
***
"kenapa harus di tempat ini?" Chika menatap sebuah bar di depannya.
"aku rasa kita tidak akan mendapatkan materi tambahan," Risma ikut mengangguk.
Mereka mendapat informasi bahwa materi tambahan akan di adakan di tempat ini.
Chika sudah meminta izin kepada pemilik cafe untuk mendapat kelas tambahan.
"Chika,kamu sudah datang?" Dion memghampiri Chika.
"mmm,kamu dari tadi?" tanya Chika.
"aku juga baru sampai,ayo masuk," ajak Dion.
Nadya dan gang nya sudah ada di dalam sebuah ruangan yang telah mereka pesan.
"Dion,kemari," teriak Siska teman Nadya yang tak kala cantik.
Dia memang sudah naksir dengan Dion sejak lamah.
"ayo Chik,kesana," ajak Dion.
Siska menjadi kesal.
Dion menarik Chika ke dekat Siska.
Sementara Risma dan kawan yang lain memilih bermain karaoke.
"direktur katanya datang sebentar lagi,ayo bersenang senang dulu," Nadya mengangkat gelasnya.
Beberapa anak ikut bersulang.
"kamu nggak minum Chika?" tanya Siska.
apa-apaan mereka,katanya mau belajar?
"ah tidak,aku lemah terhadap alkohol," ucap Chika.
Nadya dan Siska melempar pandangan,memiliki sebuah rencana.
"dikit aja Chik,kamu nggak hargain gue ya,gue udah keluarin biayan buat tempat ini," ucap Nadya.
Siska menuangkan segelas alkohol.
"ni,dikit aja," sambil memberikannya kepada Chika.
"biar aku saja," ucap Dion.
"eits,jangan Chika harus bisa," Siska meminumkan Chika.
Mau tidak mau Chika terpaksa meminumnya.
"ayo Chika,bersulang denganku," ajak Nadya lagi.
Dua tegukan,
Chika merasa kepalanya mulai berat.
Sial,aku benar benar lemah terhadap alkohol.
Chika masih berusaha tegar.
Ia melangkah menuju arah Risma.
"kamu kenapa Chika?" Risma memijit punggung Chika.
"nggak,aku mau pulang dulu,nggak enak kalau direktur datang," Chika masih bisa bangkit.
"mau kemana Chika?" tanya Nadya,
"aku duluan,aku masih punya urusan," Chika melambaikan tangan.
Siska tersenyum puas.
"oke,nanti aku bisa nyari alasan buat direktur," ucap Nadya ikut memberi kode.
Chika keluar dan berjalan sempoyongan.
"ahh,sial lagi," Chika memegang kepalanya yang sudah mulai pusing.
"kamu kenapa?" David muncul di hadapannya di ikuti tuan muda yang masih mengenakan masker dan kaos tangan kulitnya.
"ahh,Nadya memaksa saya minum kak,padahal aku lemah terhadap alkohol," Chika menyeringai.
"kamu mabuk?" tanya David lagi.
Chika hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Tunggu disini,aku antar kamu pulang," David menatap Al.
"biar aku saja, cari tahu apa yang terjadi," Al memapah Chika.
David mengangguk dan masuk ke dalam bar.
"ahh,tulangku sudah melunak," Chika bergumam sambil duduk.
Al menarik tubuh mungil Chika.
"aku bilang,tulangku sudah melunak," Chika berteriak.
Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.
Al malu,ia segera mengangkat tubuh mungil Chika.
Memasukkannya ke dalam mobil.
"apa kamu makan batu,berat sekali," Al melenturkan tangannya yang pegal.
"ha ha ha, kamu bisa bercanda juga," Chika menarik jas tuan muda Al.
Membuat wajahnya dan wajah Al hanya berjarak 5 senti.
"kamu tampan juga," Chika menatap wajah Al sambil tersenyum.
Al memerah,dan melepaskan tangan Chika.
Ia menutup pintu mobil dan bergegas memegang kemudi.
Chika mulai tertidur.
