The True Love For Shinta

The True Love For Shinta
Sebuah insiden kecil


Message Rina bawel :


Shin, kutitip cafe kepadamu ya....Hari ini aku harus membantu persiapan sepupuku yang akan menikah, mama memaksa.


Sepenggal pesan singkat dari Rina mengawali pagi Shinta ketika dia baru sampai ke cafe. Hari ini, Shinta bertanggung jawab penuh atas cafe temannya ini. Hal ini sudah biasa bagi Shinta, setiap kali Rina berhalangan datang ke cafe, maka dia akan siap menghandle cafe dengan baik. Sementara kedua rekan kerjanya yang lain sibuk membereskan peralatan di dapur belakang, Shinta merapikan area depan. lalu menuju meja kasir untuk mengecek pembukuan. Setelah rutinitas pagi selesai, kebetulan belum ada pengunjung yang datang, maka Shinta mengeluarkan salah satu buku yang dibawanya dan melanjutkan membaca buku itu.


Shinta selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca buku. Meskipun dia tidak memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, tetapi wawasan dan pengetahuan Shinta tidak kalah dengan anak kuliahan. Karena itu, selain cantik Shinta juga termasuk gadis yang cerdas. Sedang asyik membaca, tiba-tiba bel penanda pintu dibuka berbunyi.


Ting...Ting...Ting...Ting


Dia segera mengarahkan pandangan ke arah pintu, kedua orang yang masuk ke cafe terlihat tidak asing baginya. Tentu saja, dia masih ingat. Itu kan kedua pria ganteng menurut pandangan Rina sahabatnya itu. Tidak bisa dipungkiri, mereka memang termasuk dalam kategori pria yang memiliki kadar ketampanan yang cukup untuk membuat kaum hawa terpesona sih. Kedua pria tersebut segera berjalan menuju kursi yang terletak di pjok cafe.


Shinta segera menyambar buku daftar menu dan berjalan menuju ke arah mereka.


"Selamat datang.....silakan dipesan, Tuan." sapa Shinta dengan sopan sambil menyerahkan buku daftar menu kepada kedua pria tersebut.


Tanpa melihat buku daftar menu yang diberikan Shinta, salah satu di antaranya, kalau tidak salah Shinta ingat, pria cuek yang bernama Thomas itu berkata:


"Pesanan seperti yang lalu!"


What.....? maksudnya??? emank wajib pelayan cafe harus menghafal semua pesanan para pengunjung di cafe ini, bisa mumet kepala ini untuk mengingat semuanya ini. Apalagi ini adalah pengunjung yang datang minggu lalu, siapa coba yang kurang kerjaan harus mengingat pesanan pengunjung model begini.


"Tapi....Tuan...." Belum selesai Shinta berbicara, omongannya sudah dipotong.


"Tidak ada tapi-tapi.....masa sih, cafe sebagus ini tidak memiliki arsip pengunjung yang baik, manajemennya gimana sih...?" sindir Thomas dengan ketus.


"Segera siapkan sana pesanan kami!"


Rasa masih ingin membalas, tetapi Shinta memilih untuk mengalah saja. Dia segera menuju ke meja kasir, tentu saja dia tidak kehilangan ide. Dia segera teringat dengan tumpukan nota pesanan yang tertusuk rapi di samping komputer. Yah.....setiap nota pesanan pengunjung tetap diarsipkan bulan itu biasanya memang dikumpulkan di situ, untuk memudahkan pengecekan keuangan cafe sebulan itu, sebelum dibuang. Dengan cekatan, dia segera membuka beberapa lembar nota pesanan tersebut, mencari tanggal dan nomor kursi yang sesuai. Tidak perlu waktu lama, tara.......dia menemukannya. Sepertinya dia harus berterima kasih kepada Rina, karena pas sekali pada lembaran tersebut, Rina menuliskan kata "mas ganteng" di pojok nota tersebut. Oh...Rina, kamu telah menyelamatkanku.


Sementara itu, di pojok cafe sana, Hansen tertawa cekikikan melihat tingkah temannya yang mengerjai Shinta. Kedua sahabat itu memang memiliki sifat yang berbeda. Hansen adalah orang yang ramah, suka bercanda, suka tebar pesona, jarang serius, tetapi jika waktunya serius, dia juga bisa menjadi orang yang sangat serius. Sedangkan Thomas, sedikit kebalikan dari Hansen, orangnya cuek, dingin, serius, tidak mudah bersikap ramah apalagi terhadap orang yang baru dikenal, tetapi jika suka mengenal seseorang dengan baik, maka dia juga bisa menjadi teman mengobrol yang baik. Mereka berdua sudah berteman dengan baik sejak mereka masih sekolah SD, kebetulan kedua orang tua mereka juga merupakan kawan baik, perusahaan orang tua keduanya juga merupakan mitra kerja, jadi tidak heran jika melihat persahabatan mereka bisa seerat ini.


