
"mbak, silahkan duduk" ucap Sirly kepada seorang perempuan yang sudah paru baya namun dari penampilan sangat elegan.
"terimakasih Sirly," ucap sang ibu sambil duduk.
" Loh, mbak sendiri? " tanya Sirly ikut duduk.
" bentar lagi keponakan kamu datang,katanya dia masih punya urusan" ucap sang ibu lagi.
" silahkan di nikmati teh nya nyonya" ucap Chika sambil meletakkan secangkir teh.
"eh mbak,kenalin ini pegawai saya Chika,dia tinggal di ruang belakang" ucap Sirly.
"kamu masih muda sekali Chika" ucap sang ibu tersenyum hangat sambil mengulurkan tangan.
" eh,maaf nyonya,saya masih kuliah,saya bantu mbak Sirly disini saat pulang" ucap Chika membalas jabat tangan sang ibu.
"jangan panggil nyonya,panggil tante saja,kamu manis sekali," puji sang ibu.
Chika menunduk malu.
"Chika,bisa bawakan kue" ucap Sirly,
Chika mengangguk dan segera menuju dapur.
"mbak, emang Al betul betul akan bertunangan?" tanya Sirly.
"ia,saya juga dengar dari ayahnya, jujur aku tidak setuju,kamu tahu sendiri Al masih belum pulih sepenuhnya,dan pertunangan ini hanya karena bisnis" ucap sang ibu kesal.
" Al benar benar, dia sama sekali tidak memikirkan perasaannya, bahkan dia mau menikah tanpa cinta" Sirly pun ikut mendengus.
" aku udah bicara sama ayahnya,tapi ayahnya juga berfikiran sama,hanya memandang ssmua dari bisnis, itulah mengapa Al pun sudah menjadi seperti ini" lanjut sang ibu.
"mami,mbak Sirly" sapa Al yang masuk ke dalam cafe.
"sayang,kamu sudah datang" ucap sang ibu.
"mami,ada apa memanggil saya kemari?" tanya Al sambil duduk.
"mami sama mbak Sirly punya sesuatu yang ingin di bicarakan denganmu nak" ucap sang ibu
Rupanya beliau adalah ibu sambung Al.
Nyonya Rita Diavandra.
"Al,apa benar kamu akan melaksanakan pertunangan?" tamya Sirly.
"ia mbak," ucap Al.
"apa kamu sudah mengetahui calon kamu seperti apa,apa kamu menyukainya?" tanya Sirly lagi.
"ia,aku tahu,dia adalah adik dari pemilik SilverSteel Group, perusahaan property yang dangat terkenal,dia juga adalah seorang manager di sana" ucap Al.
"bukan itu maksud mbak Al,apa kamu mencintainya?" Sirly mencoba menyederhanakan pertanyaannya.
" aku tidak perlu mencintainya bukan? Selamah itu menguntungan perusahaan akan ku lakukan,lagipula dia wanita yang cantik bukan?" jawab Al sekenanya.
Ibunya menjadi kesal.
"Al,pernikahan bukan hal yang sembarangan,kamu harus menikah dengan orang yang kamu cintai" ucap ibunya lagi.
"mami tenang aja,siapa yang tidak mencintaiku?semua wanita di luar sana tidak ada yang tidak tertarik denganku" ucap Al.
Sang ibu menghelah nafas.
"Al,kamu sudah tidak mudah lagi,usia kita hanya beda 2 tahun,mbak hanya ingin kamu bisa mencintai seseorang dalam hidupmu" ucap Sirly.
Tiba tiba Chika muncul.
Mata Al dan mata Chika kembali bertatap.
"kamu lagi?" Al kembali terkejut.
"cih, " Chika tak kalah kesal.
"kalian kenal?" tanya Sirly.
Chika meletakkan kue di atas meja dengan kasar.
"ia,Chika kerja dan tinggal di sini" ucap Sirly.
Chika membalikkan badan hendak bergegas.
Tetapi Al lebih dulu meraih tangannnya.
"Ha, kamu benar benar! apa kamu bisa tidak muncul dimana aku ada?" Al menatapnya dengan kesal.
Chika pun tak kalah kesal.
" tuan Apa kita saling kenal?" ucap Chika.
Al melepaskan tangan Chika.
"kamu, liat ini adalah cafe milik keluarga saya,apa artinya?" Al mulai merasa menang.
Chika tidak peduli dan kembali bergegas.
"tunggu" ucap ibu Al yang dari tadi heran melihat tingkah mereka.
Chika tersentak,ia lupa ada orang penting di sini.
"apa kamu kenal putra tante?" tanya sang ibu.
Chika mengangguk.
"sini,duduk dekat tante" ucap sang ibu.
Al menatap ibunya kesal.
Chika segera mendekat dan duduk di samping Ibu Al.
"maafkan anak ibu, dia memang seperti itu,tidak heran dia tidak punya kepedulian dengan orang lain" ucap sang ibu.
"benar kan tante? dia memang sombong dan seenaknya" ucap Chika kesal.
Sang ibu tertawa keras.
"hahaha... kamu benar benar gadis yang jujur,anak tante memang sedingin es,apa dia menindasmu?" tanya sang ibu lagi.
"benar tante, dia bahkan-- ahh tidak tante" Chika yang menatap Al dengan sinis kembali teringat saat ia menemukan Al di kapal dalam keadaan tanpah pakaian.
"Dia bahkan sudah mengotori mata suciku" batin Chika sambil menatap ke arah Al.
Al kembali kesal
"mami,bagaimana mami bisa kenal gadis tengik ini? dia adalah lambang kesialan" ucap Al kesal.
"mami suka Chika, tidak apa apa sial dalam hidup,daripada punya anak yang tidak ada keluhan sedikitpun,selalu saja berhasil,tante seperti tidak punya kendala dalam mendidik anak" ucap ibu Al kesal sambil membelai rambut Chika.
Sirly yang melihat kejadian itu sangat tersenyum.
"Al, kedepan kamu jaga Chika di kampus,jika dia punya masalah dalam belajar kamu harus membantunya" ucap Sirly sambil menyalahkan sepuntung rokok.
"mbak, apa mbak masih merokok?" tanya Al mulai mengenakan maskernya lagi.
"ini untuk terapi" ucap Sirly sambil beranjak ke dapur.
"kalian silahkan lanjut bicara" ucapnya berlalu
"kamu kuliah di EA?" tanya ibu Al.
"ia tante" ucap Chika malu.
"Apa kamu punya kesulitan dalam belajar?" tanya ibu Al lagi.
"dia adalah kesulitan mami,jadi jangan terlalu peduli dengannya" ucap Al mendengus kesal.
" Chika,kamu jangan dengarkan dia,kapan kapan kamu datang ke rumah ya,tante bisa cerita banyak denganmu" ucap sang ibu.
Chika hanya mengangguk sambil tersenyum.
"mami,mami baru kenal,kenapa bisa seakrab ini?" Al kembali kesal.
"sudah,mami sudah putuskan,ke depan kamu harus menjaga Chika," ucap sang ibu.