My Annoying CEO

My Annoying CEO
kembali normal


Sudah satu bulan Chika menjalani masa masa kuliah,


bisa di katakan hidupnya kembali normal, berada di sekitar kesialan yang sudah biasa.


Tapi di balik itu, Chika menemukan teman teman baru yang asik.


Walaupun di kelilingi kesialan Chika masih punya banyak teman.


Hari ini ia mendengus kesal di sebuah cafe dengan nama "garden space" ia sudah 3 minggu bekerja di sana sehabis kuliah.


Beberapa kali ia pulang tengah malam dan mendapat beberapa kesialan.


Walaupun kenyataannya kesialan itu kadang menyelamatkannya.


Seperti saat preman mengganggunya, ia berlari dan terjatuh di kotoran sapi membuat para preman pulang karena jijik.


" Chika, ada apa?" ucap Sirly, pemilik cafe dengan penampilan elegan,dan cantik.


Walaupun usianya sudah menginjak 30 tahun ia masih single.


"eh, nggak ada bos, saya hanya pengen cari kamar disekitar sini" ucap Chika kesal.


Tempat Tio memang jauh, dan disana banyak anak laki laki yang suka mengganggunya, bahkan pacar Tio sendiri membencinya.


"emang nya kenapa?" ucap mbak Sirly.


"jadi enak bos, saya bisa kerja dan pulang cepat" ucap Chika menyandarkan dagunya di atas meja.


"hmm, benar juga,kampus kamu juga dekat dari sini bukan?" ucap Sirly membelai rambut Chika.


Chika mengangguk manja.


Ia memang jadi kesayangan di tempat kerjanya, di saat semua orang menganggapnya sial, di beberapa tempat ia merasa sangat beruntung.


Sudah berapa kali ia mendapat pekerjaan namun berakhir sial,sampi ia menemukan tempat ini.


"di belakang ada kamar kecil, hanya berukuran 3 * 4 meter, tapi di depannya ada kamar mandi.


Chika berbinar binar.


"boleh saya tinggal disana boss" pinta Chika.


" boleh dong,kamu nggak usah bayar,hitung hitung kamu bisa menjaga tempat ini" ucap Sirly.


Chika memeluk bos cantiknya yang sudah ia anggap kakak.


"ahhh... akhirnya"


Chika berbaring di kasur kecilnya yang tipis.


Seharian ia telah membersihkan tempat itu.


***


Tit...tit...tit....


Alarm hp Chika berbunyi.


Ia menatap handphone.


"ahh udah telat, "ia segera berlari ke kamar mandi menggosok gigi,mencuci muka.


Ia masuk ke dalam kamar terburu buru melepaskan pakaiannya dan membuangnya ke lantai.


Mencari buku dan meraih laptopnya.


Tak sama dengan perempuan pada umumnya, kamar Chika asli berantakan, ia pun tidak pernah menggunakan make up.


Hanya sebatas body lotion.


Dan mengikat rambut tinggi membuat sebagian rambutnya terurai.


Rambut Chika tidak pernah panjang, karena tak ada waktu untuk keramas.


Ia meraih sebungkus roti dan berlari ke halte.


"pagi" Chika berlari di koridor kampus sambil menyapa teman temannya.


Ia segera lari masuk ke dalam kelas.


"huff untung masih dapat" chika menarik nafas dalam dalam.


Dosennya kini masuk.


"dikit aja" bisik Risma.


"ia,untung" Chika berbisik sambil mengatur nafas.


***


"kali ini, yang akan menjadi nilai final kalian adalah sebuah puisi yang mendapat tandatangan di kuliah umum nanti" ucap dosennya.


"bisa di jelaskan lebih rinci bu?" tanya Vino teman sekelas Chika.


"kuliah umum kali ini akan menjadi penentu nilai final kalian, pembawa materinya adalah profesor dari sastra jepang, kalian harus menyetor puisi dan mendapatkan tanda tangannya" ucap sang dosen.


Semua mengangguk tanda paham.


"ahhh, akhirnya libur akn segera datang," ucap Chika.


"kami mau ke pantai di pulau Nirwana" ucap Risma.


"ahh,aku harus mencari kerja sampingan" ucap Chika lesu.


"ahh ya sudah,kami akan membawakanmu ole ole" ucap Selvi sambil memijit Chika.


***


Di gedung EA Group.


"CEO, design perhiasan musim ini akan segera di pulbikasikan" ucap Mawar sang sekertaris cantik.


Al hanya mengangguk.


"dan satu lagi, lusa adalag jadwa anda memberikan materi di kuliah umum EA collage," ucap Mawar lagi.


Ia segera keluar dari ruangan boss.


"David, kemari" Al mematikan telfon.


"ada apa tuan?" David masuk.


"panggil koki di kapal kemarin untuk mengahadap di rumah, akhir akhir ini saya tidak nafsu makan" ucapnya,


David mengangguk.


"baik tuan, tapi sepertinya kapal akan sandar lusa" David menunduk.


"baik,saya akan tunggu" Al kembali fokus.


***


Mata Chika masih hitam, beberapa hari ini ia tejaga mengkhawatirkan ujian semester, di tambah pelanggan cafe yang sangat padat.


"aahh, kuliah umum tidak bisa menundaku untuk tidur" ucap Chika membaringkan pipinya di atas meja.


"oke,nanti aku akan mencatat untukmu" ucap Risma.


Al masuk kedalam ruang seminar dengan mengenakan setelah toxedo hitam dan sarung tangan hitam menambah kesan mewah dan maskulin.


Walaupun tidak ada segaris senyum semua mahasiswi berteriak histeris.


