My Annoying CEO

My Annoying CEO
Aku berhenti


Semua sudah sampai di kota Long.


Adit sudah terlelap di atas mobil,sementar Al hanya sibuk dengan ponselnya.


"kak David,sepertinya besok aku sudah tidak bisa bekerja pagi lagi, kuliah sudah kembali di mulai" ucap Chika yang duduk di samping David yang sedang menyetir.


"Oh ia benar juga, atau kamu bisa bekerja saat pulang kuliah," ucap David.


"saya masih bekerja di tempat lain kak" ucap Chika.


"wah, berapa banyak pekerjaan yang kamu geluti?" ucap Al mengejek.


"ada masalah? " Chika menjawab ala kadarnya.


" siapa yang akan menerima pekerja yang dikelilingi kesialan?" gumam Al.


" apa? Siapa yang kamu maksud?" tanya Chika berbalik.


" ada yang bilang di kapal,dia selalu sial" ucap Al menatap Chika.


"cih...harusnya aku membiarkanmu mati tenggelam" ucap Chika sambil kembali menatap ke depan.


"apa maksudmu?" Al terkejut.


"Chika yang telah menyelamatkan anda tuan" ucap David masih fokus ke depan.


"ohh jangan-jangan karena ada kamu saya ikut sial" ucap Al.


Chika melotot kesal.


"ha...sepertinya jika kamu di dekatku,kesialanmu sudah diminimalisir oleh aura keberuntunganku" lanjut Al.


"haha, sepertinya anda terlalu percaya diri tuan muda, selama ini saya bekerja di 2 tempat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan anda,dan saya masih punya keberuntungan" ucap Chika bangga.


Al semakin kesal,baru kali ini dia bisa kalah berdebat dengan seorang bocah.


"baguslah, orang tidak dirugikan dengan nasib burukmu" ucap Al membuang pandangan ke kaca mobil.


"kamu! Kak David,saya benar benar tidak ingin lagi bekerja untuk tuan muda sok ini" ucap Chika kesal


"ya sudah,aku bisa menemukan banyak orang yang 1000 kali jauh lebih baik darimu" ucap Al tak kalah kesal.


"Baik, kedepan jangan saling bertemu" ucap Chika.


"ha, tentu saja,jika kamu mendengar kedatanganku,pergi menjauh agar aku tak ikut sial" ucap Al.


David hanya tersenyum.


"aku turun disini" ucap Chika.


"tapi ini bukan jalan ke tempatmu yang dulu" ucap David.


"aku sudah pindah kak, aku tidak akan membiarkan dia mengetahui tempat tinggalku" ucap Chika.


"cih,apa kamu fikir aku ingin?" Al membuang pandangannya.


David menghentikan mobil.


"terimakasih banyak kak" ucap Chika.


Mobil kembali bergerak.


"cari cleaning service yang baru" perintah Al.


David menghela nafas.


"tuan,sepertinya Chika bisa di andalkan,walaupun dia bicaranya langsung,tapi dia sepertinya baik" ucap David.


"Chika dimana?" Adit menggeliat.


"kamu juga menyukai gadis tengik itu?" Al kesal.


"emang kemana dia? dia kan asik" ucap Adit.


"saya sudah tidak membutuhkannya" ucap Al cuek.


" ha... padahal dia bisa jadi teman bertengkar untuk kakak" ucap Adit lesu.


David tertawa.


"benar tuan" David masih tertawa.


"ha, berada di dekatnya seperti berada di dalam kampung bandit,ada saja masalah yang mengintai,pantas saja ibunya ingin menjodohkannya,dia benar benar selalu sial" ucap Al kesal.


"sejak kapan kakak mulai tertarik dengan urusan pribadi orang lain?" Adit meledek Al.


Al menatap Adit lekat,membuat Adit mengalihkan pandangan gugup.


"sudah, kedepan saya harap tidak punya kaitan lagi dengannya" gumam Al.


