My Annoying CEO

My Annoying CEO
Triple Date


Prak...


Pintu mobil tertutup keras karena bantingan tangan Al Daviandra.


David yang baru saja hendak mengemudi ikut tersentak,


Al sudah meraih semprotan berisi disinfektan dan menyemprotkannya ke pakaiannya.


Produk EA kosmetik itu memang Al rancang khusus karena diapun membutuhkannya.


Sambil melepaskan maskernya, Al masih menggerutu.


"apa anda baik baik saja tuan?" David berusaha mencairkan suasana.


"lihat ini," Al menunjukkan lehernya yang gatal karena keadaan kamar Chika yang kotor dan berantakan.


"tapi tuan tidak mual?" David memperhatikan Al yang hanya sibuk mengoles salep untuk alerginya.


"tidak," ucap Al simple.


"artinya memang tidak ada reaksi pada sentuhan Chika bukan?" ucap David.


Al hanya mengangguk, bagaimanapun ia mengakui itu.


Beberapa kali bersentuhan kulit dengan Chika tidak ada reaksi mual sama sekali, hanya saja aura kesialan Chika memang terkadang ikut bekerja untuknya juga.


Mobil melaju.


David kembali tertawa,


"ada apa?" Al bergidik menatap aneh ke arah David yang tertawa tanpa alasan.


" ternyata anda adalah cinta pertama Chika," David kembali tertawa.


"cih, dia membuatku ngeri," ucap Al mengingat tingka Chika tadi.


"anda harus memperlakukannya dengan baik tuan, ingat tidak alasannya bekerja sangat keras? hanya untuk sebuah karya tuan muda," ucap David kembali serius.


Al tidak menjawab, ia hanya melempar pandangan ke arah luar,


Pikirannya jauh menerawang, kembali teringat Chika yang ternyata begitu mengagumi sosok lain dirinya.


"ahh apa yang aku pikirkan," batinnya.


***


Chika mendengus kesal saat perkuliahan telah usai.


Sepanjang perkuliahan pak Bintoro selalu menyorotnya karena belum menyerahkan sepotong karya pun.


"ahh, bagaimana ini," Chika memajukan bibirnya sambil melipat bibirnya atasnya yang mengapit ballpoint di alur bibirnya.


" benar juga sih kata bapak Chik, kamu harus kencan untuk bisa dapat inspirasi," ucap Risma.


" apa? oh tidak, kamu tahu cintaku hanya untuk snow prince," ucap Chika kesal.


"emang kamu tahu snow prince masih single?" Rita ikut membujuk Chika.


"mmm itu," Chika gelagapan.


"sudah,ayo ikut kencan buta, nanti pacar aku mebawa temannya untuk mu," ujar Risma.


"apa?" Chika melotot.


"sudah,triple datenya sudah aku atur dan Rita," Risma membungkam mulut Chika yang masih hendak protes dengan permen.


Chika akhirnya mengiyakan kemauan teman temannya.


"sini," Rita menarik tangan Chika dan mendudukkannya di depan.


"mau apa?" Chika bingung dengan alat alat kosmetik yang Rita keluarkan.


"diam dan menurut," Rita sudah membubuhi wajah Chika dengan segala macam produk, sementara Chika hanya pasrah sambil menutup mata.


"kawaii, Chika kamu cantik," Risma melompat ke arah Chika sambil memperlihatkan wajah Chika ke arah cermin kecilnya.


Chika ikut terbelalak dengan wajahnya.


Apa itu benar dirinya?


Cantik dan manis.


"ayo, Revan sudah menunggu di cafe," ucap Risma sambil menarik Chika.


Mereka bertiga kini sudah berada di depan cafe.


"ayo Chik,aku janji teman Revan pasti sudah menunggu," ucap Risma.


"Rit,pacar kamu mana?" ucap Chika.


"tu,baru nongol," ucap Rita sambil melambaikan tangan ke arah Brian mahasiswa dari kampus lain.


"hai Chik,kenalin aku brian pacar Rita," ucap Brian dengan senyum manisnya.


Chika membalas jabatan tangan Brian.


"ayo masuk," Risma susah menggandeng tangan Chika.


Bruk...


Benar saja kesialan Chika tak mengenal moment.


Wajahnya menabrak pintu kaca cafe.


"aduhh," Chika mengelus keningnya.


"sorry Chik,gue nggak liat ada kaca," ucap Risma.


Revan dan temannya sedang menunggu.


"sorry lama beib," ucap Risma.


Revan hanya tersenyum, ia sudah mengenal Chika sejak lamah, karena sering menjemput Risma.


"kenalin teman gue, Raka," ujar Revan.


Mereka bergantian menjabat tangan Raka.


Chika menarik nafas.


Semoga kesialannya bisa bersahabat.


"muka kamu kenapa Chik?" tanya Revan melihat kening Chika yang agak benjol.


"itu,kejedor pintu," ucap Risma cekikikan.


Mereka pun duduk berdampingan dengan pasangan masing masing.


Setelah pesanan mereka datang, pelayan tidak sengaja menumpahkan jus alvokad ke baju Chika.


Benar benar kesialan yang hakiki.


"maaf,saya tidak sengaja," ucap sang pelayan.


Raka yang melihat Chika menjadi tertawa mengejek.


Yang benar saja, kejedot pintu, dan sekarang kesiram jus.


"nih cewek apes melulu," batin Raka.


Chika permisi ke toilet untuk membersihkan diri.


"huuftt," Chika menatap dirinya di depan cermin.


Apa benar, jika dia tidak berada di lokasi tuan Al ia selalu mengalami kesialan.