
"ibu, ibu tolong aku ibu!" Al kecil berteriak teriak sambil menjulurkan tangannya ke atas speatboat yang di tumpangi ibunya.
Ibunya mencoba mengulurkan tangan hampir meraih tangan Al kecil.
Namun pandangan ibunya berubah, sang ibu segera menutup telinga ketakutan.
"kamu kotor" kata yang keluar dari mulut sang ibu.
Mendiang ibu Al mengalami depresi berat saat umur Al 10 tahun, ia tidak suka di sentuh jika orang yang menyentuhnya kotor, bahkan ia takut melihat anaknya,
Ia selalu berteriak teriak saat Al kecil ingin memegangnya, mengatakan Al kotor.
Ia akan menutup telinga dan histeris, membuat Al hanya bisa melihat sang ibu dari jauh.
Saat mereka sedang berjalan di pesisir pulau ikan, Al terjatuh dari speatboat,namun sang ibu tidak menolongnya,hingga ia diselamatkan orang lain.
Saat itu umur Al sudah 15 tahun.
Sang ibu akhirnya meninggal saat umur Al 16 tahun,mwmbuat Al pun mengalami traumah berat.
Ia tidak ingin disentuh siapapun dan juga tidak bisa melihat sesuatu yang kotor dan berantakan.
"ibu!!" Al terbangun sambil bercucuran keringat.
Sudah 14 tahun ia selalu bermimpi buruk seperti itu jika tidak tidur di kasur sang ibu.
Ia segera menarij nafas dan meraih gelas air minum di atas meja.
Suasana malam di atas kapal pribadi yang begitu tenang.
Ia meraih jaket tebalnya, mengenakan masker dan sarung tangan mahalnya dan mencoba mencari ketenangan di luar.
Ia menuju ujung kapal tempat ia melihat Chika tadi siang.
"ahhh bahkan hidup kapal ini jauh lebih beruntung di bandingkan aku" Teriak Chika sambil menendang pagar kapal.
Al hanya melihatnya dari belakang.
"ahhh... aku akan membuang sialku ke laut lepas" ucap Ririn sambil memanjat pembatas kapal.
Al membelalakan mata.
Ia pikir Chika ingin bunuh diri.
Ia segera berlari menarik Chika dan membuat mereka terjatuh kebelakang.
"aduhh" Chika merasa sakit belakang akibat terpental.
Ia sadar ia mendarat di tubuh seseorang.
Ia berbalik.
"ka... kamu!" Chika segera bangkit berdiri.
Al pun bangkit berdiri
"apa kamu sudah gila? jika kamu jatuh otomatis kamu sudah hilang bodoh!" Al berkacak pinggang kesal.
"yang mau jatuh siapa?" Chika balik berkacak pinggang.
"kamu nggak niat bunuh diri?" ucap Al heran.
"kamu! Aku tidak sebodoh itu" Chika berbalik kesal.
Al menghela nafas.
"baguslah,aku pikir kamu ingin mencari masalah lagi" ucap Al lega.
Chika kembali berbalik melotot.
"kamu ngapain malam malam begini?" tanya Al.
"nggak cuma cari angin,aku nggak bisa tidur" ucap Chika sambil menghirup udara malam.
"ayo masuk,kamu bisa sakit" ucap Al.
Chika pun ikut di belakang.
Tapi karena kakinya tersandung ia terjatuh ke depan dan menarik celana Al.
Al berbalik kaget.
Chika segera bediri dan menarik kembali celana Al.
"kamu!! Ahh jaga jarak dariku, aku tidak bisa menebak berapa kesialan jika aku dekat denganmu" Al menunjuk dengan jari tangannya.
Chika menunduk dan mundur beberapa langkah.
Saar Al masuk kamar, Chika segera berlari ke lantai bawah.
"ah dia benar benar lambang kesialan" ucap Al duduk di tempat tidurnya.
***
Chika sudah merada di deck paling atas.
"ahg akhirnya aku bisa tiba di tempat itu" Chika melompat girang.
Kapal akhirnya sandar di pelabuhan pribadi perusahaannya.
Chika mendorong kopernya berlari ke arah David dan Al.
Al menatapnya sambil memberi kode untuk menjaga jarak.
Chika berhenti.
"ada apa Chika?" ucap David.
Chika membungkukkan badan.
"kak David trimakasih atas kebaikan anda dan tuan anda, saya sangat berterimaksih"
David tersenyum.
"kamu akan tinggal dimana?" tanya David.
"saya akan tinggal di kamar sepupu saya," ucap Chika.
"kamu bisa ikut dengan kami,kami akan mengantar anda" ucap David.
Al pura pura tidak peduli dan sibuk dengan ponselnya.
"trimaksih kak" Chika menyeringai sesang.
Di atas mobil Chika duduk di depan bersama sopir.
" Chika, kenapa kamu tidak mengajukan asrama?" tanya David dari belakang.
"saya harus mencari pekerjaan sampingan kak, ibu saya tidak akan mengirimkan uang,jadi" ucap Chika iba kepada dirinya sendiri.
"memangnya kenapa?" ucap David penasaran.
"soalnya ibu nggak mau aku sekolah, dia bahkan sudah menyiapkan jodoh untukku" Chika merinding sendiri.
"hahaha kamu benar benar lucu, memangnya kenapa dengan calon suami kamu?" David masih penasaran, sementara Al hanya membuang pandangan ke kaca mobil.
"ihh kak ya, lelaki tua bangka yang jelek" ucap Chika.
Sang sopir dan David tertawa terbahak bahak.
" dia pasti sangat berterimakasih karena kamu kabur,kalau tidak dia akan sial seumur hidup" Al ikit berkomentar.
Chika berbalik ke belakang kesal.
"kamu! dasar om om cabul" Chika mengumpat.
Al ikut melotot
"kamu bilang aku apa?" Al mulai emosi.
David semakin menggelegarkan tawanya.
" hahaha sudah tuan, " David melirik Al.
Chika kembali menatap ke depan.
"apa kamu kenal siapa pemilik kampusmu nanti?" tanya David lagi.
"aku nggak kenal orangnya kak, tapi katanya dia orang yang hebat dan keren, nggak kayak si tua cabul " ucap Chika masih kesal.
Al mencoba meraih rambut Chika namun di halangi oleh David.
"sudah sampai pak, itu disana" ucap Chika menunjuk alamat.
Mobil sedan mewah terparkir di depan sebuah lorong.
"terimakasih kak saya pamit,semoga anda selalu panjang umur" ucap Chika membungkukkan badan.
"selamat berjuang gadis kecil, " David tersenyum.
"dasar gadis sial! " Al masih menggerutu kesal.
Mobil segera berangkat.
Chika mengetuk pintu kamar.
"Chika" Tio menarik Chika masuk ke dalam kamar kecilnya.
"kenapa kamu nggak nelfon,aku bisa jemput kamu" ucap Sepupunya.
"ahh tadi aku di antar orang baik" ucap Chika.
"oke,istirahat aku beli makan dulu, besok aku temani kamu kekampus" ucap Tio sambil membereskan barang Chika.