." ujar Shinta yang segera ditanggapi dengan tanda oke dari jari Rina yang masih melanjutkan panggilan telepon dari seberang.
"Silakan dinikmati pesanannya, Tuan!" sapa Shinta dengan ramah yang membuyarkan perhatian kedua pria ganteng yang tidak lagi mengobrol, namun lagi sibuk dengan hape mereka masing-masing. Salah satu di antaranya langsung dengan sigap menerima makanan dan minuman yang diantarkan oleh Rina, sambil berkata, " Sepertinya boleh nih, cafe ini menjadi daftar tempat santai kita nih Thom....pelayan-pelayannya cantik-cantik semua." uar salah satu pria tersebut kepada temannya yang masih sibuk berkutat dengan hapenya tanpa sekalipun memalingkan wajahnya sekedar untuk melihat apa yang dibicarakan oleh temannya.
"Maaf mbak....boleh kita berkenalan?" tanya si pria yang sok ramah kepada Shinta, dengan segera menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Saya Hansen dan ini teman saya namanya Thomas." lanjutnya si pria yang mengatakan namanya Hansen. Mendengarkan namanya juga ikut disebut, Thomas segera memalingkan wajahnya untuk sekedar melihat dengan siapa Hansen berkenalan.
"Saya Shinta....." jawab Shinta singkat, apa boleh buat, sebisa mungkin dia harus bersikap ramah kepada setiap pengunjung yang datang di cafe tersebut, meskipun kadang-kadang dia merasa risih ada saja pengunjung yang pada umumnya mengajaknya berkenalan, meminta nomor telepon. Entahlah....tidak bisa dipungkiri, wajah Shinta memang cantik, meskipun dia jarang memoleskan bedak dan segala macam alat tempur wanita pada umumnya, tetapi itu tidak mengurangi kecantikan yang terpancar di wajahnya. Justru wajahnya yang polos menjadikan nilai tambah bagi kaum hawa yang kadang-kadang suka mencuri pandang kepada dirinya.
"Oke, saya tinggal ya Tuan....selamat menikmati." segera Shinta mengakhiri obrolan dan beranjak pergi dari situ supaya dirinya selamat untuk menghadapi pertanyaan lanjutan Hansen, yang ujung-ujungnya meminta nomor teleponnya. Bukannya Shinta sombong, tetapi untuk saat ini Shinta benar-benar tidak berani untuk menjalin hubungan dengan pria manapun. Kekecewaan pada dirinya terhadap seorang pria yang seharusnya menjadi sosok yang patut dia kagumi, membuat dirinya menjadi trauma, dia tidak mau jika akhirnya dia harus merasakan sakit hati seperti yang dialami oleh mamanya. Akhirnya bayangan traumatis tersebut menganggu pikirannya lagi.
Flashback on :
"Mama....kenapa mama menangis?" tanya Shinta yang kaget ketika mendapati mamanya sedang menangis saat dia baru saja sampai ke rumah, pulang dari sekolah.
"Mama kenapa, apakah papa menyakiti mama lagi? Apa yang papa lakukan terhadap mama? di mana papa sekarang?" serentetan pertanyaan Shinta yang menuntut pertanyaan dari mamanya. Namun, mamanya tidak menjawab dan terus saja menangis.
"Mama....sudahlah, jangan menangis lagi....!" ujar Shinta yang juga mulai terisak, ikut menangis bersama mamanya.
"Sudah nak, mama tidak apa-apa, mulai sekarang kita harus kuat ya, mama akan berjuang untuk kalian. Papa sudah meninggalkan kita.....hiks....hiks..." jawab mama Shinta yang sudah berusaha kuat untuk berhenti menangis agar bisa menceritakan masalahnya kepada Shinta, tetapi baru setengah cerita, mama tidak kuat dan akhirnya menangis kembali.
"Apa ma???maksud mama apa???" Dengan segera, Shinta berlari ke kamar mamanya dan membuka lemari pakaian orang tuanya, dan benar apa yang dia duga, semua pakaian papanya sudah tidak ada lagi pada tempatnya. Rupanya, papa Shinta benar-benar melakukan ucapannya tadi pagi, bukan sekedar ancaman.
" Papa ke mana, Ma?jawab Ma...." Shinta berlari memeluk mama dan masih bingung dengan semua yang terjadi
"Papamu memilih hidup dengan perempuan itu....katanya dia sudah mencintai mama lagi. Ketika mama meminta papamu memilih antara mama dan perempuan ular tersebut, papamu memilih perempuan itu Nak...Dan mulai sekarang papa juga sudah tidak peduli dengan mama dan kalian Nak...hiks...." tangisan mama semakin kuat.
"Ma...." Entah apa lagi yang bisa diucapkan Shinta untuk menghibur mamanya, dia sendiri sudah merasa sangatgeram dengan perbuatan papanya yang begitu tega menyakiti hati mamanya, perempuan yang telah mendampingi dan melahirkan tiga anak baginya. Segampang itu, papa meninggalkan keluarga ini demi perempuan lain.
"Aku tidak akan memaafkan pria brengsek itu sampai kapan pun..." ujar Shinta penuh dendam.
"Sudah Nak, jangan berkata seperti itu.... Biar bagaimanapun, dia tetap papamu Nak, cukup saja hati mama yang sakit Nak, hatimu jangan ikutan dipenuhi kebencian terhadap papamu sehingga hatimu juga menjadi sakit."
"Tidak bisa Ma....papa sudah sangat tega terhadap mama dan kita!" jawab Shinta dan akhirnya mereka cuma bisa menangis tak berdaya.
Flashback off
"Hei....melamun lagi ya.." teriakan Rina menggagetkan Shinta kembali.
"Ya ampun Shin, sudah berapa kali kukatakan kepada dirimu, jangan keseringan melamun. Kata mas-mas ganteng yang di sana tuh..." tangan Rina sambil menunjuk ke arah dua pria ganteng di sana yang sedang asyik menikmati santapannya sambil sesekali mengobrol. " Gadis cantik yang suka melamun, ntar susah ketemu jodoh lho...." tawa Rina membuyarkan lamunan Shinta.
"Apaan sih.....??? apa hubungannya coba melamun dengan jodoh?" tanya Shinta.
"Ntah...." jawab Rina cepat sambil menaikkan pundaknya sebagai tanda diapun tidak tahu.
Shinta pun melanjutkan pekerjaannnya yang tertunda tadi, merapikan semua gelas, cangkir dan sendok yang masih berantakan. Sementara kedua pria ganteng tersebut sudah terlihat beranjak akan meninggalkan cafe, salah satunya segera menghampiri meja kasir dan menanyakan bill kepada Rina.
Rina segera menyerahkan bill kepada pria tersebut dan segera ditanggapi oleh pria tersebut dengan membayar sesuai tagihan yang tertera pada bill tersebut.
"Sering-sering main ke sini ya, mas-mas ganteng." sapa Rina tak lupa mengingatkan kembali. Sapaan Rina segera ditanggapi oleh Hansen. "Tentu saja, mbak cantik."
Hansen dan Thomas pun meninggalkan cafe tersebut sambil diamati oleh Rina. Mereka memasuki mobil sport yang terparkir tidak jauh dari cafe Rina.
Bersambung...