" kamu masih di tempat Sirly?" tanya Al.
Chika mengangguk pelan dan kembali tertidur.
"dasar gadis bodoh!" Al bergumam kesal.
Di perjalanan, ia kembali mengingat saat Chika menariknya.
Tiba tiba handphonenya berdering.
Dengan earphone otomatis.
"ada apa David?" tanya Al.
"anak anak mengatakan mereka sengaja membuat Chika mabuk," ucap David.
"memangnya ada masalah apa mereka dengan Chika?" Al mulai penasaran.
"mereka sepertinya tidak suka anda mengenal Chika," ucap David.
"bereskan mereka," Al menutup telfon.
Mereka sudah sampai di depan garden space.
"tapi jika aku membawa Chika ke dalam selarut ini,mbak Sirly akan mengomel," gumam Al.
Ia kembali meneruskan mobilnya menuju ke rumah pribadinya.
Ia menggendong Chika masuk ke dalam.
Dan membaringkannya di kamar tamu.
Chika menggeliat, ia membuka mata dan melihat Al yang berdiri di depannya.
"sudah sadar," Al berkacak pinggang.
Perut Chika tiba tiba terasa panas,semua isi lambungnya seolah mendidih dan ingin keluar.
Chika bangun,namun sebelum beranjak ia kembali muntah di atas tempat tidur.
Huaekk..
Chika berlari ke toilet.
Sementara Al terkejut.
"dasar tukang sial," Al mengejar Chika.
Chika memuntahkan seluru isi perutnya.
Al yang melihatnya tiba tiba merasa kasian.
Ia memijit punggung Chika yang tidak berhenti muntah.
Chika sudah membersihkan wajahnya.
Al ikut mencuci tangan.
Chika pelan pelan menatap Al,
"maaf," Chika sudah lemas.
"sudahlah,besok kamu bersihkan,sekarang istirahat di kamar ku saja," Al memberikan handuk.
"baju kamu?" Al menatap baju Chika yang sudah basah.
Chika menunduk.
"cepat kemari," Al memapah Chika yang sudah lemas,membawahnya ke lantai dua kamarnya.
"ganti bajumu," Al melemparkan baju kaos miliknya sambil keluar dari kamar.
Chika tak bereaksi,kali ini ia benar benar lemas,kepalahnya masih berputar putar.
Al menuruni tangga dan membuat teh hangat.
Chika sudah mengganti pakaiannya.
"minum ini," ucap Al.
Chika meraihnya,
"tuan,tidur dimana?" tanya Chika.
"aku tidur di sofa,lain kali kalau kamu tidak bisa minum jangan sok," Al meraih bantal,
"biar saya yang di sofa tuan," ucap Chika menarik bantal di tangan Al.
Al membiarkannya.
Setelah berbaring,Chika masih gelisah,
Kenapa ia bisa di tempat ini,
Ia terbangun,
"ada apa?" Al sepertinya juga masih terjaga.
"ahh,maaf saya tadi mabuk,saya tidak tahu tuan yang membawa saya," ucap Chika malu.
" beruntung yang datang saya,bagaimana jika orang jahat?" tanya Al masih berbaring.
"mmm,trimakasih tuan," Chika menatap ke arah Al.
Al terbangun,
Ia menuju ke arah Chika.
Chika terkejut,
Ia sudah berfikir yang tidak tidak.
Seorang lelaki dan gadis berada di satu kamar,apa yang?
"tidakkk" Chika menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"apa yang tidak?" Al meraih sebuah remot di sampingnya.
Chika membuka kedua matanya.
"waahh, ini indah sekali," ucap Chika takjub.
Al tersenyum,melihat Chika takjub dengan dimensi virtual buatannya.
"kamu suka musim apa?" tanya Al.
"musim dingin," Chika masih terpesona.
Al memilih musim dingin.
"indah sekali," Chika sampai berurai airmata,ini seperti berada di alam mimpi.
"kamu bisa tidur sekarang," ucap Al.
Chika mengangguk.