
Chika seperti biasa berlari di sepanjang koridor,sambil membawa beberapa buku,
Sudah hal biasa setiap perjalanannya ke kampus di warnai dengan kesialan yang membuatnya terlambat.
Kali ini kesialannya adalah karena ban bus yang di tumpanginya pecah.
"ahh,sial,sial, aku akan di makan habis sama bu Kurni," Chika berlari tanpa memperhatikan sekeliling.
Bersamaan dengan itu,tuan muda Al juga sedang menyusuri koridor yang sama,
Brakk...
buku buku di tangan Chika berserakan di lantai,tubuh munginnya menabrak Al,dan membuat keduanya terjatuh.
"ahh,maaf saya tidak --" Chika mengentikan ucapannya, ia membelalakkan mata,
"kamu!" tuan muda Al mendorong tubuh Chika menjauh darinya,
David ikut membantunya berdiri.
" maaf," Chika memungut buku buku itu,
" aku harusnya memasang chip alarm agar aku bisa menjauh dari radius bahaya karena kamu," Al menatap Chika yang sibuk memungut buku.
Chika tak menjawab, kali ini dia benar benar takut,
Chika kembali berdiri.
"maaf direktur,saya sudah terlambat,saya permisi," Chika membungkukkan badan sambil bergegas melewati tuan muda.
Namun Al sudah lebih dulu menarik kerah baju Chika.
"aku yang mengisi kelas," ucap Al sambil melepaskan Chika.
"apa?" Chika tersentak.
Apa apaan dia? apa kantornya tidak butuh pengawasannya?
"ada masalah?" cepat bawakan materiku," Al memberi kode ke David untuk memberikan semua dokumen ke Chika.
David yang patuh melaksanakannya.
Chika menerima laptop dan beberapa lembar buku.
Berjalan mengikuti Al di belakang.
"tuan,saya ke kantor duluan," David membungkukkan badan dan berbelok ke parkiran.
Chika dan Al kini berjalan menuju kelas.
" apa ada masalah dengan kuliahmu?" Al masih berjalan lurus.
Apa dia sudah gila,kenapa tiba tiba perhatian.
"mmm,aku masalahnya," Chika berjalan cemberut.
Ia sudah tahu pemikiran tuan Al.
Al tersenyum kecut sambil menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.
Chika tak memperhatikannya, ia kembali menabrak tuan muda.
"kamu sudah tahu,tetapi tidak berusaha memperbaikinya," Al menatap Chika.
"ia,ia tuan muda,saya mungkin memang tak punya kemampuan," Chika menunduk lesu.
"jadi kamu memang orang yang pesimis rupanya," Al tersenyum kecut.
" apa? " Chika mendongakkan kepala menatap Al yang tinggi.
"aku kira gadis tengil sepertimu adalah orang yang tidak mudah menyerah,tapi ternyata saya salah," Al masih menatap Chika dengan tatapan tajam.
Al tersenyum kecut.
Chika meletakkan bahan dan materi di atas meja dengan keras sambil menuju ke tempat duduknya.
Tak lamah Al muncul.
Semua mata mahasiswi kembali menatap tajam ke arah Chika.
"kenapa bisa kamu membawa materi Direktur?" Risma berbisik ke arah Chika yang masih kesal.
"tadi tidak sengaja ketemu," Chika membuka bukunya menjawab acuh tak acuh.
Kesal menjadi riuh karena kemunculan Tuan muda Al.
Anak anak yang tadinya cuek dalam belajar mencoba antusias,dan mencari perhatian tuan Al.
Beberapa Mahasiswi sudah mulai fokus dengan wajah tampan direktur kampus mereka.
***
"Chika,antar materi ke mobil saya," Al menatap ke arah Chika yang masih kesal.
Semua mata kembali menyorot Chika.
Chika menutup buku dengan kesal.
"baik direktur," Chika maju ke depan.
Semua berbisik bisik.
"kemarin dekat sama Dion,sekarang mala cari muka ke direktur,dasar!" bisik mahasiswi lain.
"bener banget, di balik penampilan usangnya, dia ternyata jala**!" sahut yang lain.
Chika tak peduli,
Chika membereskan semua materi,Al yang berdiri di depannya hanya menatap Chika.
Dia rupanya manis juga,
"direktur,apa kami bisa mendapat kelas tambahan?" seru Nadya seorang gadis populer di kampus.
"boleh,atur saja tempatnya,nanti kalian bisa kabari asisten saya," ucap Al.
"Cih,dasar mata keranjang," gumam Chika.
Al rupanya mendengarnya.
"nama kamu siapa?" Al menatap manis ke Nadia.
Al sengaja membuat Chika semakin kesal.
"saya Nadya direktur," Nadia bertingkah sok manis.
"saya memberi kamu tugas untuk mengatur kelas tambahan Nadya," Al bergegas keluar.
Chika mengikuti dari belakang.
"direktur menanyakan namaku," Nadya berteriak girang.
"lihat,dia mulai naik ke langit," bisik Risma.
Semua mengangguk.
Nadya memang terkenal cantik dan suka tebar pesona.
Kali ini direktur menjadi incarannya.