***


Chika berlari melewati koridor dan masuk ke kelas.


"darimana saja Chik?" tanya Risma.


"eh, liat nih,ternyata Adit juga liburan di pulau Nirwana" ucap Selvi sambil memperlihatkan foto Adit.


"wah, dia keren banget, jika di bandingkan dengan direktur, Adit seperti pacar idaman dan direktur adalah suami idaman" ucap Risma.


Chika mengerutkan kening.


"dia siapa?" tanya Chika berpura pura.


"dia selebriti yang lagi naik daun,aduh kamu ketinggalan" ucap Selvi kesal.


Bagaimana bisa seorang gadis tidak tahu tentang ini.


"dia mana tahu,tiap hari hanya bekerja dan bekerja,suatu saat tidak akan ada yang ingin menjadikannya pacar" ucap Risma.


Chika tersenyum.


"eh,ini oleh oleh dari kami" ucap Selvi sambil memberikan sebuah gelang.


"ahh makasih ya" ucap Chika sambil mengenakan gelang.


"habis kelas,kamu harus memberikan traktiran" ucap Risma.


Chika mengangguk, bonus dari David kemarin lumayan banyak.


***


"halo" Chika menempelkan ponselnya dan masih memejamkan mata.


"Chika! Apa kamu masih hidup?" ucap sang ibu berteriak.


"ahhh, apaan si bu?" Chika segera meniup tangannya dan menempelkannya di telinga.


"kamu benar benar! Apa kamu sudah tidak merasa punya orang tua ha? Bagaimana bisa seorang gadis hidup sendiri di kota besar tanpah memberi kabar kepada orang tua?" sang ibu sudah resah,


"aku baik baik aja bu', ada apa sih tengah malam begini?" ucap Chika masih menguap.


"kamu! ibu hanya kuatir,apa kamu baik baik


saja?" ucap sang ibu mulai menurunkan nada bicaranya.


"ia bu',ibu sama ayah gimana?" tanya Chika.


"kami baik baik saja, kami sudah mengirimkan uang kepada Tio,besok kamu bisa mengambilnya" ucap sang ibu lagi.


"bu',aku kan sudah bilang,aku bisa cari uanh sendiri, ayah dan ibu tidak usah memikirkannya" ucap Chika.


"anak ini! sudah istirahatlah" ibu menutup telfon.


"haha ibu memang peduli,hanya saja gengsi" gumam Chika sambil tersenyum.


***


"Chika, bu Kurni ingin kamu ke ruangannya," ucap Dion.


"ada apa ya?" Chika yang sedang asik ngemil dengan Selvi dan Risma terkejut


" ini tentang karya tulis kemarin" ucap Dion.


"aku ke sana dulu ya,kalian duluan aja," ucap Chika sambil berdiri.


"aku antar ya" ucap Dion tersenyum.


Chika mengangguk.


Dion adalah mahasiswa yang sangat pintar di jurusannya,selain itu dia terkenal baik dan ramah, penampilannya juga lumayan,tak sedikit gadis yang mencari perhatiannya.


Kali ini saat Dion berjalan melewati koridor bersama Chika,semua sorot mata tajam menatap Chika.


Chika sampai heran.


"kok mereka natap gitu banget?" gumam Chika.


Diob pun tak menghiraukan itu.


"Chika,kemari" ucap Bu Kurni.


Chika segera menuju meja bu Kurni di temani Dion.


"Chika,sepertinya karya kamu masih sangat kurang, ini adalah nilai tugas yang mendukung,saya harap kamu bisa memperbaikinya ya" ucap bu Kurni.


Chika menerima buku catatannya.


"Dion,bantu Chika, banyak unsur penulisan yang masih salah" lanjutnya sambil menatap Dion.


Dion mengangguk.


"Ayo kita ke perpustakaan" ucap Dion.


Chika pun mengikut dari belakang.


***