"Chik, bangun,direktur EA group akan membawa materi" ucap Risma mengguncang tubuh Chika.


Chika menggeliat.


"apaan sih,aku ngantuk" ucap Chika masih menutup mata.


"ihh ganteng banget, kalau di jadikan istri atau pacae cadangan pasti aku mau" teriak anak anak gadis di samping mereka.


Sepintas Al tersenyum kecil di atas panggung,menambah riuh teriak histeris mahasiswa.


David berdiri di sampingnya.


Al mulai duduk.


Chika bangun.


"aduh apaan sih Ris, paling juga kakek kakek tua dengn bodi besar" Chika menggosok mata.


"ke...kenapa dia disana!" Chika menggosok mata tidak percaya.


"itu... itu siapa Ris?" Tanya Chika melotot tak percaya.


"gue bilang juga apa? Cakep kan, dia orang terkaya di kota ini,pemilik EA group" ucap Risma.


" apa?" Chika berteriak keras.


Beberapa pasang mata tertuju kepadanya.


David hanya tersenyun dari jauh.


Chika menutup mulut dan menunduk malu.


Gawat, jika dia masih mengingatku? Aduh tamat lah aku.


Chika menutup telinga sambil menunduk ketakutan.


"kamu kenapa Chika?" bisik Risma.


"aku... aku hanya sakit kepala" ucap Chika menoleh ke arah Risma.


Aku bahkan memakinya.


Chika menggigit bibir.


Materi telah selesai, Chika bahkan tak berani menatap Al yang berbicara di depan.


"ayo Chik, kita akan mengambik kertas puisi kita kemarin yang di setor ke bu Kurni" Risma menarik tangan Chika.


"dimana?" Chika bingung.


Di ruang direktur lah, semua sudah naik.


Tuan Al sedang memeriksa semua tulisan.


"apa nggak bisa di wakili?" tanya Chika gugup.


"mana bisa, ini kan nilai final kita, bu Kurni sudah ada disana mencatat nilai kita" ucap Toni.


Mereka melangkah naik.


Bahkan banyak mahasiswi yang sudah kelur sambil ketawa cekikian.


"seperti jumpa fans saja ya" ucap Selvi.


"ia,direktur kan nggak kala keren sama artis" ucap Risma.


Sementara Chika masih ketakutan.


Semoga dia sudah lupa, ya dia kan orang penting,wajahku pasti sudah ia lupakan.


Al masih membaca sepintas karya puisi mahasiswa.


"direktur, ini punya anak wali saya," ucap bu Kurni sambil menyerahkan setumpuk kertas.


Al membaca sepintas dan membubuhkan tanda tangannya.


Ia sampai di kertas milik Chika,


Al tersenyum sinis.


"ada apa tuan?" tanya David.


"puisi ini terlalu banyak prosa ungunnya, tapi ini mengingatkan saya dengan sesuatu" Al tersenyum dan membubuhkan tanda tangannya.


"bu, saya akan mengambil ini" ucapnya kepada bu Kurni.


"anda suka direktur?" tanya bu Kurni.


"sepertinya penulisnya belum mahir, tapi maknanya sangat dalam" Al tersenyum sambil menyerahkan kertas itu kepada David.


Aku sudah sedari kemarin terpikat


Jatuh cinta diam diam dalam gelapku sendiri


Sekalipun nanti waktu tak memberi sempat untuk rindu..


Tenang saja, aku sudah menyimpanmu di sisi lain hatiku.


Dimana takkan ada yang mengusiknya..


Bila esok kau masoh dengan rasa yang sama.


Tetap disana....ku mohon..


Jika khilafku memberimu penyesalan..


Ingatlah, kemarin aku sama sekali tidak akan membiarkanmu menyesal memiliki..


Kau tahu?


Cinta tidak memiliki, tetapi cinta membiarkan memilih...


Katamu kemarin..


Semua cerita akan "happy ending"


Jadi, jika kini kita berakhir menyedihkan..


Itu masih bukan akhir...


Maaf aku harus membuatmu menyesal kali ini..


Maaf membuatmu harus merindukan musim dingin di tengah panasnya kemarau.


'Meryska A.


Bu Kurni mencatat itu.


David pun tidak memahami isi puisi yang membuat Al tersenyum.


Al pun beranjak ke teras.


Chika dan yang lain akhirnya masuk, namun sudah tidak mendapati direktur.


Bu Kurni hanya memberitahu bahwa puisi mereka telah mendapat tanda tangan.


Chika bernafas lega,


"akhirnya aku tidak bertemu dengannya"


Al menatap kosong ke depan.


Samar samar di ingatannya.


Semangkuk sup ikan asam manis, ia duduk di depan sebuah meja sederhana bersama seorang bapak dan istrinya serta anak gadis mereka berusia 5 tahun.


Mereka makan sup itu dengan lahap,


"aku akan memberikan keberuntunganku " kata gadis kecil itu sambil memberinya sebuah kerang.


Al kecil meraihnya,


"aku janji aku akan datang lagi, di musim dingin " ucap Al kecil kepada seorang gadis kecil manis.


"tuan?" David membuyarkan lamunan Al.


Al menoleh.


"ada apa?" Al masih menatap kedepan.


"apa tuan punya kenangan dengan puisi ini?" tanya David.


"aku masih belum menemukannya, dan aku berjanji akan membawahnya melihat musim dingin bersalju" Al menunduk.


"kita sudah ke pulau ikan, tapi belum menemukan petunjuk,semoga mereka baik baik saja" ucap David.


Al hanya memandang jauh.