My Annoying CEO

My Annoying CEO
kejutan


Al masuk kedalam cafe yang sama dengan tempat Chika.


Karena hendak bertemu dengan Cintya untuk membahas masalah pertunangan.


Al sangat malas untuk berada di tempat umum seperti itu,tapi demi Cintya dan bisnisnya ia harus menahan sebentar.


Jam kunjung sepertinya sedang ramai.


Al memilih duduk di dekat meja 3 orang cowok.


"gila lo Van,gue nggak mau sama tu cewek apes," ujar Raka menggelengkan kepala.


" emang kenapa Ka?" Revan melirik Raka.


"ya gimana ya, gue mau nya kayak cewek lo la, cantik bohay, tajir, ini mala dapat triplek depan belakang rata, kerja mulu lagi," ujar Raka.


Revan hanya tertawa mendengarkan keluhan Raka.


Brian hanya sibuk dengan ponselnya.


Sebenarnya ia kesal juga mendengar penuturan Raka soal Chika.


Dari kesan Brian,Chika anak baik.


Al yang menutupi wajahnya dengan sebuah majalah di meja hanya tersenyum jijik mendengar percakapan laki laki di meja sebelah.


Sementara di toilet cafe.


"udah bersih Chik?" tanya Risma dan Rita yang ikut menyusulnya.


"udah Ria, kayaknya gue duluan cabut ya, baju gue udah basah," ucap Chika.


"bentar dong, kita nanti pulang bareng," bujuk Rita.


Chika hanya mengangguk.


Mereka kembali menuju meja.


"Chika, udah bersih?" tanya Brian.


"mmm," Chika hanya tersenyum.


"jadi gimana gimana Ka, lo mau kenal Chika lebih dalam lagi nggak?" ucap Risma.


Al sejenak melirik.


" ngapain tu anak?" batinnya.


"mmm gini Ris, dia bukan tipe gue," ucap Raka santai.


"maksud lo apa Ka?" Risma masih tidak paham.


"ya kali Ris, gue mau ama anak kecil kayak dia, badan standar,muka sok di manisin, kesan pertamanya apes mulu lagi," Raka seolah tak bersalah dengan ucapannya barusan.


deg,


semua terdiam tidak enak hati menatap Chika.


Chika medelik kesal.


"cih,lo pikir lo tipe gue," batin Chika


mengumpat tapi Chika hanya menunduk.


Raka tersenyum, ia berfikir Chika kecewa karena penolakannya.


Sebuah jaket melingkar di dada Chika,mwnutupi pakaian Chika yang basah.


Semua terkejut dan menoleh bersamaan.


Seorang lelaki tinggi,putih dan tampan berdiri di belakang kursi Chika sambil memakaikan jaket ke tubuh Chika.


Mata Chika tak bisa berkedip,


"tu...tuan," ucap Chika gugup melihat ketampanan Al yang sedanf menunduk memakaikannya jaket.


Mata mereka beradu,


Dug...dug...dug....jantung Chika memompa 5 kali lebih cepat dari biasanya.


Al tersenyum dingin dan kembali berdiri menarik tangan Chika.


"ayo kita pergi," Al menarik Chika dan menggandeng tangannya berjalan keluar.


Tubuh Chika ikut menurut saat Al membimbingnya keluar.


Risma dan yang lain masih menatap kepergian Chika yang dramatis.


"itu kan?" Rita mulai berbicara.


"direktur?" Sambung Risma.


"siapa beib?" Revan ikut penasaran dengan pria tampan yang membawa Chika pergi.


" dia direktur kampus kami," Risma masih bertanya tanya.


Bagaimana Chika bisa mengenal direktur?


***


"masuk," Al membukakan pintu mobil.


Chika hanya menurut dan masuk ke dalam mobil.


Al masuk di tempat kemudi.


"halo, oh ia,aku juga sudah kembali ke kantor ada urusan," Al menutup telfonnya dan menghela nafas.


Entah darimana asal keberaniannya sesaat yang lalu itu.


Ia mengingat saat laki laki yang memojokkan Chika mengatakan dia buka tipenya.


Kobaran amarah seolah membakar Al,di tambah pakaian Chika yang basah dan menonjolkan sebuah lekukan pakaian dalam membuat Al melepaskan jaketnya dan melangkah menuju tempat duduk Chika.


Kini pandangannya kembali ke tempat Chika duduk saat ini.


Chika masih mematung dan memandang ke depan dengan tatapan tanpa arti.


Ia masih bertanya kepada dirinya sendiri mengapa detak jantungnya sesaat yang lalu tidak biasa.


Apa aku baru sadar dengan ketampanan tuan Al?


Ahh tidak tidak, apa yang aku fikirkan.


Chika menoleh dan seketika tatapan mata keduanya kembali beradu.


Deg...deg...deg..


Al merasa jantungnya sesak.


Sial... Batinnya.


Al menoleh ke arah depan.


"cih kenapa kamu bisa di tempat ini," ucap Al mencairkan suasana gugup.


"ah, itu..." Chika menggaruk asal kepalanya.


"kencan? dan di hina laki laki tadi?" Al menyelidik kesal.


Chika hanya menunduk.


"cih,jadi dia tipemu?" Al sudah semakin kesal.


Apa bagusnya lelaki tadi di bandingkan dengannya?


Ah kenapa aku berfikir seperti ini?


"bukan! sama sekali bukan! aku hanya mengikuti saran Risma untuk mengenalkanku dengannya, ini semua untuk menggugurkan tugas pak Bintoro," Chika dengan kesal menatap ke jendela.


Al menghela nafas.


"jadi?"


"jadi apa?"


"kamu tidak suka dengan cowok tadi?"


"tentu tidak, cowok narsis itu cih," Chika mendengus jijik.


Al tersenyum sumringah.


Kemudian menjalankan mobil.