Shinta segera memberikan catatan pesanan tersebut kepada Sani, rekan kerjanya di belakang, untuk menyiapkan pesanan tersebut. Sambil menunggu, Shinta mencuri pandang melihat ke arah dua pria tersebut, yang cukup menjengkelkannya pagi ini, dilihat dari perawakannya sepertinya mereka bukan mahasiswa lagi. Mungkin mereka sudah lulus kuliah. Pikir Shinta sambil melihat mereka.


Tidak perlu waktu yang lama, pesanan pun siap dan Shinta segera mengantarkan kepada pengunjung pertamanya itu. Saat berjalan mendekati arah meja Hansen dan Thomas, entah apa yang salah dengan kaki Shinta, bisa-bisanya dia tersandung dan hampir terjatuh jika tidak segera disambut oleh Hansen. Akhirnya, makanan dan minuman yang dibawa Shinta tertumpah ke meja pengunjung itu. Cipratan kopi mengenai kemeja putih Thomas yang berwarna putih itu, spontan Thomas berdiri dan memandang geram ke arah Shinta.


"Hei....bisa kerja gak sih....lihat apa yang telah kamu lakukan?" tegur Thomas dengan penuh amarah.


"Akan.....akan apa??? aku akan memviralkan layanan cafe yang buruk ini.Lihat saja.....aku akan membuat cafe ini kehilangan semua pelanggannya!" lanjut Thomas dengan geram.


"Sabar....sabar....Thom, tidak perlu sampai seperti itu." sahut Hansen bermaksud menengahi karena melihat situasi yang semakin panas.


"Tolong Tuan, jangan lakukan itu....saya akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahan saya barusan, tapi tolong jangan hancurkan cafe ini." pinta Shinta yang hampir menangis mendengar ancaman Thomas. Dia akan merasa bersalah sekali dengan Rina, kalau-kalau cafe ini harus mengalami masalah gara-gara dirinya.


"Baiklah.....saya akan memberikan kesempatan kepada kamu, kamu harus melakukan apa yang saya perintahkan!" jawab Thomas yang sudah mulai sedikit mereda amarahnya.


"Terima kasih....Tuan...apa yang harus saya lakukan?apa saya harus mengganti rugi kemeja Tuan ini?" tanya Shinta


"Kamu tidak akan mampu mengganti rugi kemaja ini, ini kemeja mahal. Sini....berikan hapemu!!! cepat!!! " jawab Thomas sambil menadahkan tangannya untuk menerima hape Shinta.


"Tuan....???" Shinta terlihat bingung.


"Cepat !!! sebelum saya berubah pikiran...cepat!!!" ancam Thomas.


"Ini....Tuan." dengan terpaksa akhirnya Shinta merogoh sakunya dan memberikan hapenya kepada Thomas. Apa mungkin hapenya akan disita sebagai ganti rugi. Shinta bingung.


Thomas segera menyambar hape Shinta dan menekan nomor hapenya sendiri untuk melakukan panggilan. Kebetulan hape Shinta tidak dalam keadaan terkunci.


Beep....beep.....beep...


Terdengar dering hape Thomas yang tergeletak di atas meja.


"Oke, jadi ini nomor kamu ya... Aku akan menyimpannya dan menghubungimu. Dan kau..... harus melakukan perintahku!!!" ujar Thomas sambil tersenyum sini.


"Baik....Tuan...." jawab Shinta sambil menerima hapenya kembali. Entahlah, perintah apa yang harus dilakukan nanti. Yang jelas untuk saat ini, dia bisa bernafas lega, karena tidak akan terjadi masalah apa-apa pada cafe ini.


Sementara itu, sepasang mata dari arah sudut cafe satunya mengamati dengan seksama kejadiaan yang sedang menimpa Shinta. Seorang pria yang barusan datang dan menikmati kopinya sampai mengerjakan beberapa pekerjaan pada laptopnya terganggu dengan pertengkaran kecil yang terjadi di cafe. Dia memandang kasihan Shinta yang terlihat sudah mau menangis, sebenarnya dia ingin langsung menghampiri untuk ikut menengahi, tetapi dia berpikir lagi mungkin tindakannya itu malah bisa memperkeruh keadaan. Akhirnya dia mengurungkan niatnya.


"Ayo Hans, kita pergi. Aku sudah tidak berselera duduk lama di tempat ini." ajak Thomas yang segera beranjak menuju pintu cafe diikuti oleh Hansen di belakangnya. Hansen sempat menoleh ke belakang dan menyatukan kedua telapan tangannya, sebagai tanda permintaan maaf kepada Shinta atas sikap temannya tadi, kemudia meninggalkan Shinta yang masih berdiri terpaku bengong dengan kejadian yang terjadi barusan.


bersambung.....